MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA BAHASA JERMAN DENGAN MENGGUNAKAN ROLE PLAY PADA SISWA KELAS XII IPS 2 SMAN 1 TEMBILAHAN KOTA KABUPATEN INDRAGIRI HILIR

 

Lamrisma Naibaho

SMA Negeri 1 Tembilahan

 

ABSTRAK

Bahasa Jerman merupakan salah satu bahasa asing yang termasuk dalam program pilihan yang ditawarkan pada Kurikulum Tahun 2013 bagi siswa SMA. Pemerolehan bahasa asing pada siswa SMA masih tergolong baru, sehingga materi pelajaran yang diperoleh masih sangat sederhana, yakni tentang perkenalan dan kehidupan di sekolah. Materi tersebut memang kurang menarik jika dibandingkan dengan pemerolehan bahasa Inggris yang sudah mereka pelajari sejak di bangku taman kanak-kanak bahkan play group. Ketidaktertarikan siswa terhadap pembelajaran juga menimbulkan berbagai kendala, misalnya siswa yang pasif, hanya memilih diam dan kurang motivasi. Kendala-kendala yang terjadi memotivasi peneliti untuk mengadakan sebuah penelitian dengan harapan dapat memberi variasi pembelajaran. Peneliti mencobakan teknik Role play untuk mengatasi kendala tersebut. Role Play memang mempunyai daya tarik tersendiri. Banyak hal yang dipelajari oleh siswa sebelum role play dilaksanakan. Pertama siswa menyiapkan sebuah narasi. Disinilah siswa belajar memproduksi kalimat, secara tidak langsung siswa belajar memilih kosakata yang tepat, menggunakan tatabahasa yang benar serta melafalkan ujaran dengan tepat, di samping belajar bermain peran yang bermanfaat untuk latihan tampil percaya diri didepan kelas. Penelitian ini dilaksanakan di kelas XII IPS 2 SMAN 1 Tembilahan Kota, dengan jumlah siswa sebanyak 25 orang. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas dengan 3 siklus. Setiap siklus membutuhkan dua kali pertemuan dan setiap siklus dilaksanakan melalui 4 tahapan, yakni perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketertarikan siswa terhadap Bahasa Jerman mulai meningkat. Hal ini ditunjukkan dari hasil observasi melalui pengamatan visual maupun hasil perekaman. Dengan role play perbendaharan kosakata siswa meningkat, begitu juga dengan penggunaan tatabahasanya. Semakin banyak kosakata yang dimiliki, dan semakin terampil menggunakannya dalam kalimat, maka mereka akan semakin terampil berbicara.

Kata Kunci: Bahasa Jerman, Berbicara, Role Play

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Bahasa Jerman merupakan mata pelajaran yang baru dikenal oleh siswa SMA di kelas X dan XI dengan durasi waktu 2 x 45 menit setiap minggu. Materi yang diajarkan relatif masih sederhana yakni bagaimana memperkenalkan diri dan orang lain serta bagaimana percakapan di sekolah. Dari 25 siswa, mereka yang tertarik pada pelajaran bahasa Jerman sebanyak 8 siswa atau 32%, sedangkan 17 siswa atau 68% kurang tertarik terhadap pelajaran bahasa Jerman. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi siswa pada saat pembelajaran, siswa yang kurang berminat mempelajari bahasa, nampak dikelas kurang aktif, lebih banyak diam. pernah peneliti mencoba untuk tanya jawab lisan tentang materi yan sudah pernah diajarkan, namun hanya 3-5 siswa yang memberi respon. Dengan kondisi tersebut di atas tentunya suasana belajar di kelas bahasa menjadi kurang kondusif, begitu pula dengan motivasi belajar siswanya yang rendah. Ketidaktertarikan pada mata pelajaran bahasa Jerman benar benar menjadikan suasana yang sulit bagi mereka untuk menyesuaikan proses pembelajaran.

Peneliti mencoba memberi variasi lain untuk menumbuhkan ketertarikan siswa terhadap Bahasa Jerman. Salah satu strategi yang telah peneliti lakukan adalah belajar sambil bermain, yang dikemas dalam sebuah permainan peran atau yang dikenal dengan role play. Agar mereka merasa senang dengan pembelajaran Bahasa Jerman, tema role play didiskusikan bersama sesuai dengan keinginan mereka. Dengan role play, siswa akan mempersiapkan terlebih dulu bentuk percakapannya, kalimat-kalimat yang hendak disampaikan. Masalah yang paling banyak dijumpai adalah proses menyusun kalimat sesuai dengan tatabahasa Jerman. Sehubungan banyak kemiripan antara Bahasa Jerman dan Bahasa Inggris, peneliti sesering mungkin mengkaitkan materi pelajaran Bahasa Jerman dengan menggunakan Bahasa Inggris. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah penyusunan kalimat dan mempercepat pemahaman materi Bahasa Jerman sehingga tampilan mereka dalam bermain peran dapat optimal. Gillian Porter Ladousse (1987) memberi dukungan bahwa role-play menambah variasi, perubahan perilaku dan kesempatan memproduksi kalimat serta banyak kesenangan. Dengan role play siswa lebih sering diberi kesempatan untuk tampil di depan kelas baik itu menjawab pertanyaan ataupun unjuk kerja lainnya, lama-kelamaan mereka akan berani menyampaikan gagasannya, dan nantinya mereka akan mempunyai rasa percaya diri. Pendapat ini didukung oleh Maidar G. Arsjad yang juga menyatakan bahwa banyak ahli terampil menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan, namun mereka sering kurang terampil menyajikannya secara lisan. Apalagi berbicara secara formal tidaklah semudah yang dibayangkan orang. Walaupun secara alamiah setiap orang mampu berbicara, namun berbicara secara formal atau dalam situasi resmi sering menimbulkan kegugupan sehingga gagasan yang dikemukakan menjadi tidak teratur. Bahkan yang lebih parah lagi ada orang yang tidak berani berbicara sama sekali. Anggapan bahwa setiap orang dengan sendirinya dapat berbicara, telah menyebabkan pembinaan kemampuan berbicara ini sering diabaikan. (1987: 23).

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas, permasalahan yang ada dapat di rumuskan sebagai berikut:

a.      Bagaimana penggunaan role play dapat meningkatkan kemampuan berbicara Bahasa Jerman?

b.      Apakah penggunaan role play dapat meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Jerman?

Tujuan Penelitian

Setelah kegiatan pembelajaran kemampuan berbahasa Jerman dengan menggunakan Role Play diharapkan:

a.     Untuk meningkatkan kemampuan berbicara Bahasa Jerman dengan menggunakan role play.

b.     Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Jerman dengan menggunakan role play.

 

Manfaat

Penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat yang berarti bagi:

a.     Guru sebagai peneliti: berdampak bagi pengembangan profesionalisme guru terutama dalam penyusunan karya tulis ilmiah, dan meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Jerman.

b.     Siswa: mudah menerima materi pelajaran khususnya meningkatkan kemampuan berbicara, dan merasa mendapat perhatian serta kesempatan untuk menyampaikan gagasan sesuai dengan kemampuannya.

c.     Guru Lain: sebagai rujukan bagi teman sejawat untuk mengembangkan profesionalitasnya, terutama dalam pembuatan karya tulis ilmiah yang nantinya beroleh manfaat untuk kenaikan pangkat.

d.     Lembaga: adanya sumber daya manusia yang berkualitas, maka akan menghasilkan anak didik yang berkualitas pula sehingga secara otomatis tujuan pendidikan akan tercapai secara optimal.

KAJIAN TEORI

Berbicara

Ujaran (speech) merupakan suatu bagian yang integral dari keseluruhan personalitas atau kepribadian, mencerminkan lingkungan sang pembicara, kontak-kontak sosial, dan pendidikannya. Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan. berbicara merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar (audible) dan yang kelihatan (visible) yang memanfaatkan sejumlah otot dan jaringan otot tubuh manusia demi maksud dan tujuan gagasan-gagasan atau ide-ide yang dikombinasikan.

Lebih jauh lagi, berbicara merupakan suatu bentuk perilaku manusia memanfaatkan faktor-faktor fisik, psikologis,neurologis, semantik, dan linguistik sedemikian ekstensif, secara luas sehinga dapat dianggap sebagai alat manusia yang paling penting bagi kontrol sosial. (Tarigan,1996:15). Dengan demikian maka berbicara itu lebih daripada hanya sekedar pengucapan bunyi atau kata-kata. Berbicara adalah suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak. Berbicara merupakan instrument yang mengungkapkan kepada penyimak hampir-hampir secara langsung apakah sang pembicara memahamai atau tidak, baik bahan pembicaraanya maupun para penyimaknya: apakah dia bersikap tenang, serta dapat menyesuaikan diri atau tidak, pada saat dia mengkomunikasikan gagasan-gagasannya; dan apakah dia waspada serta antusias atau tidak. (Mulgrave, 1954: 3–4).

Berbicara Sebagai Seni dan Ilmu

Wilayah ‘berbicara” biasanya dibagi menjadi dua bidang umum, yaitu: berbicara terapan atau berbicara fungsional (the speech arts), dan pengetahuan dasar berbicara (the speech sciences) (Mulgrave,1954:6). Dengan perkataan lain, berbicara dapat ditinjau sebagai seni dan juga ilmu. Kalau kita memandang berbicara sebagai seni maka penekanan diletakkan pada penerapannnya sebagai alat komunikasi dalam masyarakat sebagai berikut: (1) Berbicara di muka umum, (2) Semantik: Pemahaman makna kata, (3) Diskusi kelompok, (4) Argumentasi, (5) Debat, (6) Prosedur parlementer, (7) Penafsiran lisan, (8) Seni drama, (9) Berbicara melalui udara. Kalau kita memandang berbicara sebagai ilmu maka hal-hal yang perlu ditelaah antara lain: (1) Mekanisme bicara dan mendengar, (2) Latihan dasar bagi ajaran dan suara, (3) Bunyi-bunyi bahasa, (4) Bunyi-bunyi dalam rangkaian ujaran, (5) Vowel-vowel, (6) Diftong-diftong, (7) Konsonan-konsonan, (8) Patologi ujaran. (Mulgrave,1954:9). Dalam berbicara ini peneliti meneliti Seni Drama dalam meningkatkan kemampuan berbicara (khususnya Bahasa Jerman). Dengan demikian peneliti memandang berbicara sebagai seni dalam hal ini, yaitu penekanan diletakkan pada penerapan sebagai alat komunikasi dalam masyarakat.

Role Play

Menurut Gillian Porter Ladousse (1987:5) ‘role play’ berasal dari kata ‘role’ yang artinya ambil bagian dalam sebuah kegiatan khusus dan ‘play’ yang artinya peranan itu diambil/dipakai dalam sebuah lingkungan dimana siswa dapat mengembangkan sepenuhnya daya cipta dan bermain. Pernyataan yang hampir sama diungkapkan oleh Joanna Budden dalam http://www.teachingenglish.org.uk/think/speak/role_play.shtml, tentang role play bahwa role play is any speaking activity when you either put yourself into somebody else’s shoes, or when you stay in your own shoes but put yourself into an imaginary situation, yang artinya adalah kegiatan berbicara dimana pemain dapat berperan menjadi orang lain atau dapat berperan menjadi dirinya sendiri tetapi berimajinasi dalam berbagai situasi. Dengan demikian, role play adalah suatu kegiatan berbicara dimana pemain dapat berperan sebagai orang lain maupun dirinya sendiri dalam berbagai situasi imajinatif yang mampu mengembangkan kemampuan daya cipta dan bermain sepenuhnya. Situasi imajinatif adalah bahwa bahasa yang digunakan menurut skenario situasi yang diperankan, misalnya di restoran, check in di bandara dan lain-lain.

Jeremy Harmer yang dikutip oleh Gillian Porter Ladousse (1987:6) menegaskan, penggunaan role play digunakan dengan alasan sebagai berikut; a) menyenangkan dan memotivasi, b) siswa yang diam mendapat kesempatan untuk mengekspresikan diri mereka ke arah kemajuan, lingkungan di dalam kelas dan di luar kelas menjadi tak terbatas serta menawarkan kesempatan penggunaan bahasa secara luas. Selain itu para siswa yang mendapat kesempatan menggunakan Bahasa Jerman bisa mengulang Bahasa Jermannya dalam situasi yang nyaman. Situasi nyata dapat tercipta dan para siswa mendapatkan keuntungan dari latihan.

Manfaat Role Play yaitu:

a.     Banyak macam pengalaman bisa dibawa kedalam kelas lewat role play.

b.     Role Play meletakkan siswa pada berbagai situasi yang bermanfaat untuk mengembangkan bahasa dalam memperlicin hubungan sosial.

c.     Beberapa orang sedang belajar Bahasa Inggris untuk tujuan kehidupanya.

d.     Role Play membantu kebanyakan siswa pemalu dengan menyediakannya sebuah topeng.

e.     Alasan terpenting menggunakan role play tidak lain adalah kegembiraan.

Akhirnya, role play merupakan salah satu dari seluruh teknik komunikasi yang mengembangkan siswa lancar berbahasa, yang memajukan interaksi di dalam kelas, dan yang meningkatkan motivasi. Role play mungkin merupakan teknik yang paling fleksibel dan guru-guru yang segera mengunakan role play dapat mempertemukan kebutuhan–kebutuhan yang tak terbatas dengan latihan bermain peran secara efektif dan tepat.

Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam Role Play yaitu

a.     Siap untuk berhasil. Role play di tingkat dasar. Mencoba memikirkan bahasa yang akan siswa gunakan. Siswa mungkin perlu ekstra dukungan untuk memiliki bahasa tersebut.

b.     Peranan Guru. Peran guru yaitu sebagai fasilitator, penonton, dan sebagai partisipan.

c.     Bawalah situasi kegiatan menjadi hidup. Bermain perang dengan mengambil cerita dan juga properti yang nyata.

d.     Tetap nyata dan relevan.

e.     Feed in language. Saat siswa macet mendapatkan kata atau frasa, guru memberikan bantuan berperan seolah-olah sebagai kamus berjalan. Jika tidak guru bisa mengijinkan siswa untuk minta timeout guna mencari arti kata di kamus.

f.      Pembetulan kesalahan. Ada 3 cara dalam pembetulan kesalahan, yakni: Self Correction Jika alat perekaman seperti video atau audiocasette, Peer – correction yaitu teman sekelasnya bisa mengoreksi kesalahan temannya serta membuat catatan kesalahan-kesalahan yang umum demi keberhasilan pelajaran berikutnya agar siswa tidak kehilangan motivasi setelah dibetulkan.

g.     Gunakan imajinasimu dan bersenanglah. Dalam Role Play (Bermain Peran), pemain diminta untuk melakukan peran tertentu dan menyajikan “permainan peran” dan melakukan “dialog-dialog” tertentu yang menekankan pada karakter, sifat atau sikap yang perlu dianalisa. Bermain peran haruslah mengungkapkan suatu masalah atau kondisi nyata yang akan dipergunakan bahan diskusi atau pembahasan materi tertentu. Dengan menggunakan imajinasi maka akan menjadikan permainan peran menjadi maksimal.

Menerapkan role play ke dalam kelas dapat menambah variasi, perubahan dan kesempatan menghasikan bahasa dan juga memberikan banyak kesenangan. Role play juga dapat menjadi bagian dari kelas secara menyeluruh. Jika guru yakin bahwa kegiatan akan berlangsung dan dukungan penting tersedia akan membawa keberhasilan. Bagaimanapun juga jika guru tidak yakin akan kesahihan bermain.

Kerangka Berpikir

Bahasa Jerman merupakan mata pelajaran yang baru dikenal oleh siswa SMA di kelas X dan XI dengan durasi waktu 2 x 45 menit setiap minggu. Memahami penggunaan dan cara mengucapkan bahasa jerman masih sangat sulit bagi siswa SMA kelas X dan XI karena bahasa jerman merupakan bahasa asing yang jarang sekali digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pembelajaran bahasa jerman seringkali terlihat siswa diam, tidak aktif dalam pembelajaran dan hal tersebut menunjukkan bahwa siswa kurang berminat dalam belajar bahasa jerman. Berhasil atau tidaknya suatu tujuan pembelajaran bergantung bagaimana cara guru dalam menyampaikan materi dan bagamaina guru mendesain pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Berdasarkan permasalahan diatas untuk dapat meningkatkan motivasi belajar bahasa jerman, guru harus mampu membuat pelaksanaan pembelajaran siswa menjadi aktif dan meningkatkan motivasi belajar yaitu dengan meningkatkan peran siswa dalam pembelajaran melalui penerapan model Role Play. Role Play merupakan model pembelajaran yang menitikberatkan keaktifan siswa dengan cara bermain peran. Dalam pembelajaran siswa akan mempersiapkan terlebih dulu bentuk percakapannya, kalimat-kalimat yang hendak disampaikan sehingga ketika bermain peran siswa sudah terbiasa dan dapat berjalan maksimal karena apa yang akan dilakukan sudah disiapkan terlebih dahulu. Hal ini akan membuat siswa terbiasa mengucapkan kata-kata bahasa jerman yang nantinya akan membuat siswa menjadi terbiasa berbicara dengan bahasa jerman di depan publik atau umum.

Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan Role Play dapat meningkatkan kemampuan berbicara bahasa jerman siswa kelas XII IPS 2 SMAN 1 Tembilahan Kota Kabupaten Indragiri Hilir.

METODOLOGI PENELITIAN

Tempat Dan Subjek Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di SMAN 1 Tembilahan Kota yang beralamat di Jalan Pendidikan Tembilahan Kecamatan Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir Propinsi Riau. Subjek penelitian ini yaitu siswa kelas XII IPS 2 SMAN 1 Tembilahan Kota Tahun Ajaran 2017/2018 dengan jumlah siswa sebanyak 25 orang dengan rincian 12 siswa perempuan 13 siswa laki-laki.

Gambaran Umum Penelitian

Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau disebut Classroom Action Research (CAR). Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan melalui 4 tahap, yakni: Perencanaan (Planning), Tindakan (Action), Pengamatan (Observation), dan Refleksi (Reflective). Penelitian Tindakan Kelas ini juga berpijak pada 2 (dua) landasan,yaitu keterlibatan (Involvement) dan perbaikan (Improvement). Penelitian Tindakan Kelas ini akan dilaksanakan dalam 3 siklus dan setiap siklus diharapkan ada perubahan yang dicapai.

Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini yaitu kelas XII IPS 2 yang berjumlahkan 25 orang dengan rincian 12 siswa perempuan dan 13 siswa laki-laki. Jenis data yang dihimpun adalah data kualitatif karena penelitian ini merupakan penelitian proses yang dilakukan selama tindakan berlangsung. Untuk mempermudah pengumpulan data, peneliti meyusun sebuah rubrik penilaian yang meliputi; 1) Pemahaman, 2) Pelafalan, 3) Komunikasi Interaktif, 4) Isi Cerita, 5) Sikap, dan 6) Struktur. Dalam pengumpulan data ini peneliti dibantu teman sejawab (guru Bahasa Inggris). Selain itu pengumpulan data diperoleh dari dokumentasi yang berupa perekaman suara dan pengambilan gambar.

Prosedur Pengumpulan Data

Data penelitian dikumpulkan melalui observasi dengan menggunakan instrumen yang berupa lembar observasi, lembar rubrik penilaian dan dokumentasi. Selain itu tim peneliti juga mengambil dokumentasi untuk merekam suara siswa dengan menggunakan audiocasette. Kegiatan observasi ini dilakukan dengan 3 siklus. Hasil observasi yang telah dihimpun, didiskusikan bersama yang selanjutnya direfleksikan pada siklus berikutnya yakni perbaikan atas kendala-kendala yang telah dilakukan siswa selama proses penelitian.

Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan statistik diskripsi. Adapun diskripsi yang dipakai untuk mengetahui kemampuan berbicara Bahasa Jerman dengan menggunakan role play adalah sebagai berikut: 1) Pemahaman, 2) Komunikasi Interaktif, 3) Pelafalan, 4) Isi cerita, 5) Sikap, dan 6) Struktur. Teknik analisisnya menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dipergunakan untuk mengolah data hasil pengamatan selama proses pembelajaran, sedangkan analisis kuantitatif dipergunakan untuk mengolah data hasil belajar. Untuk menilai kemampuan berbicara Bahasa Jerman, peneliti menggunakan pedoman penilaian yang diadopsi dari pedoman penilaian pelaksanaan ujian praktik berbicara dari Departemen Pendidikan Nasional. Untuk kategori tatabahasa, peneliti tidak memberikan bobot yang tinggi, mengingat tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan kemampuan berbicara. Siswa dikatakan tuntas adalah siswa yang telah memenuhi kriteria minimal dari masing-masing kategori, dengan memperoleh bobot minimal sejumlah 18 (delapan belas) yang dikonversikan ke dalam nilai, yakni 75 (tujuh puluh lima). Jadi, Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada pembelajaran Bahasa Jerman dengan menggunakan role play, adalah 75.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Siklus I

Pada siklus I penulis mengambil tema kehidupan sekolah (Schulleben). Dalam pembelajaran ini peneliti dan siswa membagi kelima sub pokok bahasan ke dalam lima kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 5 orang. Setiap kelompok diberi waktu satu minggu untuk mempersiapkan pembuatan narasi dan juga membahas bagaimana mereka bermain peran. Suasana kelas saat tindakan dimulai, siswa nampak tenang dan sedikit agak tegang. Berdasarkan hasil observasi, dapat diketahui bahwa untuk kategori pertama yakni kategori pemahaman yang berupa pengungkapan kalimat yang saling terkait, siswa hanya mampu mengungkapkan 1 sampai 2 kalimat dan tidak banyak siswa yang mengungkapkan satu kalimat. Kategori pelafalan merupakan kategori yang paling sulit bagi siswa. Sedangkan untuk kategori yang meliputi isi cerita dan bagaimana mengkomunikasikan rata–rata siswa cukup baik. Dalam setiap tampilan, setiap kelompok rata-rata-rata membutuhkan waktu selama kurang lebih 5 menit.

Kategori penyusunan kalimat dengan tatabahasa yang benar merupakan kategori yang paling sulit dialami siswa. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan data bahwa 11 dari 25 siswa tidak memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) sebesar 75, siswa yang telah tuntas sebanyak 14 siswa atau 56%. Batas minimal ketuntasan sebesar 75 sesuai dengan standar Kriteria Ideal Ketuntasan Minimal dalam Kurikulum 2013. Ada kesan bahwa pada pelaksanaan siklus I siswa kurang berminat dengan kegiatan ini. Hal ini terlihat pada penampilan mereka yang terkesan asal – asalan, walaupun tidak semuanya. Berdasarkan hasil siklus I maka peneliti akan melakukan tindakan pada siklus II, dimana pada siklus II ini siswa diberikan kesempatan untuk memperbaiki penampialan meliputi setiap kelompok diberi kesempatan untuk merevisi naskah yang mereka berbuat, guru memberi kesempatan siswa bertanya tentang hal-hal yang berkaitan dengan role play terutama penyusunan kalimat sesuai dengan tatabahasa Jerman yang benar, dan juga pemilihan kosakata, serta guru memperbaiki pelafalan siswa yang belum tepat. Pada siklus II ini akan diberikan tambahan durasi tampilan menjadi kurang lebih 8 menit.

Siklus II

Pada tahap ini, lamanya penampilan ditingkatkan dari 5 menit menjadi 8 menit. dengan bertambahnya waktu tampilan, maka siswa perlu menambah ujaran-ujarannya. Waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan tindakan pada siklus kedua ini 2 kali pertemuan, pertemuan pertama untuk memperbaiki narasi, dan semua kategori yang belum terpenuhi, sedangkan pertemuan kedua untuk pelaksanaan role play. Setelah selesai perbaikan narasi, siswa menampilkan masing-masing perannya. Berdasarkan hasil pengamatan pada siklus II ada peningkatan walaupun belum semua siswa tampil sesuai dengan kriteria, terutama kategori isi cerita. Pada umumnya masing-masing kelompok sudah dapat menceritakan apa yang terjadi pada kehidupan di sekolah, isi cerita sudah baik. Yang masih perlu diperbaiki adalah bagaimana mereka mengekspresikan dialognya dengan suara yang keras, gaya yang penuh penjiwaan serta tampil percaya diri. Permasalahan utama siswa pada pertemuan siklus kedua ini, yakni pada pelafalan dan tatabahasa. Ada kedekatan yang terjalin antara guru dan siswa, yakni pada saat siswa sedang berkoordinasi mengenai hal-hal yang perlu diperbaiki saat mereka bermain peran ataupun sebelumnya, saat penyempurnaan narasi. Suasanapun nampak terkesan akrab. Berdasarkan data yang diperoleh pada siklus II mengalami peningkatan yaitu dari 14 siswa di siklus I menjadi 21 siswa yang tuntas di siklus II, jadi sekitar 84% telah tuntas. Kendala yang dialami siswa masih terkait pada masalah pemahaman, pelafalan, komunikasi interaktif, sikap dan penyusunan kalimat sesuai dengan tatabahasa Jerman yang benar. Pada umumnya siswa kurang variatif dalam mengembangkan isi cerita yang sesuai dengan tema yang diberikan. Dari kendala–kendala yang terjadi pada siklus kedua, masing-masing kelompok diberi kesempatan untuk tanya jawab mengenai hasil penampilannya. Perbaikan dilakukan pada saat berlangsung tanya jawab. Mengenai bagaimana komunikasi mereka nampak interaktif, peneliti menjadikan dirinya sebagai model untuk ditiru. Sehubungan masih ada kendala pada siklus kedua ini, peneliti menindak lanjuti pada siklus ketiga.

Siklus III

Berdasarkan hasil analisa perekaman suara, pada siklus ketiga ini peneliti menambahkan beberapa unsur yang sebelumnya hanya sebagian ditemukan pada percakapan di siklus kedua. Pelaksanaan tindakan terbagi dalam dua tahap, yakni tahap persiapan dan tahap penampilan. Pada tahap persiapan, siswa terlebih dulu menyusun narasi dengan menambahkan unsur-unsur yang telah diberikan oleh guru. Pada pelaksanaan tindakan saat ini, pengambilan data dan pencatatan kejadian tetap berlangsung. Kedua pengamat juga hadir pada siklus ketiga ini. Durasi tampilan pada siklus terakhir ini adalah paling lama, waktu yang diperlukan untuk setiap tampilan kurang lebih 10 menit. Keseluruhan waktu dibutuhkan kurang lebih 60 menit.

Berdasarkan hasil observasi, pada tahap persiapan siswa semua siswa nampak antusias untuk menyusun narasi, namuan masaih ada kesulitan yaitu pada saat siswa menyusun kalimat, tetapi bisa diatasi dengan memberikan bimbingan. Pada kategori B (Pelafalan), semua siswa belum bisa melafalkan kata atau frase seperti penutur asli, pengaruh bahasa ibu memang begitu besar terhadap pemerolehan bahasa asing. Berdasaran hasil penelitian bahwa skor maksimum yang mereka peroleh hanya 15, sedang skor maksimum untuk kategori ini adalah 20. Permasalahan tatabahasa masih merupakan problem bagi siswa, karena waktu yang relatif pendek belum cukup untuk menguasai seluruh perubahan bentuk kalimat Präsens. Model pembelajaran dengan menggunakan role play ini telah membangkitkan motivasi belajar siswa khususnya dalam Bahasa Jerman. Sebagai ungkapan kebanggaan atas tindakan yang telah siswa lakukan, guru telah memberikan reward berupa kata-kata pujian. Menurut hasil perolehan data terakhir pada siklus ketiga ini, dari semua kategori yang harus dipenuhi dalam bermain peran, siswa telah berhasil melampaui batas minimal nilai ketuntasan, yakni 75. Penggunaan model pembelajaran ini telah meningkatkan rasa percaya diri siswa, hal ini nampak pada saat mereka memerankan beberapa peran yang harus mereka mainkan. Pembelajaran dengan menggunakan model role play ini akan bermanfaat bagi peningkatan kemampuan siswa dalam pemerolehan bahasa asing, karena pemahaman melalui pengalaman visual dapat tersimpan lama dalam benak siswa.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dari hasil penelitian tindakan kelas tentang penggunaan role play, dapat disimpulkan sebagai berikut:

a.     Role play merupakan model pembelajaran yang tepat, karena siswa termotivasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Jerman. Hal ini dapat kita lihat pada saat siswa menyusun kalimat.

b.     Dengan terampilnya siswa menyusun kalimat, maka perbendaharaan kosakata siswa bertambah, serta pemahaman akan tatabahasa akan lebih baik Selain pemahaman tatabahasa yang semakin meningkat, khususnya pola kalimat Präsens. Semakin terampil siswa menyusun kalimat dengan kosakata yang tepat, maka mereka akan semakin terampil berbicara.

c.     Ada peningkatan dalam hal keberanian dan kepercayaan diri untuk tampil didepan kelas atau forum karena role play mengkondisikan siswa untuk bermain peran dihadapan umum.

d.     Dengan adanya koordinasi yang intens ternyata juga memberi manfaat baik bagi guru dan siswa untuk menjalin hubungan yang harmonis. Hal ini terjadi pada saat proses pelaksanaan tindakan berlangsung, khususnya dalam persiapan pembuatan narasi maupun persiapan tampilan. Hubungan yang harmonis antara guru dan siswa, dapat mengurangi rasa takut siswa pada guru.

e.     Suasana kelas nampak lebih hidup dan siswa sentris, sehingga pembelajaran lebih bermakna dan menyenangkan.

f.      Pada pelaksanaan tindakan, ada dua kategori dari enam kategori yang masih perlu ditindak lanjuti, yakni masalah pelafalan, sikap dan ketatabahasaan. Pengaruh bahasa ibu begitu besarnya sehingga siswa sulit melafalkan ujaran–ujaran seperti penutur aslinya. Walau demikian, dengan adanya role play setidaknya siswa lebih terlatih mengungkapkan dan melafalkan kalimat dengan intonasi yang benar.

Saran

a.     Role play diharapkan sering dilaksanakan pada model pembelajaran bahasa, khususnya Bahasa Asing, mengingat manfaat role play dapat membantu siswa menguasai penggunaan bahasa.

b.     Role play merupakan model pembelajaran yang menarik. Sejalan dengan itu diharapkan mata pelajaran selain bahasa, bisa menerapkannya dalam proses pembelajaran.

c.     Guru Bahasa diharapkan memiliki motivasi yang tinggi untuk meningkatkan kemampuan berbahasa siswanya dengan menggunakan banyak model pembelajaran, yang membuat proses pembelajaran lebih menarik dan siswa merasa senang sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.

DAFTAR PUSTAKA

G.Arsjad, Maidar, Dra. dan U.S, Mukti, Drs.1988. Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Joanna Budden, British Council. Spain, http://www.teachingenglish.org.uk/think/ speak/role_play.shtml (10 Oktober 2017)

Ladousse, Gillian Porter. 1987. Role Play. Oxford: Oxford University Press

Nur, Mohamad, Prof.Dr. 1999. Teori Belajar. Surabaya: University Press UNESA

Paulston, Christina Bratt, dkk. 1975. Developing Communicative Competence. Pittsburg: Universiy of Pittsburg Press.

Poole, Deborah and Thrush, Emily Austin.l991. Interactions II: A Speaking Activities Book. Singapore: McGraw-hill, Inc.

Tarigan, Henry Guntur, Prof. Dr. 1986. Berbicara Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Tim Pelatih Proyek PGSM. 1999. Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Jakarta: Depdikbud Direktorat Pendidikan Tinggi, Pengembangan Guru Sekolah Menengah.