PENINGKATAN KETERAMPILAN MENGARANG

DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

MELALUI MEDIA GAMBAR PADA SISWA KELAS V SEMESTER 1

SD NEGERI GODOG 01 POLOKARTO

TAHUN PELAJARAN 2014/2015

Sutarjo

SD Negeri Godog 01 Kabupaten Sukoharjo

ABSTRAK

Peningkatan Keterampilan Mengarang Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Melalui Media Gambar Pada Siswa Kelas V Semester 1 SD Negeri Godog 01 Polokarto Tahun Pelajaran 2014/2015. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan keterampilan mengarang bagi siswa kelas V semester 1 tahun pelajaran 2014/2015 SD Negeri Godog 01 Polokarto melalui media gambar. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Penelitian dilakukan di kelas V semester I SD Negeri Godog 01 Polokarto UPTD Pendidikan Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo tahun pelajaran 2014/2015 selama 2 bulan. Subjek penelitian adalah siswa kelas V Semester Idi SD Negeri Godog 01 UPTD Pendidikan Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo tahun pelajaran 2014/2015 yang terdiri dari 39 orang siswa. Prosedur penelitian dalam penelitian tindakan ini pada intinya mengacu pada desain penelitian yang digunakan, yaitu: 1) perencanaan; 2) pelaksanaan;3) observasi; dan 4) refleksi hasil tindakan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Penggunaan media gambar dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam mengarang bagi siswa kelas V semester I tahun pelajaran 2014/2015 SD Negeri Godog 01 Polokarto, Sukoharjo. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya prestasi belajar siswa pada setiap siklus tindakan yang dilakukan.

Kata Kunci: keterampilan mengarang, , media gambar

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Dalam proses belajar mengajar di sekolah siswa belajar dalam satu ruangan, waktu serta fasilitas yang sama, tetapi mempunyai perbedaan dalam hasil belajarnya. Bila siswa mengikuti kegiatan belajar dengan baik tanpa ada hambatan atau kesulitan dalam belajarnya, maka akan memperoleh prestasi atau hasil belajarnya dengan baik. Namun sebaliknya bila siswa mengalami hambatan atau kesulitan dalam belajarnya, maka prestasinya tidak sesuai dengan yang diharapkan, bahkan ada pula yang tidak dapat menyelesaikan program studinya dalam waktu yang telah ditentukan.

Awal dari sebuah proses belajar, tidak lepas dari membaca dan menulis. Pada siswa sekolah dasar (SD) membaca dan menulis merupakan hal pokok yang harus dikuasai siswa, karena disinilah tindak lanjut proses pembelajaran. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Tarigan (1990:136) bahwa keterampilan membaca dan menulis masih banyak menunjukkan kelemahan. Dengan membaca diharapkan akan memperoleh suatu pengetahuan yang bisa dikembangkan, dalam bentuk tulisan ataupun karangan.

Mengarang bagi siswa SD, terutama di SD Negeri Godog 01 Polokarto masih menunjukkan kelemahan, hal ini terbukti bahwa masih sedikit siswa yang bisa menyampaikan ide atau gagasannya dalam bentuk tulisan. Dari 39 orang siswa kelas V SD Negeri Godog 01 Polokarto , yang terampil mengarang hanya 23 orang (58.97%). Kondisi ini sangat memprihatinkan dan menggugah untuk dilakukan suatu tindakan. Perlakuan yang perlu mendapat perbaikan diantaranya adalah model pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan mengarang bagi siswa SD adalah model pembelajaran dengan media gambar. Dengan pendekatan ini diharapkan dapat menciptakan iklim belajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan, sehingga pada akhirnya hasil belajar menulis karangan siswa diharapkan dapat meningkat.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka perumusan masalah penelitian adalah apakah dengan media gambar dapat meningkatkan keterampilan menulis karangan siswa kelas V semester 1 SD Negeri Godog 01 Polokarto ?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian tindakan ini adalah untuk mengetahui peningkatan keterampilan mengarang siswa melalui penerapan media gambar pada siswa kelas V semester 1 SD Negeri Godog 01 Polokarto .

KAJIAN TEORI

Pengertian Mengarang

Mengarang adalah suatu kegiatan yang kompleks, dengan mengarang kita dapat memahami keseluruhan rangkaian kegiatan dalam mengungkapkan gagasan dan menyampaikan melalui bahasa tulisan kepada pembaca untuk dipahami sesuai keinginan atau maksud pengarang.

Asrom (1997:1} mengungkapkan bahwa mengarang adalah bagaimana seseorang menuangkan gagasan, pikiran ataupun secara terstektur dan terarah dalam bentuk tulisan, menuangkan gagasan yang sekaligus menuntut beberapa kemampuan.

Dari beberapa pendapat ahli di atas, maka penulis mengambil kesimpulan bahwa mengarang itu mengorganisasikan ide-ide yang dimiliki seseorang untuk dituangkan ke dalam bahasa tulis secara teratur agar mudah dipahami oleh pembacanya.

Karangan adalah semacam bentuk wacana yang berusaha menyajikan suatu objek atau suatu hal sedemikian rupa, sehingga objek itu seolah-olah berada di depan mata kepala pembaca, seakan-akan pembaca melihat sendiri objek itu (Keraf, 1995:16). Dalam hal fungsi utamanya membuat para pembaca melihat objek, atau menyerap kualitas khas dari objek tersebut. Dapat digambarkan pula bahwa memusatkan uraiannya pada penampakkan benda. Dalam kita melihat objek garapan secara hidup dan kongkrit, kita melihat objek secara bulat. Untuk lebih jelasnya, kita bedakan dengan eksposisi, dimana eksposisi juga membuat kita memahami objek yang disajikan tetapi memusatkan uraiannya pada wujud benda.

Jenis Karangan

Ditinjau dari segi cara penyusunan, isi dan sifatnya wacana atau karangan itu banyak jenisnya. Beberapa di antaranya adalah yang bersifat naratif, eksposisi, argumentasi, persuasif, dan deskriptif.

1. Narasi, menurut pendapat Gorys Keraf (1997:135) narasi merupakan suatu bentuk wacana yang berusaha mengisahkan suatu kejadian atau peristiwa sehingga tampak seolah-olah pembaca meihat atau mengalami sendiri peristiwa itu.

2. Eksposisi, menurut pendapat Asrom (1997:42) eksposisi ialah tulisan yang berusaha menerangkan, menjelaskan, dan menguraikan masalah, persoalan, atau ide, yang dapat memperluas pandangan pembaca.

3. Argumentasi, menurut pendapat Gorys Keraf (1995:10) bahwa argumentasi adalah semacam bentuk wacana yang berusaha membuktikan suatu kebenaran. Lebih jauh sebuah argumentasi berusaha mempengaruhi serta mengubah sikap atau pendapat orang lain untuk menerima suatu kebenaran dengan mengajukan bukti-bukti mengenai objek yang diargumentasikan itu. Dalam hal ini, terlihat beberapa indikasi terbentuknya suatu tulisan yang bercirikan argumentasi. Karangan argumentasi berangkat dari setumpuk permasalahan yang harus dijawab oleh pengarang secara obyektif. Tentunya jawaban-jawaban tersebut harus disertai dengan alasan-alasan yang dapat diterima oleh pembaca.

4. Persuasi ialah wacana yang bertujuan untuk meyakinkan seseorang agar melakukan suatu yang dikehendaki pembicara pada waktu ini atau pada waktu yang akan datang, karena persuasi bertujuan agar pendengar atau pembaca melakukan sesuatu maka persuasi termasuk ke dalam cara-cara untuk mengambil keputusan.

5. Deskriptif, menurut pendapat Gorys Keraf (1995:16) adalah semacam untuk wacana yang berusaha menyajikan suatu objek atau suatu hal sedemikian rupa, sehingga objek itu seolah-olah berada didepan mata kepala pembaca, seakan-akan para pembaca melihat sendiri objek itu. Deskripsi ialah wacana yang berupa rangkaian tuturan yang memaparkan sesuatu atau melukiskan sesuatu, baik berdasarkan pengalaman maupun pengetehuan penuturnya.

Pengertian Keterampilan Mengarang

Pengertian kemampuan mengarang akan penulis bahas satu persatu, pertama penulis akan membahas pengertian kemampuan, dan kedua akan dibahas pengertian mengenai mengarang. Setelah itu, baru penulis akan menuliskan simpulan pengertian mengenai istilah kemampuan mengarang itu sendiri.

Secara terminologis, kemampuan adalah kesanggupan seseorang untuk melakukan segala sesuatu. W. J. S. Poerwadarminta (1984:628) menyatakan bahwa ”kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan, atau kekuatan untuk melakukan sesuatu”.

Dari teori di atas, dalam hubungannya dengan mengarang bahwa kesanggupan atau kemampuan dipandang perlu, karena seseorang sebelum melakukan kegiatan tulis menulis atau mengarang terlebih dahulu harus mempunyai kesanggupan atau kemampuan. Demikian pula dengan kecakapan, seseorang selain memiliki kemampuan, maka ia harus cakap dalam mengerjakan segala sesuatu. Dalam hal ini bahwa seorang siswa harus cakap dalam mengerjakan karangan sehingga hasil yang akan diperoleh akan terasa sangat berkualitas.

Mengarang sebenarnya bukanlah suatu kegiatan yang luar biasa, setiap hari bahkan setiap saat kita dapat melakukannya, sebab mengarang tidak lain daripada kegiatan menulis atau merangkai bahasa. Mengarang adalah kegiatan menulis atau merangkai bahasa.

Bertitik tolak dari pengertian tersebut, penulis berpendapat bahwa mengarang adalah mengorganisasikan ide dan perasaan kemudian melahirkan ke dalam rangkaian kalimat yang logis dalam bahasa tulis.

Tujuan Mengarang

1. Mendidik siswa agar dapat mengungkapkan isi hati

2. Dapat menggunakan perbendaharaan kata

3. Melatih keterampilan dan ketelitian siswa dalam menulis

Pengajaran Mengarang di Sekolah Dasar

Pengajaran bahasa Indonesia baik di SD, SLTP, maupun SLTA, meliputi beberapa aspek yaitu: pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Menurut Bloom ada 3 (tiga) aspek ”objektif” yakni:

1. Aspek pengenalan (cognitive domain) yang meliputi: a) pengetahuan, ingatan; b) pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh; c) analisis, menguraikan, menentukan hubungan; d) sintesis, mengorganisir, merencanakan, membentuk bangunan baru, dsb; e) mengevaluasi, menilai; f) aplikasi.

2. Aspek perasaan (affective domain), aspek ini berkenaan dengan sikap untuk menerima, memberikan respon, nilai dan sebagainya.

3. Aspek gerak (psyichomotor domain) meliputi: a) Self-paced objectivives; b) Mix-paced objectivives; c) Externally-paced objectivives

Pengertian Media

Media adalah bahan sebagai perantara bagi seorang seniman untuk mewujudkan sebuah karya yang mempunyai bentuk dan ukuran.

Pendapat tim penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1999:569) bahwa ”media adalah alat komunikasi”.

Pendapat tersebut sesuai pula dengan yang dikemukakan oleh Oemar Hamalik (1996:23), bahwa: Media pendidikan adalah alat, metode, dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah.

Untuk membantu atau mempengaruhi siswa dalam penerimaan pelajaran mengarang, sehingga program yang telah direncanakan dapat tercapai, guru harus memilih media yang tepat, diantaranya adalah media gambar.

Menurut tim penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1998:250) bahwa ”gambar adalah tiruan barang; yang dibuat dengan coretan pensil dan sebagainya, pada kertas dan sebagainya; lukisan”.

Media gambar adalah salah satu dari sekian banyak media yang dapat digunakan dalam pengajaran mengarang. Karena media gambar marupakan tiruan yang dibuat dengan coretan alat tulis/lukis pada kertas atau kanvas untuk membantu siswa dalam mencurahkan ide dan perasaan melalui tulisan sehingga membentuk suatu karangan. Selain media gambar yang dapat digunakan dalam pengajaran mengarang atau menulis, ada pula media yang lain yaitu media papan tulis.

Tim penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia menyatakan bahwa ”Papan adalah kayu yang lebar dan tipis” (Depdikbud, 1998:647). Tim penyusun Kamus Besar Indonesia menyatakan bahwa ”Tulis adalah membuat huruf (angka dan sebagainya) dengan pena (pensil, kapur, dan sebagainya), melahirkan pikiran atau perasaan, menggambar, melukis, membatik, (kain)” (1998:968).

Membaca

Membaca menurut Tarigan (1987:7) adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis.

Sedangkan pengertian membaca menurut Zainudin (1991:124) adalah menyeruakan huruf atau deretan yang berupa kata atau kalimat. Pengertian yang hampir sama menurut Tampubolon (1987:26) tentang membaca adalah satu dari empat kemampuan bahasa pokok, dan merupakan satu bagian atau komponen dan komunikasi tulisan.

Selain itu, Baradja (1990:105) juga mengemukakan pendapatnya tentang membaca adalah suatu aktivitas dimana si pembaca mencoba memahami ide-ide penulis melalui suatu teks. Harjasujana (1986:12) juga mengemukakan pendapatnya tentang membaca adalah kegiatan merespon lambang-lambang cetakan atau tulisan dengan menggunakan pengertian yang tepat.

Dari kelima pendapat para ahli tentang membaca dapat diambil kesimpulan bahwa membaca merupakan suatu kegiatan memahami isi bacaan dimana penulis mencoba mengkomunikasikan isi pesannya melalui suatu teks kepada pembaca.

Karangan

Menurut Liang Gie (1992:17) karangan adalah hasil perwujudan gagasan seseorang dalam bahasa tulis yang dapat dibaca dan dimengerti oleh pembaca. Sedangkan pengertian karangan menurut Sartuni dkk (1984:74) adalah suatu penyampaian pikiran secara resmi atau teratur dalam ucapan atau tulisan atau suatu penyajian pembicaraan yang luas tentang suatu pokok persoalan secara lisan atau tulisan.

Pengertian yang hampir sama tentang karangan adalah suatu bentuk penyampaian pikiran secara resmi dan teratur tentang suatu topik atau pokok bahasan. Selain itu pengertian karangan menurut Sudarno dan Rahman (1993:116) adalah rangkaian, susunan atau komposisi, yang dirangkai adalah beberapa kesatuan pikiran yang diwujudkan dalam bentuk kalimat-kalimat yang disusun sesuai dengan akaidah komposisi.

Dari keempat pendapat ahli, penulis mengambil kesimpulan bahwa karangan adalah hasil dari pikiran seseorang dalam menyampaikan ide atau gagasan.

Tipe Karangan

Berdasarkan sistem penyajian pokok masalahnya, tipe karangan tulisan ada 5 macam, yaitu: (1) karangan deskripsi, (2) karangan narasi, (3) karangan eksposisi, (4) karangan argumentasi, dan (5) karangan persuasi (Sartuni, 1984:74-75).

Mempelajari kelima tipe karangan tersebut di atas sangat penting dengan tujuan agar kita dapat mengkomunikasikan suatu gagasan, suatu perasaan, suatu pengalaman, atau suatu pokok persoalan semaksimal mungkin secara efektif.

Karangan deskriptif menurut Parera (1993:5) adalah satu bentuk karangan yang hidup dan berpengaruh. Karangan deskripsi memberikan satu gambaran tentang satu peristiwa atau kejadian dan masalah.

Karangan menurut Syafi’ie (1990:151) adalah wacana yang berkenaan dengan rangkaian peristiwa. Wacana ini berusaha menyampaikan kejadian menurut urutan terjadinya, dengan maksud memberi arti kepada sebuah kejadian atau serentetan kejadian, dan agar pembaca dapat memetik hikmahnya dari cerita itu. Syafi’ie (1990:151) juga memberikan pengertian tentang karangan eksposisi adalah wacana yang berusaha menerangkan atau menjelaskan pokok pikiran yang dapat memperluas pengetahuan pembaca karangan itu.

Sedangkan karangan argumentasi menurut Keraf (1955:10) adalah semacam bentuk wacana yang berusaha mebuktikan suatu kebenaran, dan karena itu akan berusaha sekuat tenaga dengan teknik-teknik yang rasional untuk mempertahankan kebenaran itu.

Karangan persuasi ingin mencapai kesepakatan dengan orang yang dipersuasi dengan menggunakan pendekatan psikologis. Persuasi merupakan bagamana cara seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar orang lain mengikuti apa yang dikehendakinya.

Bagian Utama Karangan

Menurut Sudarmo dan Rahman (1993:119) bagian utama karangan terdiri dari: pendahuluan, isi (tubuh karangan), dan penutup. Sudarno dan Rahman juga memberi penjelasan tentang hal-hal memuat di dalam pendahuluan adalah sebagai berikut: (1) latar belakang atau masalah penelitian pokok bahasan, (2) aspek-aspek penting dari pokok masalah yang akan dibahas dan perumusannya, (3) metode pambahasan, (4) sistematika penyusunan, dan (5) tujuan serta hasil yang diharapkan.

Selain itu Sudarmo dan Rahman juga mengemukakan tentang pengertian isi (tubuh karangan) adalah rincian atau pengembangan apa yang ditanyakan pada pendahuluan.

Tarigan (1991:7) juga mengemukakan pendapatnya yang sama tentang bagian utama karangan. Pada bagian utama karangan, Djago Tarigan mengemukakan tentang fungsinya. Pertama fungsi dari bagian pandahuluan adalah sebagai berikut: (1) menarik minat pembaca, (2) mengarahkan perhatian pembaca, (3) menjelaskan secara singkat ide pokok atau tema karangan, dan (4) menjelaskan bila dan di bagian mana suatu hal akan diperbincangkan.

Kedua fungsi dari bagian isi adalah sebagai jembatan yang menghubungkan antara bagian pendahuluan dan bagian penutup. Ketiga fungsi dari bagian penutup ialah salah satu kombinasi dan fungsi untuk memberikan: (1) kesimpulan, (2) penekanan bagian-bagian tertentu, (3) klimaks, (4) melengkapi, dan (5) merangsang pembaca mengerjakan sesuatu tentang apa yang sudah dijelaskan atau diceritakan. Antara ketiga bagian-bagian utama karangan mempunyai satu kesatuan yang erat, sehingga terbentuk karangan yang tersusun rapih.

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian teori di atas, hipotesis tindakan penelitian yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Penerapan media gambar dapat meningkatkan keterampilan mengarang pada pelajaran Bahasa Indonesia bagi siswa kelas V Semester 1 SD Negeri Godog 01 Polokarto tahun pelajaran 2014/2015.

METODE PENELITIAN

Seting Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Godog 01 Polokarto Tahun Pelajaran 2014/2015 pada kelas V semester 1 dalam waktu 2 bulan yang dilaksanakan pada bulan September sampai dengan Oktober 2014 pada siswa kelas V SD Negeri Godog 01 Polokarto yang berjumlah 39 siswa.

Prosedur Pelaksanaan Tindakan

Pendekatan penelitian ini merupakan “ Penelitian Tindakan Kelas “ (Classroom Action Research) yang hakikatnya digunakan dalam rangka memecahkan masalah-masalah yang timbul dalam pembelajaran. Classroom Action Research (CAR) lebih terfokus pada upaya memperbaiki kinerja yang bersifat kontekstual dan hasilnya tidak untuk digeneralisasikan. Namun Classroom Action Research dapat dilaksanakan guru lain yang memiliki permasalahan pembelajaran di kelas yang serupa.

Classroom Action Research (CAR) adalah suatu penelitian yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Menurut pengertian pengajaran, kelas bukan wujud ruangan, tetapi sekelompok peserta didik yang sedang belajar. Dengan demikian, penelitian tindakan kelas dapat dilakukan tidak hanya di ruang kelas, tetapi di mana saja tempatnya, yang penting ada sekelompok anak yang sedang belajar.

Suharsimi Arikunto (2006: 16), mengemukakan secara garis besar ada empat tahapan dalam penelitian tindakan kelas, yakni: (1) perencanaan (planning); (2) tindakan (acting); (3) pengamatan (observing); (4) refleksi (reflecting). Keempat langkah ini berlangsung berulang. Langkah penelitian bersifat refleksi tindakan dengan “Pola Pengkajian Berdaur(siklus tindakan) .

Sedangkan prosedur pelaksanaan penelitian ini meliputi 2 siklus, setiap siklus terdiri dari perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi.

Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data

Sumber data penelitian adalah siswa, sedangkan jenis data yang didapatkan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan data kualitatif yang meliputi: (1) data tes setelah siklus I dan siklus II, (2) hasil observasi terhadap proses pelaksanaan pembelajaran, (3) jurnal harian (catatan harian), dan (3) foto.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Hasil Penelitian

Kondisi Awal

Kemampuan mengarang siswa kelas V semester 1 SD Negeri Godog 01 masih rendah, hal ini dapat dilihat dari hasil tes mengarang yang dilakukan pada tanggal 15 September 2014.

Pada kondisi awal nilai rata-rata siswa hanya 69,49 dan masih jauh dibawah nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan di SDN Godog 01 yaitu 70. Dari 39 siswa, ada 23 siswa 58.97% yang nilainya mencapai KKM.

Siklus I

Model pembelajaran yang dilakukan dalam penelitian ini adalah media gambar sebagai upaya meningkatkan keterampilan mengarang bagi siswa kelas V SD Negeri Godog 01 Polokarto. Beberapa gambar yang harus diinterpretasikan oleh siswa dalam bentuk karangan. Hasil interpretasi tersebut, kemudian dikumpulkan untuk diketahui sejauh mana interpretasi siswa dalam membaca suatu gambar.

Penelitian ini juga untuk mengetahui adanya peningkatan aktivitas belajar siswa dalam tindakan dengan menggunakan media gambar, aktivitas yang diamati oleh peneliti meliputi akivitas visual antara lain membaca, melihat dan mengamati, Aktivitas lisan diantaranya: mengemukakan pendapat, bertanya, dan mengemukakan pendapat, sedangkan aktivitas lainnya adalah menulis dan mengerjakan tugas.

Pada Siklus I nilai rata-rata siswa meningkat dari 69,49 menjadi 74.23 dan sudah melampaui nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan di SDN Godog 01 yaitu 70. Dari 39 siswa, ada 30 siswa atau 76.92% yang nilainya mencapai KKM.

Siklus II

Pada siklus ini cenderung pada arah perbaikan proses, sehingga keterampilan mengarang siswa terjadi peningkatan. Pada akhir dari siklus II diadakan tes kemampuan mengarang bagi siswa sebanyak 39 siswa, dengan tujuan untuk mengetahui adanya peningkatan kemampuan mengarang pada siswa dari siklus I, setelah peneliti memberikan tindakan pembelajaran bahasa Indonesia dalam kompetensi dasar mengarang melalui penerapan pembelajaran dengan menggunakan Media gambar.

Pada Siklus II nilai rata-rata siswa meningkat dari 74.23 menjadi 81.54 dan sudah melampaui nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan di SDN Godog 01 yaitu 70. Dari 39 siswa, ada 37 siswa atau 94.87% yang nilainya mencapai KKM hanya tinggal 2 siswa yang belum mencapai KKM.

Analisis dan Pembahasan

Berdasarkan hasil uji keterampilan, terdapat peningkatan keterampilan mengarang adalah sebagi berikut:

a) Pada siklus I yang lancar mengarang sebanyak 28 orang dari 39 siswa (71.79%) pada kelas V semester 1 SD Negeri Godog 01 Polokarto yang terampil mengarang.

b) Sedangkan pada siklus II yang lancar mengarang sebanyak 37 orang dari 39 siswa (94.87%) pada kelas V semester 1 SD Negeri Godog 01 Polokarto yang terampil mengarang.

c) Penelitian tindakan ini juga mendapatkan adanya peningkatan aktivitas belajar siswa dalam proses belajar mengajar, aktivitas yang dapat teramati tiap pertemuan yang paling menonjol adalah pada kegiatan menulis dan mengerjakan tugas antara lain: Disiklus I pertemuan pertama menulis 14 siswa, pertemuan kedua 20 siswa menjadi 35 siswa di pertemuan pertama dan 39 siswa di pertemuan kedua pada siklus II, sedangkan kegiatan mengerjakan tugas dari 20 siswa di pertemuan pertama, 28 di pertemuan kedua, menjadi 39 siswa baik dipertemuan pertama maupun pertemuan kedua.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

1. Keterampilan mengarang siswa mengalami peningkatan, dari siklus I siswa yang lancar mengarang sebanyak 28 siswa atau 71.79%, meningkat menjadi 37 siswa atau 94.87% pada siklus II.

2. Penelitian tindakan kelas melalui penggunaan media gambar dalam upaya meningkatkan kemampuan keterampilan mengarang juga dapat meningkatkan aktivitas belajar, peningkatan aktivitas belajar tampak pada siklus I pertemuan kedua aktivitas bertanya 8 siswa, menjawab 6 siswa, menulis 20 siswa, mengerjakan tugas 28 siswa, di siklus II pada pertemuan kedua menjadi: 25 siswa bertanya, 26 siswa menjawab pertanyaan, 39 siswa aktivitas menulis, dan 39 siswa mengerjakan tugas.

Saran

1. Bagi guru, kegiatan penelitian tindakan kelas dengan mencobakan metode atau media dalam proses pembelajaran hendaknya menjadi suatu kegiatan rutin dan ilmiah dalam rangka meningkatkan proses pembelajaran, lebih jauh untuk meningkatkan mutu pembelajaran sehingga hasil belajar yang maksimal dapat dicapai .

2. Bagi Sekolah, Penelitian tindakan kelas sebagai salah satu upaya meningkatkan pengembangan profesi guru, guna meningkatkan mutu pendidikan melalui kompetensi guru khususnya dalam bidang didaktik dan metodik.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, 2006, Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta

Asrom, 1997, Dari Narasi Hingga Argumentasi, Jakarta: Erlangga,

Baradja. M. F, 1990, Kapita Selekta Pengajaran Bahasa, IKIP Malang, Malang

Depdikbud, 1998, Kurikulum Pendidikan Dasar. Jakarta: Depdikbud.

Hamalik, Oemar. 2003. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara

Harjasujana, Ahmad S, 1986, Keterampilan Membaca, Jakarta: Karunika

Keraf Gorys, 1995, Argumentasi dan Narasi, Jakarta: Gramedia

Nababan, Subyakto, Utari Sri, 1995, Metodologi Pengajaran Bahasa, Jakarta: Pustaka Utara

Nurhadi, 1995, Kapita Selekta Kajian Bahasa Sastra dan Pengajarannya, IKIP Malang, Malang

Parera, Daniel Jos, 1993, Menulis Tertib dan Sistematika, Jakarta: Erlangga

Purwadarminta W.J.S. 1984. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PN. Balai Pustaka

Rahman, Eman A dan Sudarno, 1993, Terampil Berbahasa Indonesia, Jakarta

Sartuni, Rasjid, 1984, Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi, Nina Dinamika, Jakarta: Hikmat Syahid Indah

Soejono. Ag, 1993, Metodik Khusus Bahasa Indonesia, Bandung: Bina Karya

Syafi’ie, Imam, 1990, Bahasa Indonesia, IKIP Malang, Malang

Tampubolon DP, 1987, Kemampuan Membaca Teknik Membaca Efektif, , Bandung: Angkasa

Tarigan, Djago dan Tarigan H. G, 1991, Teknik Pengajaran Keterampilan Berbahasa, Bandung: Angkasa,

Tarigan, Djago, 1987, Membina Keterampilan Menulis Paragraf dan Pengembangannya, Bandung: Angkasa

The Liang Gie, 1992, Pengantar Dunia Karang Mengarang, Yogyakarta: Liberty

Zainuddin, 1991, Materi Pokok Bahasa dan Sastra Indonesia, Jakarta: Rineka Cipta