PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENGELOLA KELAS MELALUI TEKNIK SUPERVISI INDIVIDUAL

DI SD NEGERI SARADAN 1 SEMESTER I

KECAMATAN KARANGMALANG KABUPATEN SRAGEN

TAHUN PELAJARAN 2019/2020

 

Agus Suprapto

SD Negeri Saradan 1

 

ABSTRAK

Penelitian dilakukan di SD Negeri Saradan 1 selama ± 5 bulan dimulai Senin, 22 Juli 2019 sampai dengan Sabtu, 30 November 2019. Jumlah guru di SD Negeri Saradan 1 yang mengikuti Teknik supervisi individual berjumlah 10 guru. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Dari wawancara diperoleh hasil bahwa secara keseluruhan guru di SD Negeri Saradan 1 menyatakan penting untuk mengelola kelas dengan sangat baik. Sebagian besar guru SD Negeri Saradan 1 merasa bahwa pemahaman mereka dalam mengelola kelas masih kurang. Seluruh guru di SD Negeri Saradan 1 menghendaki adanya Teknik supervisi individual dalam memanfaatkan dan mengelola kelas dan 100% guru memiliki motivasi yang tinggi untuk mengikuti Teknik supervisi individual dan memiliki keinginan yang kuat dalam mengelola kelas di SD Negeri Saradan 1. Penelitian dilakukan sebanyak 2 siklus. Pada pra siklus diperoleh nilai rata-rata 79 dengan prosentase 46% pencapaian seluruh guru dalam indikator penelitian pengelolaan kelas, pada siklus 1 diperoleh nilai rata-rata 89 dengan prosentase 71% pencapaian seluruh guru dalam indikator penelitian pengelolaan kelas, dan pada siklus II diperoleh nilai rata-rata 98 dengan prosentase 93% pencapaian seluruh guru dalam indikator penelitian pengelolaan kelas. Jadi ada peningkatan kemampuan guru dalam mengelola kelas setelah dilakukan Teknik supervisi individual oleh kepala sekolah SD Negeri Saradan 1.

Kata kunci: Mengelola kelas, Teknik supervisi individual

 

PENDAHULUAN

Komponen guru selama ini di anggap sangat mampu mempengaruhi proses pendidikan. Hal itu memang wajar, sebab guru merupakan ujung tombak yang berhubungan langsung dengan siswa sebagai subjek dan objek belajar. Bagaimanapun bagusnya dan idealnya kurikulum pendidikan, tanpa di imbangi dengan kemampuan guru dalam mengimplementasikannya, maka semuanya akan kurang bermakna. Oleh karena itu, untuk mencapai standar proses pendidikan, sebaiknya harus di mulai dengan menganalisis komponen guru terlebih dahulu. Oleh sebab itu, sistem pendidikan memerlukan guru-guru yang profesional, entah itu dalam sifatnya, perilakunya, bahkan kinerjanya.

Berdasarkan hasil penelitian pra siklus yang dilakukan di SD Negeri Saradan 1 Kecamatan Karangmalang Kabupaten Sragen pada hari Sabtu, 10 Agustus 2019 diperoleh hasil untuk pelaksanaan mengelola kelas guru dengan indikator 1) Membedakan antara mengelola kelas dan mendisiplinkan kelas sebesar 50%, 2) Membedakan antara prosedur kelas dan rutinitas kelas sebesar 50%, 3) Pengelolaan kelas dengan mengorganisir prosedur-prosedur sebesar 50%, 4) Mendisiplinkan siswatidak dengan ancaman-ancaman, dan konsekuensi sebesar 50%, 5) Menciptakan suasana adanya saling pengertian yang baik antara guru dan siswa sebesar 50%, 6) Memahami karakteristik siswa sebesar 50%, 7) Pengelolaan tempat duduk siswa sebesar 50%, 8) Aturan dan tata tertib di kelas sebesar 40%, 9) Suasana kelas yang nyaman untuk belajar sebesar 40%, 10) Kondisi kelas yang penuh karya siswa sebesar 40%, dan 11) Kerapian dan kebersihan kelas sebesar 40%.

Kondisi tersebut tidak dapat dibiarkan begitu saja karena akan berdampak pada pengembangan karir bagi guru yang bersangkutan. Permasalahan tersebut perlu penanganan yang harus dilakukan oleh kepala sekolah dengan mengoptimalkan peranan sebagai supervisor. Langkah penanganan yang dapat dilakukan oleh kepala sekolah adalah melalui kegiatan supervisi akademik. Melalui kegiatan supervisi akademik yang dilakukan oleh kepala sekolah, maka diharapkan kinerja guru akan semakin baik sehingga kemampuan profesional guru semakin berkembang pula. Hal ini sesuai dengan tujuan dari supervisi akademik, yaitu bahwa supervisi akademik adalah upaya meningkatkan kemampuan guru dalam rangka mewujudkan proses belajar peserta didik yang lebih baik melalui cara mengajar yang lebih baik (Sudrajat, 2010: 1).

Berdasarkan latar belakang, identifikasi, dan pembatasan masalah di atas, diajukan rumusan masalah sebagai berikut:“Apakah dengan teknik supervisi individual akan dapat meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola kelas?”

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola kelas melalui teknik supervisi individual di SD Negeri Saradan 1 Kecamatan Karangmalang Kabupaten Sragen tahun pelajaran 2019/2020.

KAJIAN TEORI

Pengertian Guru

Secara etimologi (asal usul kata), istilah ”Guru” berasal dari bahasa India yang artinya ” orang yang mengajarkan tentang kelepasan dari sengsara” Shambuan, Republika, (dalam Suparlan 2005:11). Kemudian Rabindranath Tagore (dalam Suparlan 2005:11) menggunakan istilah Shanti Niketan atau rumah damai untuk tempat para guru mengamalkan tugas mulianya membangun spiritualitas anak-anak bangsa di India.

Poerwadarminta (dalam Suparlan 2005:13) menyatakan, “guru adalah orang yang kerjanya mengajar.” Dengan definisi ini, guru disamakan dengan pengajar. Pengertian guru ini hanya menyebutkan satu sisi yaitu sebagai pengajar, tidak termasuk pengertian guru sebagai pendidik dan pelatih. Selanjutnya Zakiyah Daradjat (dalam Suparlan 2005:13) menyatakan,” guru adalah pendidik profesional karena guru telah menerima dan memikul beban dari orang tua untuk ikut mendidik anak-anak.”

Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa guru adalah tenaga pendidik yang profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik, dan bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran.

9

 

 

Mengelola Kelas

Pengelolaan merupakan terjemahan dari kata “managemen” asal kata dari Bahasa Inggris yang diindonesiakan menjadi “manajemen” atau menejemen. Di dalam kamus umum Bahasa Indonesia (1958:412), disebutkan bahwa pengelolaan berarti penyelenggaraan. Dilihat dari asal kata “manajemen” dapat disimpulkan bahwa pengelolaan adalah penyelenggaraan atau pengurusan agar sesuatu yang dikelola dapat berjalan dengan lancar, efektif dan efisien. Pengelolaan diartikan sebagai kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan kegiatan-kegiatan orang lain (Oemar Hamalik, 1986: 18).

Pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan pembelajaran dengan maksud agar tercapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar sebagaimana yang diharapkan.Atau pengelolaan kelas adalah suatu keterampilan untuk bertindak dari seorang guru berdasarkan atas sifat-sifat kelas dengan tujuan menciptakan situasi pembelajaran ke arah yang lebih baik. Pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan, mengulang atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan, dengan hubungan-hubungan inter personal dan iklim sosio emosional yang positif serta mengembangkan dan mempermudah organisasi kelas yang efektif.

Pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosioemosional kelas yang positif. Definisi keempat ini memandang pengelolaan kelas sebagai proses penciptaan iklim sosioemosional yang positif di dalam kelas. Definisi ini beranggapan, bahwa kegiatan belajar akan berkembang secara maksimal di dalam kelas yang beriklim positif yaitu suasana hubungan interpersonal yang baik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa.

Prinsip-Prinsip Mengelola kelas

Menurut Syaiful Bahri (2006:185) masalah pengelolaan kelas bukanlah merupakan tugas yang ringan. Berbagai faktorlah yang menyebabkan kerumitan. Secara umum faktor-faktor dalam pengelolaan kelas dibagi menjadi dua golongan yakni faktor interen dan faktor ekteren. Dalam rangka memperkecil masalah gangguan dalam pengelolaan kelas, memperhatikan prinsip-prinsip pengelolaan kelas yang perlu diperhatikan oleh guru.

Tujuan Mengelola kelas

Tujuan pengelolaan kelas pada hakikatnya telah terkandung dalam tujuan pendidikan. Secara umum pengelolaan kelas adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam kelas, lingkungan sosial, emosional dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja, terciptalah suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional dan sikap serta apresiasi pada siswa (Sudirman N,1991:311).

Suharsimin Arikunto (1988:68) berpendapat bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Menurutnya setiap indikator dari sebuah kelas adalah apabila: (1) setiap siswa terus bekerja, artinya tidak anak yang terhenti karena tidak tahu ada tugas yang harus dilakukan atau tidak dapat melakukan tugas yang diberikan kepadannya, (2) setiap siswa melakukan pekerjaan tanpa membuang waktu, artinya setiap siswa akan bekerja secepatnya dalam melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya.

Keberhasilan sebuah kegiatan dapat dilihat dari hasil yang dicapainya. Tujuan adalah titik akhir dari sebuah kegiatan dan dari tujuan itu juga sebagai pangkal tolak pelaksanan kegiatan selanjutnya. Keberhasilan sebuah tujuan dapat dilihat dari efektivitas dalam pencapaian tujuan itu serta tingkat efisiensi dari penggunaan berbagai sumber daya yang dimiliki. Dalam proses pengelolaan kelas keberhasilannya dapat dilihat dari tujuan yang ingin dicapainya, oleh karena itu guru harus menetapkan tujuan apa yang hendak dicapai dengan kegiatan pengelolaan kelas yang dilakukannya.

Supervisi akademik

Konsep supervisi modern dirumuskan oleh Kimball Wiles (1967) sebagai berikut: “Supervision is assistance in the devolepment of a better teaching learning situation”. Supervisi adalah bantuan dalam pengembangan situasi pembelajaran yang lebih baik. Rumusan ini mengisyaratkan bahwa layanan supervisi meliputi keseluruhan situasi belajar mengajar (goal, material, technique, method, teacher, student, an envirovment). Situasi belajar inilah yang seharusnya diperbaiki dan ditingkatkan melalui layanan kegiatan supervisi. Dengan demikian layanan supervisi tersebut mencakup seluruh aspek dari penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran.

Sedangkan Depdiknas (1994) merumuskan supervisi sebagai berikut: “Pembinaan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah agar mereka dapat meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik “. Dengan demikian, supervisi ditujukan kepada penciptaan atau pengembangan situasi belajar mengajar yang lebih baik. Untuk itu ada dua hal (aspek) yang perlu diperhatikan: Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dan hal-hal yang menunjang kegiatan belajar mengajar.

Atas dasar uraian diatas, maka pengertian supervisi dapat dirumuskan sebagai berikut “ serangkaian usaha pemberian bantuan kepada guru dalam bentuk layanan profesional yang diberikan oleh supervisor (Pengawas sekolah, kepala sekolah, dan pembina lainnya) guna meningkatkan mutu proses dan hasil belajar mengajar”. Karena supervisi atau pembinaan guru tersebut lebih menekankan pada pembinaan guru, maka tersebut pula “Pembinaan profesional guru” yakni pembinaan yang lebih diarahkan pada upaya memperbaiki dan meningkatkan kemampuan profesional guru.

Model supervisi akademik

Menurut kepada materi Supervisi Akademik pada pelatihan penguatan kemampuan Kepala sekolah oleh Direktorat jenderal peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan kementrian pendidikan nasional tahun 2010, model supervise akademik terbagi ke dalam dua model. Model Supervisi Tradisional dan Model Supervisi Kontemporer (Masa kini).

 

 

Teknik supervisi akademik

Salah satu tugas kepala sekolah adalah melaksanakan supervise akademik. Untuk melaksanakannya secara efektif, diperlukan keterampilan konseptual, interpersonal dan teknikal (Glickman, at al: 2007). Oleh sebab itu, setiap kepala sekolah harus memiliki keterampilan teknikal berupa kemampuan menerapkan teknik-teknik supervise akademik yang tepat. Menurut Gwyn (1961) teknik supervise akademik meliputi dua macam, yaitu: individual dan kelompok.

Kerangka Berpikir

Kerangka pemikiran pada hakekatnya bersumber dari kajian teoritis dan sering diinformasikan dalam bentuk anggapan dasar. Menurut Arikunto (2010: 104), anggapan dasar adalah suatu hal yang diyakini kebenarannya oleh peneliti harus dirumuskan secara jelas. Kerangka pemikiran pada hakekatnya bersumber dari kajian teoritis dan sering diinformasikan dalam bentuk anggapan dasar.

Pembinaan profesi kepada guru adalah kegiatan yang harus secara rutin dan berkelanjutan dilakukan oleh pengawas sekolah untuk meningkatkan kompetensi guru guna peningkatan kinerja guru yang professional. Namun kenyataan di lapangan pembinaan profesi guru melalui bimbingan lemah. Karena Bimbingan yang dilaksanakan selama ini belum sesuai dengan kebutuhan guru. Bimbingan sering dianggap hanya sebagai kegiatan mencari-cari kesalahan guru dan tidak memberikan solusi atas kekurangan guru sehingga guru segan dan enggan untuk secara transparan menyampaikan kelemahannya kepada kepala sekolah.

Hipotesis Tindakan

Hipotesis merupakan dugaan sementara yang kebenarannya perlu dibuktikan melalui proses penelitian. Berdasarkan landasan teori, bukti-bukti empirik yang diperoleh peneliti sebelumnya dan kerangka berpikir, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah:“Melalui Teknik Supervisi Individual Dapat Meningkatkan Kemampuan Guru Dalam Mengelola Kelas Bagi Guru SD Negeri Saradan 1 Tahun Pelajaran 2019/2020.”

METODE PENELITIAN

Setting Penelitian

Setting dalam penelitian ini meliputi: tempat penelitian, waktu penelitian, jadwal penelitian, dan siklus Penelitian Tindakan Sekolah sebagai berikut:

Tempat Penelitian

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) dilaksanakan di SD Negeri Saradan 1 Kecamatan Karangmalang Kabupaten Sragen. Pemilihan sekolah tersebut bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola kelas.

Waktu Penelitian

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini dilaksanakan pada semester 1 tahun pelajaran 2019/2020 pada tanggal 22 Juli 2019 sampai 30 November 2019.

 

 

Siklus Penelitian

Penelitian Tindakan Sekolah dilaksanakan melalui dua siklus untuk melihat peningkatan kemampuan guru dalam mengelola kelas.

Subjek Penelitian

Yang menjadi subyek dalam PTS ini adalah guru-guru di SD Negeri Saradan 1 Kecamatan Karangmalang Kabupaten Sragen yang berjumlah 10 guru termasuk guru kelas dan guru mata pelajaran.

Sumber Data

Sumber data dalam PTS ini adalah dokumen pelaksanaan mengelola kelas yang sudah dibuat guru.

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan diskusi.

Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data dalam PTS ini sebagai berikut.

  1. Wawancara menggunakan panduan wawancara untuk mengetahui kemampuan awal yang dimiliki guru tentang mengelola kelas.
  2. Observasi menggunakan lembar observasi untuk mengetahui komponen mengelola kelas yang telah dibuat dan yang belum dibuat oleh guru.
  3. Diskusi dilakukan dengan maksud untuk sharing pendapat antara peneliti dengan guru.

Prosedur Penelitian

Penelitian ini berbentuk Penelitian Tindakan Sekolah (School Action Research), yaitu sebuah penelitian yang merupakan kerjasama antara peneliti dan guru, dalam meningkatkan kemampuan guru agar menjadi lebih baik dalam mengelola kelas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesulitan-kesulitan yang dialami oleh guru dalam mengelola kelas. Selanjutnya peneliti memberikan alternatif atau usaha guna meningkatkan kemampuan guru dalam membuat dokumen pengelolaan kelas.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, dengan menggunakan teknik persentase untuk melihat peningkatan yang terjadi dari siklus ke siklus. ”Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan subjek/objek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat, dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya (Nawawi, 1985:63). Dengan metode ini peneliti berupaya menjelaskan data yang peneliti kumpulkan melalui komunikasi langsung atau wawancara, observasi/pengamatan, dan diskusi yang berupa persentase atau angka-angka.

 

 

Indikator Pencapaian Hasil

Penelitian ini akan diakhiri setelah 75% guru telah mengalami peningkatan kemampuan guru dalam mengelola kelas dengan nilai yang diperoleh masing-masing guru adalah ≥ 75.

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

Deskripsi Penelitian Kondisi Awal

Dari hasil wawancara terhadap sepuluh orang guru, peneliti memperoleh informasi bahwa semua guru (sepuluh orang) terdapat beberapa guru yang belum paham bagian/komponen mengelola kelas, pada umumnya guru mengadopsi dan mengadaptasi dokumendan cara mengelola kelas secara umum, guru juga belum sepenuhnya melengkapi dokumen pengelolaan kelas mereka, mereka setuju bahwa guru harus mengelola kelas secara baik dan tepat agar dalam menunjang dan mendukung pelaksanaan pembelajaran dengan baik.

Berdasarkan hasil observasi pra siklus peneliti terhadap pengelolaan kelas yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 10 Agustus 2019 oleh guru, diperoleh informasi/data bahwa masih ada guru yang belum mengelola kelas dengan komponen-komponennya. Walaupun sudah ada beberapa guru yang mengelola kelas tetapi pengelolaan kelas tersebut masih ada yang tidak sesuai dengan indikator. Dan dari hasil penilaian yang dilakukan diperoleh data rata-rata prosentase untuk semua indikator mengelola kelas adalah 46% dan rata-rata hasil nilai guru adalah 79. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.1. dan tabel 4.2.

Dari penilaian peningkatan kemampuan guru dalam mengelola kelas yang dilakukan sebelum pelaksanaan siklus diketahui bahwa hasilnya masih sangat rendah terbukti dari data perolehan di atas.

Deskripsi Penelitian Siklus 1

Siklus I Pertemuan ke-1 dilaksanakan pada hari Selasa, 10 September 2019

Siklus pertama pertemuan ke-1 ini terdiri dari empat tahap yakni: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada siklus 1 pertemuan ke-2 diperoleh data masing-masing indikator penelitian.

Refleksi

Berdasarkan data yang diperoleh pada siklus 1 pertemuan ke 1-2 dapat dikatakan bahwa terjadi peningkatan untuk masing-masing indikator penelitian dari kegiatan pra siklus ke siklus 1. Dan dari hasil penilaian yang dilakukan diperoleh data rata-rata prosentase untuk semua indikator mengelola kelas adalah 71% dan rata-rata hasil nilai guru adalah 89. Untuk nilai yang diperoleh setiap responden sudah baik yaitu diatas nilai 75, tetapi untuk perolehan nilai pada masing-masing indikator penilaian terdapat beberapa indikator yang belum mencapai target atau indikator keberhasilan sebesar 75%. Maka dari itu dilakukan penelitian lagi dengan tahap yang sama seperti pada siklus 1 pertemuan ke-2 yang akan dilakukan pada siklus II sehingga semua indikator dapat tercapai sesuai dengan indikator keberhasilan.

Deskripsi Penelitian Siklus II

Siklus II Pertemuan ke-1 dilaksanakan pada hari Selasa, 24 September 2019

Siklus pertama terdiri dari empat tahap yakni: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi seperti berikut ini.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada siklus II diperoleh data masing-masing indikator penelitian. Untuk lebih jelasnya.

Refleksi

Berdasarkan data yang diperoleh pada siklus 1 dapat dikatakan bahwa terjadi peningkatan untuk masing-masing indikator penelitian dari kegiatan siklus I ke siklus II. Dan dari hasil penilaian yang dilakukan diperoleh data rata-rata prosentase untuk semua indikator mengelola kelas adalah 93% dan rata-rata hasil nilai guru adalah 98. Untuk nilai yang diperoleh setiap responden sudah sangat baik yaitu di atas nilai 75 dan perolehan nilai pada masing-masing indikator penilaian sudah mencapai target atau prosentase nilai melebihi indikator keberhasilan sebesar 75%. Maka dari itu dilakukan penelitian cukup sampai pada siklus II karena nilai sudah mencapai indikator pencapaian. Dan penelitian dikatakan berhasil serta metode yang digunakan sangat efektif dan sesuai.

Berdasarkan data dari pra siklus, siklus I, dan siklus II dapat diketahui bahwa setiap siklus mengalami peningkatan untuk masing-masing indikator komponen mengelola kelas yaitu sebesar 75%. Dan dari data akhir yang diperoleh dari siklus II rata-rata prosentase kemampuan guru dalam mengelola kelas di SD Negeri Saradan 1 adalah 98 dengan prosentase 93% sudah memenuhi indikator keberhasilan yaitu sebesar 75%.

Dari data yang diperoleh dari pra siklus, siklus I, dan siklus II dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan guru dalam mengelola kelas di SD Negeri Saradan 1 pada tahun 2019/2020. Hal ini dikarenakan penggunaan teknik supervisi individual yang dilakukan oleh Kepala Sekolah di SD Negeri Saradan 1 terhadap para guru dalam mengelola kelas dapat meningkat dengan baik.

PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan hasil Penelitian Tinadakan Sekolah (PTS) dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Teknik supervisi individual dapat meningkatkan motivasi guru dalam mengelola kelas dengan tepat. Guru menunjukkan keseriusan dalam mengelola kelas apalagi setelah mendapatkan bimbingan pengembangan/ penyusunan mengelola kelas dari peneliti. Informasi ini peneliti peroleh dari hasil pengamatan pada saat mengadakan wawancara dan bimbingan mengelola kelas kepada para guru.
  2. Teknik supervisi individual dapat meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola kelas. Hal itu dapat dibuktikan dari hasil observasi /pengamatan yang memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan guru dalam mengelola kelas dari pra siklus, siklus I dan siklus II. Pada pra siklus nilai rata-rata komponen mengelola kelas 79 dengan prosentase 46%, siklus I nilai rata-rata komponen mengelola kelas 89 dengan prosentase 71% dan pada siklus II 98 dengan prosentase 93%. Jadi, terjadi peningkatan kemampuan dalam mengelola kelas dari masing-masing siklus dan pada tiap-tiap indikator
 

Saran

Telah terbukti bahwa dengan teknik supervisi individual dapat meningkatkan motivasi dan kemampuan guru dalam mengelola kelas. Oleh karena itu, peneliti menyampaikan beberapa saran sebagai berikut:

  1. Motivasi yang sudah tertanam khususnya dalam mengelola kelas hendaknya terus dipertahankan dan ditingkatkan/ dikembangkan.
  2. Mengelola kelas yang dilaksanakan hendaknya mengandung komponen-komponen mengelola kelas secara lengkap dan baik karena mengelola kelas merupakan acuan/pedoman dalam membuat peserta didik nyaman yang nantinya menentukan proses pembelajaran.
  3. Beberapa dokumen mengelola kelas hendaknya dibuat minimal dua rangkap, satu untuk arsip sekolah dan satunya lagi untuk pegangan guru dalam mengelola kelas.

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2003. UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Jakarta: Depdiknas.

  1. Standar Kompetensi Guru Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas.
  2. UU RI No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta: Depdiknas.
  3. Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Depdiknas.

Kemendiknas. 2010. Penelitian Tindakan Sekolah. Jakarta.

  1. Teknik supervisi individual. Jakarta.

Suparlan. 2005. Menjadi Guru Efektif. Yogyakarta: Hikayat Publishing.

  1. Guru Sebagai Profesi. Yogyakarta: Hikayat Publishing.

Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi kedua