PENGGUNAAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF

MODEL TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT)

UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR KIMIA

SISWA KELAS XI IPA SEMESTER 1 SMA NEGERI 1 GAMPING

TAHUN PELAJARAN 2014/2015

Bertha Tri Martiningrum

Guru SMA Negeri 1 Gamping, Sleman, Yogyakarta

ABSTRAK

Penelitian ini bertujaun untuk mengetahui penggunaan pembelajaran kooperatif Teams Games Tournament untuk meningkatkan prestasi belajar Kimia. Adapun tujuan secara rinci adalah: (1) Meningkatkan pembelajaran Kimia yang aktif, inovatif, mandiri dan menyenangkan dengan menggunakan strategi pembelajaran Teams Games Tournament. (2) Meningkatkan aktivitas siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran Kimia dengan strategi pembelajaran Teams Games Tournament, dan (3) Meningkatkan prestasi belajar Kimia siswa kelas XI IPA1 dengan menggunakan strategi pembelajaran Teams Games Tournament.Penelitian ini dilakukan pada Semester 1 Tahun Pelajaran 2014/2015 pada siswa kelas XI IPA1. Menggunakan desain PTK dengan model dua siklus, yaitu Siklus I dan Siklus II. Masing-masing siklus dengan 3 kali pertemuan. Desain pembelajaran dengan langkah-langkah: planning (perencanaan), acting (tindakan), observing (observasi/pengamatan), dan reflecting (refleksi). Selanjutnya dari data yang diperoleh dilakukan analisis dengan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi yang dilakukan guru oleh kolaborator pada Sillus I dan Siklus II sudah baik. Untuk efektifitas model pembelajaran Teams games Tournament (TGT), keterlibatan siswa dalam game turnamen, menyampaikan pendapat, kepercayaan diri meningkat. Untuk mengetahui prestasi belajar dengan KKM 75, pada Siklus I dengan jumlah siswa yang tuntas sebanyak 16 siswa dari 32 siswa, dengan nilai rata-rata 64,22. Pada pelaksanaan Siklus II terjadi peningkatan dalam semua aspek yang pada Siklus I masih kurang. Nilai rata-rata prestasi belajar meningkat yaitu 77,07. Hal ini menunjukklan bahwa persentase kenaikan tingkat keberhasilan nilai rata-rata hasil ulangan adalah 17,06%. Jumlah siswa tuntas sebanyak 24 siswa dari 32 siswa.

Kata kunci: Pembelajaran kooperatif-Teams Games Tournament-prestasi belajar.

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Pendidikan sebagai usaha sadar yang terencana memerlukan proses yang diarahkan untuk mencapai tujuan. Proses pendidikan yang terencana untuk mewujudkannya diperlukan sarana dan proses belajar yang baik. Oleh karena itu, pendidikan adalah upaya untuk mengembangkan potensi siswa. Akhir dari proses pendidikan pada hakikatnya adalah kemampuan anak memiliki kekuatan spiritualitas keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, keterampilan yang diperlukan oleh masyarakat (Wina Sanjaya, 2010: 2-3).

Siswa kelas XI IPA SMA merupakan kelas awal dan mengalami perubahan dari sistem pembelajaran dari mata pelajaran Kimia yang bersifat umum ke mata pelajaran kimia yang bersifat khusus atau mata pelajaran jurusan, sehingga diharapkan para siswa diharapkan untuk lebih fokus dalam pembelajaran kimia.

Proses pembelajaran yang kurang optimal dapat mempengaruhi minat belajar siswa pada pelajaran kimia kurang dan dampaknya hasil prestasi belajar siswa secara akademik menjadi rendah. Masih rendahnya minat siswa pada Pelajaran Kimia menimbulkan permasalahan yang harus dipecahkan. Di samping itu, permasalahan keberanian siswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapat serta berargumentasi dalam menjawab pertanyaan masih rendah, ini berakibat kompetensi-kompetensi yang harus dikuasai siswa dan kompetensi yang belum dipahami tidak terpantau dengan jelas oleh guru.

Dalam pembelajaran kimia yang dihadapi para guru adalah kesulitan dalam mengajarkan konsep-konsep kepada siswa, keaktifan siswa kurang, materinya kurang dipahami siswa, kurangnya minat dan perhatian siswa, kesulitan dalam mengerjakan soal latihan yang diberikan guru, kurangnya konsentrasi dalam menerima pelajaran, dan munculnya kesan bahwa kimia itu sulit. Hal ini berpengaruh pada rendahnya prestasi belajar siswa.

Berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi guru dikelas maka diperlukan upaya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa terhadap Pelajaran kimia. Peneliti mencoba untuk menyelesaikan permasalahan belajar siswa dengan menggunakan strategi pembelajaran Teams Games Tournament (TGT). Strategi pembelajaran ini bertujuan agar siswa tidak hanya mendengarkan penuturan guru tentang pelajaran yang diberikan tetapi siswa menerapkannya dalam suatu permainan yaitu turnamen akademik dan menggunakan kuis-kuis dan sistem skor kemajuan individual.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, dalam penelitian ini rumusan masalahnya sebagai berikut:

1) Bagaimanakah strategi pembelajaran Team Games Tournament diorganisir dan diterapkan ?

2) Bagaimanakah aktivitas belajar siswa dalam mengikuti pelajaran Kimia dengan strategi pembelajaran Team Games Tournament?

3) Apakah dengan penerapan strategi pembelajaran Team Games Tournament dapat meningkatkan prestasi belajar siswa?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas, maka dapat dirumuskan tujuan penelitian ini sebagai berikut:

1. Meningkatkan pembelajaran kimia yang aktif, inovatif, mandiri dan menyenangkan dengan menggunakan strategi pembelajaran Teams Games Turnament.

2. Meningkatkan aktivitas siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran kimia dengan strategi pembelajaran Teams Games Tournament.

3. Meningkatkan prestasi belajar kimia siswa kelas XI IPA dengan menggunakan strategi pembelajaran Teams Games Tournament.

KAJIAN PUSTAKA

Kajian Teori

Salah satu penentu keberhasilan suatu pembelajaran adalah pendekatan pembelajaran yang digunakan, dan metode belajar yang dipilih. Metode ini adalah sebuah cara melaksanakan pengajaran yang dilakukan guru secara monolog dan hubungan satu arah. Kelemahan dari metode ini adalah membuat siswa pasif, mengandung unsur paksaan kepada siswa dan dapat menghambat daya kritis siswa.

Pengertian Pembelajaran

Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku melalui interaksi antara individu dan lingkungan di mana ia hidup. Sedangkan proses belajar merupakan rangkaian kegiatan yang berkelanjutan, terencana, gradual, bergulir, berkesinambungan dan terpadu, yang secara keseluruhan mewarnai dan memberikan karakteristik terhadap proses pembelajaran.

Makna belajar pada intinya sebagai seperangkat usaha untuk mengubah tingkah laku. Belajar juga dapat diartikan sebagai proses yang berlangsung di dalam diri seseorang yang mengubah tingkah lakunya, baik tingkah laku dalam berpikir, bersikap, maupun berbuat (Iskandarwassid, Dadang Sunendar, 2008: 1). Strategi dalam kegiatan pembelajaran sangat perlu karena untuk mempermudah proses pembelajaran sehingga dapat mencapai hasil yang optimal. Dengan strategi yang jelas, maka proses pembelajaran akan terarah, efektif dan efisien. Bagi guru, setrategi pembelajaran dapat dijadikan pedoman dan acuan bertindak yang sistematis dalam pelaksanaan pembelajaran. Sedangkan bagi siswa penggunaan strategi pembelajaran dapat mempermudah dan mempercepat pemahaman isi atau materi pelajaran. Dengan demikian pada hakekatnya strategi pembelajaran dirancang untuk mempermudah proses belajar siswa (Made Wena, 2009: 3).

Menurut Degeng, NS yang dikutip oleh Made Wena (2009: 4-6), ada tiga klasifikasi variabel pembelajaran, yaitu: a. Kondisi (condition) pembelajaran; b. Strategi (methods) pembelajaran, variabel pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi: strategi pengorganisasian (organizational strategy), strategi penyampaian (delivery strategy), dan strategi pengeloaan (management strategy); c. Hasil (outcomes) pembelajaran, berupa semua pengaruh yang dapat dijadikan sebagai indicator tentang nilai dari penggunaan strategi pembelajaran. Veriabel hasil pembelajaran meliputi leefektifan (effectiveness), efisien (efficiency), dan daya tarik (appeal). Dampak pembelajaran (instructional effect) adalah hasil belajar siswa yang dapat diukur dengan segera atau secara langsung.

Pembelajaran Teams Games Tournament (Turnamen Game Tim)

Strategi pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) menggunakan turnamen akademik, dan menggunakan kuis-kuis dan sistem skor kemajuan individu, dimana para siswa berlomba sebagai wakil tim mereka dengan anggota tim lain yang kinerja akademik sebelumnya setara Team-Games Tournament seperti mereka (Robert E. Slavin, 2010: 163). Dalam pembelajaran Team-Games Tournament (TGT) ada dua prinsip utama, yaitu:

a. Kerja kelompok, yaitu kegiatan belajar harus dilakukan dalam bentuk kelompok-kelompok. Kerja kelompok merupakan inti dari strategi pembelajaran kooperatif (Joyce, Weil, 1986: 77).

b. Menekankan empat kepribadian, yaitu:1). intrapersonal atau kepribadian dalam diri pribadi, 2). interpersonal atau hubungan antar pribadi, 3). group dynamic atau dinamisasi kelompok dengan pengembangan peran serta anggota dalam kelompok, 4). self direction atau pengarahan diri sendiri.

Strategi pembelajaran Team Games Tournament (TGT), memiliki empat prosedur, yaitu (a) Training grouping (pengelompokan), (b) theory session (penyajian teori), (c) Games Tournament (difokuskan turnamen), dan (Bruce Joyce and Marsha Weil, 1972: 83). Secara rinci langkah-langkah kerja dalam Team Games Tournament (TGT), sebagai berikut:

a. Pembentukan kelompok: merupakan langkah awal dari model pembelajaran Team Games Tournament (TGT), disarankan setiap kelompok terdiri 3 siswa.

b. Penyajian materi/teori: merupakan tahap kedua dari metode ini yang meliputi kegiatan: 1) penyampaian tujuan materi, 2) penyampaian isi materi, dan 3) Pelaksanaan turnamen.

c. Game: gamenya terdiri atas pertanyaan-pertanyaan yang isinya relevan dan dirancang untuk menguji pengetahuan siswa yang diperoleh dari presentasi di kelas dan pelaksanaan kerja tim. Game dimainkan di atas meja dengan tiga orang siswa, yang masing-masing mewakili tim yang berbeda.

d. Turnamen: Dalam keempat tahap pembelajaran tersebut, pengajar harus mampu berfungsi sebagai fasilitator dan motivator sehingga prinsip-prinsip pembelajaran Team Games Tournament (TGT), yaitu interpersonal, intrapersonal, dinamisasi kelompok, dan pengarahan diri yang timbul dan berkembang pada masing-masing siswa dapat dikembangkan secara optimal. Setelah turnamen pertama, para siswa akan bertukar meja tergantung pada kinerja mereka pada turnamen terakhir. Artinya pemenang pada tiap meja “naik tingkat” ke meja berikutnya yang lebih tinggi. Skor tertinggi kedua tetap tinggal pada meja yang sama, dan yang skornya paling rendah “diturunkan”. Dengan cara ini, apabila awalnya siswa sudah salah ditempatkan, untuk seterusnya mereka akan terus dinaikkan atau diturunkan posisinya sampai mereka mencapai tingkat kinerja yang sesungguhnya (Robert E. Slavin, 2010: 166).

Prestasi Belajar Siswa

Prestasi belajar adalah kemampuan seseorang dalam menguasai sejumlah progam setelah progam itu selasai. Prestasi tersebut umumnya dilambangkan dalam bentuk nilai (angka), sehingga mencerminkan keberhasilan belajar atau prestasi belajar siswa dalam periode tertentu. Nana Sudjana (1983: 39) mendefinisikan prestasi belajar adalah suatu perubahan yang diperoleh individu setelah melalui proses pengajaran di sekolahan. Perubahan-perubahan itu diukur dengan alat tes dan dinayatakan dalam bentuk nilai kuantitatif atau kualitatif.

Paradigma pendidikan diletakkan paada upaya peningkatan kualitas, bik input, process, maupun outputnya (YB. Yurahman, 2007: 35). Penilaian hasil belajar berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) didasarkan pada ketercapaian ketuntasan belajar (Mulyasa, 2007: 258). Untuk pelajaran Kimia nilai ketuntasan belajar siswa adalah 75. Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) belajar merupakan tahapan awal pelaksanaan penilaian hasil belajar sebagau bagian dari langkah pengembangan KTSP. KKM yang menjadi tolok ukur pecapaian kompetensi dan harus ditetapkan sebelum awal tahun ajaran dimulai. Seberapapun besarnya jumlah peserta didik yang melampuai batas ketuntasan minimal, tidak mengubah keputusan pendidik dalam menyatakan keberhasilan siswa.

Untuk mencapai KKM diperlukan daya pendukung yang memadahi dalam pembelajaran di masing-masing satuan pendidikan. Sarana dan prasarana yang sesuai dengan tuntutan kompetensi yang harus dicapai peserta didik seperti perpustakaan, laboratorium,dan alat atau bahan untuk proses pembelajaran. Yang tidak kalah pentingnya adalah ketersediaan tenaga, manajemen sekolah, dan kepedulian stakeholders sekolah.

Kerangka Berpikir

Dalam proses pembelajaran, guru berpedoman Standar Kompetensi, selanjutnya menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, berisi Pokok materi, subpokok materi, indikator, dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai sesuai dengan kompetensi dasar.

Perbedaan tujuan pembelajaran akan berimplikasi pada perbedaan strategi pembelajaran yang harus ditetapkan. Banyak variable yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan pembelajaran. Strategi pembelajaran Team-Games Tournament (TGT), yang digunakan diharapkan mampu merangsang dan mendorong siswa aktif mengalami dan melaksanakan aktivitas pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai. Strategi pembelajaran memiliki empat prosedur pokok, yaitu 1. grouping (pengelompokan), 2. theory session (penyajian teori), 3. Pelaksanaan Turnamen. Dengan penerapan Team-Games Tournament (TGT), diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, meningkatkan aktivitas belajar, dan ,meningkatkan prestasi belajar Kimia.

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian pustaka, maka dalam penelitian ini dapat disusun hipotesis tindakan sebagai berikut:

1. Penerapan Strategi pembelajaran Teams Games Tournament (TGT), dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran Kimia.

2. Penerapan Strategi pembelajaran Teams Games Tournament (TGT), dapat memberikan tanggapan yang positif terhadap belajar siswa dalam proses pembelajaran Kimia.

3. Penerapan Stategi pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

METODE PENELITIAN

Setting Penelitian

Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 1 Gamping, Sleman Semester 1 Tahun Pelajaran 2014/2015, dengan pokok materi yang diambil dari Kompetensi Dasar:

1. Menjelaskan kesetimbangan dan faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran arah kesetimbangan dengan melakukan percobaan

2. Menentukan hubungan kwantitatif antara pereaksi dan hasil reaksi dari suatu reaksi kesetimbangan.

Subjek Penelitian

1. Siswa kelas XI IPA1 semester 1 Tahun Pelajaran 2014/2015, dengan jumlah siswa 32 siswa yang terdiri dari 15 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan.

2. Guru mata pelajaran Kimia kelas XI IPA1.

Waktu Penelitian: dilaksanakan pada bulan September – Desember 2015.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

SIKLUS I

Dari hasil observasi terhadap guru oleh kolaborator, ada tiga kegiatan yang dilakukan oleh guru, yaitu persiapan, kegiatan inti/pokok, dan penutup. Hasil penelitian diperoleh data bahwa: (1) persiapan pembelajaran yang dilakukan oleh guru berupa kegiatan yang meliputi pengeloalaan siswa baik, pelaksanaan apersepsi sangat baik. (2) pelaksanaan kegiatan inti/pokok yang meliputi: penguasaan materi atau bahan ajar pembelajaran baik, penyampaian materi dan pengembangannya secara urut dan sistematis baik. Guru dalam melakukan pengamatan dan pembimbingan diskusi siswa sangat baik, dalam meberikan motivasi/dorongan kepada siswa baik secara individu maupun kelompok sangat baik. Dalam memberikan penguatan/penghargaan kepada siswa baik. Pada bagian penutupan pembelajaran, yang berupa kesimpulan serta penyampaian materi untuk pertemuan berikutnya dilaksanakan sangat baik.

Kegiatan obeservasi yang dilakukan oleh kolaborator pada guru terhadap pelaksanaan pembelajaran untuk mengetahui efektifitas model pembelajaran Teams Games Tournament sudah baik. pembentukan kelompok sudah baik. Penyampaian tujuan pembejaran sangat jelas dan baik, penyampaian bahan diskusi dan soal juga baik. Peran guru sebagai motivator dan fasilitator dalam pembelajaran baik. Dalam memberikan soal atau evaluasi akhir pembelajaran baik, karena sesuai dengan materi yang diajarkan, serta pemberian penghargaan pada kelompok sangat baik.

Untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT), sudah sesuai dengan langkah-langkah teorinya. Untuk menyelesaikan suatu tugas tanpa pedoman mengenai tugas tersebut akan mengakibatkan siswa merasa ditinggal sendiri, jalan sendiri dalam belajar, sehingga tidak terarah. Karena siswa belum berpengalaman dengan model pembelajaran tersebut maka akan mengalami kebingunangan dan tidak tahu bagaimana seharusnya bekerjasama. Dengan model pembelajaran cooperative learning dengan model Teams Games Tournament (TGT), siswa tidak sekadar belajar dalam kelompok tetapi benar-benar memungkinkan pendidik mengelola siswa secara lebih efektif.dengan demikian diharapkan hasil dan prestasi belajar siswa akan meningkat.

Observasi terhadap Rencana Pelaksanaan Pembeljaran meliputi: perumusan tujuan pembelajaran sudah baik, karena rumusannya jelas, pemilihan dan pengorganisasian materi ajar baik. pemilihan media/alat pembelajaran baik, skenario/kegiatan pembelajaran sudah baik, dan pemilihan sumber belajar sudah baik.

Dari hasil observasi terhadap pelaksanaan game turnamen Siklus I kelompok, pada pertemuan 1, 2, dan 3, diperoleh data rata-rata sebagai berikut: keaktifan siswa 66,66%, kerjasama dalam kelompok 76,66%, keaktifan memecahkan masalah 73,33%, menjawab pertanyaan dari guru 66,66%, siswa dalam mengajukan pertanyaan kepada guru 70%, interaksi antarsiswa dalam diskusi kelompok 80%, dan menyelesaikan soal/game 80%.

Dari data tersebut yang masih lemah adalah dalam keaktifan siswa dalam game turnamen, kerjasama dalam kelompok, keaktifan dalam memecahkan masalah serta rasa percaya diri dalam mengajukan pertanyaan kepada guru. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi siswa kurang terlibat dalam pembelajaran dengan model Teams Games Tournament (TGT),antara lain: siswa belum terbiasa diberi kebebasan mengemukakan pendapat dihadapan orang (siswa) lain, sekalipun dihadapan temannya sendiri. Kurangnya rasa percaya diri atas kemampuan yang dimiliki, dan siswa tidak berani bertanya kepada guru walaupun sebenarnya memgalami kesulitan. Hal ini kemungkinan karena siswa tidak memahami apa yang akan ditanyakan kepada guru. Jalannya diskusi kelompok pada Siklus I masih didominasi oleh beberapa siswa, sedangkan sebagaian besar siswa masih pasif.

Dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru dalam kelompok dan interaksi diskusi cukup baik. Pencatatan rangkuman hasil diskusi dan penyelesaian tugas mandiri sudah baik. Setelah pelaksanaan diskusi kelompok selesai, selanjutnya hasil kerja kelompok akan diketahui keberhasilan maupun kekuranganberhasilan diskusi dengan model pembelajaran yang diterapkan. Untuk mengetahui hasil belajar, selanjutnya diadakan penilaian hasil belajar dengan melakukan tes atau ulangan secara individu pada akhir setiap siklus.

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pelajaran Kimia yang ditetapkan adalah 75. Hasil yang dicapai siswa setelah Siklus I dilaksanakan adalah sebagai berikut: dari 32 siswa yang mencapai nilai lebih besar atau sama dengan 75 mencapai 16 siswa. Hal ini berarti siswa yang belum mencapai nilai tuntas sebanyak 16 siswa atau 50%. Nilai rata-rata kelas pada hasil ulangan mandiri setelah pelaksanaan Siklus I adalah 64,22.

SIKLUS II

Dari hasil observasi terhadap guru oleh kolaborator pada Siklus II masih sama dengan Siklus I. Ada tiga kegiatan yang dilakukan oleh guru, yaitu persiapan, kegiataninti/pokok, dan penutup.dari hasil penelitian diperoleh data bahwa: (1) persiapan pembelajaran yang dilakukan oleh guru berupa kegiatan yang meliputi pengeloalaan siswa baik, pelaksanaan apersepsi sangat baik. (2) pelaksanaan kegiatan inti/pokok yang meliputi: penguasaan materi atau bahan ajar pembelajaran baik, penyampaian materi dan pengembangannya secara urut dan sistematis baik. Guru dalam melakukan pengamatan dan pembimbingan diskusi siswa sangat baik, dalam meberikan motivasi/dorongan kepada siswa baik secara individu maupun kelompok sangat baik. Dalam memberikan penguatan/penghargaan kepada siswa baik. Pada bagian penutupan pembelajaran, yang berupa kesimpulan serta penyampaian materi untuk pertemuan berikutnya dilaksanakan sangat baik.

Kegiatan observasi yang dilakukan oleh kolaborator pada guru terhadap pelaksanaan pembelajaran sudah baik. untuk mengetahuio efektifitas model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) yang meliputi: pembentukan kelompok sudah baik. penyampaian tujuan pembelajaran sudah baik, penyampaian bahan diskusi dan soal baik, peran guru sebagai motoivator dan fasilitator sudah baik. dalam meberikan soal/evaluyasi akhir pembelajaran, baik pemberian penghargaan pada kelompok sangat baik.

Hasil observasi terhadap guru berkaitan dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang meliputi perumusan tujuan pembelajaran sudah baik. Tujuan pembelajaran telah dirumuskan secara jelas. Pemilihan dan pengorganisasian materi bahan ajar baik, pemilihan media/alat pembelajaran baik, skenario/kegiatan pembelajaran baik, pemilihan sumber belajar juga sangat baik.

Dari hasil observasi terhadap pelaksanaan diskusi kelompok, dipetoleh data sebagai berikut: keaktifan siswa baik yaitu 83,33%, Kerjasama dalam kelompok 80%, keaktifan memecahkan masalah 73,33%, menjawab pertanyaan guru 70%, mengajukan pertanyaan kepada guru 73,33%, interaksi antarsiswa dalam turnamen kelompok 83,33%, menyelesaiakan tugas soal/game 83,33%.

Berdasarkan data tersebut di atas, pelaksanaan game turnamen pada Siklus II terjadi peningkatan di semua aspek. Hal ini dipengaruhi oeleh pelaksanaan hasil refleksi pada Siklus I. Dengan menyadari bahwa siswa masih rendah dalam keterlibatannya dalam pembelajaran, maka segera dilakukan langkah-langlah yang dapat memotivasi siswa, meningkatan rasa percaya diri, dan keaktifan siswa dalam kerja kelompok. Apa saja yang dilakukan oleh guru untuk membenahi proses pembelajaran tersebut dalam upaya untuk meningkatkan keaktifan, kerjasama siswa dalam kelompok.

Hasil prestasi belajar yang dicapai siswa setelah Siklus II dilaksanakan adalah sebagai berikut: dari 32 siswa yang mencapai nilai 75 keatas mencapai 24 siswa. Hal ini berarti siswa yang belum mencapai nilai tuntas sebanyak 8 siswa. Nilai rata-rata ulangan setelah Siklus II adalah 77,07.

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa efektifitas pembelajaran model Teams games Tournament (TGT) yang dilakukan oleh guru berdasarkan observasi yang dilakukan oleh kolaborator sudah baik. keterlibatan siswa dalam game turnamen, menyampaikan pendapat, kepercayaan diri meningkat. Pada Siklus I jumlah siswa yang tidak tuntas sebanyak 16 siswa dari 32 siswa (50%) dengan nilai rata-rata 64,22. Pada pelaksanaan pembelajaran Siklus II terjadi peningkatan di semaua aspek. Dari 32 siswa, 24 siswa tuntas (75%), sedangkan 8 siswa tidak tuntas. Nilai rata-rata meningkat menjadi 77,07 yang berarti melampaui KKM.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Sesuai dengan tujuan dan permasalahan yang dirumuskan dalam penelitian ini, maka simpulan yang dikemukakan berdasarkan sajian data, analisis data dan pembahasan, sebagai berikut:

1. Secara umum guru dalam penerapan model pembelajaran Team Games Tournament (TGT) yang diterapkan sudah baik. Hal ini terlihat dari hasil observasi yang dilakukan oleh kolaborator tentang kegiatan guru yang berupa Planning (Rencana Tindakan), Acting (Pelaksanaan Tindakan), Observing (Observasi/pengamatan), dan Reflecting (Refleksi/perenungan) telah disusun secara terencana.

2. Hasil observasi terhadap pelaksanaan game turnamen kelompok pada Siklus I diperoleh hasil keaktifan siswa, kerjasama kelompok, keaktifan dalam memecahkan masalah, kemampuan menjawab pertanyaan guru, mengajukan pertanyaan kepada guru, interaksi antarsiswa dalam diskusi kelompok, penyelesaian tuga/soal game baik. Hasil rata-rata ulangan secara individu masih rendah, yaitu di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditentukan.

3. Hasil observasi terhadap pelaksanaan game turnamen kelompok pada Siklus II diperoleh hasil keaktifan siswa dalam kelompok, kerjasama dalam kelompok, keaktifan mengajukan pertanyaan kepada guru, interaksi antarsiswa dalam diskusi kelompok, dan kepercayaan diri pada semua aspek mengalami peningkatan signifikan, penyelesaian tugas/soal game baik. Hasil belajar pada Siklus II mengalami peningkatan di atas rata-rata nilai KKM.

Saran-saran

Berdasarkan simpulan yang telah dipaparkan dimuka, ada beberapa saran yang dapat diajukan dari penelitian ini, sebagai berikut:

Untuk penelitian lebih lanjut:

Penelitian serupa perlu diadakan di tempat lain, dengan lingkup kajian yang lebih luas, sehingga dapat diketahui cara-cara lain yang lebih efektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran kimia.

Bagi Guru Kimia

a. Perlunya para guru Kimia untuk selalu meningkatkan diri dengan belajar berbagai metode, dan berani menerapkan metode pembelajaran yang variatif. Pembelajaran dengan metode kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) sebagai model pembelajaran yang aktif, inovatif, dan menyenangkan dapat digunakan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.

b. Dalam proses pembelajaran kimia agar lebih bergairah, dan mampu menumbuhkan minat, keterlibatan dan kepercayaan diri siswa diperlukan disain pembelajaran dengan pemilihan materi yang tepat, pemilihan metode pembelajaran yang baik, serta model pembelajaran yang demokratis, dialogis, dan iklim kelas yang kondusif, dan perlu diciptakan atmosfir kelas yang kondusif, pembelajaran yang dialogis, dan iklim kelas yang menyenangkan.

c. Untuk peningkatan keberhasilan pembelajaran kimia guru hendaknya selalu membina motivasi siswa, perbaikan program, baik terhadap siswa yang telah mencapai taraf tuntas dengan melakukan pengayaan, maupun terhadap siswa yang belum tuntas dengan melakukan pembelajaran remidial. Hal ini penting karena guru memiliki tanggungjawab terhadap keberhasilan pembelajaran sesuai dengan bidang tugasnya.

DAFTAR PUSTAKA

Iskandarwassid, Dadang Sunendar. 2008. Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Joyce, Bruce. Weil Marsha.1986. Methods of Teaching. Englewood Cliffs: Prentice Hall. Inc.

Made Wena. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer: Suatu Tinjauan Konseptual Operasional. Bandung: Bumi Aksara.

Mulyasa, 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Rosdakarya

Nana Sudjana.1983. Metode Penelitian. Tarsito: Bandung.

Slavin, Robert E. Dalam: Narulita Yusron (ed). 2010. Cooperative Learning
(Teori, Riset dan Praktik)
. Bandung: Nusa Media.

Wina Sanjaya. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Prenada.

Yurahman, YB. “Kontribusi Guru Dalam Penyusunan KTSP 2006”. Akademika (Jurnal Ilmiah Kependidikan). Vol. 5 No. 2. April 2007: Puslitbang IKIP PGRI Wates.