PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA CEPAT

DAN EFEKTIF SISWA MELALUI PENINGKATAN

PENGUASAAN KOSAKATA

Supriyono

Lektor FKIP Universitas Terbuka UPBJJ Purwokerto

ABSTRAK

Membaca cepat dan efektif merupakan teknik membaca yang mengutamakan kecepatan, dengan tidak meninggalkan pemahaman terhadap aspek bacaannya.Terdapat dua aspek pokok dalam membaca cepat dan efektif, yaitu kecepatan yang memadai dan persentase pemahaman yang tinggi. Dua aspek inilah yang menjadi kunci membaca cepat dan efektif. Banyak faktor yang dimungkinkan mempengaruhi kemampuan membaca cepat dan efektif seseorang, di antaranya adalah penguasaan kosakata yang dimilikinya. Dengan kata lain, peningkatan kemampuan membaca cepat dan efektif dapat dilakukan melalui peningkatan penguasaan kosa kata. Penguasaan kosa kata mempunyai peran penting dalam meningkatkan kemampuan membaca cepat dan efektif, dikarenakan dengan penguasaan kosakata yang memadai, seorang pembaca akan dapat membaca dan memahami materi bacaan yang kosakatanya sudah dikuasainya. Sebaliknya, jika banyak kosakata yang belum pernah didengar atau tidak dipahaminya, maka hal ini akan menghambat kecepatan dan pemahaman membacanya

Kata kunci: kemampuan membaca cepat dan efektif, penguasaan kosa kata.


PENDAHULUAN

Kemampuan membaca yang tinggi menjadi syarat bagi setiap pelajar dalam memburu ilmu pengetahuan di sekolah. Hal ini bukan lagi tuntutan yang berlebih, mengingat jumlah buku semakin mening-kat pesat sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini. Dari balik kedua sampul bukulah informasi pengetahuan itu kebanyakan diserap oleh siswa. Dari sini dapat dimaklumi bila ada tuntutan untuk selalu meningkatkan kemampuan memba-ca itu.

Daya baca yang tinggi diperoleh dari pengetahuan tentang cara membaca yang baik dan pengembangan yang terus menerus. Membaca bukanlah sekedar kemampuan mengenal kata dan kalimat. Ada teori khusus yang sejak lama dikembangkan oleh para ahli untuk meningkatkan daya baca. Dari sisi inilah, penulis melihat sesuatu yang kurang mendapat perhatian di lingkungan sekolah lanjutan, yaitu pengajaran membaca lanjut. Bahwa anak didik kurang mendapat bim-bingan dalam meningkatkan daya bacanya. Padahal ini merupakan modal pengem-bangan ilmu lebih lanjut melalui kegiatan membaca, membaca, dan membaca.

Salah satu materi pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah adalah membaca cepat dan efektif. Membaca cepat dan efektif merupakan membaca yang mengutamakan kecepatan, dengan tidak meninggalkan pemahaman terhadap aspek bacaannya (Nurhadi, 2012: 31). Jadi, terdapat dua aspek pokok dalam membaca cepat dan efektif, yaitu kecepatan yang memadai dan persentase pemahaman yang tinggi. Dua aspek inilah yang menjadi kunci jenis membaca cepat dan efektif.

Pada umumnya siswa tidak sadar dengan masalah membacanya. Kebanyakan siswa telah puas dengan kondisi kemampuan membacanya, baik dalam kecepatan maupun dalam tingkat pemahamannya. Padahal, secara teoretis kecepatan dan pemahaman terhadap bacaan itu bila ditelaah lebih lanjut ternyata belum maksimal. Ada beberapa masalah dan hambatan yang umum terjadi pada setiap siswa dalam kemampuan membacanya, di antaranya adalah rendahnya tingkat kecepatan membaca siswa dan rendahnya tingkat pemahaman siswa terhadap isi bacaan, yang secara komprehensif dikatakan kemampuan membacanya secara cepat dan efektif belum memadai.

Menurut Henry Guntur Tarigan (2010: 35-36) rendahnya kemampuan membaca cepat dan efektif siswa, dimungkinkan dipengaruhi oleh banyak faktor, baik dari dalam diri siswa itu sendiri (faktor internal) maupun faktor dari luar siswa (faktor eksternal). Penguasaan kosakata merupakan faktor internal dari diri siswa yang dimungkinkan berhubungan erat dengan kemampuan membaca cepat dan efektif siswa.

Nurhadi (2012: 37) menyatakan bahwa terdapat sinyalemen yang kuat bahwa kemampuan membaca cepat dan efektif siswa relatif masih rendah. Kondisi ini dimungkinkan berhubungan erat dengan penguasaan kosakata siswa yang relatif masih rendah pula. Berdasarkan adanya sinyalemen tersebut, penulis mencoba mengkaji secara teoretis peran dari pe-nguasaan kosakata terhadap peningkatan kemampuan membaca cepat dan efektif siswa.

TINJAUAN PUSTAKA

Hakikat Membaca

Jonathan Anderson (dalam Suwar-to dan St.Y. Slamet, 2011: 134-135) me-mandang membaca sebagai suatu proses untuk memahami makna suatu tulisan. Membaca merupakan suatu kesatuan kegi-atan yang terpadu yang mencakup menge-nali huruf dan kata-kata, menghubung-kannya dengan bunyi serta maknanya, serta menarik kesimpulan tentang maksud bacaan.

Menurut Hodgson (dalam Henry Guntur Tarigan, 2010: 7), membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta diper-gunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis. Suatu proses yang menuntut agar ke-lompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam suatu pandangan sekilas, dan agar makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui. Ketidakterpenuhan hal di atas, pesan yang tersurat dan yang tersirat tidak akan tertangkap atau dipahami dan proses membaca itu tidak terlaksana dengan baik

Menurut Frederick Mc.Donald (Nurhadi, 2012: 56), membaca merupakan suatu keterampilan yang menuntut suatu kemampuan serangkaian respons yang kompleks, berupa kognisi, sikap, afek, pemahaman, dan bukan sekadar perilaku motorik yang sederhana, yang dalam pengembangan keterampilannya perlu suatu proses yang terpadu (integrative) yang harus dilatih. Produk membaca adalah komunikasi, yaitu pemahaman tentang gagasan yang dituliskan oleh penulis. Komunikasi sangat bergantung pada pemahaman yang dipengaruhi oleh semua aspek dari proses membaca. Keterampilan pengenalan kata, aspek asosiasi dari proses membaca sangatlah penting. Namun proses pemahaman menyertakan proses yang lebih dari sekadar decoding simbol ke dalam bunyi, seperti membaca yang mengerti arti apa yang tersurat dan tersirat.

Sebagai suatu proses, membaca terdiri dari tahap-tahap yang saling ber-kaitan. Tahapan membaca hakikatnya terdiri dari lima tahapan utama yaitu: (1) mengidentifikasikan pernyataan tesis yang terdapat di dalam kalimat topik, (2) mengidentifikasikan kata-kata dan frasa-frasa kunci, (3) mencari kosakata baru, (4) mengenali organisasi tulisan, dan (5) mengidentifikasikan teknik pengembangan paragraf (Razif, dalam http://www.history.-uiuc.edu/mlove/eps312h315/eritieal/htm).

Bertolak dari uraian di atas, pembaca perlu memanfaatkan informasi, pengetahuan, perasaan, pengalaman, dan budaya yang dimilikinya sehingga dapat memaknai pesan-pesan yang terdapat dalam suatu bacaan dengan tepat. Selain itu, pembaca juga perlu memiliki strategi yang tepat untuk dapat menemukan pesan yang terkandung dalam bacaan. Strategi yang dimaksud dapat berbentuk membuat out line dan ringkasan dengan kata-kata sendiri, mencari kata kunci, mengidenti-fikasikan ide pokok, membuat catatan-catatan khusus, menggarisbawahi hal-hal yang dianggap penting atau pun membuat pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan bacaan. Membaca merupakan aktivitas komunikatif yang memiliki hubungan timbal balik antara pembaca dan isi teks, maka faktor-faktor seperti pendi-dikan, intelegensi, sikap, dan kemampuan berbahasa akan menentukan proses penyerapan bahan bacaan.

Menurut Suwaryono Wiryodijoyo (2013: 56-57), tujuan membaca kaitannya dengan materi bacaan, dapat dibedakan sebagai berikut:

1.   Untuk kesenangan, materi bacaannya adalah: roman, novel, cerpen, komik, dan sebagainya.

2.   Untuk penerapan praktis, materi baca-annya adalah: buku-buku petunjuk teknis, buku resep makanan, modul keterampilan, dan sebagainya.

3.   Mencari informasi khusus, materi bacannya adalah: buku petunjuk telepon, ensiklopedi, kamus, dan sebagainya.

4.   Mendapatkan gambaran umum, materi bacaannya adalah: buku-buku teori, buku-buku teks, essei, jurnal, dan sebagainya.

5.   Mengevaluasi secara kritis, materi bacaannya adalah: roman, novel, puisi, dan sebagainya.

Selanjutnya, tujuan membaca yang berkaitan dengan teknik membaca dapat dibedakan sebagai berikut:

1.   Menangkap butir-butir yang penting dan organisasi keseluruhan sebuah tu-lisan, strateginya adalah membaca survei.

2.   Mengetahui isi materi bahan bacaan dengan cepat, strateginya adalah membaca cepat.

3.   Memperkuat pemahaman dan memba-ca pikiran dengan menambah kece-patan membaca, strateginya adalah membaca frasa.

4.   Mengerti dengan jelas untuk meng-ingat informasi dan menggunakannya, strateginya adalah membaca teliti.

5.   Mengembangkan kemampuan konsen-trasi dan arti yang lebih dalam, strateginya adalah menyelidiki.

6.   Mencari keputusan (judgment) dan keterlibatan yang lebih dalam dengan analisis bunyi, strateginya adalah membaca kritis.

7.   Memperluas kesadaran dan penik-matan sastra, strateginya adalah mem-baca indah (Suwaryono Wiryodijoyo, 2013: 57-58).

Berdasarkan uraian tersebut di atas, dengan singkat dapat dikatakan bahwa tujuan membaca dipengaruhi oleh bahan bacaan. Dengan tujuan yang berbeda, orang memakai teknik yang berbeda pula. Oleh sebab itu, sebelum mulai membaca bahan bacaan, baik maja-lah, koran, atau buku, langkah pertama yang harus dilakukan ialah bertanya kepada diri sendiri: “mengapa saya membaca majalah, buku, koran, atau artikel ini?” dan “saya akan mendapatkan apa dari bahan bacaan ini?”. Dengan menjawab kedua pertanyaan ini, akan didapatkan gambaran yang jelas apa yang harus dilakukan.

Pengertian Membaca Cepat dan Efektif

Berkaitan dengan membaca cepat dan efektif, Nurhadi (2012: 31-32) menyatakan bahwa membaca cepat dan efektif ialah jenis membaca yang mengutamakan kecepatan, dengan tidak meninggalkan pemahaman terhadap aspek bacaannya. Jika seorang membaca sebuah buku dengan ketebalan 250 halaman (sekitar 30.000 kata) dalam waktu satu jam, maka ia termasuk pembaca cepat. Kecepatan membaca tersebut mendekati ideal yaitu lebih dari 500 kata tiap menit. Dan bila kemudian siswa tersebut dites dengan perangkat tes membaca yang diambil dari buku tersebut dan mampu menjawab benar 75% atau lebih, maka ia tersebut termasuk pembaca yang efektif. Jadi, terdapat dua aspek pokok dalam membaca cepat dan efektif, yaitu kecepatan yang memadai dan persentase pemahaman yang tinggi. Dua aspek inilah yang menjadi kunci jenis membaca cepat dan efektif.

Bertolak dari uraian di atas, maka dapat dikatakan bahwa:

1.   Membaca cepat artinya membaca yang mengutamakan kecepatan dengan tidak mengabaikan pemahamannya. Bi-asanya kecepatan itu dikaitkan dengan tujuan membaca, keperluan, dan ba-han bacaan. Artinya, seorang pembaca cepat yang baik, tidak menerapkan kecepatan membacanya secara konstan di berbagai cuaca dan keadaan membaca. Penerapan kemampuan membaca cepat itu disesuaikan dengan tujuan membacanya, aspek bacaan yang digali (keperluan), dan berat ringannya bahan bacaan.

2.   Efektif artinya, peningkatan kecepatan membaca itu harus diikuti pula oleh peningkatan pemahaman terhadap bacaan. Pembaca yang efektif dan kritis tahu tentang apa yang perlu digalinya dari bahan bacaan secara cepat, mengabaikan unsur-unsur yang kurang penting, serta membuang hal-hal yang tak diperlukan. Pada bebera-pa kasus terbukti bahwa peningkatan kecepatan membaca akan diikuti oleh persentase pemahaman terhadap bacaan.

Seorang pembaca cepat tidak berarti menerapkan kecepatan membaca itu pada setiap keadaan, suasana, dan jenis bacaaan yang dihadapinya. Dia tahu kapan harus maju dengan kecepatan tinggi, kapan harus mengerem, kapan harus berhenti sejenak, untuk kemudian melaju lagi, dan seterusnya. Menurut Soedarso (2010: 19) seorang pembaca cepat yang efektif itu ibarat seorang sopir mobil. Pada keadaan jalan yang lurus tanpa hambatan, ia akan melaju dengan kecepatan optimal. Akan tetapi, ketika dilihatnya ada seorang penumpang yang ingin ikut menumpang, secara otomatis ia memperlambat laju mobilnya untuk membawa penumpang tersebut. Di sini sopir sadar bahwa untuk mengambil penumpang tersebut tidak mungkin dengan kecepatan tinggi, lalu dihentikannya mobil itu. Demikian pula ,jika jalan yang dilalui dalam kondisi menurun, menaik, membelok, menyempit, dan sebagainya. Sopir yang baik tahu mengoordinasikan mata, tangan, dan kakinya sesuai dengan keadaan jalan, sehingga mobil dapat berjalan dengan baik, dan penumpangnya sampai di tujuan dengan selamat. Apa yang dimaksud dengan membaca cepat dan efektif tidak lepas dari realitas seorang sopir tadi.

Seorang pembaca efektif melihat setiap baris bacaan hanya pada satuan-satuan pikiran yang ada. Biasanya berupa frase-frase, klausa-klausa, atau kata-kata kunci. Jadi, bagian bacaan yang dilihat semakin sedikit. Akibatnya, perpindahan gerak mata semakin cepat, dan pada akhirnya kecepatan membaca dapat ditingkatkan. Ia tidak memahami kata demi kata sesuai dengan makna aslinya (dalam kamus), tetapi melihat makna kata sesuai dengan konteks kalimatnya. Dengan demikian, pemahaman juga dapat ditingkatkan. Namun, perlu diingat pula bahwa seorang pembaca cepat itu tidak harus membaca dengan kecepatan tinggi terus-menerus sepanjang bacaan. Kecepatan itu bervariasi, tergantung pada tujuan, keperluan membaca, dan keadaan bacaannya. Jika dalam bacaan tidak dijumpai hal-hal yang dianggap penting, mata dapat terus melaju dengan kecepatan tinggi, sampai dirasa ada hal yang perlu diambil. Sampai di sini baru kecepatan itu dikurangi. Demikian pula untuk tujuan membaca yang berbeda, kecepatan membaca itu berbeda-beda pula (Nurhadi, 2012: 34-35).

Penguasaan Kosakata

Pius Abdillah P. dan M. Dahlan Al Barry (2012: 309) mengartikan kosakata sebagai “perbendaharaan kata”, dengan demikian maka penguasaan kosakata dapat diartikan sebagai tingkat penguasaan seseorang terhadap perbendaharaan kata-kata di dalam bahasa Indonesia.

Tujuan mempelajari kata-kata baru ialah untuk mengingat kata-kata tersebut sehingga dapat menggunakannya dalam percakapan, tulisan, maupun dapat memahami kala menemuinya dalam tulisan ataupun dalam percakapan. Cara yang paling baik dalam memperkembangkan kosakata ialah seperti di bawah ini:

1.   Tulis kata-kata baru tersebut pada kertas ukuran 5 x 8 cm.

2.   Tuliskanlah arti kata tersebut pada halaman sebaliknya, dan disertai contoh penggunaannya dalam kalimat lisan maupun tertulis.

3.   Gunakanlah kata tersebut dalam setiap kesempatan baik dalam tulisan, diskusi, rapat, pidato, dan sebagainya dengan kalimat yang benar (Suwaryono Wiryodijoyo, 2013: 125-126).

Tidak dapat diingkari bahwa makin sulit dan makin banyak materi yang terdapat pada sesuatu tulisan tentu makin banyak pula kata-kata atau istilah yang dipergunakan di dalamnya. Pemahaman seseorang terhadap apa yang dibacanya ditentukan oleh beberapa banyak kosakata yang dimilikinya.

Menurut Henry Guntur Tarigan (2010: 120), upaya memperbesar daya kata hanya dapat berhasil dengan baik bila diikuti oleh upaya mengembangkan serta memperkaya kosakata, terlebih-lebih kosakata yang ada kaitannya dengan kritik (atau criticism). Kita tahu bahwa pembaca yang baik adalah pembaca yang kritis. Agar menjadi seorang pembaca yang kritis, maka kita harus memiliki kosakata kritis yang memadai. Ini syarat minimal, semakin kaya kosa kata maka akan semakin baik.

Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2011: 6), kerap kali peralihan ragam itu berkisar pada pemilihan sejumlah kata atau ungkapan yang khusus digunakan dalam bidang atau dalam pembahasan pokok persoalan yang bersangkutan. Misalnya, akidah, akada nikah, biara, pedanda (agama); kuorum, pemilihan umum, partai (politik); atom, inflasi, pembelahan inti, fonem, fosil (ilmu); penyulingan, beton pratekan (teknologi); baut, dongkrak (pertukangan); pialang, konsumen, cek (perdagangan); ikon, stupa, naturalisme (seni rupa); sajak, alur, sorot balik, rima (seni sastra); gelandang, sundulan, gaya kupu-kupu (olah raga); pidana, perdata, mahkamah (perundang-undangan); panglima, saptamarga, satuan tugas, kapal selam (angkatan bersenjata). Materi bacaan terdiri dari berbagai macam kosa kata.

Menurut Soedarso (2010: xiv), kecepatan dan keefektifan membaca se-seorang tergantung pada bahan dan tujuan membacanya, dan sejauh mana keakraban pembaca dengan bahan bacaan tersebut. Kecepatan seseorang harus seiring dengan kecepatan dalam memahami bacaan itu.

Metode kosakata adalah metode mengembangkan kecepatan membaca melalui pengembangan kosakata. Artinya, metode ini mengarahkan perhatian padaaspek perbendaharaan kata seorang pembaca. Bagaimana caranya? Kosakata seseorang itu terbatas jumlahnya, dan akan selalu berkembang terus sesuai dengan kemampuannya menambah kosa-kata baru dengan cepat dan dalam jumlah yang banyak. Inilah prinsip metode kosakata tersebut. Dasar pikiran metode ini sudah jelas, yaitu semakin besar dan semakin banyak perbendaharaan kata seseorang, semakin tinggi kecepatan membacanya (Yuliati, dalam: http:/www. suaramerdeka.com/harian/0802/10/nas11.htm)..

Akan tetapi, tampaknya metode ini tidak banyak dipakai orang. Sebab nyatanya perbendaharaan kata yang besar tidak menjamin kecepatan membaca seseorang. Atau dengan kata lain, peningkatan jumlah kosakata baru belum tentu diikuti oleh kecepatan membacanya. Yang mungkin terjadi ialah bahwa kekayaan akan kosakata akan menjamin kelancaran mencerna setiap kata yang dibaca seseorang. Akan tetapi, sebagai sarana penunjang, tidak ada jeleknya sarana meode ini dikuti, yaitu belajar menambah perbendaharaan kosakata terus-menerus melalui media bacaan baru (Nurhadi, 2011: 54).

Menurut Soedarso (2010: 124-126) usaha orang dewasa belajar kosakata baru sama dengan semasa kanak-kanak tatkala anak baru belajar membaca. Orang berusaha mengenali atau menemukan arti kata yang sebenarnya, baru kemudian setelah mengenali kata-kata itu masing-masing, orang memahaminya sebagai sebuah hal (dalam konteks).

Apabila membaca teks yang banyak kosakata barunya, banyak pembaca yang terlalu sering cepat memutuskan melihat kamus apabila menghadapi kata-kata sukar atau kata-kata baru. Cara-cara seperti itu tidak efektif. Pada waktu membaca, disarankan untuk tidak sebentar-bentar melihat jamus karena dapat mengganggu konsentrasi dan memperlambat membaca. Jika mendapati kosakata baru, diusahakan untuk mengetahui artinya dalam konteks. Tebak dan kaitkan dengan pengertian bacaan. Jika belum juga diketahui, catat dalam ingatan, dan teruskan membaca. Percayalah pada pertemuan pertama mungkin kurang jelas. Pertemuan kedua, ada titik terang. Pertemuan ketiga, akan lebih jelas, dan seterusnya. Akan tetapi ingat, Anda harus memperhatikan kata baru itu. Bila tidak, kata itu tentu saja akan lenyap dengan sendirinya, dan tidak ada artinya (Hidayat, dalam http://www. mdk12.org./practices/good_instruction/ projecbetter/ elangarts/ela-62-63.html).

Semakin akrab dengan paragraf, orang semakin kurang tergantung pada kata-kata secara individual dan semakin cepat memahami arti. Hendaknya orang perlu ingat, halaman cetak itu tidak memuat kata, tetapi warna, laku (action), ide, gagasan, pikiran, dan perasaan. Oleh karena itu, jangan terpaku pada kata. Jarang paragraf kehilangan pengertian karena suatu kata yang tak dimengerti. Jika ada kata sukar, cari pengertiannya dalam konteks, hubungkan. Jika gagal, dan kata itu memang vital, tulis di kertas untuk dilihat nanti (Ramlan, 2001).

Semasa kecil orang cepat menam-bah perbendaharaan kata dibanding tahun-tahun berikutnya. Semakin dewasa penambahan semakin berkurang, kecuali kalau orang banyak membaca dan semakin banyak variasi bacaannya. Di Amerika Serikat, untuk bahasa ibu penguasaan kata dasar pada anak dapat dibedakan dalam tiga jenjang berikut: (1) umur 4 tahun 5.000 kata dasar; (2) umur 7 tahun 20.000 kata dasar; dan umur 10 tahun 35.000 kata dasar. Umur 6-10 tahun pertambahan kata dapat sampai ribuan per tahunnya, mesti tanpa usaha khusus. Umur 20-an hanya 100, kecuali memang banyak membaca.Untuk menambah perbendaharaan kosakata, dapat dilakukan dengan dua cara:

1.   Membaca dan membaca. Dengan banyak membaca dan semakin bervariasi jenis bacaan serta dengan membaca lebih cepat, banyak kata yang akan dibaca dan lebih banyak kata yang dimengerti, yang akan selalu bertemu kembali sehingga akrab.

2.   Dengan memakai sistem tertentu yang berhubungan dengn pembentukan kosa kata (vocabulary building) (Nurhadi, 2011: 75).

Menurut Effendi (2011: 17), orang yang tidak mendapat latihan khusus terlalu banyak membuang waktu untuk menyerap tiap kata dan tanda-tanda baca dalam struktur kalimat. Suatu kalimat tak akan kehilangan arti apabila beberapa kata di antaranya dihilangkan. Kata-kata yang mestinya dapat dihilangkan inilah yang sering menjadi penghambat dalam membaca atau menjadi redundansi. Dalam membaca, mestinya kata-kata seperti itu tidak usaha dihiraukan sehingga dengan demikian cara membaca kita menjadi lebih cepat.

Suatu kalimat tak akan kehilangan arti apabila beberapa kata di antaranya dihilangkan. Kata-kata yang mestinya dapat dihilangkan inilah yang sering menjadi penghambat dalam membaca atau menjadi redundansi. Dalam membaca mestinya kata-kata seperti itu tak usaha dihiraukan, sehingga dengan demikian cara membaca kita menjadi lebih cepat (23 dari 47 kata).

Dalam membaca, terkadang orang dapat mengabaikan usunan kata. Kemam-puan menyerap ide tidak tergantung kemampuan ingatan mengikuti susunan kata, bahkan otak kita dapat menyerap ide tersebut tanpa menghiraukan susunan katanya.

Beberapa kata dalam kalimat memang sama sekali tidak dapat dikurangi atau diubah, terutama susunan kata yang sangat penting, sebab dapat berubah artinya misalnya: Anjing menggigit Nani. Hal ini akan kacau artinya apabila susunan kata dalam kalimat tersebut kita ubah, misalnya: Nani menggigit anjing. Akan tetapi, pada kalimat tertentu tidak usah dihiraukan susunan katanya, misalnya: Nana sudah makan. Apalagi jika kalimat itu kita baca dalam konteks, misalnya sebelum kalimat itu ada pertanyaan “Nana sudah apa?” Dalam sekejap, otak kita dapat menginterprestasikan dengan tepat sekali-pun kita hanya memperhatikan kata makan.

Baik dalam bahasa lisan maupun bahasa tulisan, banyak terdapat informasi tambahan. Misalnya, “Budi sini”, cukup. Karena pertimbangan tertentu perlu diucapkan, “Budi, tolong dong kamu ke sini”. Dalam membaca, kita dapat langsung pada kata kuncinya.

Untuk mengerti suatu bacaan, orang dewasa tidak perlu seperti anak. Orang dewasa dapat mengerti kalimat, paragraf, wacana tanpa membaca keseluruhan seperti yang dilakukan anak. Orang dewasa tidak hanya mampu menghilangkan kata, bahkan dapat menghilangkan frase misalnya, atau suatu kalimat dari paragraf, atau malah paragraf dari suatu bacaan, tanpa kehilangan arti.

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBA-CA CEPAT DAN EFEKTIF MELALUI PENINGKATAN PENGUASAAN KOSA KATA

Pada dasarnya belajar bahasa berarti belajar berkomunikasi dengan menggunakan bahasa itu. Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa dapat bersifat langsung dan tidak langsung, dapat bersifat produktif (menghasilkan bahasa, seperti berbicara dan menulis), dan reseptif (menerima bahasa yang dihasilkan penutur, seperti menyimak dan membaca).

Membaca sebagai salah satu aspek kemampuan berbahasa, merupakan bentuk komunikasi bahasa yang bersifat tidak langsung dan reseptif. Tidak langsung artinya komunikasi yang berlangsung antara penulis dan pembaca dilakukan melalui sarana tulisan yang berupa teks bacaan sehingga antara penulis dan pembaca tidak saling bertatap muka, sedang reseptif berarti menerima informasi dari sumber komunikasi yang berbentuk tulisan (bacaan). Dengan kata lain, pada waktu membaca, pembaca berupaya memahami dan menyerap makna bahasa yang terkomunikasikan.

Telah dipaparkan sebelumnya, bahwa kemampuan membaca yang tinggi menjadi syarat bagi setiap pelajar dalam memburu ilmu pengetahuan di sekolah. Hal ini bukan lagi tuntutan yang berlebih, mengingat jumlah buku semakin mening-kat pesat sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini. Dari balik kedua sampul bukulah informasi pengetahuan itu kebanyakan diserap oleh siswa. Dari sini dapat dimaklumi bila ada tuntutan untuk selalu meningkatkan kemampuan memba-ca itu.

Daya baca yang tinggi diperoleh dari pengetahuan tentang cara membaca yang baik dan pengembangan yang terus menerus. Membaca bukanlah sekedar kemampuan mengenal kata dan kalimat. Ada teori kusus yang sejak lama dikembangkan oleh para ahli untuk meningkatkan daya baca. Dari sisi inilah penulis melihat sesuatu yang kurang mendapat perhatian di lingkungan sekolah dasar, yaitu pengajaran membaca lanjut. Bahwa anak didik kurang mendapat bimbingan dalam meningkatkan daya bacanya. Padahal ini merupakan modal pengembangan ilmu lebih lanjut melalui kegiatan membaca, membaca, dan membaca.

Seorang pembaca cepat yang efektif itu ibarat seorang sopir mobil. Pada keadaan jalan yang lurus tanpa hambatan, ia akan melaju dengan kecepatan optimal. Akan tetapi, ketika dilihatnya ada seorang penumpang yang ingin ikut menumpang, secara otomatis ia memperlambat laju mobilnya untuk membawa penumpang tersebut. Di sini sopir sadar bahwa untuk mengambil penumpang tersebut tidak mungkin dengan kecepatan tinggi, lalu dihentikannya mobil itu. Demikian pula jika jalan yang dilalui dalam kondisi menurun, menaik, membelok, menyempit, dan sebagainya. Sopir yang baik tahu mengoordinasikan mata, tangan, dan kakinya sesuai dengan keadaan jalan, sehingga mobil dapat berjalan dengan baik, dan penumpangnya sampai di tujuan dengan selamat. Apa yang dimaksud dengan membaca cepat dan efektif tidak lepas dari realitas seorang sopir tadi.

Dalam kegiatan membaca, khusus-nya membaca cepat dan efektif, pembaca perlu meningkatkan penguasaan kosa kata. Tidak dapat diingkari bahwa makin sukar dan makin banyak materi yang terdapat pada sesuatu tulisan tentu makin banyak pula kata-kata atau istilah yang dipergunakan di dalamnya. Pemahaman seseorang terhadap apa yang dibacanya ditentukan oleh beberapa banyak kosa kata yang dimilikinya. Penguasaan kosakata merupakan tingkat penguasaan seseorang terhadap perbendaharaan kata-kata yang senantiasa berkembang. Tujuan mempe-lajari kata-kata baru ialah untuk mengingat kata-kata tersebut sehingga dapat meng-gunakannya dalam percakapan, tulisan, maupun dapat memahami kala mene-muinya dalam tulisan ataupun dalam percakapan. Makin banyak materi yang terdapat pada sesuatu tulisan tentu makin banyak pula kata-kata atau istilah yang dipergunakan didalamnya.

Hubungan kosakata dengan kece-patan membaca tentu mudah dimengerti. Bilamana pembaca menghadapi bahan bacaan yang semua kata-katanya telah diketahui, tentu dia dapat membaca dengan kecepatan yang maksimal tanpa terganggu pemahamannya. Sebaliknya, apabila di dalam bacaan terdapat beberapa kata atau istilah yang tidak dikenal artinya, maka hal ini tentu menghambat kecepatan bacanya. Tambahan kosakata pada seseorang terjadi waktu dia mendengar dari guru atau mempelajari sesuatu yang baru. Oleh karena itu, penambahan kosa kata dengan cara yang efisien ditekankan pula dalam latihan membaca cepat.

Pengusaan kosakata juga dimungkinkan berhubungan dengan kemampuan membaca cepat dan efektif, dikarenakan dengan penguasaan kosakata yang memadai, seorang pembaca akan dapat membaca dan memahami materi bacaan yang kosakatanya sudah dikuasainya. Sebaliknya, jika banyak kosakata yang belum pernah didengar atau tidak dipahaminya, maka hal ini akan menghambat kecepatan dan pemahaman membacanya.Dari uraian tersebut, maka dapat diduga adanya hubungan antara penguasaan kosakata dengan kemampuan membaca cepat dan efektif.

Tujuan mempelajari kata-kata baru ialah untuk mengingat kata-kata tersebut sehingga dapat menggunakannya dalam percakapan, tulisan, maupun dapat memahami kala menemuinya dalam tulisan ataupun dalam percakapan. Cara yang paling baik dalam memperkembangkan kosa kata ialah: (1) menuulis kata-kata baru tersebut pada kertas; (2) menuliskan arti kata tersebut pada halaman sebalik-nya, dan disertai contoh penggunaannya dalam kalimat lisan maupun tertulis; dan (3) menggunakan kata tersebut dalam setiap kesempatan baik dalam tulisan, diskusi, rapat, pidato, dan sebagainya dengan kalimat yang benar.

Upaya memperbesar daya kata hanya dapat berhasil dengan baik bila diikuti oleh upaya mengembangkan serta memperkaya kosakata, terlebih-lebih kosakata yang ada kaitannya dengan kritik (atau criticism). Pembaca yang baik adalah pembaca yang kritis. Agar menjadi seorang pembaca yang kritis, maka seseorang harus memiliki kosakata kritis yang memadai. Ini syarat minimal, semakin kaya kosa kata maka akan semakin baik.

Metode kosakata adalah metode mengembangkan kecepatan membaca melalui pengembangan kosakata. Artinya, metode ini mengarahkan perhatian pada aspek perbendaharaan kata seorang pembaca. Kosakata seseorang itu terbatas jumlahnya, dan akan selalu berkembang terus sesuai dengan kemampuannya me-nambah kosakata baru dengan cepat dan dalam jumlah yang banyak. Inilah prinsip metode kosakata tersebut. Dasar pikiran metode ini sudah jelas, yaitu semakin besar dan semakin banyak perbendaharaan kata seseorang, semakin tinggi kecepatan membacanya.

Akan tetapi, tampaknya metode ini tidak banyak dipakai orang. Sebab nyatanya perbendaharaan kata yang besar tidak menjamin kecepatan membaca seseorang. Atau dengan kata lain, peningkatan jumlah kosakata baru belum tentu diikuti oleh kecepatan membacanya. Yang mungkin terjadi ialah bahwa kekayaan akan kosakata akan menjamin kelancaran mencerna setiap kata yang dibaca seseorang. Akan tetapi, sebagai sarana penunjang, tidak ada jeleknya sarana meode ini dikuti, yaitu belajar menambah perbendaharaan kosakata terus-menerus melalui media bacaan baru.

Usaha orang dewasa belajar kosa-kata baru sama dengan semasa kanak-kanak tatkala anak baru belajar membaca. Orang berusaha mengenali atau menemu-kan arti kata yang sebenarnya, baru kemudian setelah mengenali kata-kata itu masing-masing, orang memahaminya sebagai sebuah hal (dalam konteks).

Apabila membaca teks yang banyak kosakata barunya, banyak pemba-ca yang terlalu sering cepat memutuskan melihat kamus apabila menghadapi kata-kata sukar atau kata-kata baru. Cara-cara seperti itu tidak efektif. Pada waktu membaca, disarankan untuk tidak sebentar-bentar melihat jamus karena dapat mengganggu konsentrasi dan memperlambat membaca. Jika mendapati kosakata baru, diusahakan untuk mengetahui artinya dalam konteks. Tebak dan kaitkan dengan pengertian bacaan. Jika belum juga diketahui, catat dalam ingatan, dan teruskan membaca. Percayalah pada pertemuan pertama mungkin kurang jelas.

Semakin akrab dengan paragraf, orang semakin kurang tergantung pada kata-kata secara individual dan semakin cepat memahami arti. Hendaknya orang perlu ingat, halaman cetak itu tidak memuat kata, tetapi warna, laku (action), ide, gagasan, pikiran, dan perasaan. Oleh karena itu, jangan terpaku pada kata. Jarang paragraf kehilangan pengertian karena suatu kata yang tak dimengerti. Jika ada kata sukar, cari pengertiannya dalam konteks, hubungkan. Jika gagal, dan kata itu memang vital, tulis di kertas untuk dilihat nanti.

Semasa kecil orang cepat menambah perbendaharaan kata dibanding tahun-tahun berikutnya. Semakin dewasa penambahan semakin berkurang, kecuali kalau orang banyak membaca dan semakin banyak variasi bacaannya. Di Amerika Serikat, untuk bahasa ibu penguasaan kata dasar pada anak dapat dibedakan dalam tiga jenjang berikut: (1) umur 4 tahun 5.000 kata dasar; (2) umur 7 tahun 20.000 kata dasar; dan umur 10 tahun 35.000 kata dasar. Umur 6-10 tahun pertambahan kata dapat sampai ribuan per tahunnya, mesti tanpa usaha khusus. Umur 20-an hanya 100, kecuali memang banyak membaca.Untuk menambah perbendahara-an kosakata, dapat dilakukan dengan dua cara membaca dan membaca. Dengan banyak membaca dan semakin bervariasi jenis bacaan serta dengan membaca lebih cepat, banyak kata yang akan dibaca dan lebih banyak kata yang dimengerti, yang akan selalu bertemu kembali sehingga akrab.

Beberapa uraian di atas menunjuk-kan bahwa kemampuan membaca cepat dan efektif dapat diupayakan melalui peningkatan penguasaan kosakata.

PENUTUP

Hakikat kemampuan membaca cepat dan efektif adalah kemampuan seseorang dalam membaca secara cepat, dengan tidak meninggalkan pemahaman terhadap aspek bacaannya. Selanjutnya hakikat penguasaan kosakata merupakan tingkat penguasaan seseorang terhadap perbendaharaan kata yang senantiasa berkembang.

Penguasaan kosakata mempunyai peran penting dalam meningkatkan kemampuan membaca cepat dan efektif, dikarenakan dengan penguasaan kosakata yang memadai, seorang pembaca akan dapat membaca dan memahami materi bacaan yang kosakatanya sudah dikuasainya. Sebaliknya, jika banyak kosakata yang belum pernah didengar atau tidak dipahaminya, maka hal ini akan menghambat kecepatan dan pemahaman membacanya.

Guna meningkatkan kemampuan membaca cepat dan efektif siswa melalui peningkatan penguasaan kosakata, guru harus dapat mengarahkan siswa untuk mempunya penguasaan kosakata yang memadai, yang dapat ditingkatkan dalam proses pembelajaran, baik melalui penjelasan guru, pemberian kesempatan bertanya tentang kosakata yang sulit, maupun melalui pemberian tugas-tugas rumah yang berkaitan dengan peningkatan penguasaan kosakata siswa. Selanjutnya sekolah perlu melengkapi buku-buku di koleksi perpustakaannya, dengan berbagai jenis dan ragam untuk menopang penguasaan kosa kata siswa, yang pada akhirnya diharapkan berdapampak positif pada peningkatan kemampuan membaca cepat dan efektifnya. Begitu pula siswa disarankan untuk senantiasa berupaya meningkatkan kemampuan membaca cepat dan efektifnya, dengan meningkatkan penguasaan kosa katanya melalui membaca.

DAFTAR PUSTAKA

Effendi. (2011). “PeningkatanMutu Tenaga Kebahasaan dalam Pembinaan Bahasa Indonesia”. Jurnal BahaSa & Sastra Volume 4 Nomor 1, Mei 2002, halaman 12-13.

Henry Guntur Tarigan. (2010). Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Hidayat. (2008). Strategi Belajar Bahasa Indonesia. Diunduh dari (http://www. mdk12.org./practices/good_instruction/projecbetter/elangarts/ela-62-63.html) Tanggal 10 September 2014 Pukul 22:45.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2011). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia). Cetakan Kesepuluh. (Jakarta: Balai Pustaka).

Nurhadi. (2012). Membaca Cepat dan Efektif. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

______. (2011). Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca, Suatu Teknik Memahami Literatur yang Efisien. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Pius Abdillah P. Dan M. Dahlan Al Barry. (2012). Kamus Ilmiah Populer Lengkap Beserta Singkatan/Akronim Harihari Besar Nasional/Internasional. Surabaya: Arkola.

Ramlan. (2001). Ilmu Bahasa Indonesia: Morfologi Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: Karyono.

Razif. (2010). Persoalan Gramatikal dalam Bahaa Indonesia.Diunduh dari (http://www.history.uiuc.edu/mlove/ eps312h315/eritieal/htm). Tanggal 10 September 2014 Pukul 18:45.

Soedarso. (2010). Speed Reading Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

St. Y. Slamet (2011). Kemampuan Membaca Pemahaman Ditinjau dari Penguasaan Struktur dan Derivasi. Jurnal Pedagogia. Surakarta: UNS.

Suwaryono Wiryodijoyo. (2013). Membaca: Strategi Pengantar da Tekniknya. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia.

Yuliati, D. (2011). Kosakata di Dalam Bahasa Indonesia. Diunduh dari: http:/www.suaramerdeka.com/harian/0802/10/nas11.htm. Tanggal 10 September 2014 Pukul 16:45.