PENINGKATAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR PENJASKES MELALUI PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN DEMONSTRASI PADA SISWA KELAS V SDN 1 PLOSOREJO

TAHUN PELAJARAN 2013/2014

 

Sulistiyono

SDN 1 Plosorejo Kecamatan Kunduran

 

ABSTRAK

Kegiatan belajar bersama dapat membantu memacu belajar aktif. Kegiatan belajar dan mengajar di kelas memang dapat menstimulasi belajar aktif, namun kemampuan untuk mengajar melalui kegiatan kerjasama kelompok kecil akan memungkinkan untuk menggalakkan kegiatan belajar aktif dengan cara khusus. Apa yang didiskusikan siswa dengan teman-temannya dan apa yang diajarkan siswa kepada teman-temannya memungkinkan mereka untuk memperoleh pemahaman dan penguasaan materi pelajaran. Penelitian ini berdasarkan permasalahan: (a) Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar Penjaskes dengan diterapkannya metode pembelajaran Demonstrasi ? (b) Bagaimanakah pengaruh Metode Pembelajaran Demonstrasi terhadap motivasi belajar Penjaskes?.Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah: (a) Ingin mengetahui peningkatan prestasi belajar Penjaskes setelah diterapkannya pembelajaran Demonstrasi. (b) Ingin mengetahui pengaruh motivasi belajar Penjaskes setelah diterapkannya pembelajaran Demonstrasi. (c) memberikan gambaran metode pembelajaran yang tepat dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa dan menjadikan siswa aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak tiga putaran. setiap putaran terdiri dari empat tahap, yaitu: rancangan, kegiatan dan pengamatan, refleksi, dan refisi. Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas V semester II SD Negeri 1 Plosorejo Kecamatan Kunduran Kabupaten Blora tahun pelajaran 2013 – 2014. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi kegiatan belajar mengajar. Dari hasil analisis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari pra siklus, siklus I sampai siklus II, yaitu prasiklus ( 31,58), siklus I (63,16%), siklus II (100%). Simpulan dari penelitian ini adalah metode pembelajaran Demonstrasi dapat berpengaruh positif terhadap prestasi dan motivasi belajar siswa kelas V, serta model pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alternative pembelajaran Penjaskes.

Kata Kunci: prestasi belajar, penjaskes, metode pembelajaran demonstrasi

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Pembelajaran Penjaskes tidak lagi mengutamakan pada penyerapan melalui pencapaian informasi, tetapi lebih mengutamakan pada pengembangan kemampuan dan pemrosesan informasi melalui tindakan atau eksperimen. Untuk itu aktifitas peserta didik perlu ditingkatkan melalui latihan-latihan atau tugas dengan bekerja dalam kelompok kecil dan menjelaskan ide-ide kepada orang lain. (Hartoyo, 2000:24). Pembelajaran kooperatif lebih menekankan interaksi antar siswa. Dari sini siswa akan melakukan komunikasi aktif dengan sesama temannya. Dengan komunikasi tersebut diharapkan siswa dapat menguasai materi pelajaran dengan mudah karena “siswa lebih mudah memahami penjelasan dari kawannya dibanding penjelasan dari guru, karena taraf pengetahuan serta pemikiran mereka lebih sejalan dan sepadan”. (Sulaiman dalam Wahyuni 2001: 2). Pendidikan jasmani dan olahraga merupakan sebuah investasi jangka panjang dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia di Indonesia. Hasil yang diharapkan dari keberhasilan pendidikan jasmani itu, bisa dicapai dalam waktu yang cukup lama, maka proses pembentukan sikap dan pembangkitan motivasi harus dimulai secara berkelanjutan sejak dini. Oleh sebab itu, pendidikan jasmani harus diberikan sejak seseorang berada di bangku TK, SD, SMP, SMA sampai dengan perguruan tinggi.

Pendidikan jasmani kesehatan dan olahraga merupakan suatu pelajaran yang diberikan di sekolah. Pendidikan jasmani diberikan oleh guru kepada siswa yang bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar gerak sebagai usaha mengembangkan potensi yang dimiliki oleh siswa tersebut. Potensi yang dimiliki oleh siswa adalah pengetahuan sikap serta keterampilan gerak yang dikembangkan ke arah positif, secara seimbang, selaras dan serasi.

Sekolah merupakan sarana yang tepat untuk menimba ilmu dan prestasi, apabila program pendidikan di sekolah-sekolah dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Telah dimaklumi bahwa prestasi olahraga tidak dapat diciptakan dalam satu atau dua hari, akan tetapi memerlukan waktu pembinaan yang lama mulai dari sejak usia dini dan berlanjut kejenjang selanjutnya sesuai dengan tingkat kemampuan dan tingkat pendidikan.

Kenyataan yang ada pada saat ini menunjukan bahwa pendidikan jasmani olahraga di sekolah hanya sebagai salah satu mata pelajaran yang wajib dilaksanakan tanpa memperhatikan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam penjas. Hal ini berpengaruh terhadap jalannya pembelajaran penjas yang tidak sesuai karena minimnya peralatan.

Mengajar adalah membimbing belajar siswa sehingga ia mampu belajar. Dengan demikian aktifitas siswa sangat diperlukan dalam kegiatan belajar-mengajar sehingga siswalah yang seharusnya banyak aktif, sebab siswa sebagai subyek didik adalah yang merencanakan, dan ia sendiri yang melaksanakan belajar. Pada kenyataan, di sekolah-sekolah seringkali guru yang aktif, sehingga siswa tidak diberi kesempatan untuk aktif.

Kegiatan belajar bersama dapat membantu memacu belajar aktif. Kegiatan belajar dan mengajar di kelas memang dapat menstimulasi belajar aktif. Namun kemampuan untuk mengajar melalui kegiatan kerjasana kelompok kecil akan memungkinkan untuk menggalakkan kegiatan belajar aktif dengan cara khusus. Apa yang didiskusikan siswa dengan teman-temannya dan apa yang diajarkan siswa kepada teman-temannya memungkinkan mereka untuk memperoleh pemahaman dan penguasaan materi pelajaran.Hal di atas mengakibatkan kecenderungan siswa untuk mengikuti pembelajaran penjas tergolong rendah. Seperti di kelas V, mereka hanya ingin bermain permainan yang mereka suka seperti kasti dan sepakbola. Untuk materi yang lain mereka kurang antusias. Dengan kondisi seperti ini, banyak waktu terbuang tanpa adanya kegiatan yang sifatnya belajar. Dari hasil catatan lapangan, tingkat keaktifan belajar siswa dalam pelajaran penjaskes masih “rendah”. Hal ini karena mereka terkesan terpaksa apabila meneria materi yang mereka tidak suka. Dari keaktifan belajar siswa yang rendah, ketika dilakukan tes unjuk kerja, hasil yang dicapai siswa juga rendah. Dengan KKM Penjas 70, dari 19 siswa kelas V SDN 1 Plosorejo yang mampu tuntas belajar adalah 6 siswa (31,58%), sisanya sejumlah 13 siswa (68,42%) masih belum tuntas belajar. Rata-rata nilai ketika dilakukan tes unjuk kerja adalah 64,0.

Dengan kondisi di atas, guru sebagai peneliti merasa perlu untuk mencari jalan keluar agar keaktifan dan hasil belajar siswa dapat ditingkatkan. Peneliti menggunakan metode demonstrasi untuk meningkatkan motivasi siswa dalam belajar penjaskes. Metode ini peneliti gunakan untuk mengalihkan perhatian anak agar tidak merasa bosan dengan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dapat tercapai apabila anak tetap semangat dan tidak mudah bosan. Oleh karena itu, peneliti mencoba melakukan penelitian dengan judul “Peningkatan Motivasi Dan Prestasi Belajar Penjaskes Melalui Penerapan Metode Pembelajaran Demonstrasi Pada Siswa Kelas V SDN 1 Plosorejo Tahun Pelajaran 2013/2014”.

Rumusan Masalah

Bertitik tolak dari latar belakang di atas, maka penulis merumuskan permasalahannya sebagai berikut: Bagaimanakah Peningkatan Motivasi Dan Prestasi Belajar Penjaskes Melalui Penerapan Metode Pembelajaran Demonstrasi Pada Siswa Kelas V SDN 1 Plosorejo Tahun Pelajaran 2013/2014?.

Tujuan Penelitian

            Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk: Untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar Penjaskes setelah diterapkannya metode pembelajaran demontrasi pada Siswa Kelas V SDN 1 Plosorejo Tahun Pelajaran 2013/2014.

Hipotesis Penelitian

Berdasarkan pada permasalahan dalam penelitian yang dilaksanakan dapat dirumuskan hipotesis tindakan yaitu melalui penerapan metode pembelajaran demonstrasi dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar penjaskes pada siswa kelas V SDN 1 Plosorejo Tahun Pelajaran 2013/2014.

Manfaat Penelitian

Adapun maksud penulis mengadakan penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat antara lain:

1.   Menambah pengetahuan dan wawasan penulis tentang peranan guru Penjaskes dalam meningkatkan pemahaman siswa belajar Penjaskes.

2.   Sumbangan pemikiran bagi guru Penjaskes dalam mengajar dan meningkatkan pemahaman siswa belajar Penjaskes.

3.   Proses belajar mengajar Penjaskes tidak lagi monoton.

4.   Ditemukannya strategi pembelajaran yang tepat, tidak konvesional tetapi variatif.

5.   Keaktifan siswa dalam mengerjakan tugas mandiri maupun kelompok meningkat.

6.   Menjadikan bahan ajar lebih menarik, sehingga proses pembelajaran sesuai dengan tujuan dan prestasi akademik siswa semakin meningkat.

KAJIAN TEORI

Hakikat Belajar

Sugihartono, dkk (2007:74) belajar merupakan suatu proses perubahan tingkahlaku sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Artinya seseorang dinyatakan telah belajar, jika ia dapat melakukan suatu yang tidak dapat dilakukan sebelumnya.

Menurut Amung Ma’mun dan Yudha M. Saputra (2000: 39), menyatakan bahwa belajar pada hakekatnya selalu terintegrasi dengan kehidupan manusia, demikian juga binatang. Peristiwa yang dialami baik oleh manusia maupun binatang pada dasarnya merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Jadi, belajar tidak mengenal apa, siapa, dan dimana hal ini terbukti dengan pernyataan diatas yang mengemukan belajar yang dilakukan oleh manusia dan binatang untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Harold spears dalam buku Agus Suprijono (2012:2), mengemukakan bahwa belajar adalah mengamati, membaca, meniru, mencoba sesuatu, mendengar dan mengikuti arah tertentu. Robert gagne dalam Amung Ma’mun (2000), mengemukakan lima domain mengenai jenis belajar, yaitu: a) Keterampilan gerak, yaitu gerakan berorientasi yang diwakili oleh koordinasi respons terhadap tanda-tanda tertentu; b) Informasi verbal, yaitu dicontohkan melalui fakta-fakta, prinsip-prinsip, dan generalisasi, yang dianggap sebagai pengetahuan; c) Keterampilan intelektual, yaitu diwakili oleh diskriminasi, peraturan, dan konsep-konsep (penerapan pengetahuan); d) Strategi kognitif, yaitu keterampilan-keterampilan yang terorganisir secara internal yang menentukan pembelajaran seseorang, pengingatan dan pemikiran; e) Sikap, yaitu perilaku efektif seperti perasaan.

Keaktifan Belajar

Aktif menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( 2005: 23 ) berarti giat. Aktivitas siswa pada saat proses pembelajaran perlu diperhatikan oleh guru, agar proses belajar mengajar yang ditempuh mendapatkan hasil yang maksimal. Maka guru perlu mencari cara untuk meningkatkan keaktifan siswa. Keaktifan siswa dalam belajar secara efektif itu dapat dinyatakan sebagai berikut: (1) Hasil belajar siswa umumnya hanya sampai tingkat penguasaan, merupakan bentuk hasil belajar terendah; (2) Sumber belajar yang digunakan pada umumnya terbatas pada guru (catatan penjelasan dari guru) dan satu dua buku catatan; (3) Guru dalam mengajar kurang merangsang aktivitas belajar siswa secara optimal. (Tabrani,1989: 128).

Keaktifan sendiri merupakan motor dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan belajar, siswa di tuntut untuk selalu aktif memproses dan mengolah hasil belajarnya. Untuk dapat memproses dan mengolah hasil belajarnya secara efektif, siswa dituntut untuk aktif secara fisik, intelektual,dan emosional. Sardiman (2009: 100) berpendapat bahwa aktifitas disini yang baik yang bersifat fisik maupun mental. Dalam kegiatan belajar kedua aktifitas itu harus saling terkait. Kaitan antara keduanya akan membuahkan aktifitas belajar yang optimal. Banyak aktifitas yang dapat dilakukan siswa disekolah.Beberapa macam aktifitas itu harus diterapkan guru pada saat pembelajaran sedang berlangsung.

Menurut Sardiman (2009: 24 – 25) prinsip dalam belajar yang perlu diketahui antara lain: (1) Belajar pada hakikatnya menyangkut potensi manusiawi dan perilakunya; (2) Belajar memerlukan proses dan pengharapan serta pematangan diri; (3) Belajar akan lebih mantap dan efektif apabila didorong oleh motivasi,terutama motivasi dari dalam; (4) Dalam hal belajar merupakan proses percobaan dan pembiasaan; (5) Kemampuan belajar seseorang siswa harus di perhitungkan dalam rangka menentukan isi pelajaran; (6) Belajar dapat dilakukan dengan cara diajar secara langsung, control, kontak, pengalaman langsung, dan pengenalan dan atau peniruan; (7) Belajar melalui praktek akan lebih aktif dibandingkan hafalan saja; (8) Bahan pelajaran yang bermakna lebih menarik untuk dipelajari dibandingkan bahan yang kurang bermakna; (9) Informasi tentang perilaku baik pengetahuan, kesalahan, serta keberhasilan siswa akan membantu kelancaran belajar; (10) Belajar sedapat mungkin diubah kedalam bentuk sehingga siswa mengalaminya sendiri.

Prestasi Belajar

Untuk mengetahui perkembangan sampai di mana hasil yang telah dicapai oleh seseorang dalam belajar, maka harus dilakukan evaluasi. Untuk menentukan kemajuan yang dicapai maka harus ada kriteria (patokan) yang mengacu pada tujuan yang telah ditentukan sehingga dapat diketahui seberapa besar pengaruh strategi belajar mengajar terhadap keberhasilan belajar siswa. Hasil belajar siswa menurut W. Winkel (1989:82) adalah keberhasilan yang dicapai oleh siswa, yakni prestasi belajar siswa di sekolah yang mewujudkan dalam bentuk angka.

Menurut Winarno Surakhmad (1980:25) hasil belajar siswa bagi kebanyakan orang berarti ulangan, ujian atau tes. Maksud ulangan tersebut ialah untuk memperoleh suatu indek dalam menentukan keberhasilan siswa.

Dari definisi di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa hasil belajar adalah prestasi belajar yang dicapai siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar dengan membawa suatu perubahan dan pembentukan tingkah laku seseorang. Untuk menyatakan bahwa suatu proses belajar dapat dikatakan berhasil, setiap guru memiliki pandangan masing-masing sejalan dengan filsafatnya. Namun untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita berpedoman pada kurikulum yang berlaku saat ini yang telah disempurnakan, antara lain bahwa suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pembelajaran dinyatakan berhasil apabila tujuan pembelajaran khususnya dapat dicapai.

Metode Demonstrasi

            Metode domonstrasi merupakan metode mengajar yang menyajikan bahan pelajaran dengan mempertunjukkan secara langsung objeknya atau caranya melakukan sesuatu untuk mempertunjukkan proses tertentu. Demonstrasi dapat digunakan pada semua mata pelajaran. Dalam pelaksanaan demonstrasi guru harus sudah yakin bahwa seluruh siswa dapat memperhatikan dan mengamati terhadap objek yang akan didemonstrasikan. Sebelumnya proses demonstrasi guru sudah mempersiapkan alat – alat yang digunakan dalam demonstrasi tersebut.

Guru di tuntut menguasai bahan pelajaran serta mengorganisasi kelas, jangan samapi guru terlena dengan demonstrasinya tanpa memperhatikan siswa secara menyeluruh. Ada beberapa karakteristik metode mengajar demonstrasi dan bagaimana hubungannya dengan pengalaman belajar siswa. Prosedur metode demonstrasi yang harus dilakukan dalam pembelajaran adalah:

1.   Mempersiapkan alat bantu yang akan digunakan dalam pembelajaran

2.   Memberikan penjelasan tentang topik yang akan didemonstrasikan

3.   Pelaksanaan demonstrsi bersamaan dengan perhatian dan peniruan dari siswa

4.   Penguatan (diskusi, tanya jawab, dan atau latihan) terhadap hasil demonstrasi

5.   Kesimpulan

Kemampuan guru yang perlu diperhatikan dalam menunjung keberhasilan demonstrasi di antaranya:

1.   Mampu secara proses tentang topik yang dipraktekkan

2.   Mampu mengelola kelas, menguasai siswa secara menyeluruh

3.   Mampu menggunakan alat bantu yang digunakan

4.   Mampu melaksanakan penilaian proses

Kondisi dan kemampuan siswa yang harus diperhatikan untuk menunjang demonstrasi, diantaranya adalah:

1.   Siswa memiliki motivasi, perhatian dan minat terhadap topik yang didemonstrasikan

2.   Memahami tentang tujuan/maksud yang akan didemonstrasikan.

3.   Mampu mengamati proses yang dilakukan oleh guru

4.   Mampu mengidentifikasi kondisi dan alat yang digunakan dalam demonstrasi

METODOLOGI PENELITIAN

Kegiatan Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Januari 2014 sampai dengan bulan April 2014. Penelitian akan dilaksanakan di SDN 1 Plosorejo Kecamatan Kunduran Kabupaten Blora. Subjek yang diteliti adalah siswa kelas V SDN 1 Plosorejo tahun pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 19 siswa yang terdiri dari 11 siswa laki-laki dan 8 siswa perempuan.

Sumber data dalam penelitian adalah data dokumen, observasi, dan hasil tes unjuk kerja. Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian tindakan kelas ini adalah teknik tes dan nontes. Data yang terkumpul dianalisis dengan teknik analisis deskriptef komparatif. Penyajian data meliputi tahap reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan.

Indikator dari keberhasilan tindakan meliputi: perubahan siswa dalam mengikuti pembelajaran siswa terlihat antusias lebih termotivasi, senang, dan juga aktif dalam mengikuti pembelajaran. Adanya rasa senang dalam diri siswa dapat meningkatkan hasil belajar. Diharapkan kondisi akhir yang dicapai tingkat keaktifan belajar siswa “tinggi”. Untuk hasil belajar siswa, diharapkan tingkat ketuntasan belajar siswa mencapai minimal 80% tuntas belajar.

Prosedur penelitian ini menggunakan model yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggart yang terdiri dari empat komponen yaitu: 1) Perencanaan (planning), 2) Tindakan (acting), 3) Observasi (observing), 4) Refleksi (refleting).

HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Pra Siklus

            Pada pembelajaran pra siklus, data yang diperoleh dari dokumen pembelajaran menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa masih “rendah”. Hasil evaluasi pembelajaran penjaskes sebelum menggunakan metode pembelajaran demonstrasi, diperoleh rata-rata nilai tes unjuk kerja sebesar 64,0. Dari 19 siswa yang tuntas belajar dengan KKM 70 adalah 6 siswa (31,58%). Perolehan nilai tertinggi adalah 75 dan nilai terendahnya 50.

Deskripsi Siklus I

Siklus I dilaksanakan pada bulan Februari 2014. Dari hasil pengamatan proses pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti dan teman sejawat diperoleh data tentang keaktifan belajar siswa. Pada pembelajaran siklus I tingkat keaktifan belajar siswa kelas IV SDN 1 Plosorejo dalam pembelajaran penjaskes adalah “sedang”.

Hasil belajar yang dilakuakn dengan melakukan tes unjuk kerja pada akhir siklus I menunjukkan bahawa dari 19 siswa yang berhasil tuntas belajar adalah 12 siswa (63,16%). Perolehan nilai tertingi adalah 90 dan nilai terendahnya50. Rata-rata nilai tes unjuk kerja yang dilakukan adalah 69,3.

Deskripsi Siklus II

            Siklus II dilaksanakan pada bulan Maret 2014. Dari hasil pengamatan proses pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti dan teman sejawat diperoleh data tentang keaktifan belajar siswa. Pada pembelajaran siklus II tingkat keaktifan belajar siswa kelas V SDN 1 Plosorejo dalam pembelajaran penjaskes adalah “tinggi”.

            Hasil belajar yang dilakukan dengan melakukan tes unjuk kerja pada akhir siklus II menunjukkan bahawa dari 19 siswa yang berhasil tuntas belajar adalah 19 siswa (100%). Perolehan nilai tertingi adalah 90 dan nilai terendahnya 70. Rata-rata nilai tes unjuk kerja yang dilakukan adalah 75,3.

Pembahasan

            Kegiatan pembelajaran kondisi awal tingkat motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Penjas tergolong rendah. Karena mereka hanya bersemangat ketika diajak bermain kasti atau seakbola. Ketika mereka harus menerima materi yang lain mereka terkesan malas-malasan. Dari kondisi ini, data yang diperoleh mengenai motivasi belajar siswa pada pembelajaran pra siklus masih “rendah”. Pada siklus I, guru menerapkan metode pembelajaran demonstrasi. Pada siklus I ini motiasi belajar siswa semakin meningkat meskipun materi yang disampaikan tergolong tidak disukai siswa. Dari data yang dikumpulkan peneliti dan teman sejawat, tingkat motivasi belajar siswa meningkat menjadi “sedang”.

            Dengan meningkatnya motivasi belajar siswa, berdampak pada meningkatnya hasil belajar siswa. Hasil tes unjuk kerja pada pembelajaran pra siklus menunjukkan tingkat ketuntasan belajar adalah 31,58% dan rata-rata nilai unjuk kerja siswa adalah 64,0. Pada siklus I, setelah dilakukan penerapan metode pembelajaran demonstrasi prestasi belajar siswa meningkat. Tingkat ketuntasan belajar siswa menjadi 63,16% dan rata-rata nilai tes unjuk kerja adalah 69,3. Peningkatan hasil belajar siswa kembali terjadi pada siklus II. Tingkat ketuntasan belajar pada siklus II menjadi 100% dan rata-rata nilai tes unjuk kerjanya 75,3.

PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan selama tiga siklus, hasil seluruh pembahasan serta analisis yang tela dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Metode Demontrasi dapat meningkatkan kualitas pembelajaran Penjaskes.
  2. Metode Demontrasi memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestsi belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu prasiklus (31,58%), siklus I (63,16%), siklus II (100%).
  3. Metode Demontrasi dapat menjadikan siswa merasa dirinya mendapat perhatian dan kesempatan untuk menyampaikan pendapat, gagasan, ide, dan pertanyaan.
  4. Siswa dapat bekerja secara mandiri maupun kelompok, serta mampu mempertanggungjawabkan tugas individu maupun kelompok.
  5. Penerapan metode Demontrasi mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.

Saran

           Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelum agar proses belajar mengajar Penjaskes lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan saran sebagai berikut:

1.   Untuk melaksanakan metode Demontrasi memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan Metode Demontrasi dalam pross belajar mengajar sehingga memperoleh hasil yang optimal.

2.   Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan berbagai metode pengajaran, walau dalam taraf yang sederhana, dimana siswa nantiny dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.

3.   Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya dilakukan di Siswa Kelas V Semester II SD Negeri 1 Plosorejo Tahun Pelajaran 2013 – 2014

4.   Untuk peneltian yang serupa hendaknya dilakukan perbaikan-perbaikan agar diperoleh hasil yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

A. M, Sardiman. 2009. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Press.

Agus Suprijono. 2012. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi Paikem. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Amung Ma’mun dan Yudha M. Saputra. 2000. Perkembangan Gerak Dasar dan Belajar Gerak. Jakarta: Depdikbud

Soetomo, 1993. Dasar-Dasar Interaksi Belajar Mengajar. Surabaya Usaha Nasional

Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press

Sukintaka. 1992. Teori Bermain untuk D2 PGSD Penjaskes. Jakarta: Depdikbud

Usman, Moh. Uzer. 2001. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya

Winarno Surakhmad (dalam buku, Interaksi Belajar Mengajar, (Bandung: Jemmars, 1980:25)