PEMBELAJARAN PENTINGNYA APLIKASI KASIR TOKO

MELALUI MODEL DISCOVERY LEARNING

BAGI SISWA SMK MUHAMMADIYAH WATUKELIR

TAHUN PELAJARAN 2019/2020

 

Surati

SMK Muhammadiyah Watukelir

 

ABSTRAK

Tujuan pembahasan ini adalah untuk mendiskripsikan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran materi pembelajaran pentingnya aplikasi kasir toko sebagai pendukung kesuksesan bisnis menggunakan model Discovery Learning pada siswa SMK Muhammadiyah Watukelir pada tahun pelajaran 2019/2020. Membelajarkan pentingnya aplikasi kasir toko sebagai pendukung kesuksesan bisnis idealnya harus mencakup tiga fator yaitu personalia, manajemen, dan subjek yang dikerajakan. Belajar aplikasi kasir toko bukan sekadar proses transfer ilmu dari guru, tetapi merupakan sebuah proses untuk mencari, menemukan secara aktif, dan berbagi pengetahuan yang telah diperoleh sehingga terjadi peningkatan pemahaman. Aplikasi kasir toko telah mengalami peningkatan yang signifikan dari sekadar struk penjualan langsung menjadi aplikasi yang berbasiskan cloud dengan tujuan membantu proses transaksi penjualan utama.Menggantikan posisi mesin kasir konvensional, fungsi utama dari aplikasi kasir adalah membantu proses pembayaran menjadi terintegrasi. Pengawasan transaksi penjualan tanpa harus berada di belakang mesin kasir karena sistem kasir terhubung dengan back office.Bukan hanya berfungsi sebagai monitoring, dari sisi back office tetapi juga bisa mendapatkan analisis data penjualan secara real time.

Kata kunci: aplikasi kasir; Discovery Learning; Point of Sales

                                                                               

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Pembelajaran pentingnya aplikasi kasir toko melalui Model Discovery Learning merupakan bagian dari peningkatan ilmu bisnis. Perkembangan bisnis yang pesat terkadang membuat pengusaha baru kewalahan. Hampir sesuatunya dikerjakan sendiri dan banyak berkutat pada bagian operasional sehingga sering bagian keuangan sebagai pendukung sukses jangka panjang menjadi terabaikan.

Membelajarkan pentingnya aplikasi kasir toko sebagai pendukung kesuksesan bisnis idealnya harus mencakup tiga fator yaitu personalia, manajemen, dan subjek yang dikerajakan. Belajar aplikasi kasir toko bukan sekadar proses transfer ilmu dari guru, tetapi merupakan sebuah proses untuk mencari, menemukan secara aktif, dan berbagi pengetahuan yang telah diperoleh sehingga terjadi peningkatan pemahaman. Proses untuk menemukan fakta-fakta dan konsep-konsep melalui kegiatan-kegiatan ilmiah seperti observasi dan praktik akan membiasakan siswa berpikir tingkat tinggi dan menumbuhkan sikap wirausaha siswa.

Pengajaran aplikasi kasir toko harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat menyediakan berbagai pengalaman belajar. Guru harus memahami bahwa pada dasarnya siswa sudah memiliki pengetahuan yang harus dikembangkan oleh guru dengan berbagai strategi pembelajaran. Apabila siswa mengalami apa yang dipelajari, serta mampu mengaitkan antara materi yang dipelajari dengan kehidupan nyata atau belajar secara alamiah, dapat menjadikan belajar lebih bermanfaat dan bermakna (Ausubel dalam Dahar, 1989:111).

Kaitannya dalam pembelajaran di sekolah, sebagian besar materi aplikasi kasir toko sebagai pendukung kesuksesan bisnis merupakan materi yang bersifat abstrak. Objek yang dipelajari dan peristiwa yang terjadi tidak dapat terlihat secara langsung. Materi tersebut merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa. Rendahnya nilai pelajaran aplikasi kasir toko juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain adalah rendahnya motivasi siswa dalam proses pembelajaran serta dan kemampuan berpikir abstrak siswa yang berbeda-beda. Padahal sebagian besar tersebut termasuk di dalamnya materi yang abstrak dan imajinatif.

Berdasarkan permasalahan yang ada, guru perlu melakukan inovasi pembelajaran dengan menerapkan dan mengembangkan berbagai model, metode, dan strategi mengajar yang sesuai dengan hakikat biologi. Pembelajaran tidak hanya berorientasi pada produk tetapi didasarkan pada proses. Melalui pengembangan keterampilan proses, siswa yang awalnya hanya menghapalkan konsep-konsep menjadi membangun konsep-konsep yang diperolehnya. Salah satu model pembelajaran yang dapat mengakomodasi keterampilan proses, mendorong konstruktivisme pada siswa, dan meningkatkan kemampuan metakognitif adalah model pembelajaran Discovery Learning. Bruner (1967) menyatakan Dicovery Learning bertujuan untuk memberikan kesempatan siswa mengoleksi, mengorganisasi, dan menganalisis data atau bahan yang dipelajari yang kemudian digeneralisasi menjadi suatu bentuk akhir (Cruisckshank, Jenkinks, & Metcalf, 2009: 261). Model pembelajaran Discovery Learning memiliki 5 tahapan yang dapat melatih siswa belajar sesuai dengan metode ilmiah, yaitu orientation, hypotesis generation, hypotesis testing, conclusion, regulation and evaluation (Vermaans, 2003).

Melalui model Discovery Learning diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan melalui serangkaian kegiatan-kegiatan ilmiah sehingga siswa lebih cepat memahami suatu konsep. Pengetahuan yang diperoleh siswa berdasarkan pengalaman menjadi lebih bermakna dan kuat dalam memori jangka panjang, sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar kognitif, psikomotorik, dan afektif.

Menurut beberapa pembahasan, penerapan model discovery learning yang telah dilakukan menunjukkan hasil yang positif dalam hasil belajar siswa. Misalnya, pembahasan oleh Fitri Astuti Wahyu Utami (2015) menyatakan bahwa siswa yang diberi pembelajaran menggunakan model Guided Discovery Learning lebih mudah memahami materi karena membangun konsep dengan proses mental sendiri. Demikian juga dengan pembahasan Azhari (2015) menunjukkan peningkatan pembelajaran karena penerapan model Discovery Learning mempengaruhi kesiapan dan aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan hal tersebut, maka dilakukan pembahasan pembelajaran pentingnya aplikasi kasir toko sebagai pendukung kesuksesan bisnis.

 

 

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, dirumuskan masalah sebagai berikut: Bagaimanakah proses pembelajaran materi pentingnya aplikasi kasir toko sebagai pendukung kesuksesan bisnis melalui model Discovery Learning pada siswa pada SMK Muhammadiyah Watukelir Tahun Pelajaran 2019/2020?

Tujuan Pembahasan

Tujuan pembahasan ini adalah untuk mendiskripsikan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran materi pembelajaran pentingnya aplikasi kasir toko sebagai pendukung kesuksesan bisnis menggunakan model Discovery Learning pada siswa pada tahun pelajaran 2019/2020.

Manfaat Pembahasan

(1) Hasil pembahasan mampu memberikan kontribusi terhadap pembelajaran pentingnya aplikasi kasir toko sebagai pendukung kesuksesan bisnis melalui model Discovery learning; (2) Dapat meningkatkan motivasi dan keterampilan proses.(3) Model pembelajaran Discovery Learning dapat digunakan untuk menyelenggarakan pembelajaran yang efektif dan menarik.

TINJAUAN PUSTAKA

Aplikasi Kasir untuk Mengatasi Permasalahan Keuangan

Pentingnya aplikasi kasir toko sebagai pendukung kesuksesan bisnis. Kondisi seseorang saat ini banyak yang terjun di dunia kewirausahaan. Para pebisnis dan pelaku UMKM diuntungkan dengan peraturan dan dukungan pemerintah yang kuat akan kondisi usaha Indonesia. Hal ini membuat banyak pengusaha baru bermunculan di berbagai sektor, khususnya retail. Pemerintah mentargetkan Indonesia untuk memiliki jumlah wirausaha yang lebih banyak lagi di masa depan karena masih kalah dengan negara maju yang memiliki 14% populasi sebagai pengusaha.

Salah satu cara termudah untuk mengatasi permasalahan keuangan khususnya untuk wirausaha baru adalah dengan memiliki aplikasi kasir toko yang handal dan terintegrasi yang disebut aplikasi POS ( Point of Sales ). POS digunakan untuk membantu pengusaha mendapatkan data penjualan secara instan pada saat terjadi tansaksi di mana dan kapan pun.

Aplikasi kasir toko telah mengalami peningkatan yang signifikan dari sekadar struk penjualan langsung menjadi aplikasi yang berbasiskan cloud dengan tujuan membantu proses transaksi penjualan utama.Menggantikan posisi mesin kasir konvensional, fungsi utama dari aplikasi kasir adalah membantu proses pembayaran menjadi terintegrasi. Pengawasan transaksi penjualan tanpa harus berada di belakang mesin kasir karena sistem kasir terhubung dengan back office.Bukan hanya berfungsi sebagai monitoring, dari sisi back office tetapi juga bisa mendapatkan analisis data penjualan secara real time.

Aplikasi ini bisa digunakan untuk berbagai bidang mulai dari industri food and beverage, fashion, beauty, dan pariwisata hingga retail dan memiliki potensinya yang tidak terbatas. Proses bisnis bisa menjadi lebih mudan dan menguntungkan menggunakan aplikasi POS yang tepat.

Teori Belajar Konstruktivisme

Teori ini berkembang dari kerja Piaget, Vygotsky, teori pemrosesan informasi, teori psikologi kognitif Bruner, dan yang lain. Konstruktivisme merupakan proses pembelajaran yang menerangkan cara pengetahuan disusun dalam diri manusia. Teori konstruktivisme ini menyatakan siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama, dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai. (Slavin 2008:18). Satu cara untuk dapat mengetahui intisari pandangan konstruktivisme adalah membahas dua bentuknya, yaitu konstruktivisme individu dan sosial.

  • Konstruktivisme Individu

Konstruktivisme individu fokus pada “inner psikologi” manusia, yaitu mengartikan sesuatu dengan menggunakan pengetahuan dan keyakinan secara individu. (Dahar, 1989).

  • Konstruktivisme Sosial

Vygotsky meyakini bahwa interaksi sosial, unsur-unsur budaya, dan aktivitasnya adalah yang membentuk pengembangan dan pembelajaran individu, atau dengan kata lain. (Slavin, 2008).

Teori Belajar Kognitivisme

  1. Teori Belajar Ausubel

Ausubel berpendapat pembelajaran haruslah bermakna. Pembelajaran bermakna dapat diartikan sebagai suatu proses mengkaitkan informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat pada struktur kognitif seseorang. Menurut Novak (1985) ada tiga manfaat belajar bermakna yaitu: (1) informasi yang dipelajari secara bermakna dapat diingat lebih lama, (2) informasi yang tersubsumsi mengakibatkan peningkatan diferensiasi dari sumber-sumber sehingga memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi pelajaran yang mirip, (3) informasi yang dilupakan setelah subsumsi obliteratif, meningkatkan efek residual pada subsumer, sehingga mempermudah belajar hal-hal yang mirip (Dahar, 1989:115).

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar bermakna diperlukan dalam pembelajaran biologi, sebab konsep-konsep biologi sangat luas, rumit, dan banyak menggunakan bahasa latin yang kurang akrab di telinga. Keterlibatan seluruh panca indera dan seluruh otak untuk berpikir dan bekerja dalam kegiatan pembelajaran sangat membantu terciptanya kebermaknaan belajar. Proses belajar bermakna sangat relevan dengan model discovery learning yang memiliki karakteristik bahwa proses pembelajaran akan bermakna jika siswa dapat mengkaitkan antara materi yang dipelajari dengan pengalaman yang dia dapat. Pembelajaran menggunakan model discovery learning menuntut siswa untuk tidak sekedar hapal terhadap konsep-konsep tertentu, tetapi juga dituntut mengkaitkan konsep yang dipelajari dengan pengalaman nyata yang dimiliki siswa untuk membangun konsep baru.

  1. Teori Belajar Gagne

Gagne dalam Indrawati (2001:35) menyatakan hasil-hasil belajar yang diharapkan dapat tercapai bila dalam pembelajaran kondisi-kondisi internal dan eksternal yang diciptakan oleh guru berhasil. Kondisi internal berupa pernyataan-pernyataan internal siswa dan proses kognitif, hasil-hasil belajar yang diharapkan adalah informasi verbal, keterampilan intelektual, keterampilan motorik, sikap, dan teknik kognitif.

Variasi belajar atau hasil-hasil belajar mengacu pada kemampuan-kemampuan seseorang atau siswa, karena kemampuan siswa dapat diprediksikan sebagai kinerja hasil belajar. Informasi verbal adalah kemampuan seseorang untuk memanggil kembali informasi yang telah disimpan dalam memorinya / pengetahuan deklaratif (Dahar, 1989:140).

Guru harus mengetahui struktur kognitif anak dan teknik untuk memproses informasi baru dalam kondisi internal. Sebaliknya, dalam kondisi eksternal, tujuan belajar harus jelas dan materi baru disajikan secara bermakna sehingga siswa dapat memprosesnya. Keterampilan intelektual memungkinkan seseorang berinteraksi dengan lingkungannya melalui penggunaan simbol-simbol atau gagasan-gagasan. Keterampilan motorik adalah kemampuan untuk memperagakan kegiatan-kegiatan fisik, dan keterampilan intelektual (Dahar,1989).

  1. Teori Belajar Piaget

Piaget dalam Dahar (1989:152) memandang bahwa perkembangan kognitif sebagai suatu proses ketika anak secara aktif membangun sistem makna dan pemahaman realitas melalui pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi mereka. Pemikiran Piaget tentang proses rekonstruksi pengetahuan individu adalah proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yaitu asimilasi, akomodasi, dan keseimbangan kognitif. Asimilasi adalah proses penyatuan (pengintegrasian) informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada dalam benak siswa. Akomodasi adalah penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi baru, sedangkan keseimbangan kognitif adalah penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.

Pendapat Piaget secara garis besar membagi perkembangan kognitif anak menjadi 4 tahap, yaitu: (1) Tahap sensorimotor (umur 0-2 tahun), ciri-cirinya adalah kemampuan anak dilihat dari kegiatan motorik dan persepsinya, dilakukan langkah demi langkah, melihat dirinya berbeda dari orang di sekitarnya, lebih banyak memakai indra pendengaran dan penglihatan, dan mendefinisikan sesuatu dengan memanipulasinya. (2) Tahap preoperasional (umur 2-7/8 tahun), ciri-cirinya adalah mampu menggunakan indra penglihatannya dengan baik ditandai dengan mengklasifikasikan objek pada tingkat dasar secara tunggal dan mencolok, tidak mampu memusatkan perhatian pada obyek-obyek yang berbeda namun mampu mengurutkan barang dengan kriteria, mulai mengetahui hubungan secara logis terhadap barang-barang yang lebih kompleks, dan memperoleh prinsip-prinsip secara benar. Pada tahap preoperasional kemampuan skema kognitif anak terbatas, anak masih suka meniru perilaku orang lain yang pernah ia lihat. (3) Tahap operasional konkret (umur 7 atau 8 – 11 atau 12 tahun), ciri-cirinya adalah sudah mulai menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis, ditandai adanya reversible atau kekekalan, telah memiliki kecakapan berpikir logis pada benda-benda yang bersifat konkret, dan mampu melakukan pengklasifikasian namun tetap berpikir abstraks. (4) Tahap operasional formal (umur 11 atau 12 – 18 tahun), ciri-cirinya adalah mampu berpikir abstrak dan logis dengan menggunakan pola pikir kemungkinan, bekerja secara sistematis dan efektif, dan menganalisis secara kombinasi.

Siswa SMK atau yang sederajat menurut Piaget masuk ke dalam perkembangan kognitif pada tahap operasional formal karena berada pada rentang umur 11 atau 12 sampai 18 tahun. Usia 11-18 tahun anak telah dapat dikatakan menginjak usia remaja. Tahap operasional formal merupakan tahap terakhir dalam perkembangan kognitif Piaget. Anak pada tahap operasional formal telah mampu berpikir secara logis, berpikir teoritis formal berdasarkan preposisi-preposisi dan hipotesis, serta dapat mengambil keputusan lepas dari yang diamati saat itu. Anak dapat berpikir abstrak dan dapat berpikir tidak hanya terikat oleh tempat dan waktu tetapi dapat pula berpikir mengenai sesuatu yang akan datang karena mampu berhipotesis (Suparno, 2001:26).

Pembelajaran menggunakan model discovery learning pada materi virus dapat dilakukan pada siswa SMK karena sudah memiliki kemampuan mengkoordinasikan dua ragam kemampuan kognitif secara simultan maupun berurutan. Pertimbangannya adalah siswa SMK (usia 15-18 tahun) sudah dapat melakukan analisis serta berpikir abstrak dan logis dengan menggunakan pola pikir, mengkaitkan konsep-konsep, serta bekerja secara sistematis dan efektif.

Model Discovery Learning

Pengertian Discovery Learning

Pengertian Model Pembelajaran Discovery Learning atau Penemuan adalah teori belajar yang didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi apabila materi pembelajaran tidak disajikan dengan dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan peserta didik itu sendiri yang mengorganisasi sendiri. Hal ini sejalan dengan pendapat Bruner, bahwa: “Discovery learning can be defined as the learning that takes place when the student is not presented with subject matter in the final form, but rather is required to organize it him self” (Lefancois dalam Emetembun, 1986:103).

Model Discovery Learning adalah memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (Budiningsih, 2005). Discovery terjadi bila individu terlibat, terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip. Discovery dilakukan melalui observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan dan inferi. Proses tersebut oleh Robert B. Sund (Malik, 2001:219) disebut cognitive process sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilatig conceps and principles in the mind.

Metode pembelajaran discovery (penemuan) adalah metode mengajar yang mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga siswa memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri. Dalam pembelajaran discovery (penemuan) kegiatan atau pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip melalui proses mentalnya sendiri. Dalam menemukan konsep, siswa melakukan pengamatan, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, menarik kesimpulan dan sebagainya untuk menemukan beberapa konsep atau prinsip.

Discovery ialah proses mental dimana siswa mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Proses mental yang dimaksud antara lain: mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya. Dengan teknik ini siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental sendiri, guru hanya membimbing dan memberi intruksi. Dengan demikian pembelajaran discovery ialah suatu pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, dengan berdiskusi, membaca sendiri dan mencoba sendiri, agar anak dapat belajar sendiri.

Berdasarkan uraian di atas, pengertian Model Pembelajaran Discovery Learning atau Penemuan adalah pembelajaran untuk menemukan konsep, makna, dan hubungan kausal melalui pengorganisasian pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik.

Ciri dan Karakteristik Model Discovery Learning

Tiga ciri utama belajar menemukan yaitu: (1) mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan; (2) berpusat pada siswa; (3) kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada.

Karakteristik model Discovery Learning atau Penemuan adalah:Peran guru sebagai pembimbing; Peserta didik belajar secara aktif sebagai seorang ilmuwan; Bahan ajar disajikan dalam bentuk informasi dan peserta didik melakukan kegiatan menghimpun, membandingkan, mengkategorikan, menganalisis, serta membuat kesimpulan.

Sintaks Model Discovery Learning

Proses pembelajaran yang dilakukan siswa dalam model Discovery Learning menurut Veermans (2003) meliputi lima sintaks, yaitu: orientation, hypothesis generation, hypothesis testing, conclution, dan regulation. Semua sintaks pada model Discovery Learning dapat melatihkan ketrampilan proses sains siswa.

  • Orientation

Selama proses orientation peserta didik membangun ide-ide awal mereka berdasarkan pengetahuan awal. Kegiatan ini melibatkan pemberian informasi awal untuk mengeksplor pengetahuan dan mengidentifikasi variabel materi. Sintaks orientation dilakukan dengan memberikan stimulasi kepada siswa yang kemudian diarahkan untuk mengidentifikasi masalah berdasarkan simulasi yang dihadapinya. Simulasi merupakan motivasi bagi siswa sekaligus mendorong rasa ingin tahu siswa. Rasa ingin tahu dituangkan sebagai identifikasi masalah yang dibangun oleh pertanyaan.

  • Hypothesis Generation

Sintaks hypothesis generation merupakan sintaks belajar untuk memformulasikan hypothesis mengenai masalah yang telah dirumuskan. Salah satu usaha untuk membuat hipotesis adalah dengan mengajukan pertanyaan sehingga siswa memperoleh pengetahuan dasar yang digunakan sebagai dasar dalam menyusun hipotesis.

 

 

  • Hypothesis testing

Kegiatan yang dilakukan pada sintaks ini adalah merancang eksperimen, melakukan eksperimen, dan menginterpretasikan hasil eksperimen. Proses penemuan dalam hypothesis testing diiringi oleh pertanyaan-pertanyaan untuk menguatkan hasil penemuan (Veermans, 2003).

  • Conclusion

Tahap keempat, merupakan penarikan kesimpulan berdasarkan hasil penemuan. Siswa menyimpulkan apakah hasil eksperimen yang dilakukan sesuai dengan hipotesis yang telah disusun atau terjadi perubahan/perbedaan antara hasil percobaan dengan hipotesis. Selanjutnya siswa mengidentifikasi perbedaan antara bukti (hasil eksperimen) dan prediksi (hipotesis).

  • Regulation: Planning, Monitoring, Evaluation

Sintaks regulation merupakan suatu proses yang sistematis dan berkelanjutan untuk menentukan kualitas suatu objek berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu dalam rangka pembuatan kesimpulan.

Kelebihan dan Kelemahan Model Discovery Learning

1) Kelebihan Model Pembelajaran Discovery Learning atau Penemuan adalah: (1) Membantu siswa memperbaiki dan meningkatkan keterampilan dan proses kognitif. Usaha penemuan merupakan kunci dalam proses ini, seseorang tergantung bagaimana cara belajarnya; (2) Pengetahuan yang diperoleh melalui metode ini sangat pribadi dan ampuh karena menguatkan pengertian, ingatan dan transfer; (3) Menimbulkan rasa senang pada siswa, karena tumbuhnya rasa ingin menyelidiki dan berhasil; (4) Memungkinkan siswa berkembang sesuai kecepatannya sendiri; (5) Menyebabkan siswa mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan melibatkan akalnya dan motivasi sendiri; (6) Membantu siswa memperkuat konsep dirinya, karena memperoleh kepercayaan bekerja sama dengan yang lain; (7 )Berpusat pada siswa dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan gagasan-gagasan; (8) Membantu siswa menghilangkan skeptisme (keragu-raguan) karena mengarah pada kebenaran yang final dan tertentu atau pasti;(9) Siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik; (10) Membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer kepada situasi proses belajar yang baru; (11) Mendorong siswa berpikir dan bekerja atas inisiatif sendiri; (12) Mendorong siswa berpikir intuisi dan merumuskan hipotesis; (13) Memberikan keputusan yang bersifat intrinsik; (14) Situasi proses belajar menjadi lebih terangsang; (15) Proses belajar siswa menuju pada pembentukan manusia seutuhnya.(16) Meningkatkan tingkat penghargaan pada siswa; (17) Kemungkinan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar; (18) Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu.

2) Kelemahan Model Pembelajaran Discovery Learning atau Penemuan:(1) Model ini menimbulkan asumsi bahwa ada kesiapan pikiran untuk belajar. Bagi siswa yang kurang pandai, akan mengalami kesulitan abstrak atau berpikir atau mengungkapkan hubungan antara konsep-konsep, yang tertulis atau lisan, sehingga pada gilirannya akan menimbulkan frustasi; (2) Model ini tidak efisien untuk mengajar jumlah siswa yang banyak, karena membutuhkan waktu lama untuk membantu siswa menemukan teori atau pemecahan masalah lainnya; (3) Harapan-harapan yang terkandung dalam metode ini dapat buyar berhadapan dengan siswa dan guru yang telah terbiasa dengan cara-cara belajar yang lama; (4) Pengajaran discovery lebih cocok mengembangkan pemahaman, sedangkan pengembangan aspek konsep, keterampilan dan emosi secara keseluruhan kurang mendapat perhatian; (5) Pada beberapa disiplin ilmu, misalnya IPA kurang fasilitas untuk mengukur gagasan yang dikemukakan oleh para siswa; (6) Tidak menyediakan kkesempatan untuk berpikir yang ditemukan oleh siswa karena telah dipilih terlebih dahulu oleh guru.

PEMBAHASAN

Keberhasilan pembelajaran tentang pentingnya aplikasi kasirtoko sebagai pendukung kesuksesan bisnis melalui model pembelajaran Discovery Learning atau Penemuan dapat dilihat dari kualitas proses pembelajaran yang menyenangkan dan hasil belajarnya di atas KKM yang telah ditentukan dengan jumlah peserta secara menyeluruh. Setelah mengikuti usaha belajar, hasil belajar merupakan dasar yang digunakan untuk menentukan tingkat keberhasilan siswa menguasai suatu materi pelajaran. Manusia melakukan kegiatan belajar dengan bermacam cara, sesuai dengan keadaan. Bila seseorang telah melakukan kegiatan belajar, maka dalam dirinya akan terjadi perubahan-perubahan yang merupakan pernyataan perbuatan belajar. Perubahan tersebut disebut hasil belajar. Selanjutnya Hamalik (2006:30) menyatakan bahwa “Tingkah laku manusia terdiri dari sejumlah aspek. Hasil belajar akan tampak pada setiap perubahan pada setiap aspek-aspek tersebut. Adapun aspek-aspek itu adalah pengetahuan, pengertian, kebiasaan, ketrampilan, apresiasi, emosional, hubungan social, jaSMKni., etis atau budi pekerti dan sikap.

Hasil belajar, menurut Dimyati dan Mudjiono (2011: 251) merupakan “tingkat perkembangan mental” yang lebih baik bila dibanding pada saat pra-belajar. Berdasarkan pengertian ini, hasil belajar adalah suatu perolehan dari suatu proses dengan ditandai dengan perubahan.

Menurut Sudjana (2009: 22), hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimilikipeserta didik setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar biasanya mengikuti pelajaran tertentu yang harus dikaitkan dengan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran matematika merupakan hasil kegiatan dari hasil belajar matematika dalam bentuk pengetahuan sebagai akibat dari perlakuan atau pembelajaran yang dilakukan peserta didik.

Menurut Bloom, yang dikutip oleh Suprijono (2009: 6), hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Domain kognitif adalah knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh), application (menerapkan), analysis (menguraikan, menentukan hubungan), synthesis (mengorganisasikan, merencanakan, membentuk bangunan baru), dan evaluation (menilai). Domain afektif adalah receiving (sikap menerima), responding (memberikan respon), valuing (nilai), organization (organisasi), characterization (karakterisasi). Domain psikomotor meliputi keterampilan produktif, teknik, fisik, sosial, manajerial, dan intelektual.

Terdapat pengertian lain tentang hasil belajar yakni kemampuan yang dapat dinyatakan oleh siswa setelah mempelajari seluruh pokok bahasan. Kemampuan-kemapuan tersebut meliputi: menggambarkan, menyebutkan, melaksanakan, menghitung atau segala yang mengacu pada tujuan instruksional khusus yang telah dirancang sebelumnya atau hasil akhir yang di capai sebaik-baiknya dalam jangka waktu tertentu. Cara memperoleh hasil belajar antara lain: (1). Mengetahui cara belajar yang efektif dan efisien,( 2). Belajar secara kontinyu, (3). Motivasi belajar, (4). Membentuk Kelompok Belajar, (5). Gemar membaca, dan (6). Mengetahui cara meringkas/merangkum. Wujud hasil belajar apabila: (1). Menunjukkan hasil belajar yang baik/ tinggi, (2). Hasil yang dicapai seimbang dengan usaha yang dilakukan, (3). Cepat dalam mengerjakan tugas belajar, dan ( 4). Menunjukkan sikap yang wajar.

Agar kegiatan belajar dapat berhasil, perlu memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Ada dua faktor yang mempengaruhi hasil belajar individu, sebagaimana dikemukakan oleh Sudjana (2009: 39) bahwa, hasil belajar yang dicapai oleh siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu; faktor dari dalam diri siswa itu sendiri dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan.

Faktor yang berasal dari dalam diri siswa bisa disebut faktor internal atau endogen. Faktor ini meliputi kondisi individu si pelajar atau kondisi fisiologis, kondisi panca indera dan kondisi psikologis. Kondisi fisiologis meliputi keadaan jaSMKni pada umumnya, misalnya anak yang badannya segar berbeda dengan anak yang dalam keadaan lelah, anak yang terpenuhi gizinya berbeda dengan anak yang kekurangan gizi dan sebagainya. Kondisi pancaindera terutama penglihatan dan pendengaran, jika hal ini terganggu maka akan berpengaruh terhadap aktivitas belajarnya. Kondisi psikologis terutama berhubungan dengan minat, kecerdasan, bakat, motivasi dan kemampuan kognitif siswa.

Berdasarkan beberapa pembahasan di atas terlihat bahwa model discovery learning merupakan salah satu strategi pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan motivasi dan aktivitas belajar siswa. Model pembelajaran discovery learning adalah adalah pembelajaran untuk menemukan konsep, makna, dan hubungan kausal melalui pengorganisasian pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik. Melalui penerapan model discovery learning diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan melalui serangkaian kegiatan-kegiatan ilmiah sehingga siswa lebih cepat memahami suatu konsep. Pengetahuan yang diperoleh siswa berdasarkan pengalaman menjadi lebih bermakna dan kuat dalam memori jangka panjang, sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar kognitif, psikomotorik, dan afektif.

Dalam pembelajaran aplikasi kasir toko sebagai pendukung kesukesan bisnis, keterlibatan siswa dalam mengkonstruksi konsep-konsep sangat diperlukan. Dilibatkannya siswa secara aktif dalam penemuan konsep melalui serangkaian kegiatan ilmiah akan berdampak positif bagi siswa, yaitu pengetahuan yang diperoleh siswa akan lebih bermakna sehingga kuat dalam memori jangka panjang. Salah satu model pembelajaran yang dapat mengakomodasi keterampilan proses, mendorong konstruktivisme pada siswa, dan meningkatkan kemampuan metakognitif adalah model pembelajaran Discovery Learning. Hal ini pada gilirannya dapat mendorong siswa untuk lebih terlibat secara aktif dalam pembelajaran yang bermuara pada meningkatnya hasil belajar siswa.

Pembelajaran tersebut memberikan motivasi kepada siswa untuk (1) Mengetahui secara pasti stok barang dagangn dalam bentuk kuantitas dan nominal rupiah. Stok barang dagangan selalu ter- update secara otomatis saat terjadi transaksi pembelian atau penjualan.(2) Mengontrol stok barangyang sudah saatnya dibeli. (3) Mengetahui pembelian dan penjualan selama periode terentu.(4) Mencetak nota penjualan. (5) Mengetahui lapa per transaksi penjualan. (6) Mengetahui laba selama satu bulan.

SIMPULAN

Pembelajaran aplikasi kasir toko sebagai kesuksesan bisnis melalui madel pembelajaran discovery learning dapat memberikan motivasi motorik dan kepuasan secara psikologis bagi siswa SMK Muhammadiyah Watukelir. Keuntungan mengguanakan aplikasi kasir toko bahwa aplikasi kasir toko membantu pengusaha memberikan tugas dan tanggung jawab secara keuangan sekaligus mengawasi transaksi dengan lebih aman. Terkait dengan waktu yang dibutuhkan, maka waktu menjadi komuditas yang sangat berharga. Semua transaksi bisa tersimpan secara otomatis dan data keuangan ter-update dengan sendirinya.

Guru dan siswa bisa langsung mempraktikkan denganlangkah discovery learning karena termotivasi oleh sukse berbisnis. Kunci kesuksesan jangka panjang bisnis adalah analisis bisnis yang akurat dan handal. Sebagai alat yang menunjukkan tanda-tanda vitalitas kesehatan dan stamina perusahaan juga membantu meraih profit maksimal. Hal itu juga bisa digunakan untuk menganalisis data penjualan dan mencari tahu seberapa baik semua item yang dijual untuk menyesuaikan order pembelian selanjutnya. Transaksi yang detail membuat pengaturan kas lebih baik. Pengguanaan aplikasi kasir toko ditunjang dengan barcode scanner dan kemampuan kemapuan otorisasi kartu kredit dapat meningkatkan akurasi harga dan dapat meningkatkan respon layanan yang lebih menyenangkan pelanggan.

DAFTAR PUSTAKA

Azhari, Jafar. 2015. Penerapan Model Discovery Learning terhadapa Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas XI-IPA 1 pada Materi Sistem Pernafasan di SMA Negeri Unggul Sigli. Jurnal Biologi Edukasi Edisi 14, Volume 7 NOmor 1, Halaman 13-21. Unsyiah.

Baridwan, Zaki. 1992. Intermidiate Accunting, Edisi ke 7, Yogyakarta: BPPE – Yogyakarta.

Dahar, Ratna Willis. 1989. Teori-Teori Belajar. Jakarta: Erlangga.

Fitri Astuti Wahyu Utami. 2015. Penerapan Model Pembelajaran Guided Discovery untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Biologi Siswa kelas X-2 SMA Muhammadiyah 1 Karanganyar Tahun Pelajaran 2013/2014. Surakarta: Jurnal.fkip.uns. ac.id.

Hamalik, Oemar. 2006. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara.

Haryono, Yusuf. 2003. Dasar – Dasar Akuntansi Jilid 2. Yogyakarta: STIE YKPN Yogyakarta.

Mulyadi, 2001. Sistem Akuntansi. Edisi ke 3, Jakarta: Salemba.

Indrawati. 2001. Kognitif. (Diunduh dari: http//:catalog.sunan-ampel.ac.id/, diunduh tanggal 12 Oktober 2018).

Khaerani, NC. 2015. Peningkatan Pemahaman Hubungan Antar Komponen Ekosistem melalui Penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning. Didaktikum: Jurnal Penelitian Tindakan Kleas Vol 16 No 3 Juli 2015.

Robert B. Sund dalam Malik. 2001. Media Pendidikan: Pengertian Model Discovery Learning.

Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sudjoko. 2001. Membantu siswa belajar IPA. Yogyakarta: FMIPA UNY.

Susilowati. 2013. “Integrated Science Worksheet Pembelajaran IPA SMP Dalam Kurikulum 2013” Makalah. Disampaikan dalam PPM “Diklat Pengembangan Student Worksheet ntegrated Science bagi Guru SMP/MTs di Kabupaten Sleman” Tanggal 24 Agustus 2013.

Veermans, K. 2003. Intelligent Support for Discovery Learning. Netherland. Publisher: Twente University Press.

Wiriaatmadja, Rochiati. 2006. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.