PENERAPAN METODE NUMBER HEAD TOGETHER

UNTUK MENINGKATAN KEMAMPUAN MENYELESAIKAN

SOAL MATEMATIKA TURUNAN FUNGSI SISWA KELAS XI IPS 1

SMA NEGERI 1 BULU TAHUN PELAJARAN 2015/2016

Ana Tri Lestari

SMA Negeri 1 Bulu Sukoharjo

ABSTRAK

Karya tulis dalam bentuk laporan penelitian tindakan kelas ini disusun oleh, tahun 2015 dengan judul Penerapan Metode Number Head Together Untuk Meningkatan Kemampuan Menyelesaikan Soal Matematika Turunan fungsi Siswa Kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Bulu Tahun Pelajaran 2015/2016 jumlah halaman 34 lembar.Sampai saat ini konsep matematika merupakan materi yang menempati urutan kesukaran tertinggi dibanding dengan materi pelajaran lain. Matematika dipandang sebagai palang penghalang kelulusannya oleh sebagian besar siswa. Siswa memandang konsep matematika merupakan materi abstrak yang sukar untuk diserapnya. Hanya bagi mereka yang menyenangi dan berbakat matematika saja yang merasakan senang mempelajarinya.Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui pembelajaran matematika dengan Metode Number Head Together. Sebagai variabel indikator yang diamati meliputi aktifitas siswa dan hasil belajar siswa.Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (action reseach). Subyek penelitian adalah siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Bulu pada semester satu. Penelitian ini mulai 6 Januari sampai dengan 26 Juni 2016. Prosedur penelitian terdiri dari tiga siklus dan masing-masing siklus terdiri dari perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflection). Sumber data diambil dari siswa, pengamatan langsung oleh observer kepada siswa dan teman sejawat. Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan pengamatan, tes model esay dan dokumentasi hasil belajar sebelumnya. Untuk menganalisa data, peneliti menggunakan lembar observer dan diskripsi komparatif.Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar dengan melihat rata-rata untuk kedua variabel indikator tersebut di atas mengalami peningkatan dan pada akhir melampaui batas tuntas dari siklus ke siklus. Untuk variable aktifitas berturutan 27%, 55%, 69% dan 88%; untuk variabel hasil belajar berurutan 89%, 100%. Hasil penelitian, judul Penerapan Metode Number Head Together Untuk Meningkatan Kemampuan Menyelesaikan Soal Matematika Turunan fungsi dapat memberi kontribusi yang berarti pada peningkatan hasil belajar materi turunan fungsi dalam Matematika kelas XI SMA Negeri 1 Bulu.

Kata Kunci: number head together, turunan fungsi

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan suatu rangkaian yang sangat komplek. Menurut Hamalik (2008:272) pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik agar dapat berperan aktif dan positif dalam hidupnya sekarang dan yang akan datang. Dengan demikian pendidikan akan mempengaruhi watak dan perilaku manusia serta bermanfaat bagi manusia itu sendiri dikehidupan sekarang dan yang akan datang. Sebagai ujung tombak dalam mempersiapkan sumberdaya manusia yang handal, pendidikan diyakini akan dapat mendorong memaksimalkan potensi siswa sebagai calon sumberdaya manusia yang handal untuk bersikap kritis, logis, dan inovatif dalam menghadapi dan menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapi. Salah satu fungsi dan tujuan umum pembelajaran matematika sekolah adalah untuk mempersiapkan siswa agar dapat mengembangkan kemampuan matematikanya, melatih cara berpikir, dan bernalar dalam menarik kesimpulan, serta menggunakan ide-ide matematika dalam kehidupan sehari-hari dan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Sedangkan tujuan pembelajaran matematika SMA adalah membentuk peserta didik sebagai individu agar memiliki dasar pengetahuan yang luas dan kuat untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di lingkungan sosial, lingkungan kerja, serta mampu mengembangkan diri sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. (Depdiknas, 2004)

Di Sekolah Menengah Atas matematika masih merupakan peringkat teratas untuk mata pelajaran yang tidak disukai oleh siswa. Mereka masih menganggap matematika adalah pelajaran yang membosankan dan momoknya pelajaran, yang menimbulkan kurangnya gairah belajar pada mata pelajaran matematika.

Akibatnya motivasi dan prestasi belajar matematika rendah. Padahal matematika termasuk salah satu mata pelajaran ujian nasional yang menentukan lulus atau tidaknya siswa tersebut. Jika dilihat standar kompetensi mata pelajaran matematika untuk kelas XI bukan merupakan materi yang baru lagi. Misalnya standar kompetensi memecahkan masalah berkaitan fungsi turunan. Seperti siswa SMA yang lain, siswa SMA Negeri 1 Bulu paling enggan jika diminta mengerjakan soal latihan matematika, apalagi jika disuruh maju untuk mengerjakan soal matematika di depan kelas mereka akan saling tunjuk.

Sehingga alasan yang paling mudah adalah belum atau tidak bisa mengerjakan soal. Padahal meminta siswa untuk mengerjakan di depan kelas salah satu cara untuk melatih mental dan keberanian siswa berbicara di depan umum. Akibatnya motivasi belajar matematika siswa rendah. Salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mengerjakan soal matematika dan motivasi belajar matematika serta meningkatkan keberanian siswa mengerjakan soal matematika di depan kelas dengan memvariasikan metode pembelajaran. Metode Number Head Together (NHT) merupakan metode pembelajaran yang dapat merangsang aktivitas semua siswa. Di dalam Metode Number Head Together siswa mengerjakan soal matematika secara berkelompok, kemudian guru mengundi kelompok untuk mengerjakan soal di depan kelas dan dari kelompok yang terpilih tersebut diundi lagi siapa yang diminta untuk melaksanakan tugasnya mengerjakan soal di depan kelas. Jadi semua siswa mempunyai peluang yang sama untuk mengerjakan soal matematika di depan kelas. Akibatnya mau tidak mau pada saat mengerjakan soal matematika secara diskusi siswa harus memperhatikan, bekerjasama dan mengerjakan soal matematika dengan baik dan benar. Agar semua siswa siap untuk maju mengerjakan soal di depan kelas.

Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, rumusan masalah ini adalah “Apakah Penerapan Metode Number Head Together (NHT) dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal matematika turunan fungsi kelas XI IPS 1SMA Negeri 1 Bulu Tahun Pelajaran 2015/2016 ?”

KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS

Teori Number Head Together

Number Head Together merupakan salah satu tipe model pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang dilandasi oleh teori belajar konstruktivis. Model pembelajaran kooperatif merupakan sistem kerja/belajar kelompok yang terstruktur, yakni saling ketergantungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerjasama dan proses kelompok dimana siswa menghabiskan sebagian besar waktunya di kelas dengan bekerjasama antara 4-6 orang dalam satu kelompok, serta menerima pengakuan, reward berdasarkan kinerja akademis kelompoknya (Butt, T 1980:3). Dengan model ini diharapkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dapat ditingkatkan. Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang menekankan dan mendorong kerjasama antar siswa dalam mempelajari sesuatu (Woolfolk & Nicolich, 1984). Hasil penelitian mengenai efek pembelajaran kooperatif umumnya menunjukkan temuan yang positif. Review yang dilakukan Slavin (1983) terhadap 68 penelitian mengenai pembelajaran kooperatif menunjukkan 72% siswa memiliki hasil belajar yang lebih tinggi dibanding dengan kelompok kontrol dalam penelitian tersebut.

Menurutnya, tingginya hasil tersebut dimungkinkan karena adanya iklim saling mendorong untuk sukses dalam kelompok. Dengan bekerja secara kolaboratif untuk mencapai tujuan bersama, siswa dapat mengembangkan keterampilan berhubungan dengan sesamanya yang sangat bermanfaat bagi kehidupan di luar sekolah. Dalam pembelajaran kooperatif terdapat sejumlah teknik atau tipe, yang salah satu di antaranya dapat digunakan dalam pembelajaran. Salah satu dari tipe pembelajaran kooperatif itu adalah Number Head Together (NHT).

Tipe ini merupakan salah satu dari banyak tipe atau variasi pembelajaran kooperatif. Karena NHT hanya salah satu variasi atau tipe pembelajaran kooperatif, maka semua prinsip dasar pembelajaran kooperatif melekat pada tipe ini. Ini berarti dalam NHT ada saling ketergantungan positif antar siswa, ada tanggung jawab perseorangan, serta ada komunikasi antar anggota kelompok. Pelibatan siswa secara kolaborarif dalam kelompok untuk mencapai tujuan bersama ini memungkinkan NHT dapat meningkatkan hasil belajar matematika khususnya dalam pemecahan masalah matematika. Meskipun NHT memberikan peluang bagi keberhasilan pembelajaran matematika, khususnya pada pemecahan masalah matematika, patut juga dipertimbangkan untuk memadukannya dengan pendekatan berbasis masalah. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa yang dianut oleh Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) berdasarkan Permendiknas 22 Tahun 2006 untuk mata pelajaran matematika di jenjang SMA adalah pendekatan pemecahan masalah.

Pendekatan pemecahan masalah inilah yang menjadi fokus pembelajaran matematika di jenjang SMA sesuai dengan KTSP. Pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan yang otentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inquiri dan kemampuan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri (Hudojo, 2005:68). Pembelajaran seperti ini dapat menjadi pendekatan yang efektif untuk pembelajaran proses berpikir tingkat tinggi seperti kemampuan pemecahan masalah matematika. Dalam pembelajaran ini, siswa dibantu memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusunnya menjadi pengetahuan mereka sendiri. Kurangnya motivasi belajar matematika siswa SMA Negeri 1 Bulu, disebabkan lemahnya siswa dalam menyelesaikan soal matematika. Mereka mudah putus asa jika tidak dapat mengerjakan soal matematika, padahal soal tersebut dapat dipecahkan secara bersama-sama.

Kerangka Berpikir

SMA Negeri 1 Bulu merupakan salah satu sekolah menengah atas di Kabupaten Sukoharjo, karena sebagian besar siswa SMA Negeri 1 Bulu adalah perempuan mereka tidak mempunyai rasa percaya diri untuk mengerjakan soal matematika di depan kelas. Alasan yang paling mudah untuk menghindari mengerjakan di depan kelas bicara tidak bisa atau belum mengerjakan. Salah satu alternatif untuk meningkatkan motivasi dan kemampuan menyelesaikan soal matematika turunan fungsimelalui metode Number Head Together (NHT).

Dengan metode Number Head Together siswa harus siap mempresentasikan hasil diskusi. Karena semua siswa mempunyai peluang yang sama untuk mempresentasikan di depan kelas. Jadi pada saat diskusi berlangsung siswa tersebut harus benar-benar menjalankan diskusi dengan baik agar jika dia mendapat giliran maju untuk mempresentasikan hasil diskusi sudah siap. Dengan harapan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal matematika turunan fungsimeningkat dan motivasi belajarpun akan meningkat.

Hipotesis

Berdasarkan kerangka berfikir di atas, maka dapat disusun hipotesisnya, yaitu: “Melalui penerapan metode number head together ada peningkatan kemampuan menyeselaikan soal matematika turunan fungsi siswa kelas XI IPS 1SMA Negeri 1 Bulu Tahun Pelajaran 2015/2016”.

METODOLOGI PENELITIAN

Desain Penelitian

Penelitian ini mengambil setting di SMA Negeri 1 Bulu dengan alamat Jalan Raya Bulu desa Bulu Kecamatan Bulu Kabupaten Sukoharjo. Penelitian ini dilaksanakan pada XI IPS 1, karena penulis mengajar matematika pada jurusan IPS.

Rencana Penelitian        :    Tanggal 6 Januari s.d 26 Maret 2016

Kompetensi                   :    Memecahkan masalah berkaitan dengan konsep operasi fungsi turunan.

Pendekatan                   :    Penyelesaian matematika melalui penerapan Metode Number Head Together (NHT).

Waktu                          :    Tiap siklus 2 kali pertemuan (6X@ 45 menit)

Pelaksanaan pembelajaran dilakukan di dalam ruang kelas. Siswa yang berjumlah 36 anak dibagi menjadi enam kelompok yang tiap kelompoknya terdiri dari 6 siswa yang heterogen artinya di setiap kelompok ada siswa yang pandai, sedang atau kurang pandai. Hal ini dilakukan dengan harapan siswa yang pandai atau sedang dapat memberi penjelasan kepada siswa yang kurang pandai. Sebaliknya siswa yang merasa kurang pandai tidak malu-malu atau segan bertanya kepada temannya yang bisa. Sehingga akan terjalin interaktif diantara siswa.

Subyek Penelitian

Pada Penelitian Tindakan Kelas ini, subyek penelitian adalah siswa SMA Negeri 1 Bulu kelas XI IPS 1 Tahun Pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 36 siswa.

Sumber Data

Pada Penelitian Tindakan Kelas ini, sumber data diperoleh dari:

Siswa

Keaktifan siswa dalam kelompok merupakan data kualitatif yang bisa diperoleh untuk menunjang penelitian ini. Data kualitatif ini diambil dari hasil catatan peneliti dan observer selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran dengan Metode Number Head Together di dalam kelas.

Dokumen siswa

Dokumen siswa yang dijadikan sebagai sumber data merupakan nilai hasil ujian akhir semester matematika kelas X dan keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika di kelas. Nilai dan keaktifan siswa di kelas ini digunakan sebagai acuan untuk hasil penelitian sekaligus pembandingnya.

Tugas kelompok

Merupakan hasil kerja tiap kelompok dan presentasi siswa pada saat pembelajaran dengan Metode Number Head Together berlangsung. Tugas ini di berikan pada setiap siklus sesuai dengan sub kompetensi yang ada. Data dari tugas kelompok ini yang nantinya digunakan untuk mengetahui keaktifan tiap anggotanya dan seberapa besar penguasaan materi yang diperoleh siswa pada saat berkumpul di kelompok masing-masing dan keberanian siswa dalam mempresentasikan hasil kerja kelompok di depan kelas.

Kuis (post tes)

Merupakan tes untuk setiap sub kompetensi yang diberikan pada siswa disetiap siklus, untuk mengetahui seberapa jauh penguasaan siswa terhadap materi pelajaran yang telah diberikan oleh guru dengan mengunakan Metode Number Head Together. Seberapa keberanian serta kemampuan siswa dalam mempresentasikan hasil kerja kelompok didepan kelas.

Tes evaluasi

Tes evaluasi digunakan sebagai hasil pengukuran sebarapa besar pengaruh pendekatan Metode Number Head Together terhadap kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal matematika pada standar kompetensi memecahkan masalah berkaitan dengan konsep turunan fungsi.

Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Pengamatan

Pengamatan dilakukan oleh Penulis dan dibantu oleh Guru BK sebagai observer. Pada Pengamatan ini, Penulis mengamati aktifitas dan kerja siswa dalam kelompok pada saat pembelajaran dengan mengunakan Metode Number Head Together berlangsung. Apakah siswa tersebut aktif atau pasif dalam kerja kelompok akan terlihat pada saat siswa diminta mempresentasikan hasil kerja kelompok di depan kelas. Karena siswa yang maju untuk mempresentasikan hasil kerja kelompok dipilih secara acak dan semua siswa mempunyai peluang yang sama untuk maju ke depan mempresentasikan hasil kelompoknya. Sehingga siswa yang pada saat berdiskusi dengan kelompoknya aktif dan benar-benar mengerjakan akan terlihat lebih siap untuk mempresentasikan di depan kelas dibandingkan dengan siswa yang tidak aktif dalam kelompoknya atau hanya menulis jawabannya saja. Dan siswa tersebut akan kewalahan pada saat menyampaikan hasil kerja kelompoknya ataupun pada saat diminta menjelaskan hasil kerja kelompoknya kepada kelompok lainnya. Sedangkan observer memantau pembelajaran dengan menggunakan Metode Number Head Together yang direncanakan oleh Penulis sebagai Penelitian Tindakan Kelas berjalan dengan lancar sesuai aturan atau hanya siswa mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru saja tanpa adanya presentasi dari siswa.

Dari pengamatan ini akan diperoleh aktifitas siswa dalam kerja kelompok dan kesiapan serta keberanian siswa untuk mempresentasikan hasil kelompoknya kepada kelompok lain.

Analisa dokumen

Dokumen-dokumen yang di analisa dan diolah oleh Penulis berasal dari:

Hasil tugas kelompok

Hasil kuis

Hasil tes evaluasi

Pengukuran hasil belajar

Untuk melihat seberapa besar pengaruh pendekatan Metode Number Head Together dalam meningkatkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah berkaitan dengan konsep operasi turunan fungsi siswa kelas XI IPS pada Kompetensi Memecahkan masalah berkaitan dengan konsep operasi turunan fungsi digunakan Tes evaluasi. Tes evaluasi ini dilakukan setelah siklus I, II dan III telah dilaksanakan. Pada Tes evaluasi materi yang diberikan mulai dari materi pada siklus I sampai siklus III. Meskipun KKM Kompetensi Memecahkan masalah berkaitan konsep operasi turunan fungsiadalah 6,00 tetapi siswa yang mendapatkan nilai dibawah 7,00 pada tes evaluasi dianggap belum tuntas sehingga perlu diberikan remidi atau perbaikan sedangkan yang sudah tuntas diberikan pengayaan. Hal ini dilakukan penulis untuk memacu siswa supaya tidak puas hanya dengan mendapat nilai 6 saja. Dan penulis berharap siswa akan terpacu sehingga motivasi belajar matematika pada diri siswa akan meningkat. Serta untuk meningkatkan nilai KKM pada mata pelajaran matematika di semester yang akan datang.

Validasi Data

Dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas, pengamatan tidak hanya dilakukan oleh penulis saja tetapi dibantu oleh guru BK sebagai observer. Karena Guru BK tersebut yang tahu karakteristik tiap siswanya dan pengamatan dari observer merupakan masukan yang sangat penting untuk menunjang penelitian tindakan kelas ini. Sehingga data pengamatan diperoleh secara valid.

Analisis Data

Untuk melakukan analisis data dengan menggunakan analisis data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif dimunculkan dalam bentuk deskripsi angka dan nilai tugas kelompok, kuis, maupun tes evaluasi matematika. Sedangkan data kualitatif dimunculkan dalam bentuk catatan harian penulis dan observer pada saat pembelajaran dengan menggunakan Metode Number Head Together. Data kualitatif tersebut merupakan nilai keaktifan siswa dalam mengikuti kerja kelompok dan seberapa besar kesiapan dan keberanian siswa mempresentasikan di depan kelas.

Indikator Kinerja

Indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas di kelas XI IPS ini adalah:

Diharapkan setelah diadakan penelitian melalui siklus I, II, dan III 85 % siswa memiliki motivasi belajar pada pelajaran matematika yang ditandai dengan aktif dalam kerja kelompok dan keberanian untuk mem-presentasikan di depan kelas. Dan 75% nilai kuis lebih dari atau sama dengan 7,00.

75% hasil tes evaluasi siswa yang merupakan alat ukur keberhasilan Metode Number Head Together dalam penelitian ini memiliki prestasi belajar matematika lebih dari 7,00.

Prosedur Pelaksanaan

Perencanaan

Dalam penelitian tindakan kelas ini guru mempersiapkan pembelajaran sebagai berikut:

a. Guru membuat rencana pembelajaran memecahkaan masalah berkaitan konsep operasi turunan fungsidengan Metode Number Head Together.

b. Guru menyiapkan tugas kelompok yang akan dikerjakan oleh setiap kelompok sehingga begitu pembelajaran dengan menggunakan Metode Number Head Together dimulai siswa sudah siap dengan soalnya masing-masing. Dan soal kuis yang digunakan untuk mengetahui seberapa besar penguasaan siswa terhadap materi yang diajarkan disetiap siklus, dan tes evaluasi untuk mengetahui besar pengaruh pendekatan Metode Number Head Together terhadap kemampuan siswa dalam memcahkan masalah yang berkaitan dengan konsep fungsi turunan.

Pelaksanaan tindakan

Guru melaksanakan pembelajaran dengan mengunakan Metode Number Head Together.

Guru mencatat aktifitas siswa dalam kerja kelompok dan kesiapan serta keberanian siswa dalam mempresentasikan hasil kerja kelompok.

Siswa mengerjakan tugas kelompok sesuai dengan tugasnya masing-masing yang diperoleh kemudian diundi secara acak salah satu siswa dari setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Setelah diperoleh pembahasannya kemudian diambil suatu kesimpulan dari materi yang telah di bahas.

Siswa mengerjakan kuis untuk mengetahui seberapa besar penguasan materi di setiap sub kompetensi yang berlangsung di tiap siklusnya.

Siswa mengerjakan evaluasi untuk mengetahui seberapa besar peningkatan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah matematika yang berkaitan dengan konsep fungsi turunan.

Analisis

Guru manganalisis hasil pengamatan pada saat pembelajaran dengan mengunakan Metode Number Head Together berlangsung di setiap siklus, tugas kelompok, kuis (post tes), dan tes evaluasi untuk melihat pengaruh keberhasilan penerapan Metode Number Head Together terhadap peningkatan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan konsep turunan fungsi.

Deskripsi Kondisi Awal

Kelas XI Jurusan IPS di SMA Negeri 1 Bulu terbagi menjadi 4 kelas, yaitu kelas XI IPS 1, IPS 2, XI IPS 3 dan IPS 4. Dari 4 kelas yang ada, kelas XI IPS 1 yang dijadikan subjek penelitian. Kondisi awal siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Bulu adalah nilai rata-rata hasil Ujian Akhir Semester kelas XI Semester 1 Matematika Tahun 2015/2016 adalah 5,65. Merupakan nilai rata-rata terendah dibandingkan dengan nilai ujian lainnya. Siswa juga terlihat kurang semangat dalam menghadapi pembelajaran matematika di kelas.

Deskripsi Siklus I

Perencanaan:

Siklus I direncanakan berlangsung selama dua kali pertemuan, yaitu (4 X 45) menit. Untuk pertemuan pertama (45 menit) guru menerangkan materi menerapkan operasi pada turunan fungsidan memberikan beberapa contoh soal latihan menerapkan operasi pada fungsi turunan dan (45 menit ke dua) guru memberikan latihan soal untuk dukerjakan di kelas. Sedangkan untuk pertemuan yang kedua (2 X 45 menit), 5 menit untuk persiapan, 40 menit untuk diskusi, 35 menit untuk presentasi kelompok dan pembahasan, serta 10 menit terakhir untuk membahas dan menyimpulkan materi menerapkan operasi turunan fungsiuntuk menyamakan persepsi tentang operasi bilangan riil.

Pelaksanaan:

Siswa mengelompok pada kelompoknya masing-masing.

Guru memberikan tugas kelompok yang pertama kepada setiap kelompok untuk di diskusikan dengan kelompoknya. Sambil menunggu siswa menyelesaikan soal, guru bersama observer berkeliling sambil mengamati dan mencatat aktivitas siswa pada kelompoknya masing-masing. Dan memberikan pengarahan jika ada kelompok yang kurang memahami soal atau soal kurang jelas.

Observasi dan interpretasi:

Pada observasi awal diperoleh data:

Satu kelompok (14,67%) yang benar-benar menjalankan diskusi dengan baik, yaitu antara anggota kelompok saling bertukar pikiran, mengerjakan tugas kelompok bersama-sama dan saling mengingatkan antara sesama teman serta memandu teman-temannya yang belum atau kurang memahami materi/soal matematika. Sedangkan 5 kelompok lainnya (83,33%) belum bisa bekerja sama dengan baik.

Hanya 3 siswa (8,33%) yang bertanya kepada guru, pertanyaannya pun berkisar tentang beberapa soal yang kurang begitu paham atau tidak tahu maksud dari soal tersebut. Dan 7 siswa (19,44%) yang bertanya kepada teman-temannya baik dalam satu kelompok ataupun dengan kelompok lain. Pertanyaan yang diajukannya pun tentang bagaimana cara mengerjakan soal tersebut. Pada siklus pertama ini hanya 6 orang (16,67%) yang menjawab atau menyampaikan pendapat pada saat presentasi kelompok.

Siswa yang berinteraksi dalam diskusi kelompok ada 16 orang (44,44%) artinya masih ada 20 orang (56,56%) yang ngobrol sendiri atau sibuk dengan kegiatannya sendiri.

Siswa yang benar-benar mengerjakan tugas mandiri di rumah ada 22 siswa (61.11%) Sedangkan 14 siswa lainnya mengumpulkan tugas tidak tepat waktu artinya mereka hanya menyalin jawaban temannya saja.

Analisis dan refleksi:

Pada siklus pertama ini terlihat masih banyak kelompok yang tidak berinteraksi dengan baik, beberapa anggota kelompok masih menggantungkan jawaban pada temannya atau kelompok yang siswanya mempunyai kemampuan merata dan kelompok yang siswanya belum akrab satu dengan lainnya. Akibatnya masih ada siswa yang bermalas-malasan tidak mau mengerjakan bahkan tambah asyik mengobrolnya.

Dari siklus pertama ini menunjukkan ada sedikit peningkatan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah matematika dari 36 siswa terdapat 20 siswa yang dapat menyelesaikan soal dengan baik secara berkelompok dan 22 siswa menyelesaikan tugas mandiri dengan hasil yang memuaskan

Deskripsi Siklus II

Perencanaan:

Pada siklus II ini direncanakan berlangsung selama dua kali pertemuan yaitu (2 X 45) menit. Untuk pertemuan pertama guru menerangkan materi menerapkan operasi pada turunan fungsiberpangkat dan menerapkan operasi pada bilangan irrasional. Serta memberikan beberapa contoh soal latihan menerapkan operasi pada turunan fungsiberpangkat dan menerapkan operasi pada bilangan irrasional. Sedangkan untuk pertemuan yang kedua 5 menit untuk persiapan, 40 menit untuk diskusi, 35 menit untuk presentasi kelompok dan pembahasan, serta 10 menit terakhir untuk membahas dan menyimpulkan materi menerapkan operasi turunan fungsiberpangkat dan menerapkan operasi bilangan irasional untuk menyamakan persepsi tentang operasi turunan fungsiberpangkat dan menerapkan opersi bilangan irrasional.

Pelaksanaan:

Siswa mengelompok pada kelompoknya masing-masing.

Guru memberikan tugas kelompok yang kedua kepada setiap kelompok untuk di diskusikan dengan kelompoknya. Sambil menunggu siswa menyelesaikan soal, guru bersama observer berkeliling sambil mengamati dan mencatat aktivitas siswa pada kelompoknya masing-masing. Dan memberikan pengarahan jika ada kelompok yang kurang memahami soal- soal yang kurang jelas.

Observasi dan interpretasi:

Pada siklus yang kedua diperoleh data:

Adanya peningkatan jumlah kelompok yang benar-benar menjalankan diskusi dengan baik, yaitu menjadi tiga kelompok (50%). Mereka sudah saling berinteraksi dengan baik dalam kelompoknya masing-masing, saling bertukar pikiran, mengerjakan tugas kelompok bersama-sama dan saling mengingatkan antara sesama teman serta memberi penjelasan pada teman yang belum atau kurang memahami.

Analisis dan refleksi:

Pada siklus yang kedua ini menunjukkan peningkatan jumlah kelompok yang menjalankan diskusi sesuai dengan apa yang diharapkan yaitu 50%. Beberapa anggota kelompok sudah mulai memecahkan masalah matematika bersama-sama. Keberanian siswa memandu teman-temannya semakin tinggi dan penuh percaya diri untuk menjelaskan materi atau soal matematika yang belum paham. Mereka baru merasakan manfaat memecahkan masalah matematika bersama-sama.

Deskripsi Siklus III

Perencanaan:

PadaSiklus III direncanakan berlangsung selama dua kali pertemuan, yaitu (4 X 45) menit. Untuk pertemuan pertama guru menerangkan materi menerapkan konsep logaritma. Serta memberikan beberapa contoh soal latihan menerapkan konsep logaritma. Sedangkan untuk pertemuan yang kedua 5 untuk persiapan, 40 menit untuk diskusi, 35 menit untuk presentasi kelompok dan pembahasan, serta 10 menit terakhir untuk membahas dan menyimpulkan materi menerapkan konsep logaritma agar diperoleh konsep yang sama. Pada siklus yang ketiga ini, kelemahan dan kekurangan yang masih ada di siklus yang kedua diperbaiki agar penelitian yang dilakukan sesuai dengan yang diharapkan.

Pengamatan diprioritaskan pada kelompok yang masih mengalami kesulitan dalam berinteraksi. Guru tetap memandu pada kelompok-kelompok tersebut agar diperoleh interaksi antar siswa dengan baik. Memberi pengarahan pada siswa yang masih ngobrol sendiri dengan temannya agar mau bekerja sama dalam memecahkan soal matematika.

Pelaksanaan:

Siswa mengelompok pada kelompoknya masing-masing.

Guru memberikan tugas kelompok yang ketiga kepada setiap kelompok untuk di diskusikan dengan kelompoknya. Sambil menunggu siswa menyelesaikan soal, guru bersama observer berkeliling sambil mengamati dan mencatat aktivitas siswa pada kelompoknya masing-masing. Dan memberikan pengarahan jika ada kelompok yang kurang memahami soal atau soal kurang jelas.

Dengan harapan jika siswa mendapat giliran untuk mempresentasikan di depan kelas mereka sudah siap dengan jawabannya masing-masing.

Observasi dan interpretasi:

Pada siklus yang ketiga diperoleh data:

Ada peningkatan jumlah kelompok yang benar-benar menjalankan diskusi dengan baik, yaitu menjadi enam kelompok (100%). Diskusi sudah berjalan dengan baik terlihat dengan adanya pembagian tugas untuk mengerjakan permasalahan yang diberikan. Selain itu, mereka sudah saling berinteraksi dengan baik dalam kelompoknya masing-masing, saling bertukar pikiran, mengerjakan tugas kelompok bersama-sama dan saling mengingatkan antara sesama teman serta memberi penjelasan pada teman yang belum atau kurang memahami.

Analisis dan refleksi:

Pada siklus yang ketiga menunjukkan peningkatan jumlah kelompok yang menjalankan diskusi sesuai dengan apa yang diharapkan yaitu 100%. Siswa tidak canggung bertanya kepada guru atau temannya tentang materi atau permasalahan yang belum jelas. Motivasi belajar siswa pun meningkat, hal ini ditunjukkan dengan adanya semangat belajar matematika yang tumbuh pada diri siswa, yaitu 88,89% siswa sudah berinteraksi dengan baik. Siswa tidak lagi mudah putus asa jika menyelesaikan soal-soal matematika kemudian menemui jalan buntu, karena ada alternatif lain untuk bertanya selain guru matematika yaitu temannya sendiri. Selain itu juga menumbuhkan rasa kebersamaan diantara siswa.

Dari siklus ketiga ini, menunjukkan adanya peningkatan kemampuan siswa memecahkan masalah sebanyak 30 orang (83,33%). Dan siswa yang mengerjakan tugas mandiri dirumah dengan hasil yang memuaskan sebanyak 32 orang (88,89%). Hal ini menunjukkan adanya semangat dan motivasi belajar matematika.

Hasil Penelitian

Setelah dilakukan penelitian dengan tiga kali siklus menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah matematika melalui penerapan metode number hed together. Hal ini ditunjukkan dari hasil tes evaluasi yang diperoleh siswa sangat memuaskan 75% nilai siswa diatas 7,00 yang berarti ada peningkatan kemampuan menyelesaikan soal-soal metematika turunan fungsimelalui penerapan metode number head together. Bukan hanya itu saja, tetapi motivasi belajar siswa pun meningkat.

Simpulan

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan metode number head together, proses pembelajaran matematika pada siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Bulu mengalami peningkatan yang sangat berarti terutama dalam hal memecahkan masalah (soal) matematika. Motivasi belajar siswa juga meningkat hal ini dapat dilihat dari tugas mandiri yang biasanya dikerjakan di sekolah sakarang sebagian besar siswa sudah mengerjakan di rumah meskipun hasilnya belum memuaskan yang penting ada keniatan dari diri siswa untuk mengerjakan. Seiring dengan meningkatnya motivasi belajar dan peningkatan pemecahan masalah matematika, maka prestasi belajar matematikapun meningkat dengan baik. Hal ini dilihat dari hasil tes evaluasi siswa kelas XI IPS 1 dengan rata-rata 7,12 artinya nilai matematika kelas XI IPS 1 untuk Kompetensi Menerapkan Konsep Turunan fungsi di atas nilai KKM.

DAFTAR PUSTAKA

Butt, T. 1980. Posing Problems Properly. National Council of Teachers of Mathematics. 2:23

Hamalik, O, 2008, Proses Belajar Mengajar, Bumi Aksara, Jakarta

Hudojo, H.2005. Kapita Selekta Pembelajaran Matematika. Malang: UM Malang

Permendiknas 22 Tahun 2006 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Depdiknas

Slavin.1993. Modes of Knowing and Modes of Coming to Know Knowledge Creation and Co-Construction as Socio-Epistemological Engineering in Educational Processes. http://www.univie.ac.at/constructivism/journal/Peschl

Sukestiyarno, 2009, Permasalahan PTK & Inovasi Pembelajaran, Makalah dalam seminar nasional LPM UNNES dan Dinas Pendidikan Kab. Brebes, tanpa penerbit.

Woolfolk & Nicolich, B.1983. Research on Mathematics Instruction Experiment Based Problem Posing. Journal of Mathematics Education 1 (1):153-163.