PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT) DALAM PEMBELAJARAN DESAIN GRAFIS

UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR

SISWA KELAS X TEKNIK KOMPUTER

DAN JARINGAN SMK BINA TARUNA MASARAN SRAGEN

 

Anang Heru Wibowo

Guru SMK Bina Taruna Masaran Sragen

 

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengambarkan: (1) penerapan model Numbered Head Together (NHT) dalam pembelajaran DESAIN GRAFIS, (2) penerapan model Numbered Head Together (NHT) dalam pembelajaran DESAIN GRAFIS dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas X Teknik Komputer dan Jaringan SMK Bina Taruna Masaran pada semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020, (3) penerapan model Numbered Head Together (NHT) dalam pembelajaran DESAIN GRAFIS dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelasX Teknik Komputer dan Jaringan SMK Bina Taruna Masaran pada semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas. Subjek penelitian adalah siswa kelasX Teknik Komputer dan Jaringan SMK Bina Taruna Masaran pada semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, tes, observasi, dan angket. Teknik pemeriksa keabsahan data menggunakan trianggulasi. Trianggulasi sumber didapatkan dari sumber yang berbeda untuk mendapatkan informasi yang diperlukan melalui wawancara, sedangkan trianggulasi metode dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan observasi. Data yang terkumpul dianalisis dan ditarik kesimpulan. Pelaksanaan penelitian dilakukan dalam tiga siklus. Setiap siklusnya meliputi tahapan perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) penerapan model Numbered Head Together (NHT) dalam pembelajaran DESAIN GRAFIS terbukti efektif dilaksanakan di dalam kelas, (2) penerapan model Numbered Head Together (NHT) dalam pembelajaran DESAIN GRAFIS dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas X Teknik Komputer dan Jaringan SMK Bina Taruna Masaran pada semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020, (3) penerapan model Numbered Head Together (NHT) dalam pembelajaran DESAIN GRAFIS dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X Teknik Komputer dan Jaringan SMK Bina Taruna Masaran pada semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020. Peningkatan motivasi belajar siswa dapat diamati melalui perolehan hasil angket motivasi belajar usai pelaksanaan tindakan. Pada siklus I sebesar 47,4%, siklus II meningkat menjadi 68,4%, dan siklus III mencapai sebesar 84,2%. Sedangkan prestasi belajar siswa pada saat kondisi awal menunjukkan skor rata-rata 69,03 dengan ketuntasan klasikal 52,6%, setelah siklus I dilaksanakan terjadi peningkatan skor rata-rata sebesar 85,26 dengan ketuntasan klasikal 73,7%, setelah siklus II skor meningkat menjadi 87,89 dengan ketuntasan klasikal 78,9%, dan setelah siklus III skor rata-rata siswa kembali menunjukkan peningkatan menjadi 88,68 dengan ketuntasan klasikal 89,5%.

Kata Kunci:     Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT), Pembelajaran DESAIN GRAFIS, Motivasi Belajar, Prestasi Belajar.

 

 

 

PENDAHULUAN

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Trianto, 2009: 1). Menurut Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 (1) Pendidikan adalah: “usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara” (Muhibbin, 2013:1).

Masalah utama dalam pembelajaran pada pendidikan formal (sekolah) dewasa ini adalah masih rendahnya daya serap peserta didik.Hal ini tampak dari rerata hasil belajar peserta didik yang senantiasa masih sangat memprihatinkan (Trianto, 2009: 5). Untuk itu segenap kalangan pendidik perlu menyusun sebuah strategi untuk dapat memperbaiki proses dan hasil pembelajaran. Hamdani (2011) berpendapat bahwa strategi dapat diartikan suatu upaya yang dilakukan oleh seseorang atau organisasi untuk sampai pada tujuan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, strategi adalah rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus (yang diinginkan). Ungkapan John seperti yang dikutip Hamdani (2011) mengartikan strategi yaitu suatu prosedur yang digunakan untuk memberikan suasana yang kondusif kepada siswa dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.

Dalam sebuah pembelajaran, strategi pembelajaran memainkan peranan yang sangat urgent. Bagaimana tidak, karena dengan strategi yang matang dan terencana akan mampu menciptakan peserta didik yang berprestasi dan membanggakan. Arti strategi sendiri pada awalnya digunakan dalam dunia militer yang diartikan sebagai cara penggunaan seluruh kekuatan militer untuk memenangkan perang. Namun dalam hal ini Kemp (dalam Abdul Majid: 2013) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.

Namun fakta dilapangan menunjukkan bahwa masih banyaknya sekolah-sekolah yang masih menerapkan model pembelajaran tradisional yang terkesan monoton. Tidak lain tidak bukan model pembelajaran yang dimaksud adalah model ceramah. Di sekolah-sekolah dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas model model pembelajaran ceramah masih begitu mendominasi dan seperti tidak ada model pembelajaran yang lain. Padahal masih begitu banyak model pembelajaran yang sangat layak untuk diuji cobakan sehingga baik guru maupun murid yang ada di sekolah tersebut menjadi tersegarkan dengan model-model pembelajaran yang berganti.Ini seperti kita berhadapan dengan meja makan yang kita lihat selalu nasi dan sepotong daging ayam. Makan pagi, makan siang, makan malam selalu begitu maka akan menimbulkan kebosanan dan rasa jenuh. Berbeda halnya ketika yang tersaji di meja makan lauknya berubah-ubah dengan warna-warni yang sedap dipandang.

Salah satu pembelajaran yang menekankan keterlibatan siswa secara penuh di dalam proses pembelajaran adalah dengan menggunakan model kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT). Pengembang pertama pembelajaran ini adalah Spenser Kagen pada tahun 1993.Hal ini dilakukan dengan harapan untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.

Dalam suatu pembelajaran DESAIN GRAFIS, sudah menjadi suatu keharusan tidak hanya menekankan kepada pengertian materi tentang DESAIN GRAFIS saja, namun yang jauh lebih penting lagi yaitu bagaimana meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan meningkatkan hasil output pembelajaran sehingga menjadikan pembelajaran tersebut benar-benar hidup. Dengan menggunakan pendekatan kooperatif tentunya materi pelajaran DESAIN GRAFIS yang dipelajari oleh siswa tidak sekedar menghafal dan mengingat, namun mereka juga dapat saling mambantu dan berkoordinasi untuk memecahkan suatu masalah sehingga meningkatkan rasa solidaritas diantara peserta didik.

METODE PENELITIAN

Untuk mengetahui konsep penelitian tindakan kelas (PTK) yang di dalam bahasa Inggris disebut classroom action research (CAR) secara jelas perlu dikemukakan sejumlah batasan tentang penelitian tersebut. Menurut Dave Ebbutt, sebagaimana dikutip Hopkins (1993) menyatakan bahwa penelitian tindakan adalah kajian sistematik tentang upaya meningkatkan mutu praktik pendidikan oleh sekelompok masyarakat melalui tindakan praktis yang mereka lakukan dan melalui refleksi atas hasil tindakan tersebut. Sementara itu menurut Kemmis dan McTanggart (dalam Soly Abimanyu, 1995), penelitian tindakan adalah studi yang dilakukan untuk memperbaiki diri sendiri, tetapi dilaksanakan secara sistematis, terencana, dan dengan sikap mawas diri. Sebagai bentuk penelitian praktis, dalam bidang pendidikan, penelitian tindakan ini mengacu pada apa yang dilakukan guru untuk memperbaiki proses pengajaran yang menjadi tanggung jawabnya (Suwandi, 2009: 9).

Menurut Jean Mc Niff (via Suroso, 2009: 29), Penelitian Tindakan Kelas merupakan bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh guru sendiri.Hasil penelitian ini dapat bermanfaat diantaranya sebagai alat pengembangan kurikulum, sekolah, dan keahlian mengajar (Acep, 2012:7). Kasbolah (2009) mengutip pendapat Kemmis dan Mc Tanggart (1982) penelitian Tindakan Kelas merupakan suatu bentuk proses yang dinamis di mana keempat aspek, yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi harus dipahami bukan sebagai langkah-langkah yang statis, terselesaikan dengan sendirinya, tetapi lebih merupakan momen-momen dalam bentuk spiral yang terkait dengan perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi.

Rochiati (2014) mengutip pendapat Hopkins (1993) Pengertian penelitian tindakan kelas yaitu untuk mengidentifikasi penelitian kelas, adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan substantif, suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inkuiri, atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi, sambil terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan.

Pada penelitian ini digunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). E. Mulyasa (2011:10) mendefinisikan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebagai penelitian tindakan (action research) yang dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas proses dan hasil belajar sekelompok peserta didik. Dalam pengertian kelas tidak terbatas pada empat dinding kelas atau ruang kelas, tetapi lebih pada adanya aktivitas belajar dua orang atau lebih siswa.

Menurut Drs. Suaidin (dalam Asmani, 2011) PTK adalah suatu bentuk kajian reflektif oleh guru sebagai pelaku tindakan yang bertujuan untuk meningkatkan kemantapan rasional dalam melaksanakan tugas keguruannya, memperdalam pemahaman terhadap tindakan yang dilakukannya serta memperbaiki pembelajaran yang dilakukan.Sedangkan Prof Suharsimi Arikunto (2006: 3) mendefinisikan PTK adalah pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja ditimbulkan yang terjadi dalam sebuah kelas secara bersamaan. PTK adalah sebuah proses pengamatan refleksi terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru itu sendiri untuk memperbaiki kualitas pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar siswa (Jasman, 2014: 6).

Sedangkan menurut Arikunto, dkk (2006) dalam makalah Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG Penyelenggara Sertifikasi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makasar) mengartikan bahwa Penelitian Tindakan Kelas sebagai suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar yang berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Oleh karena itu, penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru ditujukan untuk meningkatkan situasi pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya. Dilain pihak Suharsimi, Suhardjono, dan Supardi (2006) menjelaskan PTK dengan memisahkan kata-kata yang tergabung di dalamnya, yakni: Penelitian Tindakan Kelas, dengan paparan sebagai berikut:

  1. Penelitian menunjuk pada kegiatan mencermati suatu objek, dengan menggunakan cara dan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti.
  2. Tindakanmenunjuk pada suatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dngan tujuan tertentu. Dalam penelitian berbentuk rangkaian siklus kegiatan untuk peserta didik.
  3. Kelas dalam hal ini tidak terikat pada pengertian ruang kelas, tetapi dalam pengertian yang lebih spesifik. Seperti yang sudah lama dikenal dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Yang dimaksud dengan istilah kelas adalah sekelompok peserta didik dalam waktu sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula.

Berdasarkan pemahaman tiga kata kunci tersebut, dapat disimpulkan bahwa: penelitian tindakan kelas merupakan suatu upaya untuk mencermati kegiatan belajar sekelompok peserta didik dengan memberikan sebuah tindakan (treatment) yang sengaja dimunculkan. Tindakan tersebut dilakukan oleh guru bersama-sama peserta didik, atau oleh peserta didik di bawah bimbingan dan arahan guru, dengan maksud untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran (E. Mulyasa, 2011: 11).

Hal ini tampak dari tujuan PTK yaitu untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh guru di dalam kelas sekaligus juga untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Pendapat ini sejalan dengan Suhardjono (dalam Suharsimi Arikunto, dkk, 2012: 60) yaitu pada intinya PTK bertujuan untuk memperbaiki berbagai persoalan nyata dan praktis dalam peningkatkan mutu pembelajaran di kelas yang dialami langsung dalam interaksi antara guru dengan siswa yang sedang belajar.

 

HASIL PENELITIAN

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) dalam Pembelajaran DESAIN GRAFIS

Saat melakukan observasi kegiatan pembelajaran DESAIN GRAFIS kelas X Teknik Komputer dan Jaringan SMK Bina Taruna Masaran pada semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020 peneliti melihat bahwa dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas masih sangat didominasi guru. Hal yang tampak monoton sekali dimana murid ditempatkan sebagai objek KBM dan guru adalah tokoh utamanya. Guru menggunakan metode ceramah dalam mengajar sehingga KBM hanya berlangsung satu arah saja. Kondisi demikian cukup memprihatinkan, karena efek yang timbul adalah siswa cepat bosan, mengantuk di kelas, dan hasil pembelajaran kurang tercapai.

Berpijak dari permasalahan tersebut, peneliti membuat sebuah rancangan tindakan yang harapannya bertujuan untuk memperbaiki minat anak dalam belajar DESAIN GRAFIS sehingga ke depannya anak-anak memiliki prestasi yang lebih tinggi. Dengan demikian hasil belajar DESAIN GRAFIS mereka pun semakin tuntas dan memuaskan. Menggunakan metode belajar yang tepat bermanfaat untuk melibatkan keaktifan siswa dalam proses KBM. Adanya kerja sama antar siswa maupun antara guru dengan siswa mampu membantu individu tiap siswa untuk memperoleh pemahaman materi pelajaran dan prestasi yang lebih tinggi. Model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) merupakan alternatif pembelajaran yang peneliti coba terapkan dalam penelitian ini.Dengan model pembelajaran ini peneliti berharap dapat membantu siswa agar mereka mendapatkan pembelajaran yang lebih bermakna.

Secara garis besar tindakan yang akan diterapkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) adalah sebagai berikut:

Pendahuluan

Pada tahap ini yang pertama dilakukan yaitu guru mengucap salam, berdoa bersama, memeriksa kebersihan kelas dan kerapiannya. Guru merangsang pengetahuan siswa dengan mengajukan pertanyaan awal sesuai materi yang akan dipelajari. Gurumenyampaikan tujuan pembelajaran. Menjelaskan tahapan kegiatan pembelajaran dengan model NHT.

Kegiatan Inti

Kegiatan inti ini yang pertama dilakukan adalah guru menjelaskan materi secara ringkas lalu guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok beranggotakan 4-5 orang dan memberi mereka nomor untuk masing-masing siswa, jadi tiap siswa dalam satu kelompok memiliki nomor yang berbeda (langkah 1 NHT: Numbering). Kedua, guru mengajukan pertanyaan dalam bentuk lembar kerja siswa kepada setiap kelompok terkait materi yang telah disampaikan (langkah 2 NHT: Questioning). Ketiga, siswa memikirkan pertanyaan yang diajukan oleh guru secara bersama dalam satu kelompok (langkah 3 NHT: Head Together). Keempat, guru memanggil satu nomor secara acak dan siswa dari tiap kelompok yang memegang nomor yang dipanggil mengangkat tangannya, lalu satu siswa menjawab pertanyaan yang diajukan guru untuk seluruh kelas ditanggapi kelompok yang lain (langkah 4 NHT: Answering), jika jawabannya sudah benar siswa dipersilahkan kembali ke tempat duduknya namun jika masih salah maka guru bertugas untuk memberikan jawaban yang benar.

Penutup

Pada tahap penutup ini pertama yang dilakukan guru yaitu mengarahkan siswa untuk dapat menyimpulkan materi yang telah sama-sama dipelajari.Kedua, guru memberikan tugas post test kepada siswa untuk dikerjakan masing-masing. Guru memberitahukan materi yang akan dipelajari selanjutnya kepada semua siswa. Kegiatan pembelajaran diakhiri dengan salam.

Berdasarkan hasil pengamatan terhadap pelaksanaan proses pembelajaran DESAIN GRAFIS pada siklus I, diperoleh gambaran sebagai berikut: (1) Saat kegiatan pendahuluan guru belum mengaitkan materi terdahulu dengan materi yang akan diterangkan. (2) Guru belum melaksanakan langkah 1 NHT Numbering secara bijak. Guru belum membagikan nomor secara tertib. Sehingga siswa ribut saat pembagian nomor dilakukan. (3) Guru belum melaksanakan langkah 3 NHT Head Together dengan optimal. Guru belum memantau secara sungguh-sungguh saat diskusi kelompok berlangsung sehingga siswa gaduh di dalam kelas. Efek lain yang terjadi adalah siswa masih menggantungkan jawaban soal kepada temannya. (4) Guru belum melaksanakan langkah 4 NHT Answering secara maksimal. Guru belum memberikan semangat positif kepada siswa. Dampaknya siswa masih malu-malu dalam menyampaikan jawaban. Rasa ingin tahu siswa belum terpacu saat proses diskusi dilakukan. (5) Manajemen waktu saat post test masih kurang pas, sehingga beberapa siswa kekurangan waktu dalam menyelesaikan tugas. (6) Dalam kegiatan penutup guru belum menyampaikan materi yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya.

Berdasarkan hal tersebut diketahui bahwa pembelajaran pada siklus I belum berhasil mencapai target sehingga perlu dilakukan tindakan ke siklus II dengan beberapa perbaikan.

Observasi siklus II, berdasarkan hasil pengamatan terhadap pelaksanaan proses pembelajaran DESAIN GRAFIS pada siklus II telah menunjukkan adanya perubahan positif sebagai berikut: (1) Saat kegiatan pendahuluan guru telah mengaitkan materi terdahulu dengan materi yang diajarkan. (2) Guru telah sepenuhnya menerapkan langkah-langkah NHT sesuai dengan perencanaan. Langkah 1 NHT Answering guru telah membagi nomor secara tertib dan mencegah siswa gaduh di kelas. Langkah 3 NHT Head Together berhasil dilakukan guru. Hal ini tampak ketika guru benar-benar memantau kegiatan diskusi kelompok. Guru turut membimbing siswa yang membutuhkan saat kegiatan diskusi berlangsung. Dengan pemantauan guru, siswa yang awalnya menggantungkan jawaban kepada teman mulai timbul kesadaran untuk mencari jawaban sendiri. Jawaban yang didapat didiskusikan kepada teman dalam kelompoknya sehingga tiap siswa mengerti akan jawaban 4 soal yang diberikan. (3) Kegiatan post test telah berhasil dilakukan tepat sesuai waktu yang dialokasikan yaitu selama 20 menit. (4) Dalam kegiatan penutup guru telah menyampaikan materi apa yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya. Namun yang masih menjadi kendala adalah pada langkah 4 NHT Answering guru masih belum maksimal dan menemui kendala dalam menyadarkan siswa untuk aktif berpendapat ketika usai penyampaian jawaban oleh salah satu kelompok yang maju di depan kelas. Manajemen waktu yang kurang tepat juga menjadi kendala yang terjadi pada siklus II ini. Saat proses penunjukkan nomor dan penyampaian hasil diskusi masih tergesa-gesa dikarenakan batasan waktu yang ada. Yang seharusnya selesai dalam waktu 20 menit namun yang terjadi adalah 25 menit.Untuk memperoleh hasil pembelajaran yang maksimal peneliti lanjutkan ke siklus III. Berdasarkan hasil observasi kolaborator terhadap pelaksanaan KBM pada siklus III diperoleh catatan perubahan positif dibandingkan siklus II: (1) Guru telah menjalankan langkah 4 NHT Answering secara maksimal. Hal ini tampak dari upaya guru dalam membangkitkan keberanian siswa untuk menstimulasi rasa percaya diri siswa ketika maju ke depan kelas. Hal ini berdampak pada rasa minder siswa yang pada siklus sebelumnya masih besar kemudian berhasil diminimalisir sekecil mungkin sehingga siswa tampil percaya diri ketika menjawab soal. Para siswa juga berani mengemukakan pendapatnya dalam menanggapi kelompok yang maju. (2) Guru berhasil menjalankan kegiatan pembelajaran sesuai alokasi waktunya. Pada siklus II saat penunjukan nomor dan penyampaian hasil diskusi kelompok guru masih kekurangan waktu, yang seharusnya selesai dalam waktu 20 menit molor menjadi 25 menit. Hal tersebut tidak terjadi ketika siklus III dilakukan karena guru telah menargetkan dengan ketat kegiatan pembelajaran sesuai alokasi waktu yang telah direncanakan sebelumnya. Berdasarkan hasil analisis observasi siklus III ini, diputuskan untuk tidak melanjutkan lagi ke siklus berikutnya.

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) dalam Pembelajaran DESAIN GRAFIS untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa

Setelah adanya penerapan model pembelajaran NHT dalam pembelajaran DESAIN GRAFIS menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa meningkat tiap siklusnya. Pada siklus I diperoleh skor rata-ratanya sebesar 126,9 atau 79,3%, dengan rincian siswa yang memperoleh skor ≥ 80% sebanyak 18 orang siswa atau hanya 47,4%, sedangkan yang memperoleh skor dibawah 80% sebanyak 20 orang siswa atau mencapai 52,6%. Secara klasikal motivasi belajar siswa pada siklus I yang mencapai ≥ 80% hanya sebesar 47,4%.

Motivasi belajar siswa pada siklus II meningkat dengan skor rata-rata sebesar 130,26 atau 81,3%. Hal ini menunjukkan peningkatan dibanding pada siklus I yang hanya mencapai 126,9 atau 47,4%. Pada siklus II ini, siswa yang memperoleh skor ≥ 80% sebanyak 26 orang siswa atau mencapai 68,4%, sedangkan yang memperoleh skor dibawah ≥ 80% sebanyak 12 orang siswa atau 31,6%. Meskipun mengalami peningkatan, tetapi secara klasikal motivasi belajar siswa pada siklus II yang mencapai ≥ 80% hanya sebesar 68,4%, sekor tersebut belum mencapai target yang ditentukan yakni ≥ 80%.

Motivasi belajar siswa pada siklus III kembali mengalami peningkatan, dengan skor rata-rata mencapai mencapai 130,9 atau 81,8%. Hal ini menunjukkan peningkatan dibanding pada siklus II yang hanya mencapai 130,3 atau 81,3%. Pada siklus III siswa yang memperoleh skor ≥ 80% sebanyak 32 orang siswa atau 84,2%, sedangkan yang memperoleh skor dibawah ≥80% sebanyak 6 orang atau 15,8%. Dengan demikian secara klasikal peningkatan motivasi siswa yang mencapai 80% mencapai 84,2%, dan telah melampaui target yang ditentukan. Motivasi belajar siswa kelas X Teknik Komputer dan Jaringan SMK Bina Taruna Masaran pada semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020 dari siklus I hingga siklus III dapat dilihat pada tabel berikut ini:

 

 

 

 

Tabel Perbandingan Motivasi Belajar SiswaPada Siklus I, II dan III

No Uraian Siklus I Siklus II  

Siklus III

1 Skor rata-rata 126,9 130,3  

130,9

2 Ketuntasan klasikal 47,4% 68,4%  

84,2%

3 Jumlah siswa yang mencapai ≥ 80% 18 siswa 26 siswa  

32 siswa

 

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) dalam Pembelajaran DESAIN GRAFIS untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa

Penerapan model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT) dalam pembelajaran DESAIN GRAFIS terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X Teknik Komputer dan Jaringan SMK Bina Taruna Masaran pada semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020. Prestasi belajar siswa pada kondisi awal menunjukkan bahwa nilai rata-rata dari keseluruhan siswa kelas X yang berjumlah 38 siswa adalah sebesar 69,03 dengan ketuntasan klasikal sebesar 52,6%. Setelah dilakukan tindakan siklus I nilai siswa mengalami peningkatan yang cukup tajam dengan nilai rata-rata sebesar 85,26 dengan ketuntasan klasikal sebesar 73,7%. Walaupun mengalami peningkatan prestasi belajar dari kondisi awal ke siklus I, akan tetapi hasil tersebut belum mencapai target ketuntasan klasikal yang ditentukan sebesar 80%.

Prestasi belajar siswa pada siklus II kembali meningkat dengan nilai rata-rata 87,89 dengan ketuntasan klasikal sebesar 78,9%. Meskipun begitu pada siklus II ini prestasi belajar siswa secara klasikal masih belum tuntas belajar atau belum mencapai target dengan ketuntasan klasikal sebesar ≥ 80%.

Prestasi belajar siswa pada siklus III mengalami peningkatan dengan nilai rata-rata mencapai 88,68 dengan ketuntasan klasikal mencapai 89,5%. Berdasarkan prestasi belajar siklus III secara klasikal siswa kelas X Teknik Komputer dan Jaringan SMK Bina Taruna Masaran pada semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020 telah tuntas belajar. Prestasi belajar siswa kelas X Teknik Komputer dan Jaringan SMK Bina Taruna Masaran pada semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020 dari kondisi awal hingga akhir dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel Perbandingan Prestasi Belajar Siswa Pada Kondisi Awal, Siklus I, II dan III

No Uraian Kondisi Awal Siklus I Siklus II Siklus III
1 Nilai rata-rata 69,03 85,26 87,89 88,68
2 Ketuntasan klasikal 52,6% 73,7% 78,9% 89,5%
3 Jumlah siswa yang mencapai ≥ 80 14 siswa 28 siswa 30 siswa  

34 siswa

 

KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Penerapan model Numbered Head Together (NHT) yang merupakan salah satu pembelajaraan kooperatif dalam pelaksanaannya selalu dengan adanya pembagian kelompok dalam satu kelas. Setiap anggota dalam kelompok tersebut mendapatkan nomor yang berbeda. Saat mendapatkan tugas dari guru, masing-masing siswa mengerjakan soal sesuai nomor yang ia miliki. Ketika seorang siswa mengalami kesulitan ia dapat meminta bantuan kepada teman yang mengetahui dalam kelompoknya. Ketika waktu mengerjakan soal selesai guru memanggil salah satu siswa dengan nomor yang sama, guru menunjuk salah satunya. Jika jawaban sudah dianggap benar, siswa yang maju dipersilahkan duduk.
  2. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dalam pembelajaran DESAIN GRAFIS terbukti dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas X Teknik Komputer dan Jaringan SMK Bina Taruna Masaran pada semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020. Setiap siklus pembelajaran DESAIN GRAFIS mengalami peningkatan motivasi belajar. Hasil angket motivasi belajar siswa pada siklus I menunjukkan pencapaian siswa hanya 47,4%, dan pada siklus III mengalami peningkatan menjadi 84,2%.
  3. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dalam pembelajaran DESAIN GRAFIS terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X Teknik Komputer dan Jaringan SMK Bina Taruna Masaran pada semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020. Setiap siklusnya prestasi belajar siswa terus meningkat. Prestasi belajar siswa pada kondisi awal menunjukkan bahwa nilai rata-rata 69,03 dengan ketuntasan klasikal 52,6%. Setelah dilakukan tindakan pada siklus I, nilai siswa mengalami peningkatan dengan nilai rata-rata 85,26 dengan ketuntasan klasikal 73,7%. pada siklus II, nilai siswa mengalami peningkatan dengan nilai rata-rata 87,89 dengan ketuntasan klasikal 78,9%. pada siklus III, nilai siswa mengalami peningkatan kembali dengan nilai rata-rata 88,68 dengan ketuntasan klasikal 89,5%.

Implikasi

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dalam pembelajaran DESAIN GRAFIS yang dilaksanakan dalam tiga siklus terbukti dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa kelas X Teknik Komputer dan Jaringan SMK Bina Taruna Masaran pada semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020.

Tenaga pendidik (dalam hal ini guru) yang mampu memilih dan menerapkan model pembelajaran tertentu dalam suatu kelas akan mendapatkan suasana tersendiri dalam kelas. Dalam artian tidak hanya ceramah saja di kelas, namun suasana kelas akan semakin hidup dan kondusif dengan menerapkan salah satu model pembelajaran kooperatif.

Dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) pada mata pelajaran DESAIN GRAFIS menjadikan siswa merasa lebih bergembira dan lebih antusias dalam mengikuti proses KBM. Dengan menerapkan model pembelajaran ini mampu membuat siswa lebih menghargai pendapat orang lain, saling bekerja sama dalam kelompok, dan juga meminimalisir ego pribadi dalam artian bahwa siswa yang pandai turut mau membagi kepandaiannya kepada temannya yang kurang pandai.

Dengan menerapkan model pembelajaran NHT di dalam kelas mampu meningkatkan kualitas pembelajaran. Hal ini terbukti melalui meningkatnya motivasi siswa yang dapat dilihat dari perolehan hasil angket belajar dan prestasi belajar siswa yang dapat dilihat dari hasil post tes.

 

Saran

Tekait dengan hasil penelitian yang telah peneliti lakukan, ada beberapa saran yang ingin disampaikan. Saran-saran tersebut adalah sebagai berikut:

Saran untuk Guru

Guru hendaknya lebih variatif dalam menjalankan proses KBM yang biasanya hanya menekankan dan bertumpu pada model ceramah dan tanya jawab. Model pembelajaran NHT adalah alternatif pilihan yang dapat diterapkan dalam proses KBM. Hasil akhir yang diharapkan adalah agar motivasi dan prestasi peserta didik meningkat sehingga kualitas pembelajaran semakin baik.

Saran untuk Kepala Sekolah

Kepala Sekolah perlu mengadakan pelatihan kepada guru-guru di Madrasah tentang berbagai model pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Dengan meningkatnya kualitas pembelajaran maka akan diperoleh siswa-siswa dan guru-guru yang dapat dijadikan teladan. Sehingga citra Madrasah di masyarakat semakin baik dan bahkan tidak menutup kemungkinan warga madrasah dapat dicontoh oleh masyarakat sekitar

Saran untuk Dinas Pendidikan

Sekiranya Dinas Pendidikan mampu menyelenggarakan program-program pelatihan keprofesionalan guru dalam mengimplementasikan ilmunya dalam bidang pendidikan. Khususnya berkaitan dengan pelatihan penerapan model-model pembelajaran. Setelah itu ilmu yang didapat guru dari hasil pelatihan dapat dipraktekkan di sekolahan.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktis. Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi, dkk. 2012. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara

Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: CV Pustaka Setia.

Majid,Abdul. 2013. StrategiPembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Mulyasa, E. 2011. Praktik Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Schunk, dkk. 2012. Motivasi Dalam Pendidikan Teori, Penelitian, dan Aplikasinya. Jakarta: PT. Indeks.

Suwandi,Sarwiji. 2009. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Penulisan Karya Ilmiah. Surakarta: Panitia Sertifikasi Guru Rayon 13 FKIP UNS Surakarta

Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: PT. Fajar Interpratama Mandiri.

Rochiati Wiriaatmadja. 2014. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Jalil, Jasman. 2014. Panduan Mudah Penelitian Tindakan Kelas.Jakarta: Prestasi Pustakarya.