MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU

DALAM MENYUSUN PROGRAM REMIDIAL PEMBELAJARAN IPA MELALUI METODE CONTOH, LATIH, COBA DAN KEMBANGKAN (CLCK) SEMESTER I DI SDN 2 TREMBULREJO TAHUN PELAJARAN 2016/2017

Endang Yuni Wiji Lestari

Kepala SDN 2 Trembulrejo

ABSTRAK

Untuk menangani anak-anak berkebutuhan khusus, khususnya anak-anak berkesulitan belajar Ilmu Pengetahuan Alam pada SDN 2 Trembulrejo, Kec. Ngawen, Kab. Blora perlu penanganan yang serius sehingga anak-anak tersebut dapat berkembang secara optimal. Seiring dengan perkembangan dunia pendidikan guru-guru yang menangani anak berkesulitan belajar ini juga memerlukan pembinaan. Permasalahan pembinaan guru selalu muncul bersamaan dengan berkembang dan meningkatnya kemampuan guru serta situasi dan kondisi lingkungan yang ada. Pembuatan program remedial bagi anak berkesulitan belajar Ilmu Pengetahuan Alam juga menimbulkan permasalahan-permasalahan disekolah untuk itu pengawas dituntut untuk melakukan pembinaan yang efektif dan efisien.Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) merupakan sarana termudah untuk meneliti, menyempurnakan dan mengevaluasi pembinaan guru dalam menbuat program remedial bagi anak berkesulitan belajar Ilmu Pengetahuan Alam. Adapun tindakan yang dilakukan adalah memberikan pembinaan guru dengan model CLCK (contoh, latih, coba dan kembangkan) dalam membuat program remedial bagi anak-anak kesulitan belajar Ilmu Pengetahuan Alam. Penelitian ini dilakukan 2 siklus (2 kali pertemuan masing-masing siklus) dengan melibatkan 4 orang guru kelas. Pengawas memberikan contoh program remedial, melatih guru membuat program remedial, guru-guru mencoba dan mengembangkan membuat program remedial. Pengumpulan data diambil melalui dokumentasi hasil pembinaan guru selama penelitian berlangsung dengan tidak mengesampingkan observasi, evaluasi, analisis, dan interpretasi terhadap jalannya kegiatan tindakan sekolah. Dari hasil observasi, pengamatan dan hasil penelitian penerapan model CLCK menunjukkan adanya peningkatan kemampuan guru dalam membuat program remedial bagi anak-anak kesulitan belajar Ilmu Pengetahuan Alam. Keberhasilan dalam penelitian ini ditunjukan adanya peningkatan hasil penilaian pada program remedial bagi anak-anak berkesulitan belajar Ilmu Pengetahuan Alam yang dibuat oleh 6 orang guru kelas pada siklus I memperoleh nilai rata-rata 3,73 dan pada siklus II memperoleh nilai rata-rata 4,03 dengan kategori Baik. Dengan adanya peningkatan kemampuan guru dalam hasil penelitian ini maka hipotesis tindakan dapat diterima. Berawal dari hasil penelitian ini dapat disarankan kepada kepala sekolah dan pengawas dapat menggunakan model CLCK dalam membina guru membuat program remedial bagi anak berkesulitan belajar Ilmu Pengetahuan Alam. Bagi peneliti lanjutan, penelitian ini dapat diteliti dengan kajian yang lebih luas sehingga hasilnya akan lebih sempurna.

Kata Kunci: Kemampuan Guru Membuat Program Remedial,  Pembinaan guru dengan model CLCK

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Salah satu upaya pemerintah untuk mewujudkan penuntasan wajib belajar bagi anak-anak berkebutuhan khusus telah di selenngarakan pendidikan inklusi pada guru di SDN 2 Trembulrejo, Kec. Ngawen, Kab. Blora. Pendidikan Inklusi adalah kebersamaan untuk memperoleh pelayanan pendidikan dalam satu kelompok secara utuh bagi seluruh anak berkebutuhan khusus usia sekolah, mulai dari jenjang TK, SD, SLTP sampai dengan SMU. Yang menjadi permasalahan sekarang ini adalah pelayanan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, khususnya anak berkesulitan belajar belum optimal, hal ini terbukti guru masih belum membuat program remedial bagi anak-anak berkesulitan belajar tersebut.

Upaya-upaya untuk meningkatkan kemampuan guru dalam membuat program remedial adalah melalui pembinaan guru. Menurut Hamzah (2016:169) mengemukakan bahwa pembinaan guru adalah serangkaian usaha bantuan kepada guru yang dilakukan oleh kepala sekolah, pengawas sekolah, penilik sekolah, serta pembina lainnya bertujuan untuk meningkatkan proses dan hasil belajar.

Berdasarkan pemikiran di atas perlu segera dilakukan penelitian mengenai upaya meningkatakan kemampuan guru membuat program remedial bagi anak berkesulitan belajar Ilmu Pengetahuan Alam melalui pembinaan guru dengan metode CLCK (contoh, latih, coba, kembangkan) pada SDN 2 Trembulrejo.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, dapat dipilih dan disusun rumusan masalah yang akan di jadikan fokus penetelitian sebagai berikut:

Apakah pembinaan guru dengan metode CLCK dapat meningkatkan kemampuan guru membuat program remedial bagi anak berkesulitan belajar Ilmu Pengetahuan Alam di SDN 2 Trembulrejo, Kec. Ngawen, Kab. Blora?

Rencana Pemecahan Masalah

Pertemuan awal dengan guru-guru pada guru di SDN 2 Trembulrejo, Kec. Ngawen, Kab. Blora, berdiskusi tentang penyusunan program remedial bagi anak berkesulitan belajar, memberikan contoh program remedial bagi anak berkesulitan belajar Ilmu Pengetahuan Alam, melaksanakan latihan dan memberkan kesempatan pada guru untuk mencoba membuat program remedial dan mengembangkan program remedial bagi anak berkesulitan belajar Ilmu Pengetahuan Alam.

Tujuan Penelitian

Berdasarkan fokus penelitian tersebut diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

Untuk meningkatkan kemampuan guru membuat program remedial bagi anak berkesulitan belajar Ilmu Pengetahuan Alam pada guru pada guru di SDN 2 Trembulrejo, Kec. Ngawen, Kab. Blora melalui pembinaan guru dengan metode Contoh, Latih, Coba, Kembangkan (CLCK).

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaati:

1. Bagi guru sebagai informasi tambahan pengetahuan tentang membuat program remedial bagi anak berkesulitan belajar Ilmu Pengetahuan Alam pada guru di SDN 2 Trembulrejo, Kec. Ngawen, Kab. Blora.

2. Bagi peneliti sebagai suatu pengalaman yang berharga dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pembuatan program remedial bagi anak berkesulitan belajar Ilmu Pengetahuan Alam di sekolah inklusi.

3. Bagi Sekolah sebagai referensi yang dapat dipelajari untuk pengayaan program remedial bagi anak berkesulitan belajar Ilmu Pengetahuan Alam di sekolah inklusi.

KAJIAN PUSTAKA

Pengertian Pendidikan Inklusi

Nasichin (2001:21) menyebutkan pendidikan inklusi adalah pendidikan yang mengikutsertakan anak-anak yang berkebutuhan khusus untuk belajar bersama-sama dengan anak-anak sebayanya di sekolah umum, dan pada akhirnya mereka menjadi bagian dari masyarakat sekolah tersebut, sehingga tercipta suasana belajar yang kondusif. “Inklusif” memang mengikutsertakan anak berkelainan seperti anak yang memiliki kesulitan melihat atau mendengar, yang tidak dapat berjalan atau lebih lamban dalam belajar. Namun, secara luas menurut Moch. Sholeh (2004:2) “inklusif” juga berarti melibatkan seluruh peserta didik tanpa terkecuali, seperti:

a. Anak yang menggunakan bahasa yang berbeda dengan bahasa pengantar yang digunakan di dalam kelas.

b. Anak yang beresiko putus sekolah karena sakit, kelaparan atau tidak berprestasi dengan baik.

c. Anak yang berasal dari golongan agama yang berbeda atau kasta yang berbeda.

d. Anak yang sedang hamil.

e. Anak yang terinfeksi HIV/ AIDS.

f. Anak yang berusia sekolah tetapi tidak sekolah.

Pengertian Remedial

Karakteristik siswa dalam satu kelas sangat beragam, sehingga dalam belajar siswa banyak mengalami masalah. Masalah-masalah yang timbul dari kondisi sekolah menurut Majid (2008:235) antara lain: kurikulum kurang sesuai, guru kurang menguasai bahan pelajaran, metode mengajar kurang sesuai, alat-alat dan media pengajaran kurang sesuai. Akibat dari permasalahan tersebut ada beberapa anak yang prestasinya kurang dari harapan atau tidak mencapai KKM.

Pengertian Pembinaan Guru dengan Metode CLCK

Menurut Depdiknas (2002:152) pembinaan adalah cara membina dengan kegiatan yang dilakukan secara efisien dan efektif untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Sesuai dengan pengertian tersebut maka pembinaan guru adalah cara membina guru dengan kegiatan yang dilakukan secara efisien dan efektif untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Selanjutnya Hamzah (2016:169) mengemukakan bahwa pembinaan guru adalah serangkaian usaha bantuan kepada guru yang dilakukan oleh kepala sekolah, pengawas sekolah, penilik sekolah, serta pembina lainnya bertujuan untuk meningkatkan proses dan hasil belajar.

Kerangka Pikir

Keberhasilan dalam memberikan remedial teaching dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya adalah program remedial yang baik. Hal ini pengawas selaku pembina berkewajiban membina guru dalam membuat program remedial menggunakan berbagai metode. Salah satu metode yang digunakan adalah metode CLCK dalam membina guru membuat program remedial bagi anak-anak kesulitan belajar Ilmu Pengetahuan Alam pada guru di SDN 2 Trembulrejo, Kec. Ngawen, Kab. Blora

Hipotesis Tindakan

Pembinaan guru dengan metode Contoh, Latih, Coba, Kembangkan (CLCK) dapat meningkatakan kemampuan guru dalam membuat program remedial bagi anak berkesulitan belajar Ilmu Pengetahuan Alam pada guru di SDN 2 Trembulrejo, Kec. Ngawen, Kab. Blora

METODE PENELITIAN TINDAKAN

Metode dan Pendekatan Penelitian

Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Sekolah (School Action Research). Penelitan Tindakan Sekolah dikembangkan dari Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Zainal (2009:12) PTK pertama kali diperkenalkan oleh ahli psikologi sosial Amerika yang bernama Kurt Lewin pada tahun 1946, PTK di Indonesia baru dikenal pada akhir dekade 80-an. Selanjutnya Zainal (2009:13) menyebutkan penelitian tindakan kelas merupakan terjemahan dari Classroom Action Research, yaitu satu action reaserch yang dilakukan di kelas. Sedangkan Penelitian Tindakan Sekolah menurut Depdiknas (2008:11) adalah penelitian tindakan sebagai salah satu jenis penelitian kualitatif di bidang pendidikan yang dilaksanakan disekolah untuk memperbaiki proses pembelajaran dan manajemen sekolah.

Setting

Penelitian ini dilaksanakan pada di SDN 2 Trembulrejo, Kec. Ngawen, Kab. Blora tahun 2016. Adapun subjek penelitian adalah guru yang memberikan remedial bagi anak berkesulitan belajar Ilmu Pengetahuan Alam berjumlah 6 orang guru kelas.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penelitian Tindakan Sekolah ini dilaksanakan pada guru di SDN 2 Trembulrejo, Kec. Ngawen, Kab. Blora, yang pelaksanaannya meliputi langkah-langkah sebagai berikut:

1. Perencanaan, yang meliputi penetapan materi pembinaan dan penetapan alokasi waktu pelaksanaannya (bulan Agustus s.d Oktober 2016)

2. Tindakan, meliputi seluruh proses kegiatan pembinaan kepengawasan melalui model CLCK (Contoh, Latih, Coba dan Kembangkan), melalui tiga tahapan yaitu pra siklus tanggal 18 Agustus 2016, siklus I: 22 September 2016, dan siklus dua dilaksanakan 20 Oktober 2016.

3. Observasi, dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan pembinaan kepengawasan dalam membuat program remedial bagi anak berkesulitan belajar Ilmu Pengetahuan Alam.

4. Reflekksi, meliputi kegiatan analisis hasil pembinaan kepengawasan sekaligus menyusun rencana perbaikan pada siklus berikutnya

Penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan secara kolaborasi dengan kepala sekolah dan koordinator pengawas yang membantu pelaksanaan observasi dan refleksi selama kegiatan penelitian berlangsung.

a. Pelaksanaan Tindakan pada Siklus I

Evaluasi pelaksanaan tindakan sekolah pada siklus I ini adalah mengevaluasi program remedial hasil latihan dan pengembangan guru-guru yang menjadi subyek penelitian.

Dengan menganalisis hasil evaluasi pada tindakan siklus I penyusunan program remedial bagi anak-anak berkesulitan belajar Ilmu Pengetahuan Alam belum menunjukkan keberhasilan karena baru mencapai nilai rata-rata 3,7 belum mencapai kategori baik. Dari hasil penilaian dalam penyusunan program remedial bagai anak-anak berkesulitan belajar Ilmu Pengetahuan Alamn masih ditemukan kelelamhan-kelemahan antara lain dalam: 1) menentukan metode, 2) menentukan langkah-langkah remedial, 3) menentukan cara-cara memotivasi siswa dan 4) cara menyusun bahan remedial. Berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut peneliti perlu mengadakan perbaikan-perbaikan dalam pembinaan terutama dalam indicator 1) menentukan metode, 2) Menentukan langkah-langkah remedial, 3) menentukan cara-cara memotivasi siswa dan 4) cara menyusun bahan remedial sehingga penilaian penyususunan program remedial mendapat nilai kategori baik (4,00).

b. Pelaksanaan Penelitian Tindakan Sekolah Siklus II

Dengan menganalisis hasil evaluasi pada tindakan siklus II penyususnan program remedial bagi anak-anak berkesulitan belajar Ilmu Pengetahuan Alam mencapai nilai rata-rata 4,02 dapat di golongkan kategori baik. Penelitian tindakan sekolah ini dapat dikatakan berhasil sesuai dengan indikator keberhasilan penelitian yang telah ditetapkan pada bab III bahwa penelitian ini berhasil bila hasil evaluasi dari penyusunan program remedial minimal mendapat nilai baik. Karena keterbatasan waktu maka penelitian ini hanya dapat dilakukan sempai dua siklus.

Perbandingan Hasil Penilaian Program Remidial Guru

di SDN 2 Trembulrejo Kecamatan Ngawen Pra Siklus, Siklus I & II

No

Nama Guru

Tempat Mengajar

Pra Siklus

Siklus I

Siklus II

1

Wahyuningsih

Kelas III

3,07

3,56

3,81

 

2

Dian Kurniawati

Kelas IV

2,93

3,43

3,88

 

3

Hanizar

Kelas V

3,07

3,75

4,00

 

4

Siti Masfuatun

Kelas VI

3,00

3,75

4,00

 

PEMBAHASAN

SDN 2 Trembulrejo adalah salah satu penyelenggara program pendidikan inklusi yang konskuensinya sekolah harus menerima semua siswa dalam kondisi apapun termasuk anak-anak yang berkesulitan belajar Ilmu Pengetahuan Alam. Karena kondisi anak berkesulitan belajar Ilmu Pengetahuan Alam selalu mengalami hambatan dalam menerima pelajaran dan nilainya belum mencapai KKM, maka mereka perlu di berikan remedial teaching. Agar dapat memberikan remedial secara optimal dan terarah, maka guru harus membuat program remedial. Penyusunan program remedial meliputi beberapa komponen antara lain:

1. Identitas Sekolah

2. Identitas Mata Pelajaran

3. Kelas dan Semester

4. Alokasi waktu yang diperlukan

5. Jumlah pertemuan

6. Standar Kompetensi

7. Kompetensi Dasar

8. Indikator

9. Tujuan pembelajaran

10. Metode pembelajaran

11. Materi Ajar

12. Kesulitan/hambatan siswa

13. Langkah-langkah pembelajaran (kegiatan awal, inti dan penutup)

14. Alat, Bahan dan Sumber Belajar

15. Penilian.

Untuk menyusun program remedial agar dapat membantu anak berkembang secara optimal, maka kita sebagai guru harus mngetahui kesulitan/hambatan-hambatan yang dialami siswa. Kesulitan bagi anak-anak berkesulitan belajar Ilmu Pengetahuan Alam antara lain: kesulitan dalam mempelajari organ Penglihatan/Mata. Bagi anak-anak berkesulitan belajar banyak yang mengalami kesulitan dalam memahami tentang nilai tempat seperti nilai ratusan, puluhan dan satuan. Akibat tidak memahami nilai tempat ini anak berkesuitan belajar Ilmu Pengetahuan Alamn akan kesulitan dalam mempelajari organ Penglihatan/Mata seperti menjumlahkan semua digit tanpa memperhatikan nilai tempat sehingga hasil akhir mempelajari organ Penglihatan/Mata tdak sesuai dengan apa yang seharusnya. Selain kesulitan dalam mempelajari organ Penglihatan/Mata maka siswa akan kesulitan pada oeparsi Ilmu Pengetahuan Alam yang lainnya. Agar anak dapat berkembang secara optimal, maka guru dalam membuat program remedial perlu mengetahui hambatan da kesulitan anak dalam memahami konsep Ilmu Pengetahuan Alam, carikan cara pemahaman yang paling mudah dan sederhana bertahap dari yang mudah sampai yang komplek sehingga anak betul-betul memahami konsep Ilmu Pengetahuan Alam secara keseluruhan.

Pelaksanakan pembinaan dengan metode CLCK, pengawas memberikan contoh program remedia, menguraikan komponen-komponen program remedial dan memberikan contoh cara mengatasi kesulitan-kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal-soal Ilmu Pengetahuan Alam seperti dalam mempelajari organ Penglihatan/Mata. Selain mendapatkan contoh program remedial guru-guru juga diberi kesempatan untuk latihan, mencoba dan mengembangkan penyusunan program remedial. Hasil penyusunan program remedial bagi anak-anak berkesulitan belajar Ilmu Pengetahuan Alam yang dibuat guru diadakan evaluasi dan analisis untuk meningkatkan kegiatan-kegiatan selanjutnya.

Berdasarkan data tersebut pembinaan dengan metode Contoh Latih Coba dan Kembangkan (CLCK) dalam penyusunan Program Remedial bagi anak-anak berkesulitan belajar Ilmu Pengetahuan Alam yang telah dilakukan selama empat kali pertemuan dengan memberikan contoh program remedial dan latihan-latihan penyusunan program remedial serta mencoba dan mengembangkan penyusunan program remedial menunjukan hasil yang baik. Sesuai dengan hasil analisis evaluasi pada tindakan siklus I dan II penelitian ini dapat dikatakan berhasil. Keberhasilan dalam penelitian ini ditunjukan adanya peningkatan hasil penilaian pada program remedial bagi anak-anak berkesulitan belajar Ilmu Pengetahuan Alam yang dibuat oleh 4 orang guru kelas pada Pra Siklus 3,02, siklus I memperoleh nilai rata-rata 3,73 dan pada siklus II memperoleh nilai rata-rata 4,02 dengan kategori Baik.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan uraian hasil Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) dan Analisis hasil pembinaan dengan metode Contoh Latih Coba dan Kembangkan (CLCK) dalam penyusunan Program Remedial bagi anak-anak berkesulitan belajar Ilmu Pengetahuan Alam dapat disimpulkan:

1. Metode CLCK dapat meningkatkan kemampuan guru dalam penyusunan Program Remedial bagi anak-anak berkesulitan belajar Ilmu Pengetahuan Alam.

2. Berdasarkan penilaan penyusunan program remedial bagi anak-anak berkesulitan belajar Ilmu Pengetahuan Alam yang dibuat oleh 4 orang guru memperoleh nilai rata-rata 3.73 pada siklus I dan nilai rata-rata 4,03 pada siklus II.

Saran-saran

1. Bagi para guru yang siswanya belum mencapai KKM agar membuat program remedial dan mencarikan cara termudah dalam memahami materi pembelajaran khususnya bagi anak-anak yang mengalami kesulitan belajar Ilmu Pengetahuan Alam.

2. Bagi Pengawas dan Kepala Sekolah melalui supervisi dapat memberikan bimbingan kepada guru-guru untuk membuat program remedial dengan pendekatan CLCK serta pendekatan yang lainnya.

3. Bagi peneliti lanjutan, penelitian ini dapat diteliti dengan kajian yang lebih luas sehingga hasilnya akan lebih sempurna.

4. Seyogyanya pengawas sekolah dengan karakteristik permasalahan yang dihadapi guru yang relatif sama, dapat menerapkan program remedial dengan pendekatan CLCK dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi guru-guru dalam wilayah binaanya.

5. Seyogyanya kepala sekolah dapat menerapkan program remedial dengan pendekatan CLCK dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi guru-guru di sekolahnya.

6. Seyogyanya pengurus KKG Kecamatan dapat mensosialisasikan Pendekatan CLCK dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi para guru di tingkat KKG

7. Pembinaan peningkatan keterampilan mengajar model CLCK, dapat dijadikan salah satu alternatif tindakan untuk peningkatan profesional guru.

DAFTAR PUSTAKA

Aqib, Zainal. 2009. Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru Bandung: CV Yrama Widya.

Asrori, 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Wacana Prima.

Berit H. Johnsen dan Miriam D. Skjorten, 1935. Pendidikan Kebutuhan Khusus Sebuah Pengantar. Terjemahan oleh Susi Septaviana Rakhmawati, 2003. Bandung: Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia.

Depdiknas, 2002.Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi ketiga, Jakarta: Balai Pustaka

Dirjen PMPTK, 2008a. Pedoman Penelitian Tindakan Sekolah (School Action Research)Peningkatan Kompetensi Supervisi Pengawas Sekolah SMA/SMK. Jakarta: Depdiknas, Ditjen PMPTK.

Dirjen PMPTK, 2008b. Petunjuk Teknis Penelitian Tindakan Sekolah (School Action Research)Peningkatan Kompetensi Supervisi Pengawas Sekolah SMA/SMK. Jakarta: Depdiknas, Ditjen PMPTK.

Purwanto, E. dan Suhairi H.N. 1996. Bimbingan Konseling Anak Luar Biasa. Jakarta: Depdikbud.

Ekodjatmiko, 2007. Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa.

Fish John & Evans Jennifer, 1995, Managing Special Education (codes, charters, and competition) , Buckingham, Open University Press.

Foreman, Phil. 2000, Integration And Inclusive In Action 2nd Edition, Australia: Nelson Thomson Learning, Victoria.

Uno, Hamzah B. 2016. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajaryang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara

Harwell J. M., 1998, Complete Learning Disabilities handbook New Second Edition, California, USA: The Center for Applied Research in Education,.