PENINGKATAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA TENTANG DRAMA PENDEK MELALUI MODEL PEMBELAJARAN ROLE PLAYING PADA SISWA KELAS VI SEMESTER 1

SD NEGERI TUNTANG 01 KECAMATAN TUNTANG

KABUPATEN SEMARANG Tahun Ajaran 2017/2018

 

Imroatun

SD Negeri Tuntang 01 Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang

 

ABSTRAK

Tingkat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran Bahasa Indonesia tentang Drama pendek belum maksimal. Dari hasil ulangan Bahasa Indonesia ternyata hanya 7 (46,67%) dari 15 siswa Kelas VI SD Negeri Tuntang 01 Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang yang memperoleh nilai tuntas 70. Adapun nilai rata-rata Bahasa Indonesia adalah 64,67. Rata-rata nilai tersebut belum mencapai syarat ketuntasan klasikal yaitu 70. Untuk meningkatkan hasil belajar, guru melaksanakana penelitian tindakan kelas. Pemecahan masalah yang dilakukan guru yaitu dengan model pembelajaran Role playing. Penelitian ini menggunakan jenis PTK (penelitian tindakan kelas), dilaksanakan di SD Negeri Tuntang 01 Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang pada bulan Februari – Maret 2018. Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah: siswa Kelas VI yang berjumlah 15 siswa. Hasil penelitian: (1) Penerapan model pembelajaran Role playing dapat meningkatan hasil belajar Bahasa Indonesia Kelas VI semester 1 SD Negeri Tuntang 01 Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang. Nilai hasil belajar pada Kondisi Awal diperoleh rata-rata yang dicapai oleh siswa adalah 64,67. Pada Siklus I diperoleh rata-rata yang dicapai oleh siswa adalah 72,33. Terjadi peningkatan rata-rata hasil belajar 7,67. Pada siklus II hasil belajar menunjukkan rata-rata 80,00. Peningkatan hasil belajar dari siklus I ke siklus II sebesar 7,67; (2) Penerapan model pembelajaran Role playing dapat meningkatan ketuntasan belajar Bahasa Indonesia Kelas VI semester 1 SD Negeri Tuntang 01 Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang. Pada Kondisi Awal diperoleh ketuntasan belajar 46,67%. Pada Siklus I diperoleh ketuntasan belajar 73,33%. Terjadi peningkatan ketuntasan belajar sebesar 26,67%. Pada siklus II hasil belajar menunjukkan tingkat ketuntasan 93,33%. Peningkatan hasil belajar dari siklus I ke siklus II dan ketuntasan belajar meningkat sebesar 20,00%. Berdasarkan indikator keberhasilan ditentukan ketuntasan belajar individu adalah 70 dan ketuntasan belajar klasikal adalah 75% maka ketuntasan dan hasil belajar siklus II ini menunjukkan ketuntasan belajar klasikal sudah tercapai.

Kata kunci: hasil belajar, model pembelajaran Role playing.

 

PENDAHULUAN

 Latar Belakang Masalah

Pembelajaran adalah proses belajar dimana didalamnya terdapat interaksi, bahan dan penilaian. Sedangkan tentang pengartian belajar banyak para ahli pendidikan berbeda-beda dalam memberikan definisi belajar tersebut. Hal tersebut terjadi karena adanya perbedaan dalam mengidentifikasi fakta serta perbedaan dalam menginterprestasikannya. Perbadaan istilah yang digunakan serta konotasi masing-masing istilah, juga perbedaan dalam penekanan aspek tertentu menyebabkan definisi yang berbeda tentang belajar, (Sumadi Suryabrata, 2008: 19).

Beberapa ahli pendidikan berpendapat bahwa belajar adalah kegiatan fisik atau badaniah, hasil belajar yang dicapainya adalah perubahan dalam fisik sedangkan para ahli pendidikan moderen merumuskan belajar sebagai suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri individu yang dinyatakan dalam bentuk tingkah laku yang baru, berkat adanya pengalaman, latihan tingkah laku yang timbul sebagai sebagai pengaruh atau akibat belajar misalnya dari yang tidak tahu menjadi tahu, yang tadinya tidak bisa menjadi bisa, perubahan dalam sikap dan kebiasaan-kebiasaan, perubahan alam, keterampilan, kesanggupan menghargai, perkembangan sikap-sikap dan sifat-sifat sosial, emosional dan perkembangan jasmani (Oemar Hamalik, 2008: 21). Secara psikologi belajar merupakan salah satu perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidup (Slameto: 2010: 2).

Dalam pembelajaran di kelas guru mengajarkan Bahasa Indonesia sesuai dengan tuntutan kompetensi dasar dan standar kompetensi yang telah ditentukan. Salah satu fungsi pengajar adalah penggerak terjadinya proses belajar mengajar. Sebagai penggerak, pengajar harus memenuhi beberapa kriteria yang menyatu dalam diri pengajar agar dapat menunjukan profesionalitasnya dalam membuat rancangan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran sampai pada kualitas penilaiannya.

Pembelajaran Bahasa Indonesia berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tertuju pada pengembangan aspek fungsional bahasa, yaitu peningkatan kompetensi Berbahasa Indonesia. Ketika kompetensi berbahasa yang menjadi sasaran, para guru lebih berfokus pada empat aspek keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, membaca, berbicara dan menulis. Dalam Kurikulum 2004 (Depdiknas, 2004: 3) dinyatakan bahwa standar kompetensi Bahasa dan Sastra Indonesia berorientasi pada hakikat pemblajaran bahasa, yaitu berbahasa adalah belajar berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena itu pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi, baik secara lisan maupun secara tertulis.

Mengacu pada penjelasan di atas penulis menyimpulkan bahwa Pembelajaran Bahasa Indonesia adalah salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah dasar untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi baik secara lisan maupun secara tertulis.

Fungsi bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Komunikasi yang dimaksud adalah suatu proses menyampaikan maksud kepada orang lain dengan menggunakan saluran tertentu. Komunikasi bisa berupa pengungkapan pikiran, gagasan, ide, pendapat, persetujuan, keinginan, penyampaian informasi suatu peristiwa. Hal itu disampaikan dalam aspek kebahasaan berupa kata, kalimat, paragrap atau paraton, ejaan dan tanda baca dalam bahasa tulis, serta unsur-unsur prosodi (intonasi, nada, irama, tekanan, dan tempo) dalam bahasa lisan.

Salah satu keterampilan berbicara yang perlu dikembangkan antara lain melakukan dramatisasi naskah drama pendek oleh siswa. Namun kemampuan dramatisasi tidaklah mudah, meski naskah drama pendek sudah disederhanakan. Dalam survey pendahuluan, tingkat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran ”Drama pendek” masih minimal. Dari hasil pementasan drama pendek Bahasa Indonesia ternyata hanya 7 orang (46,67%) dari 15 siswa Kelas VI SD Negeri Tuntang 01 Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang yang memperoleh nilai tuntas 70. Pencapaian nilai di bawah KKM tersebut membuat guru perlu melakukan perbaikan pembelajaran. Untuk itu dibutuhkan keterampilan para guru dalam menentukan dan memilih metode dan model pembelajaran.

Model pembelajaran yang dilakukan guru perlu dilakukan secara variatif agar tidak membosankan siswa. Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara-gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. Dalam prakteknya, guru harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. Oleh karena itu, dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa, sifat materi bahan ajar, fasilitas-media yang tersedia, dan kondisi guru itu sendiri.

Salah satu upaya yang dilakukan guru di Kelas VI di SD Negeri Tuntang 01 Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang yaitu dengan cara mengimplementasikan model pembelajaran Role playing. Model pembelajaran Role playing menurut Hamalik (2008: 214) “role playing atau bermain peran memungkinkan para siswa mengidentifikasi situasi-situasi dunia nyata dengan ide-ide orang lain.”

Metode role playing adalah metode mengajar yang mendramatisasikan suatu situasi sosial yang mengandung suatu problem, agar peserta didik dapat memecahkan suatu masalah yang muncul dari suatu situasi sosial. Berdasarkan pengertian di atas metode pembelajaran simulasi ada yang menyebutnya dengan metode pembelajaran sosiodrama. Sosiodrama berasal dari kata: sosio dan drama. Sosio berarti sosial yaitu masyarakat, dan drama berarti mempertunjukkan, mempertontonkan atau memperlihatkan. Sosial atau masyarakat terdiri dari manusia yang satu dan lainnya terjalin hubungan yang dikatakan hubungan sosial. Drama dalam pengertian luas adalah mempertunjukkan atau mempertontonkan keadaan atau peristiwa-peristiwa yang dialami orang, sifat dan tingkah laku orang (Taniredja, dkk, 2011: 39).

Penelitian ini untuk mengetahui apakah model pembelajaran Role playing dapat meningkatkan ketuntasan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di SD Negeri Tuntang 01, Tuntang, Semarang. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka agar lebih terfokus dalam menangani masalah di atas, diantaranya sebagai berikut:

1.       Apakah hasil belajar siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia tentang “Drama pendek”dapat ditingkatkan melalui model pembelajaran Role playing pada siswa Kelas VI Semester 1 SD Negeri Tuntang 01 Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang?

2.       Apakah ketuntasan belajar Bahasa Indonesia tentang “Drama pendek” dapat ditingkatkan melalui model pembelajaran Role playing pada siswa Kelas VI Semester 1 SD Negeri Tuntang 01 Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah;

1.       Meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia tentang “Drama pendek” melalui model pembelajaran Role playing pada siswa Kelas VI Semester 1 SD Negeri Tuntang 01 Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang.

2.       Meningkatkan ketuntasan belajar Bahasa Indonesia tentang “Drama pendek” melalui model pembelajaran Role playing pada siswa Kelas VI Semester 1 SD Negeri Tuntang 01 Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang.

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik ditinjau secara teoritis maupun secara praktis.

Manfaat Teoritis

a.   Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan dan bahan pertimbangan bagi penelitian berikutnya.

b.   Hasil penelitian ini di harapkan dapat mengembangkan ilmu pendidikan, khususnya dalam pembentukan suasana belajar yang berbeda dengan menggunakan model pembelajaran tipe Role playing.

Manfaat Praktis

a.   Bagi Siswa

1) Meningkatkan ketuntasan dan hasil belajar Bahasa Indonesia khususnya pada materi tentang “Drama pendek”.

2) Siswa dapat meningkatkan keberanian siswa dalam mengemukakan ide, pertanyaan maupun saran.

b. Bagi Guru Mata Pelajaran

1) Guru dapat menerapkan metode pembelajaran Bahasa Indonesia dengan model pembelajaran Role playing ebagai suatu alternatif yang menarik terhadap ketuntasan dan hasil belajar.

2) Dapat memotivasi untuk lebih meningkatkan keterampilan memilih metode pembelajaran yang bervariasi dan dapat memperbaiki sistem pembelajaran.

c.     Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat dalam menambah penggetahuan dan wawasan terutama menyangkut model pembelajaran Role playing

KAJIAN TOERI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

Kajian Teori

Hasil belajar

Dalam ketuntasan belajar, dalam periode waktu tertentu dilakukan evaluasi untuk mengetahui hasil belajar siswa dalam menyerap pelajaran.

Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami ketuntasan belajar (Rifai dan Chatarina, 2004: 4). Aspek-aspek yang diperoleh sebagai perubahan perilaku tersebut tergantung pada apa yang telah dipelajari.

Menurut Gagne, ketuntasan dan hasil belajar adalah terbentuknya konsep, yaitu kategori yang kita berikan kepada stimulus yang ada di lingkungan, yang menyediakan skema-skema yang terorganisasi untuk mengasimilasi stimulus-stimulus baru dan menentukan hubungan di dalam dan di antara kategori-kategori (Purwanto, 2009: 42).

Perubahan perilaku sebagai hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang relevan dengan tujuan pembelajaran dan sering digunakan sebagai ukuran seberapa jauh seseorang menguasai bahan yang diajarkan. Menurut Gronlund dalam Purwanto (2009: 45) hasil belajar yang diukur merefleksikan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaranan yaitu tujuan yang menggambarkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki siswa sebagai akibat dari hasil pembelajaran yang dinyatakan dalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati dan diukur. Semua komponen pengajaran seperti pemilihan bahan pengajaran, kegiatan guru dan peserta didik, pemilihan sumber belajar, serta penyusunan tes bertolak dari tujuan pembelajaran, karena itu merupakan komponen yang sangat penting dalam pembelajaran.

Bloom (dalam Rifai dan Catharina, 2004: 6) mengelompokkan hasil belajar ke dalam 3 ranah yaitu ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Ketiga ranah ini menjadi obyek penilaian ketuntasan dan hasil belajar yang terdiri dari beberapa tingkatan. Ranah kognitif terdiri dari enam tingkatan yaitu: pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Ranah afektif terdiri dari lima tingkatan yaitu: penerimaan, tanggapan, penilaian, pengorganisasian nilai, dan karakteristik nilai. Sedangkan ranah psikomotorik terdiri dari tujuh tingkatan yaitu: persepsi, kesiapan, mekanisme, respon terbimbing, kemahiran, adaptasi, dan keaslian.

Hasil belajar merefleksikan keleluasaan, kedalaman, dan kompleksitas dan digambarkan secara jelas serta dapat di ukur dengan teknik-teknik penilaian tertentu (Sugandi, 2004: 63).

Hasil belajar kognitif berupa perubahan dalam aspek kemampuan berpikir. Hasil belajar afektif berupa perubahan dalam aspek kemampuan merasakan. Sedangkan ketuntasan dan hasil belajar psikomotorik berupa sikap dan keterampilan. Hasil belajar yang diidentifikasikan dalam tulisan ini mengacu pada ranah kognitif.

Dari beberapa pendapat di atas, hasil belajar dapat disimpulkan sebagai suatu bentuk perubahan perilaku yang meliputi 3 aspek yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik yang disebabkan karena telah menguasai bahan yang diajarkan sesuai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan dalam ketuntasan belajar mengajar dan dapat diukur dengan teknik-teknik penilaian. Tes ini disusun dan dikembangkan dari pengetahuan, pemahaman, atau aplikasi suatu konsep yang dipelajari oleh siswa dalam ketuntasan belajar di kelas.

Model Pembelajaran Role playing (Bermain Peran)

       Menurut Komalasari (2011: 80) role playing adalah “suatu model penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa.” Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan oleh lebih dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan. Sedangkan Gowen dalam Mutiah (2012: 208) mendefinisikan main peran sebagai sebuah kekuatan yang menjadi dasar perkembangan daya cipta, tahapan, ingatan, kerja sama kelompok, penyerapan kosa kata, konsep hubungan kekeluargaan, pengendalian diri, keterampilan mengambil sudut pandang spasial, afeksi dan kognisi.

       Kemudian Hamalik (2003: 214) mengatakan “bermain peran memungkinkan para siswa mengidentifikasi situasi-situasi dunia nyata dengan ide-ide orang lain.”

       Metode role playing adalah metode mengajar yang mendramatisasikan suatu situasi sosial yang mengandung suatu problem, agar peserta didik dapat memecahkan suatu masalah yang muncul dari suatu situasi sosial. Berdasarkan pengertian di atas metode pembelajaran simulasi ada yang menyebutnya dengan metode pembelajaran sosiodrama. Sosiodrama berasal dari kata: sosio dan drama. Sosio berarti sosial yaitu masyarakat, dan drama berarti mempertunjukkan, mempertontonkan atau memperlihatkan. Sosial atau masyarakat terdiri dari manusia yang satu dan lainnya terjalin hubungan yang dikatakan hubungan sosial. Drama dalam pengertian luas adalah mempertunjukkan atau mempertontonkan keadaan atau peristiwa-peristiwa yang dialami orang, sifat dan tingkah laku orang (Taniredja, dkk, 2011: 39).

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa role playing merupakan model pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk berimajinasi dengan dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya sehingga dapat melatih ingatan, penyerapan kosakata, pengendalian diri dan mengambil sudut pandang saat berhubungan dengan orang lain.

Kerangka Pikir

Pemahaman siswa akan mata pelajaran Bahasa Indonesia yang rendah menyebabkan rendahnya tingkat pencapaian ketuntasan dan hasil belajar. Penelitian tindakan kelas ini menggunakna model Role playing. Dalam model pembelajaran Role playing, siswa berpartisipasi aktif dalam pembelajaran dan sering mengemukakan pendapatnya.

Pembelajaran Bahasa Indonesia menggunakan metode role playing adalah sebagai cara untuk menciptakan aktivitas belajar menjadi sebuah proses yang menyenangkan. Role playing merupakan pendekatan belajar yang lebih menyenangkan daripada yang digunakan saat ini. Implementasi metode role playing pada proses belajar di sekolah dapat memberikan beberapa keuntungan. Role playing dimaksudkan adalah suatu cara mengajar dengan jalan mendramatisasikan bentuk tingkah laku dalam hubungan sosial. Pada metode role playing, titik tekanannya terletak pada keterlibatan emosional dan pengamatan indera ke dalam suatu situasi masalah yang secara nyata dihadapi. Tahap akhir dari proses belajar adalah tahap saat individu memperlihatkan performa melalui aplikasi pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajari dalam situasi yang nyata.

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peningkatan ketuntasan dan hasil belajar Bahasa Indonesia melalui penggunaan model Role playing pada siswa Kelas VI di SD Negeri Tuntang 01 Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang. Kerangka pikir penelitian tindakan kelas tersebut dapat divisualisasikan dalam bagan berikut ini.

Pada kondisi awal, guru melakukan pembelajaran bersifat konvensional, guru dominan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab, banyak peserta didik yang ketuntasan belajarnya dan hasil belajarnya rendah. Agar ketuntasan dan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran meningkat, maka perlu adanya action atau tindakan yang dilakukan oleh guru/peneliti yaitu dengan menerapkan model pembelajaran Role playing. Pada kondisi akhir, melalui penerapan model pembelajaran Role playing diharpakan dapat meningkatkan ketuntasan dan hasil belajar siswa.

METODOLOGI PENELITIAN

Setting Penelitian

Lokasi yang akan di jadikan penelitian adalah di SD Negeri Tuntang 01 Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang.

Subjek Penelitian

Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah:

1.     Guru kelas VI SD Negeri Tuntang 01 Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang.

2.     Siswa Kelas VI semester 1 SD Negeri Tuntang 01 Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang yang berjumlah 15 orang siswa.

Sumber Data

1.     Data Primer

Data primer adalah data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti (atau petugas-petugasnya) dari sumber pertanyaan (Suryabrata, 2008:84) Dalam penelitian ini, data primer yang diperoleh oleh peneliti adalah: hasil wawancara dengan Kepala Sekolah SD Negeri Tuntang 01, Guru pengampu mata pelajaran, dan Siswa Kelas VI.

2.     Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diterbitkan oleh organisasi yang bukan merupakan pengolahan peneliti, data tersebut biasanya telah tersusun dalam bentuk dokumen-dokumen, misalnya data mengenai keadaan demografis suatu daerah, data mengenai produktivitas suatu sekolahan tersebut atau perguruan tinggi, dan sebagainya (Suryabrata, 2008:85). Data sekunder ini digunakan sebagai data pendukung dari data primer, misal data tentang siswa, nilai mata pelajaran siswa, dan data-data lain.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Kondisi awal pembelajaran Bahasa Indonesia tentang Drama pendek merupakan pembelajaran yang dilaksanakan belum menggunakan model pembelajaran Role playing. Pembelajaran masih menggunakan model pembelajaran konvensional yaitu menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Hasil observasi ketuntasan dan hasil belajar sebagai berikut:

Observasi aktivitas belajar siswa dilakukan selama pembelajaran. Aspek pengamatan ketuntasan belajar siswa meliputi: (1) keikutsertaan dalam drama pendek, (2) adanya semangat kebersamaan, (3) mengajukan pertanyaan kepada guru, (4) mengulangi penjelasan guru secara singkat, (5) mensupport keberhasilan teman atau kelompok lain.

Dari 15 siswa, siswa yang mencapai ketuntasan dengan mendapatkan nilai ³ 70 sebanyak 7 anak (46,67%), sedangkan yang belum tuntas dengan mendapatkan nilai < 70 ada 8 anak (53,33%). Nilai rata-rata siswa 64,67. Dari uraian hasil data di atas terlihat bahwa hasil belajar siswa kelas VI di SD Negeri Tuntang 01 pada mata pelajaran Bahasa Indonesia masih rendah, oleh karena itu penulis melakukan penelitian untuk meningkatkan ketuntasan belajar dan hasil belajar siswa.

Deskripsi Tiap Siklus

 Deskripsi Data Pelaksanaan Tindakan Siklus I

Dari 15 siswa, siswa yang mencapai ketuntasan dengan mendapatkan nilai ³ 70 sebanyak 11 anak (73,33%), sedangkan yang belum tuntas dengan mendapatkan nilai < 70 ada 4 anak (26,67%). Nilai rata-rata siswa 72,33. Dari uraian hasil data di atas terlihat bahwa hasil belajar siswa kelas VI di SD Negeri Tuntang 01 pada mata pelajaran Bahasa Indonesia belum maksimal, oleh karena itu perlu penelitian siklus II untuk meningkatkan ketuntasan belajar dan haisl belajar siswa.

Adapun pada siklus I guru lebih baik dalam membimbing dan memotivasi siswa sehingga siswa aktif dalam pembelajaran. Dari uraian di atas, hasil pembelajaran dan ketuntasan belajar siswa dapat meningkat dengan menerapkan model pembelajaran Role playing.

Deskripsi Data Pelaksanaan Tindakan Siklus II

Dari 15 siswa, siswa yang mencapai ketuntasan dengan mendapatkan nilai ³ 70 sebanyak 14 anak (93,33%), sedangkan yang belum tuntas dengan mendapatkan nilai < 70 ada 1 anak (6,67%). Nilai rata-rata siswa 80,00. Dari uraian hasil data di atas terlihat bahwa hasil belajar siswa kelas VI di SD Negeri Tuntang 01 pada mata pelajaran Bahasa Indonesia sudah maksimal, oleh karena itu penelitian siklus II untuk meningkatkan ketuntasan belajar dan haisl belajar siswa sudah berhasil.

Dari uraian di atas, hasil belajar pembelajaran dan ketuntasan belajar siswa dapat meningkat dengan menerapkan model pembelajaran Role playing.

Pembahasan Tiap Siklus dan Antar Siklus

Pembahasan lebih banyak didasarkan pada hasil observasi dan refleksi pada setiap siklusnya. Kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran Role playing.

Siklus I

Berdasarkan nilai hasil belajar, pada Kondisi Awal diperoleh nilai rata-rata tes sebesar 64,67 dengan ketuntasan belajar klasikal 46,67%. Pada siklus I nilai rata-rata menjadi 72,33 dengan ketuntasan belajar klasikal 73,33% (11 siswa) tuntas belajar dengan mendapat nilai ³ 70. Peningkatan rata-rata nilai sebesar lah 7,67 dan peningkatan pencapaian KKM sebesar 26,67%.

Berdasarkan pertimbangan ketuntasan belajar individu adalah 70 dan ketuntasan belajar klasikal adalah 75% maka ketuntasan dan hasil belajar siklus I ini menunjukkan ketuntasan belajar klasikal belum tercapai. Maka penelitian ini dilanjutkan ke siklus II.

Peningkatan hasil belajar ini disertai meningkatnya aktivitas siswa. Siswa tampak senang dan penuh antusias kegembiraan. Menurut Jill Hadfield (Basri Syamsu, 2000) model pembelajaran role playing merupakan salah satu permainan gerak yang didalamnya terdapat aturan, tujuan dan sekaligus melibatkan unsur bahagia. Dalam bermain peran siswa mesti diarahkan pada situasi tertentu seakan-akan berada di luar kelas, meskipun kenyataannya pada saat pembelajaran berlangsung terjadi di dalam kelas. Selain itu, model pembelajaran role playing tak jarang dimaksudkan sebagai salah satu bentuk bentuk aktifitas dimana peserta didik membayangkan dirinya seakan-akan berada di luar kelas dan berperan sebagai orang lain.

 Siklus II

       Observasi siklus II terhadap ketuntasan belajar siswa dalam penerapan model pembelajaran Role playing dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas VI semester 1 SD Negeri Tuntang 01 Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang sama seperti siklus I. Pada siklus II model pembelajaran Role playing dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas VI semester 1 SD Negeri Tuntang 01 Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang siswa sudah lebih aktif.

Pada siklus I hasil belajar diperoleh nilai rata-rata tes sebesar 72,33 dan ketuntasan belajar kelas 73,33%. Pada siklus II terjadi peningkatan nilai rata-rata menjadi 80,00 dengan ketuntasan belajar klasikal 93,33% (14 siswa) tuntas belajar dengan mendapat nilai ³ 70. Peningkatan rata-rata nilai sebesar 7,67 dan peningkatan pencapaian KKM sebesar 20,00%.

Berdasarkan pertimbangan ketuntasan belajar individu adalah 70 dan ketuntasan belajar klasikal adalah 75% maka ketuntasan dan hasil belajar siklus II ini menunjukkan ketuntasan belajar klasikal sudah tercapai. Maka penelitian ini sudah berhasil.

Selama proses bermain peran dalam drama pendek, siswa tampak terlibat secara emosional meskipun masih tampak adanya sendau-gurau yang diikuti oleh teman-temannya yang menjadi penonton. Pada model pembelajaran bermain peranan, titik fokusnya terletak pada keterlibatan emosional serta pengamatan indera ke dalam situasi permasalahan nyata yang dihadapi. Melalui model bermain peran ini, diharapkan para siswa bisa: (1) mengeksplorasi perasaannya; (2) mendapatkan wawasan tentang nilai, sikap dan persepsinya; (3) mengembangkan sikap serta keterampilan dalam memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi; (4) mengeksplorasi inti dari masalah yang diperankan melalui berbagai teknik/cara.

Selain itu ada beberapa hal yang mesti diperhatikan dalam pemilihan topik masalah (skenario) sehingga akan memadai bagi para siswa, adapun diantaranya: usia siswa, latar belakang, kerumitan masalah, sosial budaya, kepekaan topik yang dijadikan sebagai masalah dan pengalaman siswa dalam bermain peran.

Pada model belajar ini siswa dijadikan sebagai subyek dari kegiatan pembelajaran, dan mereka secara aktif harus melakukan praktik-praktik berkomunikasi dengan temannya dalam kondisi tertentu. Pembelajaran efektif akan dimulai dari lingkungan yang berpusat pada diri siswa.

Peningkatan Ketuntasan dan Hasil Belajar

Secara keseluruhan peningkatan nilai rata-rata dan ketuntasan belajar hasil evaluasi tiap siklus terlihat pada diagram sebagai berikut:

Nilai rata-rata Kelas Pembelajaran Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II

Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa melalui penerapan model pembelajaran Role playing dapat meningkatan ketuntasan dan hasil belajar Bahasa Indonesia siswa Kelas VI semester 1 SD Negeri Tuntang 01 Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang.

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut.

1.     Penerapan model pembelajaran Role playing dapat meningkatan hasil belajar Bahasa Indonesia Kelas VI semester 1 SD Negeri Tuntang 01 Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang. Nilai hasil belajar pada Kondisi Awal diperoleh rata-rata yang dicapai oleh siswa adalah 64,67. Pada Siklus I diperoleh rata-rata yang dicapai oleh siswa adalah 72,33. Terjadi peningkatan rata-rata hasil belajar 7,67. Pada siklus II hasil belajar menunjukkan rata-rata 80,00. Peningkatan hasil belajar dari siklus I ke siklus II sebesar 7,67.

2.    

48

 

Penerapan model pembelajaran Role playing dapat meningkatan ketuntasan belajar Bahasa Indonesia Kelas VI semester 1 SD Negeri Tuntang 01 Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang. Pada Kondisi Awal diperoleh ketuntasan belajar 46,67%. Pada Siklus I diperoleh ketuntasan belajar 73,33%. Terjadi peningkatan ketuntasan belajar sebesar 26,67%. Pada siklus II hasil belajar menunjukkan tingkat ketuntasan 93,33%. Peningkatan hasil belajar dari siklus I ke siklus II dan ketuntasan belajar meningkat sebesar 20,00%. Berdasarkan indikator keberhasilan ditentukan ketuntasan belajar individu adalah 70 dan ketuntasan belajar klasikal adalah 75% maka ketuntasan dan hasil belajar siklus II ini menunjukkan ketuntasan belajar klasikal sudah tercapai.

Implikasi

Model pembelajaran Role playing ini menjadi pertimbangan guru dalam menggunakan model role playing ini yaitu waktu, biaya, serta tenaga, sehingga diharapkan perlu perencanaan yang tepat agar tindakan dapat berjalan efektif dan efisien. Selain itu, pembelajaran dengan model role playing terbukti dapat berjalan secara efektif dan efisien jika didukung oleh keterampilan guru dalam mengelola kelas. Berdasarkan hasil penelitian yang disimpulkan di atas, maka saran yang dapat disampaikan bagi guru, hendaknya guru dapat mensosialisasikan hasil penelitian pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Role playing kepada guru-guru lainnya.

Saran

Menurut hasil kesimpulan di atas, maka disarankan:

1.    Model pembelajaran Role playing dapat meningkatkan ketuntasan dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Maka pendekatan tersebut bisa digunakan sebagai acuan untuk pelaksanaan pembelajaran yang lainnya.

2.    Sebaiknya guru melaksanakan refleksi tentang kelemahan penggunaan model pembelajaran Role playing dalam pembelajaran, yaitu meskipun manfaatnya baik, tetapi model pembelajaran Role playing membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga menyita waktu guru dalam menyiapkan pembelajaran mata pelajaran lain. Untuk itu tidak semua mata pelajaran menggunakan model pembelajaran Role playing.

3.    Bagi sekolah, dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa, sebaiknya sekolah memfasilitasi sarana prasarana yang mendukung untuk menciptakan proses pembelajaran yang aktif, kreatif, dan inovatif

Daftar Pustaka

Aqib, Zainal. 2013. Model-model, Media, dan Strategi Pembelajaran Kontekstual (Inovatif). Bandung: Yrama Widya.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, Edisi Revisi VI, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006.

Catharina, Tri Anni. 2004. Psikologi Belajar. Semarang: UNNES.

Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain Aswan. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Rineka Cipta, Jakarta.

Hamalik, Oemar. 2003. Proses Belajar Mengajar. PT. Bumi Aksara, Jakarta.

Hamalik, Oemar. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Sinar Grafika.

Hasibuan, J.J. dan Moedjiono. 2010. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Rosda.

Hisyam Zaini.2004. Srategi pembelajaran aktif. Yogyakarta: Insan Mandiri.

Khoirunnisa, Selvy Wulan. 2016. Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Role Playing terhadap Keterampilan Berbicara Siswa Kelas V SD Negeri 1 Pardasuka Katibung Lampung Selatan Tahun Ajaran 2015/2016. Bandar Lampung: FKIP Universitas Lampung.

Komalasari, Kokom. 2010. Pembelajaran Kontekstual: Konsep dan Aplikasi. Rafika Aditama, Bandung.

 

Moleong, Lexy J. 2006. Prosedur Penelitian Kualitatif. Bandung:PT Remaja Rosda Karya.

Purwanto. 2009. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rifa’i, Achmad & Catharina Tri Anni. 2004. Psikologi Pendidikan. Semarang: UNNES.

Rusman. 2010. Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta:RajaGrafindo Persada.

Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta

Sugandi, Achmd. 2010. Teori Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Sumiskun, Sifna Rahmah. 2015. Penerapan Metode Role Playing Untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Mata Pelajaran IPS Bagi Siswa Kelas IV Sd Tambakrejo 2 Waru Sidoarjo. Surabaya: PGSD FIP Universitas Negeri Surabaya.

Suryabrata, Sumadi. 2008. Metodologi Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Taniredja, Tukiran, dkk., 2011. Model-model Metodologi Penelitian dan Teknik Penyusunan Skripsi, PT. Rineka Cipta, Jakarta: Januari 2006

Umri Nur’aini, Indriyani. 2008. Bahasa Indonesia 6: untuk SD/MI kelas VI. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Uno, Hamzah B. 2011. Model Pembelajaran. Bumi Aksara, Jakarta.

Winataputra, UdinS, dkk. 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.