PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGGUNAKAN

MEDIA PEMBELAJARAN BERUPA ALAT PERAGA

MELALUI DISKUSI KELOMPOK DAN PEMBINAAN GURU

PADA GURU KELAS BAWAH SD NEGERI 2 TERKESI SEMESTER I

TAHUN PELAJARAN 2018/2019

 

Puryanto

SD Negeri 2 Terkesi

 

ABSTRAK

Tujuan penelitian tindakan sekolah ini adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan menggunakan media pembelajaran berupa alat peraga pada guru kelas bawah SD Negeri 2 Terkesi Kecamatan Klambu Kabupaten Grobogan semester I tahun pelajaran 2018/2019, setelah dilakukan tindakan berupa kegiatan pembinaan diskusi kelompok. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan sekolah (PTS). Penelitian dilakukan di Sekolah Dasar Negeri 2 Terkesi UPTD Pendidikan Kecamatan Klambu Kabupaten Grobogan. Subjek penelitian ini adalah guru kelas bawah di Sekolah Dasar Negeri 2 Terkesi Kecamatan Klambu Kabupaten Grobogan. Penelitian tindakan sekolah dilakukan melalui 2 siklus. Penelitian dianggap berhasil apabila kemampuan menggunakan media pembelajaran berupa alat peraga yang dimiliki guru secara individu telah mencapai nilai skor rata-rata di atas 3 (tiga) atau diatas 3(tiga), artinya secara individu menggunakan alat peraga telah tergolong baik atau sangat baik. Atau skor rata-rata keseluruhan telah mencapai lebih dari 13 Dengan prosentase guru yang telah mencapai skor baik/sangat baik telah mencapai lebih dari 75%. Hasil penelitian ini adalah dengan pembinaan diskusi kelompok, kemampuan guru dalam menggunakan media pembelajaran berupa alat peraga dapat meningkat. Peningkatan kemampuan guru dalam menggunakan media pembelajaran berupa alat peraga tersebut terjadi pada hampir semua aspek. Semua aspek kemampuan guru dalam menggunakan media pembelajaran berupa alat peraga telah mencapai prosentase yang mendekati sangat baik.

Kata kunci: kemampuan guru, media pembelajaran penggunaan alat peraga, diskusi kelompok.

 

PENDAHULUAN

Peningkatan mutu pendidikan merupakan salah satu unsur konkrit yang sangat penting dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sejalan dengan itu, hal yang sangat penting untuk diperhatikan adalah masalah prestasi belajar. Masalah umum yang sering dihadapi oleh peserta didik khususnya siswa adalah hasil prestasi belajar yang belum memuaskan. Sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan hasil prestasi belajar tersebut mengalami kegagalan dalam bidang akademik baik faktor-faktor yang berada dalam diri siswa maupun faktor-faktor yang berada di luar diri siswa seperti tingkat intelegensi yang rendah, kurangnya motivasi belajar, cara belajar yang kurang efektif, minimnya frekuensi dan jumlah waktu belajar, tingkat disiplin diri yang rendah, media belajar atau bahan ajar yang masih kurang disediakan pihak sekolah dan sebagainya.

Guru memegang peran penting dan strategis dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran sebagai suatu aktivitas untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap siswa berkaitan langsung dengan aktivitas guru, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Sebagai suatu sistem kegiatan, proses pembelajaran selalu melibatkan guru. Keterlibatan guru tersebut mulai dari pemilihan dan pengurutan materi pembelajaran, penerapan dan penggunaan metode pembelajaran, penyampaian materi pembelajaran, pembimbingan belajar, sampai pada kegiatan pengevaluasian hasil belajar.

Berkaitan dengan peran tersebut, suatu proses pembelajaran akan berlangsung secara baik jika dilaksanakan oleh guru yang memiliki kualitas kompetensi akademik dan profesional yang tinggi atau memadai. Oleh karena itu, peningkatan mutu pendidikan diupayakan melalui pengutamaan peningkatan mutu guru. Selengkap dan secanggih apa pun prasarana dan sarana pendidikan, tanpa didukung oleh mutu guru yang baik, prasarana dan sarana tersebut tidak memiliki arti yang signifikan terhadap peningkatan mutu pendidikan.

Media pembelajaran berupa alat peraga adalah sarana yang digunakan dalam pembelajaran yang memiliki fungsi untuk memperjelas, memudahkan siswa memahami konsep/prinsip atau teori, dan membuat pesan kurikulum yang akan disampaikan kepada siswa menarik, sehingga motivasi belajar siswa meningkat dan proses belajar dapat lebih efektif dan efesien (Nasution, 2005: 7.4). Alat peraga disebut juga sebagai media pembelajaran. Secara umum alat peraga/media pembelajaran terdiri dari bahan cetakan atau bacaan (buku, koran, majalah dan lain-lain), alat-alat audio visual (radio kaset, televisi, video, dan lain-lain), koleksi benda-benda serta sumber masyarakat (monument, candi, dan peninggalan sejarah lainnya) (Sadiman dkk, 2011: 3).

Kenyataan ini menunjukkan bahwa di lapangan belum semua guru memiliki kompetensi yang memadai, sehingga kualitas pendidikan tidak sesuai dengan yang diharapkan, khususnya kemampuan guru dalam menggunakan alat peraga/media pembelajaran di SDN 2 Terkesi tahun pelajaran 2018/2019 peneliti menyimpulkan belum semua guru menggunaan alat peraga/media pembelajaran pada proses belajar mereka lebih cenderung menggunakan metode ceramah dan hanya menggunakan kapur dan papan tulis untuk mencatat materi pelajaran. Guru beranggapan bahwa penggunaan alat peraga sangat merepotkan dan membutuhkan waktu yang cukup banyak. Mereka merasa kesulitan menggunaan alat peraga pembelajaran mengakibatkan motivasi dan hasil belajar peserta didik kurang memuaskan, komunikasi serta interaksi antara guru dan peserta didik tidak berjalan secara maksimal, sehingga proses pembelajaran menjadi kurang bermakna.

Mengatasi masalah tersebut, upaya peningkatan kompetensi guru pada hakikatnya dapat dilakukan oleh instansi terkait dengan berbagai jenis kegiatan ataupun dengan berbagai metode dan strategi. Diantara upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kompetensi guru khususnya di SD N 2 Terkesi dalam mengggunakan media pembelajaran berupa alat peraga dalam proses adalah dengan Pembinaan guru dan diskusi kelompok.

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah seperti tersebut di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Apakah kemampuan menggunakan media pembelajaran berupa alat peraga guru kelas bawah di SD 2 Terkesi Tahun Pelajaran 2018/2019 dapat meningkat melalui diskusi kelompok dan pembinaan guru?

 

 

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan menggunakan media pembelajaran berupa alat peraga guru kelas bawah di SD 2 Terkesi Tahun Pelajaran 2018/2019, setelah dilakukan tindakan berupadiskusi kelompok dan pembinaan guru.

KAJIAN PUSTAKA

Media Pembelajaran Berupa Alat Peraga Dalam Pembelajaran

Secara harfiah media memiliki arti perantara. Kata media berasal dari bahasa latin medium (“antara”), istilah ini merujuk pada apa saja yang membawa informasi antara sebuah sumber dan sebuah penerima (Smaldino, 2011: 7). Media didefinisikan oleh Association for Education and Communication Tehnology (AECT) sebagai segala bentuk yang dipergunakan untuk suatu proses penyaluran informasi (Arsyad, 2007: 3). Sedangkan Education Association mendefinisikan media sebagai benda yang dapat dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca, atau dibicarakan beserta instrumen yang dipergunakan dengan baik dalam kegiatan belajar mengajar dan dapat mempengaruhi efektifitas program istruktional (Asnawir dan Usman, 2002: 11).

Menurut Hamidjoyo dalam Arsyad (2007: 4) media adalah semua bentuk perantara yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan atau menyebar ide gagasan, atau pendapat sehingga ide, gagasan atau pendapat yang dikemukakan itu sampai kepada penerima yang dituju. Dari beberapa definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwasanya alat peraga dan media mempunyai kesamaan sebagai segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan atau informasi dari pengirim kepada penerima pesan sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan dan kemauan peserta didik untuk belajar.

Namun demikian, para ahli pendidikan membedakan antara media dan alat peraga, kedua istilah tersebut juga digunakan saling bergantian. Perbedaan penggunaan tersebut menurut Asnawir dan Basyiruddin (2002: 11-13) terletak pada fungsinya, bukan substansinya. Sumber belajar dikatakan alat peraga jika hanya digunakan sebagai alat bantu saja, dan dikatakan sebagai media jika sumber belajar merupakan bagian integral dari seluruh kegiatan belajar. Dalam penelitian ini, peneliti tidak membedakan antara alat peraga dan media karena alat peraga menurut peneliti merupakan media itu sendiri.

Jenis-jenis Media Pembelajaran

Sebelum mengetahui lebih jauh tentang penggunaan alat peraga pembelajaran, terlebih dahulu akan dijelaskan tentang jenis-jenis alat peraga/media pembelajaran. Jenis-jenis alat peraga sangatlah beragam, menurut Nasution (2005: 7.5) jenis alat peraga/media pembelajaran dilihat dari jenis indera dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu:

a.     Media audio yaitu alat peraga/media yang dapat didengar, seperti kaset, suara burung, suara petir, suara bel dan lain-lain.

b.     Media visual yaitu alat peraga/media yang dapat dilihat, seperti hewan, tumbuhan, gambar, grafik, model, slide dan lain-lain.

c.     Media audio visual yaitu alat peraga yang dapat dilihat dan didengar seperti video, film, dan lain-lain.

Sementara itu, Djamarah (2005: 213) menambahkan bahwa berdasar klasifikasinya media pembelajaran dapat juga dilihat berdasar daya liputnya, media ini dibagi menjadi tiga yaitu (a) media yang mempunyai daya liput luas dan serentak; (b) media dengan daya liput yang terbatas oleh ruang dan tempat dan media untuk pembelajaran individual seperti modul berprogram; (c) pembalajaran melalui komputer. Media yang mempunyai daya liput luas dan serentak adalah media yang menjangkau semua peserta didik dalam waktu yang sama dan tidak terbatas oleh ruang, contoh media ini adalah radio dan televisi. Media dengan daya liput yang terbatas oleh ruang dan tempat adalah media yang membutuhkan ruang dan tempat khusus dalam penggunaannya seperti film, sound slide, dan filim rangkai yang membutuhkan tempat dan ruang yang tertutup dan gelap.

Dilihat dari bahan dan pembuatannya, media menurutnya dapat dibagi menjadi dua yaitu media sederhana dan media kompleks. Media sederhana merupakan media yang bahan dasarnya mudah diperoleh dan harganya murah, cara pembuatannya mudah dan penggunaannya tidak sulit. Sedangkan media kompleks, merupakan media yang bahan dan alat pembuatannya sulit diperoleh serta mahal harganya, sulit membuatnya, dan penggunaanya memerlukan keterampilan yang memadai.

Kriteria Pemilihan Alat Peraga/Media Pembelajaran

Alat peraga/media merupakan sarana untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Karakteristik media beraneka ragam dan berbeda-beda. Agar tepat guna, pemilihan media haruslah dilakukan secara cermat. Beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam pemilihan media diantaranya:

a.     Memiliki kelayakan praktis, meliputi: keakraban guru dengan jenis alat peraga; ketersediaan alat peraga dilingkungan sekolah; ketersediaan waktu untuk mempersiapkannya; ketersediaan sarana dan fasilitas pendukung; keluwesan artinya dapat dibawa kemana-mana, dan digunakan kapan saja serta oleh siapa saja.

b.     Memiliki kelayakan pedagogis, diantaranya: media pembelajaran relevan dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan merangsang terjadinya proses belajar mengajar.

c.     Memiliki kelayakan biaya, faktor yang perlu dipertimbangkan dalam hal ini yaitu: analisa untung rugi secara ekonomis; jumlah dan jenis perkakas yang akan digunakan; keterampilan yang diperlukan; gambar atau bagan yang akan dibuat; rancangan atau konstruksi alat, dan evaluasi alat yang dibuat (Asnawir dan Usman, 2002: 19).

Prinsip-prinsip Penggunaan Alat Peraga Pembelajaran

Prinsip pokok yang harus diperhatikan oleh guru dalam penggunaan media pada setiap kegiatan pembelajaran adalah bahwa media digunakan dan diarahkan menurut kebutuhan peserta didik untuk memudahkan dalam memahami materi pelajaran. Oleh karena itu, menurut Asnawir dan Usman (2002: 19) terdapat prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam penggunaan alat peraga/media pembelajaran adalah sebagai berikut:

a.     Alat peraga/media digunakan sebagai bagian yang integral dalam pembelajaran, atau tidak semata-mata untuk hiburan, akan tetapi benar-benar untuk memudahkan siswa dalam pencapaian tujuan pembelajaran

b.     Alat peraga/media sebagai sumber belajar untuk memecahkan masalah

c.     Guru harus menguasai teknik-teknik dari alat peraga/media yang akan digunakan

d.     Guru memperhitungkan untung rugi dari pemanfaatan alat peraga/media, sehingga alat peraga/media dapat digunakan secara efektif dan efisien

e.     Penggunaan alat peraga/media harus terorganisir secara sistematis agar siswa dapat memahami materi pelajaran yang disampaikan.

f.      Guru dapat menggunakan multimedia yang menguntungkan dan memperlancar proses belajar mengajar sehingga dapat merangsang siswa untuk belajar.

Fungsi dan Manfaat Penggunaan Alat Peraga/Media Pembelajaran

Berdasarkan uraian di atas, media pembelajaran pada hakikatnya mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. Media digunakan untuk memberikan pengalaman belajar yang kongkrit kepada peserta didik serta memudahkan dalam memahami materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru, dengan penggunaan media pembelajaran dapat diperoleh pengalaman belajar secara langsung.

Selanjutnya Levie dan Lentz (1982) dalam Arsyad juga memaparkan bahwa penggunaan alat peraga/media khususnya media visual mempunyai empat fungsi yaitu fungsi atensi, fungsi afektif, fungsi kognitif dan fungsi kompensatoris. Fungsi atensi media visual merupakan inti yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaiatan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran. Fungsi afektif mediavisual dapat menggugah emosi dan sikap siswa ketika mempelajari teks yang bergambar. Fungsi kognitif yaitu memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar. Fungsi kompensatoris media pembelajaran adalah untuk membantu siswa yang lemah dalam membaca agar dapat memahami teks dan mengorganisasikan informasi dalam teks serta mengingatnya kembali (Arsyad, 2007: 17).

Kompetensi Guru dalam Penggunaan Media Pembelajaran Alat Peraga

Pengertian Kompetensi Guru

Kompetensi dalam Kamus Bahasa Inggris berasal dari kata competence yang artinya kecakapan atau kemampuan (Echol, 1987:132). Adapun istilah kompetensi mempunyai banyak makna. Jakson dan Schulter (2003) mengemukakan “competence refers to the knowledge, skills, personality characteristics, and attitudes that make it possible for employees to perform work tasks and roles” (kompetensi adalah pengetahuan, keterampilan karakteristik kepribadian, dan sikap yang memungkinkan karyawan untuk menjalankan tugas-tugas dan peran-peran dalam pekerjaannya.

Boyatzis mendefinisikan “a competence is defined as an underlaying characteristic of individual which is causally related to effective or superior performancein a job” (kompetensi didefinisikan sebagai karakteristik utama yang dimiliki seseorang, yang menyebabkan ia mampu berkinerja efektif atau unggul dalam sebuah pekerjaannya). Kedua definisi tersebut menjelaskan bahwa kompetensi merupakan perpaduan pengetahuan, keterampilan, sikap dan karakteristik pribadi (seperti motivasi dan aspek-aspek kepribadian) lainnya yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan dalam sebuah pekerjaan.

Berkaitan dengan definisi di atas, jika kompetensi dikaitkan dengan tugas sebagai guru maka menurut Broke dan Stone (1995) adalah “descriptive of qualitative nature or teacher behavior appears to be entirely meaningful” (gambaran kualitatif tentang hakikat perilaku guru yang penuh arti) (Usman,2001: 14).

Dari pengertian tersebut dapat dinyatakan bahwa kompetensi menunjukkan performance seseorang berupa perilaku nyata dalam arti tidak hanya dapat diamati tetapi mencakup sesuatu yang tidak kasat mata, dan perbuatan yang rasional untuk memenuhi spesifikasi tertentu dalam pelaksanaan tugas-tugasnya, karena mempunyai arah dantujuan (Mulyasa, 2009: 26). Namun demikian menurut Danim (2011; 112) kompetensi pada dasarnya berbeda dengan performance, karena kompetensi lebih merujuk pada kemampuan teoritis sedangkan performance merujuk pada tampilam riil yang dapat dilakukan oleh subjek pada ruang kerja atau unit-unit layanan yang dibutuhkan.

Komponen Kompetensi Guru

Menurut Usman (2001: 16-17) komponen kompetensi terbagi menjadi dua yaitu kompetensi pribadi dan kompetensi profesional. Kompetensi pribadi merupakan kemampuan seorang guru dalam aspek kehidupan social dan kemampuan dalam mengembangkan diri melalui penelitian penelitian ilmiah. Sedangkan kompetensi professional lebih pada kemampuan dasar yang harus dimiliki guru berkaitan dengan pengelolaan program pembelajaran yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Dalam Undang-undang No. 14 Tahun 2005 bab IV bagian satu pasal 10 dijelaskan bahwa “kompetensi guru terdiri dari empat komponen kompetensi yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi professional”.

Pembinaan Guru diskusi kelompok

Dalam melakukan pembinaan, perlu dilakukan prinsip-prinsip agar efektif dan efisien. Depdikbud (2008:21) mengemukakan prinsip pembinaan guru adalah sebagai berikut:

a.     Dilakukan sesuai dengan kebutuhan guru

b.     Hubungan antara guru dan pembina guru didasarkan atas dasar kerabat kerja

c.     Pembina guru harus memiliki sifat terbuka dan dapat dijadikan sebagai teladan

d.     Dilakukan secara terus menerus

e.     Dilakukan melalui berbagai wadah yang ada

f.      Diperlancar melalui peningkatan koordinasi dan sinkronisasi secara horizontal dan vertikal

Dalam pelaksanaan pembinaan guru dapat menggunakan pendekatan-pendekatan yang menurut keyakinanya paling efektif dan efisien, serta berdasarkan pada perhitungan yang matang. Adapun pendekatan-pendekatan yang diterapkan dalam pembinaan kemampuan profesional guru tersebut antara lain: Pendekatan Ilmiah, Pendekatan Artisitik, dan Pendekatan Klinis.

Diskusi Kelompok

Menurut Tohirin (2007: 291) diskusi kelompok merupakan suatu cara dimana siswa memperoleh kesempatan untuk memecahkan masalah secara bersama-sama. Usman (2008: 94) menyatakan bahwa diskusi kelompok merupakan suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan atau pemecahan masalah. Menurut Sukardi (2008: 220) diskusi kelompok adalah suatu pertemuan dua orang atau lebih, yang ditunjukkan untuk saling tukar pengalaman dan pendapat, dan biasanya menghasilkan suatu keputusan bersama.

Kerangka Berpikir

Pembinaan guru dengan diskusi kelompok merupakan bentuk kegiatan yang dilakukan guru untuk memecahkan permasalahan tentang rendahnya kemampuan guru dalam menggunakan media pembelajaran berupa alat peraga dalam proses pembelajaran. Beberapa aspek penilaian telah ditetapkan, sehingga untuk mengetahui kelemahan masing-masing guru perlu dilakukan penilaian melalui kegiatan observasi yang dilakukan saat guru melakukan proses pembelajaran. Hasil observasi tersebut nantinya digunakan sebagai bahan untuk dipecahkan. Setiap permasalahan yang muncul yang dilihat dari skor rendah pada aspek penilaian, merupakan permasalah yang harus diperbaiki untuk tindakan-tindakan berikutnya.

Hipotesis Tindakan

Melalui pembinaan guru diskusikelompok kemampuan guru kelas rendanh dalam penggunaan media pembelajaran berupa alat peraga SD Negeri 2 Terkesi tahun pelajaran 2018/2019 dalam dapat meningkat hingga mencapai kriteria baik dan atau sangat baik.

METODE PENELITIAN

Setting Penelitian

Penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan pada semester 1 tahun pelajaran 2018/2019 selama empat bulan, dimulai bulan Agustus 2018 sampai bulan November 2018. Tempat penelitian adalah Sekolah Dasar Negeri 2 Terkesi UPTD Pendidikan Kecamatan Klambu Kabupaten Grobogan Semester 1 tahun pelajaran 2018/2019. Subjek penelitian tindakan sekolah ini adalah guru kelas bawah di SD Negeri 2 terkesi berjumlah 3 guru kelas. Objek penelitian tindakan sekolah ini adalah rendahnya kompetensi guru kemampuan menggunakan media pembelajaran alat peraga di SD Negeri 2 Terkesi.

Prosedur Siklus Penelitian

Proses keberhasilan dalam peningkatan kemampuan guru dalam menggunakan media pembelajaran berupa alat peraga dengan diskusi kelompok dan pembinaan guru pada guru SD Negeri 2 Terkesi Kecamatan Klambu tahun pelajaran 2018/2019 dilaksanakan dengan dua 2 siklus penelitian, siklus I dan siklus II. Tiap siklus dilaksanakan dua pertemuan dengan empat komponen pokok yang menunjukkan langkah-langkah yaitu: Perencanaan atau planning, Pelaksanaan tindakan atau acting, Pengamatan atau observing, dan Refleksi atau reflecting.

Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data memegang peranan penting dalam keberhasilan tindakan penelitian. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui observasi atau pengamatan. Teknik observasi ditunjukkan pada sasaran, yaitu: Kepada Guru dalam pembelajaran dikelas lebih khususnya kemampuann guru dalam memnggunakan media pembelajaran berupa alat peraga.

Analisis Data

Langkah-langkah analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisa data hasil pengamatan kemampuan guru dalam menggunakan media pembelajaran dalam Pelaksanaan Pembelajaran menggunakan analisis deskriptif komparatif yaitu membandingkan hasil pengamatan kondisi awal dengam hasil pengamatan pada siklus I dan terakhir hasil pengamatan pada siklus II. Analisis data dalam penelitian ini juga menggunakan analisis data kualitatif yaitu analisis berdasarkan penalaran logika. Analisis tersebut digunakan atas pertimbangan bahwa, jenis data yang diperoleh berbentuk kalimat-kalimat dan aktivitas-aktivitas guru. Sedangkan analisis kuantitatif digunakan untuk menghitung besarnya peningkatan kompetensi guru.

Prosedur Penelitian

Berdasarkan hasil monitoring prasiklus yang dilakukan tanggal 15 dan tanggal 16 Agustus 2018, peneliti melakukan rekapitulasi permasalahan, dan menyampaikan informasi kepada guru untuk mengikuti pembinaan peningkatan profesionalisme guru berupa penggunaan media berupa alat peraga dengan cara melakukan diskusi kelompok dan pembinaan guru. Tindaikan direncanakan dalam 2 siklus tiap siklus dilakuakn 2 tahap atau dua kali pembinaan, setiap siklus terdapat 4 (empat) kegiatan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.

Indikator Keberhasilan

Penelitian dianggap berhasil apabila penggunaan media pembelajaran alat peraga yang dimiliki guru secara individu telah mencapai nilai skor rata-rata 3 atau di atas 3 (tiga), artinya secara individu kemampuan penggunaan alat peraga telah tergolong baik ataupun sangat baik. Atau skor keseluruhan guru telah mencapai lebih dari 13 Dengan prosentase tiap guru yang telah mencapai skor baik/sangat baik telah mencapai lebih dari 75%.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pra Siklus

Pengamatan awal sebelum dilakukan tindakan, terlihat bahwa guru kurang memfasilitasi siswa dengan penggunaan media pembelajaran alat peraga dalam proses pembelajaran, namun secara detail peneliti perlu mengetahui aspek yang dipandang kurang dalam memanfaatkan alat peraga. Untuk mengetahui kelemahan-kelemahan tersebut, peneliti melakukan pengamatan pendahuluan. Hal ini dimaksudkan agar peneliti memperoleh gambaran nyata tentang kondisi awal kemampuan menggunakan media pembelajaran alat peraga yang dimiliki oleh guru.

Berdasarkan rekapitulasi hasil penilaian kemampuan guru tersebut selanjutnya dapat dihitung skor 6 masuk dalam kategori kurang dan dapat dilihat bahwa guru belum mempersiapkan alat peraga dengan sebagai media untuk menyampaikan materi, dapat diketahui bahwa kemampuan menggunakan media pembelajaran alat peraga sebelum dilakukan tindakan (tindakan prasiklus) guru SD Negeri 2 Terkesi secara kumulatif jumlah mencapai 19 dengan kategori skor rata-rata yaitu 6. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan media pembelajaran alat peraga yang dimiliki oleh guru di SD Negeri 2 Terkesi masih di kurang dengan prosentase 30%. Dengan demikian perlu dilakukan tindakan agar kemampuan guru dalam menggunakan media pembelajaran alat peraga dalam proses pembelajaran dapat meningkat.

Siklus I

Setelah dilakukan pembinaan diskusi kelompok yang terkait dengan kemampuan penggunaan media pembelajaran alat peraga, maka peneliti melakukan observasi pertama sesuai dengan jadwal yang ditetapkan, hasilnya dicatat pada lembar penilaian kemampuan penggunaan media pembelajaran alat peraga secara individu, seperti terlihat pada lampiran dari hasil penilaian secara individu tersebut peneliti melakukan rekapitulasi hasil dapat dijelaskan bahwa kemampuan menggunakan alat peraga guru kelas bawah SD Negeri 2 Terkesi telah mencapai jumlah 32 dengan skor rata-rata 11 masuk dalam kategori Cukup dengan prosentase 53%.

Observasi kedua sesuai dengan jadwal yang ditetapkan, hasilnya dicatat pada lembar penilaian kemampuan penggunaan media pembelajaran alat peraga secara individu, seperti terlihat pada lampiran dari hasil penilaian secara individu tersebut peneliti melakukan rekapitulasi hasil dapat dijelaskan bahwa kemampuan menggunakan media pembelajaran alat peraga guru kelas bawah SD Negeri 2 terkesi telah telah mencapai jumlah 39 dengan skor rata-rata 13 masuk dalam kategori Baik dengan prosentase 65%.

Secara keseluruhan hasil kemampuan menggunakan alat peraga yang dimiliki guru belum tergolong baik, dengan ketercapaian rata-rata mencapai 65%. Akat tetapi dalam beberapa indikator kemampuan guru dalam menggunakan media pembelajaran alat peraga dapat dilihat pada poin 5 yaitu Guru memanfaatkan lingkungan dan sumber belajar lainnya secara efektif dan efisien (sesuai alokasi waktu yang telah ditentukan). Secara individu masuk dalam kategori cukup. Untuk itu perlu dilakukan tindakan berikut.

Siklus II

Setelah dilakukan pembinaan diskusi kelompok yang terkait dengan kemampuan penggnaan media pembelajaran alat peraga, maka peneliti melakukan observasi pertama sesuai dengan jadwal yang ditetapkan, hasilnya dicatat pada lembar penilaian kemampuan penggunaan media pembelajaran alat peraga secara individu, seperti terlihat pada lampiran dari hasil penilaian secara individu tersebut peneliti melakukan rekapitulasi hasil dapat dijelaskan bahwa kemampuan menggunakan media pembelajaran alat peraga guru kelas bawah SD Negeri 2 Terkesi telah mencapai jumlah 46 dengan skor rata-rata 15 masuk dalam kategori Baik dengan prosentase 77%.

Observasi kedua sesuai dengan jadwal yang ditetapkan, hasilnya dicatat pada lembar penilaian kemampuan penggunaan media pembelajaran alat peraga secara individu, seperti terlihat pada lampiran dari hasil penilaian secara individu tersebut peneliti melakukan rekapitulasi hasil dapat dijelaskan bahwa kemampuan menggunakan media pembelajaran alat peraga guru kelas bawah SD Negeri 2 Terkesi telah mencapai jumlah 52 dengan skor rata-rata 17 masuk dalam kategori Sangat Baik dengan prosentase 87%. Secara keseluruhan hasil kemampuan menggunakan media pembelajaran alat peraga yang dimiliki guru Sangat baik, dengan ketercapaian rata-rata skor 17 mencapai 87%. Dengan demikian tindakan yang diberikan sudah berhasil sehingga tidak perlu dilanjutkan ke siklus berikutnya.

 

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa melalui pembinaan dengan melakukan Diskusi kelompok antar guru kemampuan menggunakan media pembelajaran alat peraga guru kelas bawah di SD Negeri 2 Terkesi dapat meningkat. Penilaian yang obyektif saat monitoring yang sekaligus sebagai tindakan observasi, yang ditindak lanjuti dengan pembinaaan berupa diskusi kelompok dapat mengingatkan kembali kepada guru tentang pentingnya menggunakan media pembelajaran alat peraga dalam proses pembelajaran. Peningkatan terjadi pada hampir seluruh indikator, dengan rata-rata ketercapaian dari prasiklus 6 dengan presentase 30% ke siklus 1 pelaksanaan pertama skor rata-rata 11 meningkat menjadi 53% siklus 1 pelaksanaan kedua skor rata-rata 13 meningkat menjadi 65%. Pada siklus 2 pelaksanaan pertama skor rata-rata 15 meningkat menjadi 77% siklus 2 pelaksanaan kedua skor rata-rata 17 meningkat menjadi 87%.

PENUTUP

Kesimpulan

Melalui pembinaan berupa diskusi kelompok kemampuan guru dalam menggunakan media pembelajaran alat peraga dapat meningkat. Peningkatan ketrampilan dapat dilihat data pra siklus yang menunjukkan bahwa kemampuan guru kelas bawah di SD 2 Terkesi dalam menggunakan media pembelajaran alat peraga memperoleh skor 6 dengan masuk dalam kategori Kurang. Kemampuan guru kelas bawah di SD 2 Terkesi dalam menggunakan media pembelajaran alat peraga pada siklus I tahap pertama menunjukkan bahwa kemampuan guru dalam menggunakanmedia pembelajaran alat peraga memperoleh skor 11 masuk dalam kategori Cukup. Kemampuan guru kelas bawah di SD 2 Terkesi dalam menggunakan media pembelajarn alat peraga pada siklus I tahap Kedua menunjukkan bahwa kemampuan guru dalam menggunakan media pembelajaran alat peraga memperoleh skor 13 masuk dalam kategori Baik. Kemampuan guru kelas bawah di SD 2 Terkesi dalam menggunakan media pembelajaran alat peraga pada siklus II tahap pertama menunjukkan bahwa kemampuan guru dalam menggunakan alat peraga memperoleh skor 15 masuk dalam kategori Baik. Kemampuan guru kelas bawah di SD 2 Terkesi dalam menggunakan alat peraga pada siklus II tahap Kedua menunjukkan bahwa kemampuan guru dalam menggunakan alat peraga memperoleh skor 17 masuk dalam kategori Sangat Baik.

Saran-saran

Untuk Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan

Untuk menindak lanjuti hasil penelitian ini, sebaiknya Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan memprogramkan kegiatan penyegaran (refreshing) kepada guru dalam pengembangan proses pembelajaran

UPTD Pendidikan

Monitoring oleh pengawas, dari UPTD Pendidikan sedapat mungkin dilakukan sesering mungkin. Tidak hanya pada ketrampilan Menggunakan media pembelajaran berupa alat peraga, tetapi juga ketrampilan lainnya, seperti ketrampilan bertanya, ketrampilan memberi penguatan, ketrampilan membuka dan menutup pembelajan dan lain sebagainya.

 

 

Untuk Guru

Agar ketrampilan guru semakin meningkat, sebaiknya guru selalu mencari masukan baik dari siswa maupun kepala sekolah melalui penilaian.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Azhar, 2007. Media Pembelajaran. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Asnawir, dan Basyiruddin Usman. 2002. Media Pembelajaran, Jakarta: Ciputat. Pers.

Broke and Stone. 1995. Training Effectivity Teacher. Jakarta: PT. Gramedia. Pustaka Utama

Danim, sudarwan. 2011. Pengantar Pendidikan. Bandung: ALFABETA

Depdikbud. 2008. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Dikmenum. Depdiknas

Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Mulyasa. 2009. Menjadi kepala Sekolah Profesional. Bandung. Rosda karya

Nasution, M. N., 2005. Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management). Ghalia Indonesia, Bogor.

Schuler, R.S. dan Jackson, S.E. 2003. Manajemen Sumber Daya Manusia;. Menghadapi Abad Ke- 21. Edisi Ke-Enam. Jakarta: Erlangga.

Sukardi, Dewa Ketut. 2008. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta

Tohirin. 2007. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi). Jakarta: Raja Grafindo Persada

Usman, Moh. Uzer. 2008. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya