PENINGKATAN ETOS KERJA MANDIRI GURU MELALUI PEMBINAAN KEDISIPLINAN DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR

DI SDN NGADIPURWO KECAMATAN BLORA

SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2019/2020

 

Hartini

SD Negeri Ngadipurwo, Kec. Blora, Kab. Blora

 

ABSTRAK

Penelitian tentang Peningkatan Etos Kerja Mandiri Guru Melalui Pembinaan Kedisiplinan Dalam Proses Belajar Mengajar di SDN Ngadipurwo Tahun Pelajaran 2019/2020 Penelitian ini bertujuan untuk (1) meningkatkan kualitas etos kerja mandiri guru di SDN Ngadipurwo (2) mengetahui hambatan yang dihadapi dalam pembinaan kedisiplinan dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran guru di SDN Ngadipurwo. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan sekolah dengan 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari tahapan perencanaan, pelaksanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah 6 orang guru Kelas I-VI SDN Ngadipurwo. Instrumen penelitian yang digunakan adalah instrument lembar pengamatan, lembar penilaian rencana pelaksanaan pembelajaran dan lembar penilaian pelaksanaan pembelajaran. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa (1) Pembinaan kedisiplinan dalam proses belajar mengajar dapat meningkatkan etos kerja mandiri guru di SDN Ngadipurwo, sesuai hasil penilaan rencana pelaksanaan pembelajaran rata-rata 4.0 pada siklus I dan 4,42 pada siklus II, (2) hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan pembinaan kedisiplinan adalah tidak semua guru siap dalam pembinaan kedisiplinan.

Kata Kunci: Etos kerja, kedisiplinan, proses belajar mengajar

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Penuntasan wajib belajar pendidikan dasar merupakan prioritas dalam program pembangunan pendidikan nasional dan juga merupakan bagian dari pengembangan sumber daya manusia (SDM). Kita menyadari bahwa bangsa Indonesia sedang berhadapan dengan era globalisasi ekonomi terbuka dan persaingan bebas serta perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan komunikasi yang sangat pesat.

Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan hak dan kewajiban seluruh warga negara Indonesia. Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib untuk mengembangkan kemampuan dan potensi yang dimilikinya melalui pendidikan sehingga dapat menjadi sumber daya manusia yang potensial. Agar setiap warga negara dapat mengenyam pendidikan yang di harapkan, maka pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.

Sebagai perwujudan cita-cita nasional tersebut telah diundangkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Fungsi dan Tujuan pendidikan nasional dalam Undang-Undang nomor 20 tersebut adalah: “Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tersebut setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu dan kesempatan yang seluas-luasnya untuk meningkatkan pendidikan sepanjang hayat guna memperoleh pengetahuan, kemampuan dan keterampilan sesuai dengan potensi masing-masing individu. Hal ini juga berlaku bagi anak-anak berkebutuhan khusus, mereka juga memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan serta wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya, karena anak-anak berkebutuhan khusus (penyandang cacat) merupakan warga negara Indonesia seperti warga negara Indonesia lainya yang normal. Meskipun mereka memiliki keterbatasan karena kelainannya, namum mereka juga masih memiliki potensi yang dapat dikembangkan, hal ini merupakan aset bangsa yang perlu mendapatkan perhatian sepantasnya.

Pembelajaran akan berhasil dengan baik bila pembelajaran itu mampu menggali kemampuan siswa dalam eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi sehingga siswa betul-betul memahami materi yang telah dipelajari. Demikian pula dalam mengakhiri pembelajaran, seorang guru harus menanamkan kesan yang mendalam bagi siswa sehingga materi itu betul-betul dikuasai dan dipahami siswa, guru membuat umpan balik sesuai materi yang dipelajari secara proporsional, serta bersama-sama siswa menyimpulkan materi pembelajaran.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, dapat dirumuskan masalah yang akan dijadikan fokus penelitian sebagai berikut:

  1. Apakah dengan mengefektifkan peningkatan etos kerja melalui pembinaan kedisiplinan guru dalam proses belajar mengajar dapat meningkatkan kualitas pembelajaran guru di Di SDN Ngadipurwo, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora?
  2. Apakah proses belajar mengajar dapat meningkat dengan penerapan peningkatan etos kerja mandiri terhadap kedisiplinan guru di SDN Ngadipurwo, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora?
  3. Sejauh mana pengaruh kedisipilinan dan etos kerja mandiri guru terhadap proses belajar mengajar di SDN Ngadipurwo, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora ?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah penelitian tersebut di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

  1. Meningkatkan kualitas pembelajaran guru dengan mengefektifkan etos kerja melalui pembinaan kedisiplinan dalam proses belajar mengajar di SDN Ngadipurwo, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora.
  2. Meningkatkan etos kerja mandiri guru melalui kesiplinan terhadap proses belajar mengajar di SDN Ngadipurwo, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora.
  3. Mendiskripsikan sejauh mana pengaruh etos kerja mandiri guru melalui kedisipinan terhadap proses belajar mengajar di SDN Ngadipurwo, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora.

Manfaat Penelitian

Manfaat teoritis

  1. Pengembangan ilmu manajemen pendidikan terutama yang berkaitan dengan masalah peningkatan etos kerja melalui pembinaan kedisiplinan dalam proses belajar mengajar di tingkat satuan pendidikan dasar (khususnya Sekolah Dasar), sehingga tujuan sekolah dapat tercapai secara efektif dan efisien dan produktif.
  2. Menjadi pedoman/panduan dan rujukan atau sebagai bahan masukan bagi para pendidik, peneliti pendidikan, pengelola lembaga pendidikan yang memiliki kesamaan karakteristik.
  3. Sebagai bahan referensi peneliti lain yang akan melaksanakan penelitian serupa dimasa yang akan datang.

Manfaat praktis

Manfaat praktis dari penelitian ini adalah:

  1. Bagi guru sebagai informasi tambahan pengetahuan tentang peningkatan etos kerja melalui pembinaan kedisiplinan dalam proses belajar mengajar bagi guru untuk menerima kegiatan pembinaan kedisiplinan dalam proses belajar mengajar.
  2. Bagi peneliti sebagai suatu pengalaman yang berharga dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pelaksanaan pembinaan kedisiplinan dalam proses belajar mengajar.
  3. Bagi Guru SDN Ngadipurwo, Kecamatan Blora Kabupaten Blora sebagai referensi yang dapat dipelajari untuk pengayaan peningkatan etos kerja melalui pembinaan kedisiplinan dalam proses belajar mengajar.

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS PENELITIAN

Kajian Teori

Pengertian Etos Kerja Mandiri Guru

Kata etos berasal dari bahasa Yunani “ethos” yang mempunyai arti sebagai sikap, kepribadian, watak, karakter serta keyakinan tertentu. Dari kata etos terambil pula kata “etika” dan “etis” yang hampir mendekati kepada makna ahlak atau nilai-nilai yang berkaitan dengan baik-buruk (moral), sehingga dalam etos tersebut terkandung gairah atau semangat yang kuat untuk mengerjakan sesuatu secara optimal, lebih baik, dan bahkan berupaya untuk mencapai kualitas kerja yang sempurna.

Berdasarkan kamus Webster (2007), “etos” didefinisikan sebagai keyakinan yang berfungsi sebagai panduan tingkah laku bagi seseorang, sekelompok, atau institusi. Jadi, etos kerja dapat diartikan sebagai doktrin tentang kerja yang diyakini oleh seseorang atau sekelompok orang sebagai baik dan benar yang mewujud nyata secara khas dalam perilaku kerja mereka (Sinamo, 2002). Banyak tokoh lain yang menyatakan defenisi dari etos kerja Salah satunya ialah Harsono dan Santoso (2006) yang menyatakan etos kerja sebagai semangat kerja yang didasari oleh nilai-nilai atau norma-norma tertentu. Hal ini sesuai dengan pendapat Sukriyanto (2000) yang menyatakan bahwa etos kerja adalah suatu semangat kerja yang dimiliki oleh masyarakat untuk mampu bekerja lebih baik guna memperoleh nilai hidup mereka. Etos kerja menentukan penilaian manusia yang diwujudkan dalam suatu pekerjaan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, etos adalah pandangan hidup yang khas dari suatu golongan sosial. Dan dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia, etos berarti watak dasar suatu masyarakat. Etos lebih lanjut diartikan sebagai kesanggupan memecahkan persoalan atau permasalahan yang dihadapi yang didalamnya terdapat cara pandang terhadap berbagai persoalan yang dihadapinya, misalnya cara pandang terhadap urusan dunia, pendidikan, pekerjaan dan yang lain-lain yang digeluti.

Istilah etos lebih lanjut diformulasikan oleh David C.Mc. Clelland dengan istilah virus mental yang berupa dorongan untuk hidup sukses yang kemudian disingkat dalam istilah Need for Achievement yang berarti dorongan kebutuhan untuk meraih sukses atau prestasi yang lebih baik daripada sebelumnya. Clelland lebih lanjut menegaskan bahwa etos itu berhubungan erat dengan usaha atau tindakan untuk melakukan sesuatu secara lebih baik dari waktu ke waktu yang sudah dilakukan secara lebih efisien, lebih cepat, hemat, hemat tenaga dengan hasil yang memuaskan.

Adapun kerja menurut W.J.S Purwadarminta yaitu perbuatan melakukan sesuatu atau sesuatu yang dilakukan (diperbuat). Sedangkan menurut Toto Tasmara, kerja adalah semua aktifitas yang dilakukan karena adanya dorongan untuk mewujudkan sesuatu dan dilakukan karena kesengajaan sehingga tumbuh rasa tanggung jawab yang besar untuk menghasilkan karya atau produk yang berkualitas (Toto Tasmara, 2002, hlm 24-25).

Bekerja mempunyai tujuan mencapai hasil baik berupa benda, karya atau pelayanan kepada masyarakat. Pada manusia terdapat kebutuhan-kebutuhan yang pada saatnya membentuk tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Tujuan yang hendak dicapai bukan hanya berkaitan dengan fisik saja, tetapi juga berhubungan dengan mental (jiwa) seperti pengakuan diri, kepuasan, prestasi, dan lain-lain.

Dari berbagai kutipan diatas kita dapat melihat bahwa kata etos dan kerja atau pekerjaan memiliki hubungan yang sangat erat. Kedua kata tersebut secara substansial mengandung arti pekerjaan. Dengan demikian kita dapat mengambil kesimpulan bahwa etos kerja adalah semangat kerja yang terlihat dalam cara seseorang dalam menyikapi pekerjaan, motovasi yang melatar belakangi seseorang melakukan suatu pekerjaan. Dalam arti lain etos kerja merupakan suatu pandangan dan sikap suatu bangsa/umat terhadap kerja.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa etos kerja guru adalah karakteristik yang khas yang ditunjukan seorang guru menyangkut semangat, dan kinerjanya dalam bekerja (mengajar), serta sikap dan pandangannya terhadap terhadap kerja. Etos kerja guru dalam pengertian lain yaitu sikap mental dan cara diri seorang guru dalam memandang, mempersepsi, menghayati sebuah nilai dari kerja.

Usaha Pembinaan Guru dalam Proses Belajar Mengajar

Kurikulum adalah sejumlah pengalaman belajar yang dirancangkan dibawah tanggung jawab sekolah dalam rangka mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Pengalaman belajar dan kegiatan belajar serta pokok-pokok bahasan merupakan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang telah ditetapkan oleh Kemdikbud di Jakarta, perlu dijabarkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Maka setiap kurikulum yang akan diterapkan harus diikuti dengan pembinaan terhadap isi dan konsep berfikir yang ditetapkan dalam kurikulum itu. Lebih baik informasi itu diberikan melalui para kepala sekolah, melalui tim penggerak dari pusat ke daerah (go structure).

Indikator tentang mengajar di sekolah

Untuk memperoleh gambaran yang terukur pada pemberian nilai untuk setiap kemampuan, maka perlu ditetapkan kinerja setiap kemampuan. Kinerja kemampuan/kompetensi terlihat dalam bentuk indikator (Anonim, 2003: 12). Tabel Komponen Pengelolaan Pembelajaran khusus pada kompetensi penilaian Etos Kerja Mandiri Gurupeserta didik.

Kompetensi Indikator
Penilaian Etos Kerja Mandiri Gurupeserta didik 1. Mampu memilih soal berdasarkan tingkat kesukaran.
2. Mampu memilih soal berdasarkan tingkat pembeda
3. Mampu memperbaiki soal yang tidak valid
4. Mampu memeriksa jawaban
5. Mampu mengklasifikasikan hasil – hasil penilaian
6. Mampu mengolah dan menganalisis hasil penilaian
7. Mampu menyusun laporan hasil penilaian
8. Mampu membuat interpritasi kecendrungan hasil penilaian
9.Mampu menentukan korelasi antar soal berdasarkan hasil penilaian
10. Mengidentifikasi tingkat variasi hasil tes
11. Mampu menyimpulkan dari hasil penilaian secara jelas dan Logis.

 

METODE PENELITIAN

Setting Penelitian

Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SDN Ngadipurwo Kecamatan Blora tahun pelajaran 2019/2020. Alasan pemilihan tempat penelitian di SDN Ngadipurwo Kec. Blora karena lokasi penelitian berada pada lokasi peneliti bekerja.

Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus selama 3 bulan yaitu bulan Juli s.d. September 2019.

Subyek Penelitian

Subyek penelitian ini adalah guru-guru kelas I-VI di SDN Ngadipurwo Kecamatan Blora Kabupaten Blora pada semester I tahun pelajaran 2019/2020. Pada tabel di bawah ini adalah daftar peserta Pembinaan kedisiplinan dalam proses belajar mengajar di SDN Ngadipurwo yang menjadi subyek penelitian.

Adapun yang menjadi obyek penelitian adalah untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh guru-guru kelas I-VI dalam penerapan etos kerja melalui pembinaan kedisiplinan dalam prroses belajar mengajar.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Penelitian Tindakan Sekolah ini dilaksanakan di SDN Ngadipurwo, Kecamatan Blora Kabupaten Blora, yang pelaksnaannya meliputi langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Perencanaan, yang meliputi penetapan materi pembinaan dan penetapan alokasi waktu pelaksanaannya (bulan Juli s.d. September 2019).
  2. Tindakan, meliputi seluruh proses kegiatan pembinaan kepengawasan melalui pembinaan kedisiplinan dalam proses belajar mengajar, siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 5 s.d. 7 Agustus 2019, sedangkan siklus kedua dilaksanakan pada tanggal 2 s.d. 4 September 2019.
  3. Observasi, dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan kepengawasan pembinaan kedisiplinan dalam proses belajar mengajar.
  4. Refleksi, meliputi kegiatan analisis hasil pembinaan kedisiplinan sekaligus menyusun rencana perbaikan pada siklus berikutnya atau menyimpulkan hasil kegiatan penelitian yang telah dilakukan.

Penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan secara kolaborasi dengan kepala sekolah yang membantu pelaksanaan observasi dan refleksi selama kegiatan penelitian berlangsung.

Pelaksanaan penelitian sekolah dilaksanakan dalam tahapan 2 (dua) siklus yaitu sikulus I dan siklus II.

Diskripsi Kondisi Awal

Tabel 4.3. Rekapitulasi Hasil Penilaian Pembinaan kedisiplinan dalam proses belajar mengajar Guru SDN Ngadipurwo Kecamatan Blora, Kabupaten Blora Pada Kondisi Awal

No Nama Guru/NIP

 

Mengajar Kelas Nilai Hasil Pembinaan kedisiplinan dalam proses belajar mengajar Rata-rata
1 Sri Untari, S.Pd.SD.

NIP. 19620207 198201 2 005

Guru Kelas I 9 2,25
2 Muthi Nugroho, S.Pd. Guru Kelas II 13 3,25
3 Sumarni, S.Pd.SD Guru Kelas III 15 3,75
4 Mohamad Maghfur, S.Pd.SD. Guru Kelas IV 15 3,75
5 Mulyani, S.Pd.

NIP. 19641005 200801 2 004

Guru Kelas V 10 2,5
6 Sugito, S.Pd.SD

NIP. 19610515 198201 1 008

Guru Kelas VI 12 3
Rata-rata 74 18,5
Klasifikasi 12,33 3,08

 

 

 

 

Diskripsi Siklus I

Tabel 4.5 Rekapitulasi Hasil Penilaian Pembinaan kedisiplinan dalam proses belajar mengajar Guru SDN Ngadipurwo Kecamatan Blora, Kabupaten Blora Pada Siklus I

No Nama Guru/NIP

 

Mengajar Kelas Nilai Hasil Pembinaan kedisiplinan dalam proses belajar mengajar Rata-rata
1 Sri Untari, S.Pd.SD.

NIP. 19620207 198201 2 005

Guru Kelas I 16 4
2 Muthi Nugroho, S.Pd. Guru Kelas II 16 4
3 Sumarni, S.Pd.SD Guru Kelas III 17 4,25
4 Mohamad Maghfur, S.Pd.SD. Guru Kelas IV 18 4,5
5 Mulyani, S.Pd.

NIP. 19641005 200801 2 004

Guru Kelas V 14 3,5
6 Sugito, S.Pd.SD

NIP. 19610515 198201 1 008

Guru Kelas VI 15 3,75
Jumlah 96 24
Rata-rata 16,00 4,00

 

Diskripsi Siklus II

Tabel 4.7 Rekapitulasi Hasil Penilaian Pembinaan kedisiplinan dalam proses belajar mengajar Guru SDN Ngadipurwo Kecamatan Blora, Kabupaten Blora Pada Siklus II

No Nama Guru/NIP Mengajar Kelas Nilai Hasil Pembinaan kedisiplinan dalam proses belajar mengajar Rata-rata
1 Sri Untari, S.Pd.SD.

NIP. 19620207 198201 2 005

Guru Kelas I 17 4,25
2 Muthi Nugroho, S.Pd. Guru Kelas II 17 4,25
3 Sumarni, S.Pd.SD Guru Kelas III 19 4,75
4 Mohamad Maghfur, S.Pd.SD. Guru Kelas IV 19 4,75
5 Mulyani, S.Pd.

NIP. 19641005 200801 2 004

Guru Kelas V 17 4,25
6 Sugito, S.Pd.SD

NIP. 19610515 198201 1 008

Guru Kelas VI 17 4,25
Jumlah 106 26,5
Rata-rata 17,67 4,42

 

Pembahasan antar siklus

Tabel 4.8 Hasil Penilaian Pelaksanaan Pembinaan Kedisiplinan dalam Proses Belajar Mengajar Siklus I dan II

NO INDIKATOR Rata-rata Siklus Peningkatan
    I II Nilai %
1 Ketepatan Waktu 4 5 1 20%
2 Kerapian seragam 3,83 4 0,17 4%
3 Kerajinan menyusun RPP 4,33 4,33 0 0%
4 RPP PBM 3,83 4,33 0,5 12%
  Jumlah 15,99 17,66 1,67 36%
  Rata-rata 4,00 4,42 0,42 9%

 

 

 

 

PENUTUP

Kesimpulan

  1. Pembinaan kedisiplinan dalam proses belajar mengajar dapat meningkatkan etos kerja mandiri guru di SDN Ngadipurwo, Kecamatan Blora. Skor penilaian pelaksanaan peningkatan kedisiplinan Pembelajaran meningkat 36% dari siklus I dengan rata-rata 4,00 menjadi rata-rata 4.42 pada siklus II.
  2. Proses belajar mengajar di SDN Ngadipurwo Kecamatan Blora dapat meningkat dengan menerapkan peningakatan etos kerja mandiri melalui pembinaan kedisiplinan kerja.
  3. Beberapa kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pembinaan kedisiplinan dalam proses belajar mengajar dalam rangka meningkatkan etos kerja mandiri guru di SDN Ngadipurwo, Kecamatan Blora adalah:
    1. Tidak semua guru siap untuk melakukan tindakan disiplin dalam kegiatan di sekolah dan proses belajar mengajar.
    2. Karena adanya berbagai macam kegiatan kepala sekolah pelaksanaan pembinaan kedisiplinan dalam proses belajar mengajar hanya dapat dilaksanakan pada saat-saat tertentu.

Saran

  1. Bagi guru harus sering berkonsultasi kepada kepala sekolah, teman sejawat dan guru senior agar dapat mengetahui kelemahan dan kelebihannya masing-masing, sehingga mudah menyelesaikan permasalahan-permasalahan pembelajaran.
  2. Bagi Kepala sekolah perlu melakukan pembinaan kedisiplinan dalam proses belajar mengajar agar dapat memberikan bimbingan kepada guru-guru untuk meningkatkan kualitas etos kerja mandiri guru.
  3. Bagi peneliti lanjutan, penelitian ini dapat diteliti dengan kajian yang lebih luas secara mendalam dengan mengkaji pengaruh berbagai faktor terhadap kualitas pembelajaran guru sehingga hasilnya akan lebih sempurna.

DAFTAR PUSTAKA

Ametembun N.A 2000, Supervisi Pendidikan, Bandung: Suri.

Aqib, Z. 2009. Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru Bandung: CV Yrama Widya.

Depdiknas, 2002.Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi ketiga, Jakarta: Balai Pustaka

Dirjen PMPTK, 2008a. Pedoman Penelitian Tindakan Sekolah (School Action Research) Peningkatan Kompetensi Supervisi Pengawas Sekolah SMA/SMK. Jakarta: Depdiknas, Ditjen PMPTK.

Dirjen PMPTK, 2008b. Petunjuk Teknis Penelitian Tindakan Sekolah (School Action Research)Peningkatan Kompetensi Supervisi Pengawas Sekolah SMA/SMK. Jakarta: Depdiknas, Ditjen PMPTK.

Nurtain, 1989, Supervisi Pengajaran (Teori dan Praktek), Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti.

Piet A.S. 2000, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta.