PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING

DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA

TENTANG CIRI-CIRI DAN KEBUTUHAN MAKHLUK HIDUP

PADA PESERTA DIDIK KELAS III SD NEGERI 1 SUMBERJO

 DI SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2018/2019

 

Mintarsih

Guru Kelas III SD Negeri 1 Sumberjo, Kec. Rembang, Kab. Rembang

 

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan Model Discovery Learning dalam pembelajaran IPA tentang Ciri-ciri dan Kebutuhan Makhluk Hidup pada peserta didik Kelas III SD Negeri 1 Sumberjo di Semester I Tahun Pelajaran 2018/2019 dan menganalisis penerapan Model Discovery Learning terhadap peningkatan hasil belajar IPA tentang Ciri-ciri dan Kebutuhan Makhluk Hidup pada peserta didik Kelas III SD Negeri 1 Sumberjo di Semester I Tahun Pelajaran 2018/2019. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tempat penelitian ini di Kelas III SD Negeri 1 Sumberjo. Waktu penelitian ini pada awal Semester I Tahun Pelajaran 2018/2019. Subyek penelitian sebanyak 36 anak. Data penelitian ini adalah aktivitas belajar dan hasil belajar. Teknik pengumpulan data penelitian ini dengan teknik nontes dan teknik tes. Alat pengumpulan data penelitian ini dengan lembar pengamatan, dokumentasi foto kegiatan dan soal ulangan harian. Teknik analisis data penelitian ini dengan teknik deskriptif komparatif sesuai dengan jenis data. Prosedur dalam penelitian ini adalah Model Siklus.Hasil penelitian adalah penerapan Model Discovery Learning meningkatkan hasil belajar dari kategori cukup memuaskan menjadi kategori memuaskan. Hasil belajar pada Kondisi Awal dengan nilai rata-rata sebesar 66,11 dan ketuntasan sebesar 58,33% yang termasuk kategori cukup memuaskan. Hasil belajar pada Siklus I dengan nilai rata-rata sebesar 74,44 dan ketuntasan sebesar 72,22% yang termasuk kategori cukup memuaskan. Hasil belajar pada Siklus II dengan nilai rata-rata sebesar 81,66 dan ketuntasan sebesar 88,88% yang termasuk kategori memuaskan.

Kata Kunci: Model Discovery Learning, Hasil Belajar, IPA, Makhluk Hidup.

 

PENDAHULUAN

Pembelajaran IPA selalu berkaitan dengan makhluk hidup maupun benda-benda. Di Kelas III, materi diawali tentang makhluk hidup. Dalam materi tersebut berkaitan dengan hewan dan tumbuhan sebagai makhluk hidup selain manusia. Materi mencakup ciri-ciri makhluk hidup, membedakan makhluk hidup dengan makhluk tak hidup berdasarkan pengamatan, persamaan hewan dan tumbuhan dan penggolongan hewan dan manusia berdasarkan persamaan ciri-ciri. Materi ini sangat luas sesuai dengan hewan dan tumbuhan tertentu yang menjadi fokus. Beberapa jenis hewan termasuk umum, sedangkan beberapa jenis hewan lainnya termasuk asing. Bahkan pada jenis tumbuhan, peserta didik lebih kesulitan daripada jenis hewan karena kurang perhatian pada jenis tumbuhan tersebut.

Pembelajaran IPA tentang Ciri-ciri dan Kebutuhan Makhluk Hidup pada peserta didik Kelas III SD Negeri 1 Sumberjo berpusat pada buku teks dan ditunjang dengan poster. Namun tampilan pada buku teks yang tidak menarik dan poster yang tidak lengkap, pembelajaran menjadi tidak menarik dan peserta didik tidak perhatian dan tidak berminat. Aktivitas dan interaksi pembelajaran masih terbatas. Rasa ingin tahu dan pemahaman materi masih lemah. Selain itu, jumlah peserta didik yang termasuk banyak juga menjadi kendala dalam pembelajaran yang berlangsung klasikal, dimana pengawasan guru terhadap peserta didik menjadi lemah. Akibatnya adalah hasil belajar termasuk kategori cukup memuaskan. Sesuai dengan analisis nilai ulangan harian, analisis hasil belajar dengan nilai rata-rata sebesar 66,11 dan ketuntasan sebesar 58,33%. Nilai rata-rata memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 65, namun ketuntasan tidak memenuhi 75%.

IPA berkaitan dengan pengamatan dan percobaan, sehingga peserta didik terlibat dalam pembelajaran. Tanpa pengamatan dan percobaan, pembelajaran IPA menjadi abstrak dan jauh dari ideal. Dalam pembelajaran yang berpusat pada buku teks dan ditunjang dengan poster berfungsi sebagai sumber belajar dan media pembelajaran. Namun, pembelajaran tersebut tidak menarik. Oleh karena itu, pembelajaran memerlukan pembaruan supaya menarik dan efektif. Salah satu pembaruan dalam pembelajaran adalah Model Discovery Learning. Dalam Model Discovery Learning, peserta didik terlibat dalam pembelajaran dengan menemukan konsep atau prinsip yang berkaitan dengan materi.

Beberapa penelitian tentang Model Discovery Learning menyatakan hasil yang bagus. Hasil penelitian Naila Ayadiya menyatakan keterampilan proses sains meningkat. Hasil penelitian Vicky Azimatul Husna menyatakan ada perbedaan peningkatan hasil belajar yang signifikan antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Hasil penelitian Chairul Anwar menyatakan prestasi belajar meningkat. Hasil penelitian Rega Chandra Irawan menyatakan keaktifan belajar dan minat baca meningkat.

Peneliti sebagai Guru Kelas III SD Negeri 1 Sumberjo melakukan pembaruan dalam pembelajaran IPA tentang Ciri-ciri dan Kebutuhan Makhluk Hidup dengan Model Discovery Learning. Dalam pembelajaran tersebut, peserta didik dan kelompoknya mengerjakan tugas dengan tampilan gambar hewan dan tumbuhan. Sesuai dengan hasil pengamatan dan diskusi, peserta didik melengkapi dengan keterangan yang sesuai. Kemudian, perwakilan kelompok melakukan presentasi secara bergiliran dan diakhiri dengan koreksi dan pembahasan.

Penerapan Model Discovery Learning diharapkan menjadi sumber belajar sekaligus media pembelajaran, sehingga pembelajaran menjadi menarik dan efektif. Pada akhirnya, hasil belajar diharapkan meningkat dan termasuk memuaskan.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tindakan dalam penelitian ini adalah Penerapan Model Discovery Learning. Tindakan dilakukan dalam pembelajaran IPA tentang Ciri-ciri dan Kebutuhan Makhluk Hidup. Tindakan dilakukan dengan tugas dalam kelompok yang berbeda-beda. Tugas menampilkan gambar hewan dan tumbuhan yang relevan dengan materi.

Tempat penelitian ini di Kelas III SD Negeri 1 Sumberjo. Waktu penelitian ini pada awal Semester I Tahun Pelajaran 2018/2019. Penelitian berlangsung pada bulan Juli sampai bulan September pada tahun 2019.

Subyek penelitian ini adalah peserta didik Kelas III SD Negeri 1 Sumberjo di Semester I Tahun Pelajaran 2018/2019. Subyek penelitian sebanyak 36 anak. Subyek penelitian berdomisili di lingkungan sekitar lokasi penelitian.

Data penelitian ini adalah aktivitas belajar dan hasil belajar sesuai dengan tindakan dalam pembelajaran terhadap subyek penelitian.

Data penelitian ini berupa aktivitas belajar peserta didik Kelas III SD Negeri 1 Sumberjo di Semester I Tahun Pelajaran 2018/2019 dengan Model Discovery Learning dalam pembelajaran IPA tentang Ciri-ciri dan Kebutuhan Makhluk Hidup. Data penelitian berupa mengamati gambar dalam tugas, berdiskusi dalam kelompok, bertanya-jawab dalam pembahasan dan koreksi. Data penelitian berupa data kualitatif yang terdiri dari beberapa kategori.

Data penelitian ini berupa hasil belajar peserta didik Kelas III SD Negeri 1 Sumberjo di Semester I Tahun Pelajaran 2018/2019 dengan Model Discovery Learning dalam pembelajaran IPA tentang Ciri-ciri dan Kebutuhan Makhluk Hidup. Data penelitian berupa nilai ulangan harian. Data penelitian berupa data kuantitatif yang dianalisis secara komparatif.

Teknik pengumpulan data penelitian ini dengan teknik nontes dan teknik tes. Teknik nontes dengan pengamatan dan dokumentasi. Teknik tes dengan tes. Alat pengumpulan data penelitian ini dengan lembar pengamatan, dokumentasi foto kegiatan dan soal ulangan harian. Teknik analisis data penelitian ini dengan teknik deskriptif komparatif sesuai dengan jenis data. Data kualitatif dianalisis secara deksriptif. Data kuantitatif dianalisis secara komparatif.

Indikator keberhasilan tindakan dalam penelitian ini sebagai berikut:

  1. Peserta didik mencapai hasil belajar dengan nilai rata-rata ≥ Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 65.
  2. Peserta didik mencapai hasil belajar dengan ketuntasan ≥ ketuntasan minimal sebesar 75%.

Prosedur dalam penelitian ini adalah Model Siklus. Penelitian berlangsung dalam 2 siklus, yaitu Siklus I dan Siklus II. Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahap, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Setiap siklus terdiri dari 3 pertemuan, yaitu tindakan dalam pembelajaran pada pertemuan pertama dan pertemuan kedua dan evaluasi hasil belajar sesuai dengan tindakan pada pertemuan ketiga.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Pembelajaran IPA tentang Ciri-ciri dan Kebutuhan Makhluk Hidup hanya berlangsung klasikal dengan berpusat pada buku teks dan ditunjang dengan poster berfungsi sebagai sumber belajar dan media pembelajaran. Sesuai dengan jumlah peserta didik yang relatif banyak, maka hanya sebagian kecil peserta didik yang benar-benar perhatian dan terlibat dalam pembelajaran. Secara keseluruhan, pembelajaran tidak menarik dan kurang melibatkan peserta didik sesuai dengan aktivitas dan interaksi pembelajaran masih terbatas. Hal tersebut juga ditunjukkan dengan rasa ingin tahu dan pemahaman materi masih lemah.

Pembelajaran IPA tentang Ciri-ciri dan Kebutuhan Makhluk Hidup cukup ideal karena ditunjang dengan poster sebagai media pembelajaran. Namun, pembelajaran masih kurang menarik bagi sebagian besar peserta didik. Hal tersebut sesuai dengan jumlah peserta didik yang relatif banyak, sehingga kurang terlibat dalam pembelajaran. Sesuai dengan kondisi tersebut, analisis hasil belajar termasuk kategori cukup memuaskan dengan nilai rata-rata sebesar 66,11 dan ketuntasan sebesar 58,33%. Nilai rata-rata memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 65, namun ketuntasan tidak memenuhi 75%.

Tabel 4.1. Analisis hasil belajar pada Kondisi Awal.

No Hasil Belajar Keterangan
1 Nilai rata-rata 66,11 ≥ 65
2 Ketuntasan 58,33% ≤ 75%
Kategori Cukup memuaskan

 

Sesuai dengan analisis data hasil belajar di atas, maka hasil belajar termasuk kategori cukup memuaskan dimana nilai rata-rata memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 65 dan ketuntasan tidak memenuhi ketuntasan minimal sebesar 75%. Hasil belajar tersebut sesuai dengan aktivitas dan interaksi pembelajaran masih terbatas.

Deskripsi Siklus I

Penerapan Model Discovery Learning dengan penugasan dalam kelompok, yaitu tugas yang berbeda-beda untuk masing-masing kelompok. Tugas berfungsi sebagai sumber belajar sekaligus media pembelajaran. Peserta didik dibagi menjadi 6 kelompok, terdiri dari 6 anggota. Peserta didik dan kelompoknya fokus dengan tugasnya masing-masing. Dalam koreksi dan pembahasan, peserta didik fokus dengan tugasnya masing-masing maupun dengan tugas dari kelompok lain.

Sesuai dengan analisis hasil pengamatan terhadap aktivitas belajar peserta didik sesuai dengan tindakan dalam pembelajaran adalah mengamati gambar dalam tugas dengan persentase sebesar 67,01% yang termasuk kategori cukup baik (C), berdiskusi dalam kelompok dengan persentase sebesar 56,59% yang termasuk kategori kurang baik (D) dan bertanya-jawab dalam pembahasan dan koreksi dengan persentase sebesar 52,43% yang termasuk kategori kurang baik (D). Secara keseluruhan, aktivitas belajar peserta didik dengan persentase rata-rata sebesar 58,68% yang termasuk kategori kurang baik (D).

Sesuai dengan analisis nilai ulangan harian, hasil belajar dengan nilai rata-rata sebesar 74,44 dan ketuntasan sebesar 72,22%. Nilai rata-rata memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 65, namun ketuntasan tidak memenuhi 75%, sehingga hasil belajar termasuk kategori cukup memuaskan.

Sesuai dengan refleksi, sebagian indikator keberhasilan tindakan terpenuhi dan sebagian yang lain tidak terpenuhi. Nilai rata-rata memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 65, bahkan meningkat dari 66,11 menjadi 74,44, sehingga indikator keberhasilan tindakan terpenuhi. Sedangkan ketuntasan sebesar 72,22%, mengalami peningkatan namun ketuntasan tidak memenuhi 75%, sehingga indikator keberhasilan tindakan tidak terpenuhi.

Sesuai dengan refleksi, penelitian dilanjutkan pada siklus berikutnya, yaitu Siklus II. Pembaruan tindakan pada Siklus II sesuai dengan rekomendasi dari refleksi pada Siklus I adalah melengkapi keterangan dan menarik kesimpulan.

Deskripsi Siklus II

Penerapan Model Discovery Learning dengan penugasan dalam kelompok yang semakin kompleks, yaitu menganalisis tugas secara berpasangan dalam kelompoknya masing-masing. Tugas dilengkapi dengan 2 gambar disesuaikan dengan tujuan belajar, yaitu menggolongkan hewan dan tumbuhan berdasarkan persamaan ciri-cirinya. Dengan demikian, 2 kelompok mendapat tugas yang sama dan melakukan presentasi secara berpasangan. Presentasi melibatkan 2 kelompok secara langsung sesuai dengan tugas yang sama dan 4 kelompok lain secara tidak langsung sesuai dengan tugas yang tidak sama.

Sesuai dengan analisis hasil pengamatan terhadap aktivitas belajar peserta didik sesuai dengan tindakan dalam pembelajaran adalah mengamati gambar dalam tugas dengan persentase sebesar 79,86% yang termasuk kategori baik (B), berdiskusi dalam kelompok dengan persentase sebesar 72,91% yang termasuk kategori baik (B) dan bertanya-jawab dalam pembahasan dan koreksi dengan persentase sebesar 67,01% yang termasuk kategori cukup baik (C). Secara keseluruhan, aktivitas belajar peserta didik dengan persentase rata-rata sebesar 73,26% yang termasuk kategori baik (B).

Sesuai dengan analisis nilai ulangan harian, hasil belajar dengan nilai rata-rata sebesar 81,66 dan ketuntasan sebesar 88,88%. Nilai rata-rata memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 65 dan ketuntasan memenuhi 75%, sehingga hasil belajar termasuk kategori memuaskan.

Sesuai dengan refleksi, indikator keberhasilan tindakan terpenuhi. Nilai rata-rata memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 65, semakin meningkat dari 74,44 menjadi 81,66. Begitu juga dengan ketuntasan sebesar 88,88%, mengalami peningkatan dan memenuhi 75.

Sesuai dengan refleksi, penelitian tidak dilanjutkan pada siklus berikutnya, yaitu Siklus III. Sesuai dengan rekomendasi dari refleksi pada Siklus II adalah menghentikan penelitian pada Siklus II dan tidak melanjutkan tindakan dengan pembaruan tindakan pada Siklus III.

Pembahasan

Penerapan Model Discovery Learning dalam kelompok dengan tugas yang berbeda-beda. Pada setiap pertemuan, tugas selalu berbeda-beda. Sesuai dengan materi, tugas pada pertemuan pertama tentang hewan dan tugas pada pertemuan kedua tentang tumbuhan.

Penerapan Model Discovery Learning dengan tugas menjadi sumber belajar sekaligus media pembelajaran. Peserta didik fokus dengan tugas dan belajar dengan pengamatan terhadap gambar dan berdiskusi, sehingga belajar secara individual maupun kolektif.

Pada Siklus I, materi tentang mengidentifikasi persamaan hewan dan tumbuhan dengan tugas melengkapi keterangan. Tugas hanya menampilkan 1 gambar tertentu tentang hewan dan tumbuhan pada setiap pertemuan. Tugas berbeda-beda untuk setiap kelompok. Presentasi dilakukan secara bersama-sama dan berurutan.

Pada Siklus II, materi tentang menggolongkan hewan dan tumbuhan berdasarkan persamaan ciri-cirinya dengan tugas melengkapi keterangan dan menarik kesimpulan. Tugas menampilkan 2 gambar tertentu tentang hewan dan tumbuhan pada setiap pertemuan. Tugas sama untuk setiap 2 kelompok. Presentasi dilakukan secara berpasangan.

Aktivitas belajar pada Siklus I termasuk kategori kurang baik (D). Sedangkan aktivitas belajar pada Siklus II termasuk kategori baik (B).

Tabel 4.4. Analisis aktivitas belajar pada Siklus I dan Siklus II.

No Aktivitas belajar peserta didik Pert 1 S I Pert 2 S I Pert 1 S II Pert 2 S II
1 Mengamati gambar dalam tugas C C B A
2 Berdiskusi dalam kelompok D D B B
3 Bertanya-jawab dalam pembahasan dan koreksi D D C C
Rata-rata Persentase (Kategori) D C B B

 

Peningkatan aktivitas belajar tersebut sesuai dengan pembaruan tugas, sehingga sesuai dengan Model Discovery Learning. Aktivitas belajar pada pertemuan pertama Siklus I termasuk kategori kurang baik (D) dan meningkat pada pertemuan kedua Siklus I termasuk kategori cukup baik (C). Aktivitas belajar pada pertemuan pertama dan pertemuan kedua Siklus II termasuk kategori baik (B). Sesuai dengan analisis aktivitas belajar di atas, aktivitas belajar meningkat.

Penerapan Model Discovery Learning dengan melengkapi keterangan. Tugas ini kurang optimal karena hanya sebatas pada penemuan konsep dan belum pada penemuan prinsip. Oleh karena itu, tugas diperbarui dengan penemuan prinsip, yaitu menarik kesimpulan. Lebih lanjut, penemuan prinsip ini melalui tahap membuat dugaan dari 2 kelompok dengan tugas yang sama, penjelasan dari kelompok lain dengan koreksi dan pembahasan. Hasil akhir adalah penarikan kesimpulan yang relevan dengan prinsip tertentu. Prinsip ini merupakan penemuan, bukan pemberian.

Tabel 4.5. Analisis hasil belajar pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II.

No Hasil belajar peserta didik Nilai rata-rata Ketuntasan Kategori
1 Kondisi Awal 66,11 ≥ 65 58,33% ≤ 75% Cukup memuaskan
2 Siklus I 74,44 ≥ 65 72,22% ≤ 75% Cukup memuaskan
3 Siklus II 81,66 ≥ 65 88,88% ≥ 75% Memuaskan

 

Peningkatan hasil belajar tersebut sesuai dengan tindakan dalam pembelajaran. Penerapan Model Discovery Learning dengan tugas yang berbeda-beda dan diperbarui, sehingga melibatkan peserta didik seara individual maupun kolektif sesuai dengan aktivitas belajar.

Hasil belajar pada Kondisi Awal dan Siklus I termasuk kategori cukup memuaskan. Walaupun termasuk kategori cukup memuaskan, hasil belajar pada Siklus I mengalami peningkatan, baik nilai rata-rata maupun ketuntasan. Namun, peningkatan tersebut masih dalam kategori yang sama, sehingga peningkatan tersebut tidak optimal. Hasil belajar pada Siklus II termasuk kategori memuaskan. Sesuai dengan analisis hasil belajar di atas, hasil belajar meningkat.

Menurut Saefuddin dan Berdiati (2014: 57-58), kelebihan Model Discovery Learning adalah memperbaiki dan meningkatkan keterampilan proses; menguatkan pengertian, ingatan dan transfer; berkembang dengan cepat sesuai dengan kecepatannya sendiri; mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri; memperkuat konsep diri; berpusat pada peserta didik; menghilangkan skeptisme; mengerti konsep dasar dan ide-ide dengan lebih baik; mengembangkan ingatan; mendorong berpikir dan bekerja atas inisiatif diri sendiri; mendorong intuisi dan hipotesis atas inisiatif diri sendiri; memberikan keputusan yang berisfat intrinsik; situasi belajar lebih bersemangat; menuju pada pembentukan manusia seutuhnya; meningkatkan penghargaan; memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar; mengembangkan bakat dan kecakapan individu; menimbulkan kesiapan belajar. Dalam penelitian kelebihan-kelebihan tersebut terpenuhi dengan kadar yang berbeda-beda.

Menurut Sudjana (2011: 39), faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah faktor internal dan faktor eksternal. Sesuai dengan tindakan dalam pembelajaran, penerapan Model Discovery Learning sangat berkaitan dengan faktor psikologis yang terdiri dari intelegensi, sikap dan motivasi dan faktor non-sosial (lingkungan alamiah, perangkat belajar, materi belajar dan pendekatan belajar). Sesuai dengan keterkaitan tersebut, hasil belajar mengalami peningkatan, dari kategori cukup memuaskan menjadi kategori memuaskan.

Sesuai dengan analisis data dan pembahasan, maka Penerapan Model Discovery Learning meningkatkan hasil belajar dan termasuk kategori memuaskan. Dengan demikian, tujuan penelitian tercapai dan hipotesis penelitian terbukti benar.

PENUTUP

Kesimpulan

  1. Penerapan Model Discovery Learning dalam pembelajaran IPA tentang Ciri-ciri dan Kebutuhan Makhluk Hidup pada peserta didik Kelas III SD Negeri 1 Sumberjo di Semester I Tahun Pelajaran 2018/2019 dalam kelompok dengan tugas yang berbeda-beda yang menjadi sumber belajar sekaligus media pembelajaran.
  2. Penerapan Model Discovery Learning dalam pembelajaran IPA tentang Ciri-ciri dan Kebutuhan Makhluk Hidup pada peserta didik Kelas III SD Negeri 1 Sumberjo di Semester I Tahun Pelajaran 2018/2019 meningkatkan hasil belajar dari kategori cukup memuaskan menjadi kategori memuaskan.

Saran

  1. Guru menyusun tugas dengan lebih banyak gambar, misalnya 3-4 gambar, dan tugas yang berbeda-beda, sehingga tidak berpasangan serta memberikan penilaian terhadap hasil tugas, sehingga termasuk hasil belajar.
  2. Peserta didik berani dan percaya diri mengikuti koreksi dan pembahasan.
  3. Sekolah mengembangkan hasil penelitian dalam pembelajaran lainnya dan melengkapi fasilitas pembelajaran dengan mempertimbangkan materi, sehingga pembelajaran menarik dan efektif.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Idrus. 2014. Panduan Implementasi Kurikulum 2013 untuk Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Jakarta: Saraz Publishing.

Anwar, Chairul. 2015. Penerapan Model Discovery Learning dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Fiqih di Kelas VIII MTs Darul Ma’arif Jakarta (Penelitian Tindakan Kelas di MTs Darul Ma’arif Jakarta). Jakarta: Skripsi Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Tidak dipublikasikan.

Arifin, Mulyati dkk. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam dan Lingkunganku untuk Kelas III Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Ayadiya, Naila. 2014. Penerapan Model Discovery Learning dengan Scientific Approach untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Siswa SMA. Semarang: Skripsi Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang. Tidak dipublikasikan.

Cahyo, Agus. 2013. Panduan Aplikasi Teori-Teori Belajar-Mengajar Teraktual dan Mutakhir. Yogyakarta: DIVA Press.

Husna, VickyAzimatul. 2015. Penggunaan Model Discovery Learning dengan Pendekatan Saintifik Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas V pada Materi Pokok Pesawat Sederhana di MI Walisongo Kebon Rowo Pucang Karang Dadap Pekalongan Tahun Pelajaran 2014/2015. Semarang: Skripsi Program Studi Guru Madrasah Ibtidaiyah, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. Tidak dipublikasikan.

Irawan, Rega Chandra. 2017. Implementasi Model Discovery Learning dalam Meningkatkan Keaktifan Belajar dan Minat Baca Siswa Kelas X Teknik Kendaraan Ringan SMK Negeri 1 Sedayu. Yogyakarta: Skripsi Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Yogyakarta. Tidak dipublikasikan.

Priyono dan Sayekti, Titik. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam untuk SD dan MI Kelas III. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Rositawaty dan Muharam, Aris. 2008. Senang Belajar Ilmu Pengetahuan Alam 3 untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah Kelas III. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Saefuddin, Aziz dan Berdiati, Ika. 2014. Pembelajaran Efektif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sudjana, Nana. 2011. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sularmi dan Wijayanti. 2008. Sains, Ilmu Pengetahuan Alam untuk SD/MI Kelas III. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Trianto. 2011. Model Pembelajaran Terpadu: Konsep, Strategi dan Implementasinya dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.