PENGARUH LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK

DENGAN TEKNIK DISKUSI TERHADAP MOTIVASI BELAJAR

SISWA KELAS XI MIPA SMA NEGERI 11 SEMARANG

 

Muhammad Iqbal Septia S1)

Agus Suharno2)

Agus Setiawan3)

1) Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling, Universitas PGRI Semarang

2) 3) Dosen Bimbingan dan Konseling Universitas PGRI Semarang

ABSTRAK

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya motivasi belajar siswa kelas XI MIPA SMA Negeri 11 Semarang yang disebabkan kurangnya motivasi belajar siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat motivasi belajar siswa kelas XI MIPA SMA Negeri 11 Semarang sesudah diberi treatment layanan bimbingan kelompok dengan teknik Diskusi. Jenis penelitian ini adalah eksperimen dengan metode penelitian true eksperiment design dengan bentuk pretest-posttest control group design. Sampel yang diambil sebanyak 20. Desain penelitian yang digunakan adalah pre-test, treatment, post-test. Hasil uji hipotesis diperoleh thitung= 5,612 dengan ttabelyaitu 2,101. Hal tersebut menunjukan bahwa thitung = 5,612 >ttabel= 2,101, maka dapat disimpulkan bahwa “ada pengaruh layanan bimbingan kelompok dengan teknik diskusi terhadap motivasi belajar siswa kelas XI MIPA SMA Negeri 11 Semarang.

Kata Kunci: Bimbingan Kelompok, Teknik Diskusi, Motivasi Belajar

 

PENDAHULUAN

Pendidikan memiliki peranan penting dalam pengembangan diri seorang siswa secara optimal karena pendidikan meliputi meliputi pengajaran dan pembinaan terhadap peserta didik. Memberikan layanan pendidikan dalam rangka mendampingi pengembangan peserta didik untuk kemajuan dan pembangunan bangsa dan negara merupakan tanggung jawab kita sebagai guru, termasuk guru bimbingan dan konseling. Melalui layanan yang ada dalam bimbingan dan konseling, diharapkan peserta didik dapat mengembangkan bakat, motivasi dan perstasinya disekolah.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut sekolah dan guru memiliki peranan penting. Baik buruknya pengajaran disekolah sangat menentukan kwalitas seorang siswanya. Proses belajar yang baik akan melibatkan peserta didik secara psikologis dapat membangkitkan motivasi belajar peserta didik sehingga prestasi belajar peserta didik dapat berkembang secara optimal. Dengan kata lain peserta didik terlibat secara aktif dalam proses belajar yang baik memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan daya pikirnya sehingga memperoleh hasil belajar yang optimal.

Tetapi dalam pengembangan diri peserta didik ini sering kali ditemui permasalahan yang kerap dialami oleh peserta didik, salah satu permasalahan yang dapat ditangani oleh seorang guru bimbingan dan koseling disekolah adalah masalah bidang belajar, yang mana masalah dibidang belajar ini sering dialami oleh siswa dalam kegiatan belajar mengajar disekolah. Menurut Syaiful Bahri Jamarah (2011:156) Ketidak minatan peserta didik terhadap suatu mata pelajaran menjadi pangkal penyebab kenapa peserta didik tidak bergeming untuk mencatat apa yang telah disampaikan oleh seorang guru. Itulah pertanda bahwa rendahnya motivasi dalam belajar diri seorang peserta didik. Tidak hanya itu, menurut Abu dan Widodo (2014:92) fator kesulitan belajar yang dialami oleh peserta didik adalah faktor mass media yang mana meliputi media elektronik seperti smartphone dan TV yang ada di sekitar mereka akan menghambat belajar apabila peserta didik terlalu banyak waktu yang dipergunakan untuk hal itu hingga lupa akan tugas belajarnya. Serta siswa pada umumnya terlihat bahwa pekerjaan rumah (PR) tidak dibuat atau baru dibuat di sekolah pada hari itu tidak hanya itu faktor kurikulum juga mempengaruhi serta kondisi peserta didik yang mengantuk dan kelelahan.

Rendahnya motivasi dalam belajar seorang peserta didik merupakan salah satu hambatan untuk mewujudkan bangsa yang berkualitas. Didalam belajar, motivasi merupakan landasan yang amat berperan penting baik motivasi yang ada dalam diri peserta didik maupun dari luar diri peserta didik. Ada tidaknya motivasi belajar sangat mempengaruhi keberhasilan belajar peserta didik.

David dan Newstrom (dalam Khodijah 2014:152-153) mengemukakan motivasi mempengaruhi cara-cara seseorang dalam bertingkah laku , termasuk belajar, terbagi atas empat pola diatanranya adalah (1) motivasi berprestasi, yaitu dorongan untuk mengatasi tantangan, untuk maju dan berkembang (2) motivasi berafiliasi yaitu dorongan untuk berhubungan dengan orang lain secara efektif (3) motivasi berkompetensi yaitu dorongan untuk mencapai hasil kerja dengan kualitas tinggi dan (4) motivasi berkuasa yaitu dorongan untuk mempengaruhi orang lain dan situasi. Keempat pola mptivasi tersebut menggerakan dan mendorong seseorang untuk belajar, baik secara simultan maupun secara terpisah.

Hasil belajar menjadi optimal jika ada motivasi, semakin tepat motivasi yang diberikan, maka semakin berhasil dalam belajar. Seorang peserta didik yang memiliki intelegensi cukup tinggi, bisa menjadi gagal karena kekurangan motivasi. Dengan kata lain, bahwa dengan adanya usaha yang tekun dan didasari adanya motivasi, maka seorang peserta didik yang belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang baik. Intensitas motivasi seorang peserta didik akan akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya.

Berdasarkan uraian diatas serta hasil penyebaran AKPD (Angket Kebutuhan Peserta Didik) dan wawancara pada guru bimbingan konseling dan peserta didik kelas XI IPA SMA N 11 Semarang pada tanggal 26 maret hingga 11 April tahun 2019 didapat data sebanyak 87% dari keseluruhan peserta didik kelas XI IPA satu sampai tujuh mengenai motivasi belajar yang rendah atau kurang. Hal ini dapat diketahui hasil wawancara dengan peserta didik yang mengemukakan kurang antusias dalam kegiatan belajar mengajar dikelas dengan pelajaran tertentu, tidak menyukai pelajaran tertentu dikarenakan tugas yang diberikan oleh guru terlalu banyak, jarang bertanya kepada guru, mengerjakan pekerjaan rumag (PR) di sekolah, kurangnya pengetahuan tentang cara belajar, serta menganggap bahwa belajar adalah hal yang kurang menyenangkan dibandingkan dengan memainkan smartphone dan aplikasi didalamnya serta kurikulum yang berlaku.

Pentingnya meningkat motivasi belajar bagi peserta didik agar berprestasi merupakan tugas semua pihak. Baik siswa, orang tua maupun guru dilingkungan sekolah yang termasuk didalamnya guru bimbingan dan konseling. Didalam bimbingan dan konseling terdapat layanan yang diberikan oleh seorang guru bimbingan dan konseling untuk membantu peserta didik agar dapat mengembangkan potensi serta menyelesaikan permasalahan yang siswa alami. Salah satu layanan yang dapat digunakan untuk membantu peserta didik adalah bimbingan kelompok.

Menurut Prayitno dan Amti (2013:309) bahwa bimbingan kelompok merupakan kegiatan informasi kepada sekelompok peserta didik untuk membantu menyusun rencana dan keputusan yang tepat. Dalam bimbingan kelompok peserta didik dapat membahas topik tertentu seperti motivasi belajar dengan memanfaatkan dinamika kelompok sehingga dapat memahami tujuan yang ingin dicapai. Tidak hanya itu, didalam bimbingan kelompok juga terdapat beberapa teknik-teknik dan salah satu di antaranya adalah teknik diskusi. Menurut Djamarah (dalam Aliyustati 2016:72) diskusi kelompok merupakan suatu kegiatan yang teratur yang dilakukan sekelompok individu dalam interaksi yang saling tatap muka secara kooperatif dengan tujuan membagi informasi, membuat keputusan serta memecahkan suatu masalah. Tidak hanya itu diskusi kelompok merupakan salah satu teknik bimbingan kelompok yang penting, atau bisa dikatakan sebagai jantungnya bimbingan kelompok. Hampir semua teknik bimbingan kelompok menggunakan diskusi sebagai cara kerjanya.

Dari hasil penelitian terdahulu yang dilakuakan Aidha (2013) penggunaan bimbingan kelompok dengan teknik diskusi untuk meningkatkan motivasi belajar seorang peserta didik memberi pengaruh peningkatan serta perubahan diri peserta didik dalam motivasi belajarnya.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik meneliti tentang Pengaruh Layanan Bimbingan Kelompok Dengan Teknik Diskusi Terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas XI MIPA SMA N 11 Semarang.

Motivasi Belajar

Menurut Emda (2017:175) dalam penetilian “Kedudukan Motivasi Belajar Siswa Dalam Pembelajaran” menerangkan bahwa motivasi belajar ialah dimana individu atau seseorang mendapatkan dorongan untuk melakukan suatu hal guna mencapai tujuan yang ingin dicapai.

Hal tersebut sesuai dengan pendapat Khodijah (2014:157) motivasi belajar adalah dorongan yang menjadi penggerak dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu dan mencapai suatu tujuan yaitu untuk mencapai prestasi.

Menurut Mc. Donald (dalam Djamarah 2011:148) mengatakan bahwa, Motivation is a energy change within the person characterized by affective arousal anticipatory goal reaction, atau motivasi adalah suatu perubahan energi didalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan) dan reaksi untuk mencapai suatu tujuan. Dalam proses belajar motivasi sangat diperluan sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.

Menurut uraian di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar merupakan dorongan internal dan eksternal pada peserta didik yang sedang belajar untuk proses yang memberi semangat belajar, arah, dan kegigihan perilaku. Karena dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan sebab seorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.

 

Bimbingan Kelompok dengan Teknik Diskusi

Menurut Hartinah (2009:6) Bimbingan kelompok adalah kegiatan bimbingan yang diberikan kepada kelompok individu yang mengalami masalah yang sama.

Menurut Prayitno dan Amti (2013:309-310) mengemukakan bahwa bimbingan kelompok disekolah merupakan kegiatan informasi kepada sekelompok siswa untuk membantu mereka menyusun rencana dan keputusan yang tepat. Gazda (dalam prayitno 2013) juga menyebutkan bahwa bimbingan kelompok diselenggarakan untuk memberikan informasi yang bersifat personal, vokasional dan sosial.

Lebih lanjut menurut Tohirin (2015:164) bimbingan kelompok merupakan suatu cara memberikan bantuan (bimbingan) kepada individu (siswa) melalui kegiatan kelompok. Dalam pelaksanaan layanan bimbingan kelompok aktivitas dan dinamika kelompok harus diwujudkan untuk membahas berbagai hal yang berguna bagi pengembangan dan pemecahan masalah individu (siswa) yang menjadi peserta layanan. Dalam layanan bimbingan kelompok dibahas masalah-masalah umum yang menjadi kepedulian bersama anggota kelompok.

Tohirin (2015:169) juga menjelaskan lebih lanjut dalam pelaksanaan layanan bimbingan kelompok, yaitu bimbingan kelompok dengan anggota yang terlalu kecil (misalnya 2-3orang) tidak efektif, sedangkan membentuk kelompok melebihi 10 orang juga kurang efektif. Kelompok yang ideal dalam pelaksanaan layanan bimbingan kelompok yaitu antara 8-10 orang.

Dalam kegiatan bimbingan kelompok memiliki berbagai macam teknik yang dapat digunakan dalam pelaksanaannya. Salah satu teknik yang dapat digunakan adalah Teknik Diskusi, Menurut Djamarah (dalam Aliyustati 2016:72) diskusi kelompok merupakan suatu kegiatan yang teratur yang dilakukan sekelompok individu dalam interaksi yang saling tatap muka secara kooperatif dengan tujuan membagi informasi, membuat keputusan serta memecahkan suatu masalah. Sedangkan Hartinah (2009:7) mengatakan bahwa yang terpenting diskusi dalam bimbingan kelompok, peserta didik memperoleh suatu yang berguna bagi perkembangan dirinya.

Sedangkan menurut Oktaviani dan Supriyo (2016:32) dalam penelitian “Pengaruh Layanan Bimbingan Kelompok Teknik Diskusi Terhadap Perilaku Seksual Pranikah Siswa”,mengatakan diskusi merupakan suatu proses interaksi antar individu atau lebih dengan bertukar informasi, berpendapat serta memecahkan suatu masalah.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahawa bimbingan kelompok dengan teknik diskusi adalah suatu upaya pemberian bantuan oleh guru bimbingan konseling kepada peserta didik dengan menggunakan dinamika kelompok untuk mendapatkan informasi yang berguna agar mampu menyusun rencana dan keputusan yang tepat dalam menunjang terbentuknya perilaku yang efekti serta danya perubahan sikap dalam hidupnya dan mengembangkan diri secara optimal dimana peserta didik dihadapkan pada suatu permasalahan yang berupa pertanyaan atau pertanyaan kemudian siswa mengungkapkan pendapat, ide-ide, dan membuat kesimpulan secara bersama dalam kegiatan tersebut.

 

 

METODE PENELITIAN

Penelitian dengan judul pengaruh layanan bimbingan kelompok dengan teknik diskusi terhadap motivasi belajar siswa kelas XI SMA Negeri 11 Semarang dilaksanakan di SMA Negeri 11 Semarang. Waktu penelitian pada bulan Agustus – Oktober 2019 pada semester I tahun pelajaran 2019/2020. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif true eksperimental design. Dalam penelitian ini proses ekperimen pengumpulan data dapat dibagi menjadi tiga tahap yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap pengakhiran. Di mana setiap tahap tersebut memuat beberapa langkah-langkah sebagai berikut:

Persiapan Eksperimen.

  1. Subjek penelitian yang akan diteliti adalah peserta didik kelas XI IPA yang terdiri dari Kelas XI IPA 1 , XI IPA 2, XI IPA 3, XI IPA 4, XI IPA 5, XI IPA 6, danXI IPA 7. Dari jumlah tujuh kelas tersebut terpilih 3 (tiga) kelas menggunakan cluster random sampling, yaitu teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila obyek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas (Sugiyono, 2017:121).. Satu kelas untuk try out yaitu kelas XI IPA 2 dan ada dua kelas yang menjadi kelas kontrol dan kelas eksperimen, yaitu kelas XI IPA 4 sebagai kelas kontrol dan kelas XI IPA 5 sebagai kelompok eksperimen.
  2. Melakukan try out skala motivasi belajar di kelas XI IPA 2 SMA Negeri 11 Semarang yang berjumlah 36 siswa untuk menguji validitas dan reliabilitas.
  3. Melakukan pretest terhadap kelas XI IPA 4 dan XI IPA 5 di SMA Negeri 11 Semarang dengan jumlah 72 siswa. Dalam menentukan kelas untuk pretest, peneliti menggunakan cluster sampling, yaitu teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila obyek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas (Sugiyono, 2015:121). Dalam hal tersebut kelas yang berhasil terpilih adalah XI IPA 4 dan XI IPA 5.
  4. Berdasarkam data pretest terhadap kelas XI IPA 4 dan XI IPA 5 dengan skala motivasi belajar menggunakan rentang skor 1 sampai 4 akan dicari skor tertinggi dan skor terendah.

Pelaksanaan Eksperimen.

  1. Setelah menentukan kelompok kontrol dan eksperimen, selanjutnya adalah menentukan anggota kelompok untuk pelaksanaan bimbingan kelompok, dengan menggunakan cluster random sampling. Cluster random sampling adalah teknik memilih sebuah sampel dari kelompok-kelompok unit-unit yang kecil atau cluster (Nazir, 2014:273). Peneliti memilih 10 siswa dari kelas kontrol dan 10 siswa dari kelas eksperimen.
  2. Kemudian kelompok kontrol diberikan layanan bimbingan kelompok seperti biasa yang dilakukan guru BK. Sedangkan kelompok eksperimen diberikan layanan bimbingan kelompok menggunakan teknik diskusi.
  3. Treatment dilaksanakan terhadap kelompok eksperimen sebanyak empat (5) kali. Sedangkan kelompok kontrol diberikan layanan oleh konselor/guru BK.

 

 

Akhir eksperimen

  1. Setelah diberikan perlakuan selanjutnya kelompok kontrol dan eksperimen diberikan posttest, guna mengetahui adakah perbedaan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.
  2. Selanjutnya peneliti melakukan analisis menggunakan uji-tuntuk mengetahui pengaruh layanan bimbingan kelompok dengan teknik diskusi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan perhitungan uji hipotesis diperoleh thitung= 5,612. Selanjutnya dikonsultasikan dengan dk = 18 dan taraf signifikansi 5% diketahui ttabel= 2,101 sehingga thitung>ttabel ,5,612> 2,101. Dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima. Oleh karena itu hipotesis yang berbunyi “ada pengaruh bimbingan kelompok dengan teknik diskusi terhadap motivasi belajar siswa kelas XI MIPA SMA Negeri 11 Semarang” diterima kebenarannya.

Analisis hasil pre-test antara kelompok eksperimen dan kelompok control menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Setelah diberikan treatment bimbingan kelompok dengan teknik diskusi pada kelompok eksperimen tingkat motivasi belajar siswa meningkat dari 78,9 menjadi 90,2 terjadi peningkatan sebesar 11,3. Sedangkan pada kelompok kontrol dari 78,3 menjadi 79,8 terjadi peningkatkan sebesar 1,5. Selisih antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yaitu 10,4. Hasil analisis data menunjukan bahwa ada perbedaan antara kelompok eksperimen yang diberikan treatment berupa layanan bimbingan kelompok dengan menggunakan teknik diskusi dan kelompok kontrol yang tidak diberikan treatment.

Penelitian ini membahas mengenai motivasi belajar siswa, hal ini ditunjukan dengan rendahnya motivasi belajar dalam diri siswa baik disekolah maupun di rumah. Permasalahan yang sering muncul atau yang dialami oleh siswa diantaranya adalah terkadang sering tidak memperhatikan serta memcatat pelajaran dan menunda pekerjaan, kurangnya waktu belajar, terlalu sering bermain gadget seperti smartphone dan lain-lain. Dari permasalahan yang dihadapi para siswa tersebut maka digunakan layanan bimbingan kelompok dengan teknik diskusi.

Tohirin (2015:169) juga menjelaskan lebih lanjut dalam pelaksanaan layanan bimbingan kelompok, yaitu bimbingan kelompok dengan anggota yang terlalu kecil (misalnya 2-3orang) tidak efektif, sedangkan membentuk kelompok melebihi 10 orang juga kurang efektif. Kelompok yang ideal dalam pelaksanaan layanan bimbingan kelompok yaitu antara 8-10 orang.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahawa bimbingan kelompok dengan teknik diskusi adalah suatu upaya pemberian bantuan oleh guru bimbingan konseling kepada peserta didik dengan menggunakan dinamika kelompok untuk mendapatkan informasi yang berguna agar mampu menyusun rencana dan keputusan yang tepat dalam menunjang terbentuknya perilaku yang efekti serta danya perubahan sikap dalam hidupnya dan mengembangkan diri secara optimal dimana peserta didik dihadapkan pada suatu permasalahan yang berupa pertanyaan atau pertanyaan kemudian siswa mengungkapkan pendapat, ide-ide, dan membuat kesimpulan secara bersama dalam kegiatan tersebut.

 

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil pretest menunjukkan adanya rata-rata kelompok eksperimen 78,9 dan kelompok kontrol 78,3. Sedangkan hasil posttest menunjukkan rata-rata kelompok eksperimen 90,2 dan kelompok kontrol 79,8. Sehingga terjadi peningkatan pada kelompok eksperimen sebesar 11,3. Pada perhitungan uji-t diperoleh hasil thitungsebesar 5,612, dan ttabel diperoleh dari dkN= (20) – 2 = 18 pada taraf signifikan 5% sebesar 2,101.

Bimbingan kelompok denganteknik diskusi berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa kelas XI SMA Negeri 11 Semarang, hal ini dibuktikan dengan uji t yang memperoleh hasil sebesar thitung 5,612. Selanjutnya dikonsultasikan dengan tabel dk = n1 + n2= 18 dan taraf signifikan 5% dengan ttabel= 2,101. Maka thitung>ttabel, 5,612>2,101.

Melihat hasil penelitian, saran-saran yang diajukan peneliti adalah: Diharapkan dengan adanya layanan bimbingan kelompok dengan teknik diskusi ini, mampu meningkatkan motivasi belajar dan siswa menggunakan waktu dengan efisien guna pengerjaan tugas tepat waktu. Mampu menambah wawasan serta pengalaman bagi siswa dalam pelaksanaan layanan bimbingan kelompok dengan teknik diskusi.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dan Widodo. 2014. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Aidha, Nindia Harnes Prima. 2013. Penerapan Bimbingan Kelompok Dengan Teknik Diskusi Kelompok Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas VIII D SMP Negri 1 Ngariboyo. Vol. 3, No 1.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Emda, Amna. 2017. Kedudukan Motivasi Belajar Siswa Dalam Pembelajaran. Vol. 5, No. 2.

Hartinah, Sitti. 2009. Konsep Dasar Bimbingan Kelompok. Bandung: PT Refika Aditama.

Khodijah, Nyayuk. 2014. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo persada.

Prayitno dan Erman Amti. 2013. Dasar Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Sugiyono. 2017. Metodelogi Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: CV Alfabeta.

Supriyo, Diana Oktaviani. 2016. Pengaruh Layanan Bimbingan Kelompok Teknik Diskusi Terhadap Perilaku Seksual Pranikah Siswa. Vol. 5, No.1.

Tohirin. 2015. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integritas). Jakarta: PT Raja Grafindo persada.