MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN GURU

DENGAN MENGEFEKTIFKAN SUPERVISI KELAS BERBASIS KLINIS MELALUI PEDEKATAN PERSUASI, IDENTIFIKASI DAN SOLUSI

SDN 2 SUKOREJO TAHUN PELAJARAN 2018/2019

Suprih

SDN 2 Sukorejo, Kec. Tunjungan, Kab. Blora

 

ABSTRAK

Penelitian tentang mengefektifkan supervisi kelas berbasis klinis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran guru di SDN 2 Sukorejo, Kec. Tunjungan Kabupaten Blora Tahun 2018. Penelitian ini bertujuan untuk (1) meningkatkan kualitas pembelajaran guru dengan mengefektifkan supervisi kelas berbasis klinis di SDN 2 Sukorejo. (2) mengetahui hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan supervisi kelas berbasis klinis dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran guru di SDN 2 Sukorejo. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan sekolah dengan 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari tahapan perencanaan, pelaksanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah 6 orang guru Kelas I-VI SDN 2 Sukorejo. Instrumen penelitian yang digunakan adalah instrument supervise klinis, lembar penilaian rencana pelaksanaan pembelajaran dan lembar penilaian pelaksanaan pembelajaran. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa (1) supervisi kelas berbasis klinis dapat meningkatkan kualitas pembelajaran guru di SDN 2 Sukorejo, sesuai hasil penilaan rencana pelaksanaan pembelajaran rata-rata 3.4 pada siklus I dan 4,4 pada siklus II, dan hasil penilaan pelaksanaan pembelajaran nilai rata-rata 3.7 pada siklus I dan 4,3 pada siklus II (2) hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan supervisi kelas berbasis klinis adalah tidak semua guru siap untuk disupervisi klinis.

Kata Kunci: Supervisi kelas, Berbasis klinis, Pendekatan Persuasi, Identifikasi dan Solusi

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Penuntasan wajib belajar pendidikan dasar merupakan prioritas dalam program pembangunan pendidikan nasional dan juga merupakan bagian dari pengembangan sumber daya manusia (SDM). Kita menyadari bahwa bangsa Indonesia sedang berhadapan dengan era globalisasi ekonomi terbuka dan persaingan bebas serta perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan komunikasi yang sangat pesat.

Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan hak dan kewajiban seluruh warga negara Indonesia. Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib untuk mengembangkan kemampuan dan potensi yang dimilikinya melalui pendidikan sehingga dapat menjadi sumber daya manusia yang potensial. Agar setiap warga negara dapat mengenyam pendidikan yang di harapkan, maka pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.

Sebagai perwujudan cita-cita nasional tersebut telah diundangkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Fungsi dan Tujuan pendidikan nasional dalam Undang-Undang nomor 20 tersebut adalah: “Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tersebut setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu dan kesempatan yang seluas-luasnya untuk meningkatkan pendidikan sepanjang hayat guna memperoleh pengetahuan, kemampuan dan keterampilan sesuai dengan potensi masing-masing individu. Hal ini juga berlaku bagi anak-anak berkebutuhan khusus, mereka juga memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan serta wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya, karena anak-anak berkebutuhan khusus (penyandang cacat) merupakan warga negara Indonesia seperti warga negara Indonesia lainya yang normal. Meskipun mereka memiliki keterbatasan karena kelainannya, namum mereka juga masih memiliki potensi yang dapat dikembangkan, hal ini merupakan aset bangsa yang perlu mendapatkan perhatian sepantasnya.

Berdasarkan pemikiran di atas perlu segera dilakukan penelitian mengenai peningkatan kualitas pembelajaran guru dengan mengefektifkan supervisi kelas berbasis klinis dengan pendekatan PIS di SDN 2 Sukorejo Kecamatan Tunjungan Kabupaten Blora semester II pada tahun pelajaran 2018/2019.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, dapat dirumuskan masalah yang akan dijadikan fokus penelitian sebagai berikut:

  1. Apakah dengan mengefektifkan supervisi kelas berbasis klinis dengan pendekatan PIS dapat meningkatkan kualitas pembelajaran guru di SDN 2 Sukorejo, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora?
  2. Apakah hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan supervisi kelas berbasis klinis dengan pendekatan PIS dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran guru di SDN 2 Sukorejo, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah penelitian tersebut di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

  1. Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran guru dengan mengefektifkan supervisi kelas berbasis klinis dengan pendekatan PIS di SDN 2 Sukorejo, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora.
  2. Untuk mengetahui hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan supervisi kelas berbasis klinis dengan pendekatan PIS dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran guru di SDN 2 Sukorejo, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora.

Manfaat Penelitian

Manfaat teoritis

  1. Pengembangan ilmu manajemen pendidikan terutama yang berkaitan dengan masalah supervisi kelas berbasis klinis dengan pendekatan PIS dalam pembelajaran di tingkat satuan pendidikan dasar (khususnya Sekolah Dasar), sehingga tujuan sekolah dapat tercapai secara efektif dan efisien dan produktif.
  2. Menjadi pedoman/panduan dan rujukan atau sebagai bahan masukan bagi para pendidik, peneliti pendidikan, pengelola lembaga pendidikan yang memiliki kesamaan karakteristik.
  3. Sebagai bahan referensi peneliti lain yang akan melaksanakan penelitian serupa dimasa yang akan datang.

Manfaat praktis

Manfaat praktis dari penelitian ini adalah:

  1. Bagi guru sebagai informasi tambahan pengetahuan tentang pelaksanaan supervisi kelas berbasis klinis dengan pendekatan PIS dan pembiasaan bagi guru untuk menerima kegiatan supervisi kelas.
  2. Bagi peneliti sebagai suatu pengalaman yang berharga dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pelaksanaan supervisi kelas berbasis klinis dengan pendekatan PIS.
  3. Bagi Guru SDN 2 Sukorejo, Kecamatan Tunjungan Kabupaten Blora sebagai referensi yang dapat dipelajari untuk pengayaan pelaksanaan supervisi kelas berbasis klinis dengan pendekatan Persuasi, Identifikasi dan Solusi.

 

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

Kajian Teori

Pengertian Supervisi

Menurut N. A. Ametembun (2000:1) istilah supervisi pendidikan dapat dijelaskan baik menurut asal usul (etimologis), bentuk perkataannya (morfologis), maupun isi yang terkandung dalam perkataan itu (semantik). Istilah supervisi secara etimologis diambil dari perkataan Inggris “supervision” artinya pengawasan, maka supervisi pendidikan berarti kepengawasan dibidang pendidikan. Sedangkan secara morfologis supervisi dapat dijelaskan menurut bentuk perkataannya, supervisi dari dua patah kata “super” dan “visi”, yaitu super berarti atas atau lebih, dan visi berarti lihat, tilik, awasi.

Seorang “supervisor” memang mempunyai posisi di atas atau mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari pada orang-orang yang disupervisinya, tugasnya adalah melihat/menilik atau mengawasi orang-orang yang disupervisinya itu. Kelebihan yang dimiliki supervisor bukan hanya karena posisi atau kedudukan yang ditempatinya, akan tetapi juga karena pengalamannya, pendidikannya, kecakapan atau keterampilan-keterampilan yang dimilikinya atau karena mempunyai sifat-sifat kepribadian yang meninjol dari pada orang-orang yang disupervisinya. Dengan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya, seorang supervisor dapat melihat, menilik atau mengadakan pengawasan terhadap yang disupervisinya.

Pengertian supervisi secara umum menurut Harris dan Benssent (1971) yang dikutip oleh Nurtain (1989:11) menyebutkan bahwa supervisi adalah apa yang dilakukan personalia sekolah dengan orang dewasa dan barang-barang dengan maksud untuk memelihara atau merubah penyelenggaraan sekolah agar supaya secara langsung dapat mempengaruhi tercapainya tujuan-tujuan pengajaran pokok sekolah.

Kerangka Berfikir

Berdasarkan kajian pustaka di atas, kelemahan metode praktikum diasumsikan dapat diatasi. Pelaksanaan pembelajaran yang kurang optimal akan menyebabkan hasilnya juga tidak optimal. Pembelajaran akan terlaksana dengan baik bila ada pengawasan yang intensif dari atasan baik kepala sekolah maupun pengawas pembina. Pengawasan ini salah satunya dilakukan dengan supervisi kelas oleh kepala sekolah dan pengawas.

Peningkatan kualitas pembelajaran bagi guru diperlukan supervisi kelas berbasis klinis. Hal ini pengawas selaku pembina berkewajiban membina guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran menggunakan berbagai cara. Salah satu cara yang digunakan adalah mengefektifkan pelaksanaan supervisi kelas berbasis klinis dengan pendekatan PIS atau persuasi, identifikasi dan solusi.

METODOLOGI PENELITIAN

Setting Penelitian

Tempat Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di SDN 2 Sukorejo, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora pada Korwil Kecamatan Tunjungan Kabupaten Blora adalah wilayah kerja Peneliti. Jumlah Guru yang menjadi sampel penelitian ada 6 Guru.

Waktu Penelitian

Penelitian tindakan ini dilaksanakan di SDN 2 Sukorejo, Kecamatan Tunjungan Kabupaten Blora, yang dilaksanakan mulai bulan Juli s.d. Oktober 2018.

Subyek Penelitian

Subyek penelitian ini adalah guru-guru kelas I-VI (Guru Kelas) SD di SDN 2 Sukorejo Kecamatan Tunjungan Kabupaten Blora pada semester II tahun pelajaran 2018/2019. Adapun yang menjadi obyek penelitian adalah supervisi akademik model Supervisi Klinis sebagai tindakan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh guru-guru kelas I-VI dalam menguasai keterampilan mengajar yaitu 1). Keterampilan membuka dan menutup pelajaran, 2). Keterampilan menjelaskan, 3). Keterampilan bertanya, 4). Keterampilan memberikan penguatan, dan 5). Keterampilan menggunakan variasi. Pada tabel di bawah ini adalah daftar peserta Supervisi Klinis di SDN 2 Sukorejo yang menjadi subyek penelitian.

 

Sumber Data

Sumber Data Primer

Dalam penelitian yang merupakan sumber data primer adalah:

  • Peningkatan etos kerja guru melalui pembinaan kedisiplinan dalam proses belajar mengajar di sekolah.
  • Setelah diadakan pembinaan kedisiplinan maka proses belajar mengajar di SDN 2 Sukorejo mulai tampak membuahkan hasil, sehingga terjadi peningkatan etos kerja mandiri guru di sekolah.

Sumber Data Skunder

Dalam penelitian ini yang merupakan sumber data sekunder adalah hasil pengamatan dari tim kolaborasi (teman sejawat), pada saat diadakan pembinaan kedisiplinan dalam proses belajar mengajar.

Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini pengumpulan Data menggunakan teknik pengamatan yang dilakukan oleh Kepala Sekolah. Dengan mengamati beberapa aspek yang terkait dengan etos kerja mandiri guru yaitu ketepatan waktu, kerapian memakai seragam, kerajinan menyusunan RPP, RPP PBM.

Alat Pengumpulan Data

  • Lembar Tes

Lembar tes digunakan untuk memperoleh data tentang meningkatkan Kualitas Pembelajaran Guru dengan mengefektifkan supervisi kelas berbasis klinis melalui Pedekatan Persuasi, Identifikasi dan Solusi SDN 2 Sukorejo Tahun Pelajaran 2018/2019”

  • Lembar Observasi

Lembar observasi digunakan untuk mengumpulkan data tentang keaktifan guru dalam proses belajar mengajar.

  • Wawancara

Wawancara merupakan salah satu teknik pengumpulan data untuk mendapatkan informasi dengan cara bertanya langsung kepada responden (2009:192) interview atau wawancara adalah suatu proses tanya jawab antara dua orang atau lebih secara langsung berhadapan atau melalui media. Keduanya berkomunikasi secara langsung baik secara berstruktur atau yang dilakukan dengan persiapan maupun tanpa persiapan lebih dahulu, sehingga antara pertanyaan dengan jawaban dapat diperoleh secara langsung dalam konteks kejadian secara timbal balik. Dalam wawancara ini peneliti berusaha mengetahui upaya meningkatkan etos kerja mandiri guru dalam proses belajar mengajar.

  • Dokumentasi

Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger, agenda dan sebagainya (Arikunto, 2002:206). Metode ini digunkaan untuk melihat situasi dan kondisi lainnya yang terkait dengan data-data tertulis tentang karakteristik fisik SDN 2 Sukorejo Kec. Ngawen.

Analisis Data

Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif yang meliputi:

  1. Analisis Deskriptif pemanfaatan kedisiplinan dalam proses belajar mengajar untuk meningkatkan Kualitas Pembelajaran Guru dengan mengefektifkan supervisi kelas berbasis klinis melalui Pedekatan Persuasi, Identifikasi dan Solusi dengan cara membandingkan dengan hasil yang dicapai siklus I dengan siklus II.
  2. Analisis Deskriptif Kualitatif hasil obervasi dengan cara membandingkan hasil obervasi dan refleksi pada siklus I dan siklus II.

Prosedur Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan sekolah, dengan langkah-langkah: penetapan focus permasalahan, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan yang disertai dengan observasi, interpretasi dan replikasi. Penelitian tindakan dengan melakukan supervisi kelas berbasis klinis dengan pendekatan PIS, yaitu persuasi, identifikasi dan solusi. Tindakan yang pernah dilakukan akan selalu dipelajari dan dievaluasi untuk menentukan tindakan selanjutnya. Tindakan lanjutan ini akan berguna untuk perbaikan skenario yang tentunya akan memberikan gambaran pasti terhadap pelaksanaan tindakan dalam penelitian. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, masing-masing siklus satu kali pertemuan. Menurut Depdiknas (2008:13) Penelitian tindakan sekolah berbentuk siklus metodologis yang berdaur (cyclical methodology cyclus) yang meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pembahasan Tiap Siklus dan Antar Siklus

Kegiatan Pra Siklus

Dengan menganalisis hasil evaluasi pada tindakan siklus I penyusunan Rencana Program Pembelajaran belum menunjukkan keberhasilan karena baru mencapai nilai rata-rata 2,42 dan belum mencapai kategori baik. Dari hasil penilaian dalam penyusunan Rencana Program Pembelajaran masih ditemukan kelemahan-kelemahan antara lain dalam: 1) merumuskan tujuan, 2) pengaturan ruang kelas, 3) menentukan materi yang sesuai karakteristik siswa dan 4) cara menentukan prosedur penilaian. Berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut peneliti perlu mengadakan perbaikan-perbaikan dalam pembinaan terutama dalam indikator: 1) merumuskan tujuan, 2) pengaturan ruang kelas, 3) menentukan materi yang sesuai karakteristik siswa dan 4) cara menentukan prosedur penilaian agar penilaian penyusunan rencana program pembelajaran mendapat nilai kategori cukup (2.47)

Kegiatan Siklus I

Dengan menganalisis hasil evaluasi pada tindakan siklus I penyusunan Rencana Program Pembelajaran belum menunjukkan keberhasilan karena baru mencapai nilai rata-rata 3,4 dan belum mencapai kategori baik. Dari hasil penilaian dalam penyusunan Rencana Program Pembelajaran masih ditemukan kelemahan-kelemahan antara lain dalam: 1) merumuskan tujuan, 2) pengaturan ruang kelas, 3) menentukan materi yang sesuai karakteristik siswa dan 4) cara menentukan prosedur penilaian. Berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut peneliti perlu mengadakan perbaikan-perbaikan dalam pembinaan terutama dalam indikator: 1) merumuskan tujuan, 2) pengaturan ruang kelas, 3) menentukan materi yang sesuai karakteristik siswa dan 4) cara menentukan prosedur penilaian agar penilaian penyusunan rencana program pembelajaran mendapat nilai kategori baik (4,0).

Kegiatan Siklus II

Berdasarkan hasil analisis pelaksanaan tindakan siklus II, setelah peneliti memberikan bimbingan secara individual dan memberikan kesempatan pada guru untuk menentukan solusi pemecahan masalah kesenjangan dalam pembelajaran sementara peneliti hanya mengarahkan hasil penilaian Rencana Pelaksanaan Pembelajaran mendapat nilai rata-rata 4,4 dan penilaian Pelaksanaan Pembelajaran mendapat nilai rata-rata 4,3 ini berarti mencapai kategori baik, karena lebih dari (4,0)

Pembahasan Antar Siklus

Kegiatan tindakan dilakukan wawancara sebelum supervisi kelas, observasi/supervisi kelas dan wawancara/diskusi setelah observasi/supervisi kelas. Sebelum supervisi dilakukan wawancara untuk mengetahui persiapan dan kesiapan dari guru yang bersangkutan untuk di supervisi klinis, selanjutnya pelaksanaan supervisi untuk mengetahui gambaran nyata apa yang dilakukan guru dalam mengajar untuk di evaluasi apakah sesuai dengan teknik mengajar yang ideal, wawancara setelah supervisi kelas untuk membahas kondisi pembelajaran yang belum ideal dan mencari solusi pemecahannya sehingga kegiatan tersebut tidak akan terjadi pada kegiatan pembelajaran berikutnya.

Hasil Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran Siklus I dan II

NO INDIKATOR Rata-rata Siklus Peningkatan
    I II Nilai %
1 Memeriksa kesiapan siswa 3.8 4.3 0.5 12.3
2 Melakukan kegiatan apersepsi 3.8 4.3 0.5 12.3
3 Menunjukkan penguasaan materi pembelajaran 4.0 4.5 0.5 12.5
4 Mengaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan 3.5 4.0 0.5 14.3
5 Menyampaikan materi dengan jelas dan sesuai dengan hierarki belajar 3.8 4.0 0.2 5.3
6 Mengaitkan materi dengan realitas kehidupan 3.7 4.7 1.0 27.0
7 Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi (tujuan) yang akan dicapai 3.8 4.5 0.7 18.4
8 Melaksanakan pembelajaran secara runtut 3.7 4.0 0.3 8.1
9 Menguasai kelas 3.0 4.2 1.2 40.0
10 Melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual 3.7 4.3 0.6 16.2
11 Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif 3.7 4.2 0.5 13.5
12 Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan 4.0 4.2 0.2 5.0
13 Menggunakan media secara efektif /efisien 3.3 4.5 1.2 36.4
14 Menghasilkan pesan yang menarik 3.7 4.3 0.6 16.2
15 Melibatkan siswa dlam pemanfaatan media 3.2 4.2 1.0 31.3
16 Menumbuhkan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran 3.8 4.3 0.5 13.2
17 Menunjukkan sikap terbuka terhadap respons siswa 4.0 4.3 0.3 7.5
18 Menumbuhkan keceriaan dan antusisme siswa dalam belajar 3.5 4.3 0.8 22.9
19 Memantau kemajuan belajar selama proses 3.2 4.5 1.3 40.6
20 Melakukan penilaian akhir sesuai dengan kompetensi (tujuan) 4.0 4.5 0.5 12.5
21 Menggunakan bahasa lisan dan tulis secara jelas, baik, dan benar 3.8 4.2 0.4 10.5
22 Menyampaikan pesan dgn gaya yg sesuai 3.8 4.2 0.4 10.5
23 Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan siswa 4.0 4.2 0.2 5.0
24 Melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan, atau kegiatan, atau tugas sebagai bagian remidi/pengayaan 3.3 4.3 1.0 30.3
  Jumlah 88.2 103.0 14.8 16.8
  Rata-rata 3.7 4.3 0.6 16.8

 

PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan uraian hasil Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) dan Analisis hasil pembinaan dengan mengefektifkan supervisi kelas berbasis klinis dengan pendekatan Persuasi, Identifikasi dan Solusi di SDN 2 Sukorejo, Kecamatan Tunjungan dapat disimpulkan bahwa:

  1. Supervisi kelas berbasis klinis dengan pendekatan Persuasi, Identifikasi dan Solusi dapat meningkatkan kualitas pembelajaran guru di SDN 2 Sukorejo, Kecamatan Tunjungan. Skor penilaian Rencana Pelaksanaan Pembelajaran meningkat 27.9% dari siklus I dengan rata-rata 3.4 menjadi rata-rata 4.4 pada siklus II, adapun skor hasil penilaian pelaksanaan pembelajaran meningkat 16.8% dari siklus I dengan rata-rata 3.7 menjadi rata-rata 4.3 pada siklus II.
  2. Hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan supervisi kelas berbasis klinis dengan pendekatan Persuasi, Identifikasi dan Solusi dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran guru di SDN 2 Sukorejo, Kecamatan Tunjungan adalah:
    1. Tidak semua guru siap untuk disupervisi klinis
    2. Karena adanya berbagai macam kegiatan kepala sekolah dan pengawas maka pelaksanaan supervisi klinis hanya dapat dilaksanakan pada saat-saat tertentu.

 

 

Saran dan Tindak Lanjut

  1. Bagi guru harus sering disupervisi dan berkonsultasi konsultasi kepada pengawas, kepala sekolah, teman sejawat dan guru senior agar dapat mengetahui kelemahan dan kelebihannya masing-masing, sehingga mudah menyelesaikan permasalahan-permasalahan pembelajaran.
  2. Bagi Pengawas dan Kepala Sekolah perlu melakukan supervisi klinis agar dapat memberikan bimbingan kepada guru-guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
  3. Bagi peneliti lanjutan, penelitian ini dapat diteliti dengan kajian yang lebih luas secara mendalam dengan mengkaji pengaruh berbagai faktor terhadap kualitas pembelajaran guru sehingga hasilnya akan lebih sempurna.

DAFTAR PUSTAKA

Ametembun N.A 2000, Supervisi Pendidikan, Bandung: Suri.

Aqib, Z. 2009. Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru Bandung: CV Yrama Widya.

Depdiknas, 2002.Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi ketiga, Jakarta: Balai Pustaka

Dirjen PMPTK, 2008a. Pedoman Penelitian Tindakan Sekolah (School Action Research)Peningkatan Kompetensi Supervisi Pengawas Sekolah SMA/SMK. Jakarta: Depdiknas, Ditjen PMPTK.

Dirjen PMPTK, 2008b. Petunjuk Teknis Penelitian Tindakan Sekolah (School Action Research)Peningkatan Kompetensi Supervisi Pengawas Sekolah SMA/SMK. Jakarta: Depdiknas, Ditjen PMPTK.

Nurtain, 1989, Supervisi Pengajaran (Teori dan Praktek), Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti.

Piet A.S. 2000, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta.

Purwanto N. 2005. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung. Rosda.

Suharsimi A. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Usman M.U. 2011. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Wijaya DN., (2011) Peningkatan Kemampuan Guru dalam Menyusun RPP melalui Supervisi Klinis dan Implikasinya terhadap pembelajaran IPS. [email protected]. Website: http://fis.um.ac.id.