UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MATERI BENDA

DI SEKITAR KITA MELALUI METODE COOPERATIF TIPE STAD SISWA KELAS I SEMESTER I SDN 2 TALOKWOHMOJO,

KECAMATAN NGAWEN KABUPATEN BLORA

TAHUN PELAJARAN 2017/2018

 

Sri Kusmini

SDN 2 Talokwohmojo, Kecamatan Ngawen Kabupaten Blora

 

ABSTRAK

Dalam melaksanakan proses pembelajaran IPA banyak sekali siswa yang kurang minat terhadap pelajaran tersebut. Apalagi kalau metode yang digunakan hanya ceramah dan tanpa menggunakan alat peraga. Ketika guru memberikan satu soal dan meminta salah satu siswa mengerjakan di papan tulis hanya 8 siswa dari 21 siswa yang berani mengajungkan tangan untuk bertanya tergantung dari bagaimana memberikan stimulan guru dalam pembelajaran Pada akhir proses pembelajaran guru memberikan evaluasi ternyata hanya 8 siswa dari 21 siswa atau 62% yang mencapai tingkat ketuntasan. Pembelajaran menggunakan metode Cooperative Learning yang diterapkan juga dapat meningkatkan proses pembelajaran, hal ini terbukti dengan semakin meningkatnya aktifitas belajar siswa dan juga hasil belajar siswa yang ditunjukkan oleh hasil evaluasi siswa yaitu pada siklus II ketuntasan belajar siswa meningkat dari 15 siswa atau 71% meningkat menjadi 21 siswa atau 100%. Meningkatkan motivasi belajar siswa dan membangkitkan minat proses pembelajaran yang ditumbuhkan dari siswa yang inovatif. Pelaksanaan pembelajaran efektifitas meningkatkan hasil belajar IPA materi Benda di Sekitarku dengan metode Cooperative Learning kelas I semester I, telah terjadi peningkatan hasil belajar. Dari target yang diinginkan yaitu ≥80% dari 18 siswa, yang memperoleh nilai ≥80 sebanyak 23 siswa atau 90%. Karena keefektifitasan sudah terbukti dan disajikan oleh peneliti secara langsung dalam tahapan 2 siklus

Kata Kunci: STAD, Benda di Sekitar Kita, IPA.

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Ilmu Pengetahuan Alam merupakan salah satu pelajaran yang menjadi momok bagi sebagian siswa. Hal ini tidak datang dengan sendirinya namun berasal dari pengalaman belajar yang sudah pernah dijalani siswa ketika mereka belajar Ilmu Pengetahuan Alam di sekolah. Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dianggap sulit mungkin karena Ilmu Pengetahuan Alam adalah mata pelajaran berhitung yang mengharuskan siswa untuk berpikir abstrak, teliti, cermat, fokus dan mampu memahami keadaan lingkungan sekitar. Dalam segala aspek kehidupan manusia selalu berhubungan dengan Ilmu Pengetahuan Alam dan hampir tidak lepas dari Ilmu Pengetahuan Alam. Ilmu Pengetahuan Alam sangat berperan dalam segala aspek kehidupan dan manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Dengan pendidikan, manusia dapat mengembangkan potensi dirinya sehingga menjadi manusia yang berkualitas atau dengan kata lain menjadi manusia yang memiliki sumber daya yang berkualitas. Sumber daya manusia yang berkualitas memegang peranan penting dalam menentukan keberhasilan di setiap sektor pembangunan khususnya dalam dunia pendidikan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan semua pihak dapat memperoleh informasi dengan melimpah, cepat dan mudah dari berbagai sumber selain perkembangannya yang pesat, perubahan juga terjadi dengan cepat karenanya diperlukan kemampuan untuk memperoleh, mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan pada keadaan yang selalu berubah. Kemampuan ini membutuhkan pemikiran antara lain berpikir logis, kritis yang dapat dikembangkan melalui pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.

Berdasarkan landasan teoritik di muka, maka peneliti melaksanakan tindakan dalam penelitian dengan cara menggunakan model pembelajaran cooperatif learning tipe STAD untuk meningkatkan pristasi belajar mata pelajaran IPA tentang benda di sekitar kita. Dalam hal ini ditunjukkan oleh 85% siswa telah belajar dengan tuntas. Dengan berlandaskan teori-teori yang sudah dipikir oleh penulis dari kerangka berpikir diatas, diduga melalui model pembelajaran cooperatif learning tipe STAD dapat meningkatkan pristasi belajar siswa kelas I semester I di SDN 2 Talokwohmojo mata pelajaran IPA pada materi benda di sekitar kita.

Rumusan Masalah

1       Apakah guru dapat menerapkan cooperative learning model STAD dapat meningkatkan kemampuan belajar IPA tentang sifat-sifat benda siswa kelas I semester I di SDN 2 Talokwohmojo, tahun pelajaran 2017/2018 ?

2      Apakah guru menerapkan cooperative learning model STAD dapat meningkatkan hasil belajar IPA materi sifat-sifat bendasiswa kelas I semester I di SDN 2 Talokwohmojo tahun pelajaran 2017/2018 ?

Tujuan penelitian

1.     Untuk mengetahui sejauh mana persiapan guru didalam melaksanakan persiapan pembelajaran.

2.     Untuk memberikan pembinaan kepada guru sebelum melaksanakan pembelajaran dalam mencapai keherhasilan yang optimal perlunya persiapan yang baik meliputi RPP juga sarana penunjangnya.

3.     Guru selalu untuk memanfaatkan waktu yang sebaik-baiknya selama melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

4.     Guru hendaknya selalu mengawasi kegiatan yang dilakukan oleh siswa sehingga lebih aktif dalam belajar.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini memiliki manfaat untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang meliputi:

  1. Mengembangan model pembelajaran TGT dengan media peta dalam menanamkan konsep berarti Kemampuan utama belajar efektif dapat tercakup.
  2. Diharapkan dapat memberi kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan khususnya bagi siswa.

 Praktis

1      Siswa termotivasi untuk meningkatkan kemampuan belajar.

2      Siswa termotivasi untuk meningkatkan pristasi belajar.

 Bagi Guru

1      Terjadinya inovasi dalam proses belajar mengajar di kelas.

2      Mengubah strategi pembelajaran untuk meningkatkan kegiatan belajar mengajar.

 Bagi Sekolah

1      Untuk meningkatkan prestasi menjadi sekolah unggulan.

2      Meningkatkan popularitas yang menjadi sekolah pilihan masyarakat.

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS

Teori Konstruktivisme

Teori Konstruktivisme menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan menstrasformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan struktur kognitif yang sudah ada dan menyesuaikannya apabila tidak sesuai (Slavin, 1994). Bagi siswa agar benar-benar memahami dan menerapkan pengetahuan, maka mereka harus memecahkan masalah, menemukan sendiri segala sesuatu untuk dirinya, dan berusaha dengan ide-idenya.

Salah satu prinsip yang paling penting dalam teori Konstruktivisme adalah bahwa guru tidak dapat hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa. Peranan penting guru adalah menyediakan suatu suasana dimana siswa dapat membangun sendiri pengetahuannya di dalam benaknya. Guru dapat memberikan tahap-tahap yang membawa ke pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri yang menemukan atau mendapatkan catatan siswa sendiri yang menemukan atau mendaptkan pemahaman tersebut (Slavin, 1994).

Teori Mengajar

Mengajar, dapat diartikan sebagai penciptaan suatu sistem menjalin hubungan interaksi guru dan siswa untuk mendapatkan pristasi belajar yang diharapkan, lingkungan yang mendukung memungkinkan terjadinya proses belajar. Sistem lingkungan terdiri dari komponen-komponen yang saling mempengaruhi antara lain Kompetensi Dasar yang diinginkan atau dicapai, materi yang diajarkan, guru dan siswa yang akan memainkan peran sertanya dalam hubungan sosial tertentu, bentuk kegiatan yang akan dilakukan, serta sarana dan prasarana yang tersedia. Komponen-komponen pada sistem ini saling mempengaruhi serta bervariasi sehingga setiap peristiwa belajar mengajar memiliki “profil” tertentu. Masing-masing profil sistem lingkungan belajar mengakibatkan tercapainya tujuan-tujuan belajar yang berbeda berdasarkan minat,kemampuan,dan karakteristik.

STAD (Student Teams Achievement Division).

Ada empat tipe yang biasa digunakan oleh guru dalam pembelajaran kooperatif (Abdurrahman dan Bintoro, 2000 dalam Nurhadi, 2003), yakni salah satunya adalah tipe STAD (Student Teams Achievement Division). Tipe STAD dikembangkan oleh Robert Stavin dan kawan-kawannya dari Universitas John Hopkins. Tipe ini dipandang yang paling sederhana dan paling langsung dari pendidikan pembelajaran kooperatif.

Langkah-langkah model pembelajaran cooperatif learning tipe STAD adalah:

a.     Para siswa di dalam dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing kelompok mempunyai 3 anggota yang heterogen baik laki-laki dan perempuan.

b.     Guru menyampaikan materi pelajaran kepada siswa yang sesuai dengan perencanaan.

c.     Guru membagikan materi pada masing-masing kelompok dan saling membantu untuk menguasai materi pelajaran melalui tanya jawab dan diskusi antar sesama anggota kelompok.

d.     Selanjutnya masing-masing kelompok mempresentasikan di depan kelas yang diwakili satu anak sebagai pelapor.

e.     Selanjutnya dari masing-masing kelompok memperhatikan untuk memberikan tanggapan.

f.      Selanjutnya guru memberikan kesimpulan dan penegasan dan tiap kelompok diberi skor atas penguasaan materi kepada siswa secara individu atau kelompok yang mendapat skor tertinggi di beri penghargaan.

g.     Kesimpulan pelaksanaan tipe stad melalui tahapan sebagai berikut.

1).   Penjelasan materi kepada siswa

2).   Diskusi kerja kelompok membicarakan materi yang dipelajari.

3).   Validasi oleh guru sesuai dengan kegiatan yang direncanakan.

4).   Evaluasi dan pengamatan untuk mengetahui keaktifn siswa.

5).   Menentukan nilai individu dan kelompok setelah kegiatan.

6).   Penghargaan individu atau kelompok yang menunjukkan keaktifan.

Model Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran kooperatif (cooperatif learning) merupakan salah satu model pembelajaran yang bermuara pada pendekatan konstruktivisme. Model pembelajaran kooperatif siswa belajar bersama, saling menumbangkan pikiran dan bertanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar secara individu dan kelompok (Slavin, 1991). Model pembelajaran ini berpandangan bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka saling mendiskusikan konsep-konsep tersebut dengan teman sebayanya (Slavin, 1994).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan model pembelajaran kooperatif adalah:

a.     Bentuk kelompok (jumlah anggota kelompok, tingkat kemampuan anggota kelompok)

b.     Konsep dan sub konsep yang akan diajarkan

c.     Tugas yang harus dilakukan siswa (misalnya LKS)

d.     Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai

e.     Keterampilan dan strategi yang dilatihkan, dan

f.      Metode evaluasi yang digunakan

Temuan Hasil Penelitian

Dari hasil pengamatan nilai ulangan harian dari 15 siswa kelas I semester I di SDN 2 Talokwohmojo, rata-rata nilai ulangan harian masih < 75. hal ini dikarenakan guru dan siswa dalam proses pembelajaran masih kurang dalam mempersiapkan semua kelengkapan perangkat dalam pembelajaran baik itu sumber dan alat pembelajaran, metode, model dan kesiapan.

Para siswa kebanyakan masih sulit untuk menerima penjelasan dari guru yang bersifat informasi saja dan selanjutnya hanya diberikan tugas secara individu, sehingga jika keadaan ini bila dikembangkan terus-menerus siswa akan sulit untuk memahami konsep dan hasil belajar menjadi buruk.

Kerangka Berpikir

Seorang peneliti harus menguasai teori-teori ilmiah sebagai dasar dalam memberikan argumentasi dalam menyusun kerangka pemikiran yang membuahkan hipotesis. Kerangka pemikiran ini merupakan penjelasan sementara terhadap gejala-gejala yang menjadi objek permasalahan (Suriasumantri, 1986). Kriteria pertama agar suatu pemikiran bisa meyakinkan sesama ilmuwan adalah alur-alur pikiran yang logis dalam membangun suatu kerangka berpikir yang membuahkan kesimpulan yang berupa hipotesis.

Hipotesis

 Berdasarkan latar belakang peneliti membuat suatu hipotesis:

1.     Melalui pembelajaran kooperatif learning model STAD meningkatkan kemampuan belajar IPA materi sifat-sifat bendasiswa kelas I semester I di SDN 2 Talokwohmojo

2.     Melalui pembelajaran kooperatif learning model STAD meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas I semester I di SDN 2 Talokwohmojo

PELAKSANAAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

Subyek Penelitian

Subyek penelitian dalam penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas I SDN 2 Talokwohmojo Kecamatan Ngawen Kabupaten Blora Tahun Pelajaran 2017/2018 yang berjumlah 23 siswa, terdiri dari 16 siswa putra dan 7 siswa putri.

Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di kelas I semester I SDN 2 Talokwohmojo tahun pelajaran 2017/2018. Alasan pemilihan tempat penelitian di SDN 2 Talokwohmojo karena lokasi penelitian berada pada lokasi peneliti bekerja.

Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus. Siklus I dilaksanakan pada tanggal 6 September 2017 dan Siklus II dilaksanakan pada tanggal 4 Oktober 2017.

Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran

Di dalam penelitian tindakan kelas (PTK) terdapat beberapa model atau desain penelitian yang digunakan ketika peneliti melakukan PTK. Desain-desain tersebut diantaranya adalah (1) model Kurt Lewin, (2) model Kemmis Mc Taggart, (3) model John Elliot, (4) model Hopkons, (5) model Mc. Kernan, (6) model Dave Ebut. Prosedur dalam penleitian ini, peneliti menggunakan model Kemmis & Mc. Taggart.

Menurut Basrawi Suwandi (2008:68), desain Penleitian Kemmis merupakan pengembangan dari konsep dasar yang diperkenalkan Kurt Lewin. Desain penelitian Kemmis dikenal dengan model spiral. Hal ini karena dalam perencanaan, Kemmis menggunakan spiral refleksi direi, yang dimulai dengan rencana, tindakan, pengamatan, refleksi dan perencanaan kembali merupakan dasar untuk suatu ancang-ancang pemecahan masalah.

Deskripsi Pra Siklus

Perencanaan

Pada pembelajaran awal adalah metodeyang digunakan guru belum tepat, alat peraga kurang menarik, proses pembelajaran yang sederhana/membosankan, penjelasan materi kurang dipahami siswa.

Pelaksanaan

Pelaksanaan Pra Siklus keberhasilan pembelajaran awal dalam proses pembelajaran menunjukkan hasil belajar tes formatif 6 anak dari 26 siswa memenuhi KKM, hal ini menunjukkan bahwa masih ada beberapa siswa yang memahami materi pelajaran, memperhatikan pelajaran dengan sungguh-sungguh, siswa aktif menggunakan alat peraga saat melaksanakan pembelajaran.

Kekurangan pembelajaran awal adalah masih banyak siswa yang belum memenuhi KKM, siswa yang belum tuntas 20 siswa hal ini karena siswa sulit menerima materi pelajaran dari penjelasan guru, siswa kurang aktif dalam menggunakan alat peraga, siswa hanya menjadi pendengar pasif tanpa bertanya materi yang belum dimengerti.

Observasi

Berdasarkan hasil pelajaran awal, teman sejawat hal-hal yang terjadi, seperti penjelasan materi yang diberikan guru kurang dimengerti siswa, alat peraga yang digunakan guru kurang menarik, pengaturan waktu yang kurang tepat, masih ada siswa yang ramai, siswa kurang aktif dalam pembelajaran, hanya anak tertentu yang menjawab atau bertanya dan suasana kelas ramai.Keberhasilan pembelajaran awal dalam mengamati proses pembelajaran pengamat adalah telah diisinya lembar observasi dengan memberi saran dan masukan yang membangun untuk perbaikan pembelajaran yang selanjutnya. Kekurangan dalam mengamati proses pembelajaran pengamat kadang masih ragu untuk memberi saran yang membangun.

Refleksi

Setelah melaksanakan pembelajaran awal, penulis merenung dari hasil pembelajaran, apakah dari pembelajaran tersebut guru sudah berhasil atau masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Keberhasilan dari pembelajaran awal adalah guru sudah menyusun RPP, guru menyiapkan tugas dan soal-soal untuk siswa, guru menggunakan alat peraga, ada beberapa siswa yang aktif dalam mengikuti pembelajaran. Kekurangan dari pembelajaran awal adalah penjelasan guru yang terlalu cepat, bahasa yang digunakan guru dalam menjelaskan kurang dipahami siswa, suara kurang keras, alat peraga kurang menarik, guru kurang memotivasi siswa

Deskripsi Siklus I

Dari pembelajaran Pra Siklus yang dilakukan penulis ternyata hasil belajar siswa kurang memuaskan, maka penulis melaksanakan perbaikan pembelajaran siklus I. pada siklus ini peneliti melakukan kegiatan

Perencanaan

Pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus I, penulis menyusun rencana perbaikan pemebelajaran dengan menerapkan metode STAD dari hasil refleksi rencana pembelajaran awal hal apa saja yang perlu diperbaiki untuk meningkatkan hasil belajar siswa atas masukan dan diskusi dari teman sejawat.

Keberhasilan pada perbaikan pembelajaran siklus I adalah penulis sudah menyusun rencana perbaikan pembelajaran pada Standar Kompetensi: 7. Memahami sifat benda dapat merubah benda dan/atau bentuk suatu benda. Kompetensi Dasar: 7.1 Menyimpulkan hasil percobaan perubahan sifat benda melalui metode STAD, merancang langkah-langkah pembelajaran yang lebih mengaktifkan siswa dan adanya tujuan perbaikan pembelajaran yang ada di lampiran.

Kekurangan dari perbaikan pembelajaran Siklus I adalah metode yang digunakan belum disesuaikan dengan kondisi siswa dan alat peraga masih sederhana.

Pelaksanaan

Pelaksanaan pembelajaran pada siklus ini, guru sudah melaksanakan pembelajaran melalui metode STAD dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

1)    Persiapan

Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Skenario Pembelajaran (SP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

2)    Pembentukan Kelompok

Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 3-5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang sosial, ras suku, jenis kelamin dan kemampuan belajar. Selain itu, dalam pembentukan kelompok digunakan nilai tes awal (pre-test) sebagai dasar dalam menentukan masing-masing kelompok.

3)    Tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan.

Dalam pembentukan kelompok, tiap kelompok harus memilki buku paket atau buku panduan agar memudahkan siswa dalam menyelesaikan LKS atau masalah yang diberika oleh guru.

4)    Diskusi Masalah

Dalam kerja kelompok guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik dapai yang bersifat umum.

5)    Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban

Dalam hal ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas.

6)    Memberi Kesimpulan

Guru bersama siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan.

Observasi

Pelaksanaan pemeblajaran pada silus ini, guru sudah melaksanakan pembelajaran melalui metode STAD yang disesuaikan dengan materi, guru mengunakan model pembelajaran kontruktivisme, guru berusaha mengaktifkan siswa dengan melakukan demonstrasi kegiatan di depan kelas, siswa aktif dalam pemebelajaran, siswa bertanya tentang materi yang belum dimengerti dan ada beberapa siswa yang menjawab pertanyaan dari guru.

Keberhasilan dalam perbaikan pembelajaran silus, pengamat mencatat hal-hal yang masih harus diperbaiki untuk perbaikan pembelajaran selanjutnya, penulis bersama-sama pengamat berdiskusi untuk menemukan solusi terbaik untuk memperbaiki pembelajaran.

Kekurangan perbaikan pembelajaran siklus I adalah masih ada siswa yang ramai, siswa malas bertanya atau menjawab pertanyaan, siswa tidak berani meminta guru untuk mengulangi penjelasan materi yang belum dimengerti dan masih ada hal-hal yang harus diperbaiki dan ditingkatkan lagi.

Refleksi

Hasil pembelajaran siklus I, penulis merefleksi proses pembelajaran dengan kelebihan yang harus ditingkatkan lagi dan kekurangan yang harus diperbaiki pada pembelajaran selanjutnya.

Keberhasilan-keberhasilannya, adalah guru semakin percaya diri dalam mengelola kelas, siswa semakin berminat dalam proses pembelajaran, siswa semakin memperhatikan penjelasan guru. Siswa tidak banyak yang bermain dan ramai sendiri.

Kekurangan-kekurangan adalah siswa belum terbiasa menggunakan alat peraga dalam proses pembelajaran, masih ada siswa yang ramai, siswa belum berani untuk amju ke depan kelas untuk mengerjakan soal menggunakan alat peraga, siswa tidak berani meminta guru untuk menjelaskan dan mengulangi penjelasan materi.

Deskripsi Siklus II

Berdasarkan hasil refleksi siklus I ternyata hasil belajar siswa belum memuaskan, penulis melakukan perbaikan pembelajaran siklus II:

 

 

 

Perencanaan

Berdasarkan hasil perbaikan siklus I penulis menyusun rencana perbaikan pembelajaran pada siklus II dengan menerapkan metode STAD, tujuan perbaikan langkah-langkah pembelajaran yang ada dilampiran.

Keberhasilan perbaikan pembelajaran siklus II adalah telah menyusun rencana perbaikan pembelajaran, menggunakan metode STAD sesuai dengan materi pelajaran, serta menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan tindakan perbaikan ini.

Kekurangan-kekurangannya adalah masih ada kesulitan untuk menerapkan model pemeblajaran secara maksimal karena siswa mengalami kesulitan untuk memahami materi pelajaran dengan tingkat kecerdasan dibawah rata-rata.

Pelaksanaan

Pelaksanaan pembelajaran pada siklus ini masih sama dengan siklus sebelumnya, guru sudah melaksanakan pembelajaran melalui metode STAD dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

1.     Persiapan

Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Skenario Pembelajaran (SP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

2.     Pemebentukan Kelompok

Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 3-5 orang siswa. Guru memebri nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan anam kelompok yang berbeda. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang sosial, ras, suku, jenis kelamin, dan kemampuan belajar. Selain itu, dalam pemebentukan kelompok digunakan nilai tes awal (pre-test) sebagai dasar dalam menentukan masing-masing kelompok.

3.     Tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan.

Dalam pembentukan kelompok, tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan agar memudahkan siswa dalam menyelesaikan LKS atau amsalah yang diberikan guru.

4.     Diskusi Masalah

Dalam kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk mengambarkan dan meyakinkan bahwa setiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik sampai yang bersifat umum.

5.     Memanggil nomor anggota atau pemeberian jawaban.

Dalam tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas.

6.     Memberi Kesimpulan.

Guru bersama siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan.

Observasi

Pada perbaikan pembelajaran siklus II, teman sejawat mencatat peningkatan yagn terjadi selama proses pemebelajaran seperti strategi mengajar guru yang menyenangkan, suara sudah keras, guru sudah memotivasi siswa dengan menyeluruh, siswa aktif dalam pembelajaran, siswa aktif menggunakan alat peraga, dan siswa aktif bertanya.

Keberhasilan perbaikan siklus II adalah setelah adanya masukan dan perbaikan kualitas mengajar guru meningkat, keaktifan siswa meningkat, dan proses belajar mengajar yang menyenangkan untuk siswa.

Kekurangan dari hasil pengamatan perbaikan pembelajaran siklus II adalah masih ada beberapa siswa belum berani mengemukakan pendapat dan masih ada siswa yang ramai.

Refleksi

Setelah melaksanakan perbaikan pembelajaran siklus II diadakan refleksi lagi, antara guru dan pengamat berdiskusi dan menyimpulkan tidak perlu diadakan perbaikan pembelajaran lagi.

Keberhasilan-keberhasilannya, yaitu siswa semakin bergairah, bersemangat dan berminat dalam proses pembelajaran, siswa semakin memperhatikan penjelasan guru, siswa semakin aktif mengikuti pembelajaran menggunakan alat peraga, guru semakin percaya diri dalam mengelola kelas.

Kekurangan perbaikan pembelajaran siklus II adalah masih ada siswa yang malas bertanya bila mengalamai kesulitan memahami pelakaran dan siswa kurang percaya diri untuk menjawab pertanyaan.

Teknik Pengumpulan Data

Sumber Data

Sumber Data Primer

Dalam penelitian yang merupakan sumber data primer adalah:

1)    Hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA materi Memelihara lingkungan.

2)    Hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA materi Memelihara lingkungan..

3)    Setelah guru menyajikan materi menggunakan model STAD yang meliputi hasil ulangan harian, hasil pelaksanaan tugas, dan nilai porto folio.

Sumber Data Skunder

1)    Dalam penelitian ini yang merupakan sumber data sekunder adalah hasil pengamatan dari tim kolaborasi (teman sejawat), pada saat pembelajaran IPA materi Memelihara lingkungan dengan metode STAD pada siklus 1 dan siklus 2.

Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini pengumpulan Data menggunakan teknik tes dan non tes. Tes tertulis ini digunakan pada akhir siklus I dan siklus II, yang terdiri atas materi memelihara lingkungan. Sedangkan teknik non tes meliputi tehnik observasi dan dokumentasi, observasi digunakan pada saat pelaksanaan penelitian pelaksanaan penelitian tindakan kelas. Kemampuan mengurutkan memelihara lingkungan dengan memanfaatkan Model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation pada Pembelajaran IPA. Pada siklus I dan siklus II, sedangkan tehnik dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data khususnya nilai mata pembelajaran IPA.

Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data meluputi:

Lembar Tes

Lembar tes digunakan untuk memperoleh data tentang kemampuan siswa hasil belajar siswa menyelesaikan soal IPA pada kompetensi “memelihara lingkungan”

Lembar Observasi

Lembar observasi digunakan untuk mengumpulkan data tentang keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar IPA materi “memelihara lingkungan”

Wawancara

Wawancara merupakan salah satu teknik pengumpulan data untuk mendapatkan informasi dengan cara bertanya langsung kepada responden (2009:192) interview atau wawancara adalah suatu proses tanya jawab antara dua orang atau lebih secara langsung berhadapan atau melalui media. Keduanya berkomunikasi secara langsung baik secara berstruktur atau yang dilakukan dengan persiapan maupun tanpa persiapan lebih dahulu, sehingga antara pertanyaan dengan jawaban dapat diperoleh secara langsung dalam konteks kejadian secara timbal balik. Dalam wawancara ini peneliti berusaha mengetahui upaya meningkatkan hasil belajar IPA materi memelihara lingkungan melalui metode STAD pada kelas I semester I (di SDN 2 Talokwohmojo, Ngawen, Blora, tahun 2017/2018).

Dokumentasi

Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger, agenda dan sebagainya (Arikunto, 2002:206). Metode ini digunkaan untuk melihat situasi dan kondisi lainnya yang terkait dengan data-data tertulis tentang karakteristik fisik sekolah SDN 2 Talokwohmojo.

Teknik Analisis Data

Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif yang meliputi:

1.     Analisis Deskriptif Pemanfaatan Metode STAD untuk meningkatkan hasil belajar dengan cara membandingkan dengan hasil belajar. Pada siklus I dengan siklus II dan membandingkan hasil belajar dengan indikator pada siklus I dan siklus II.

2.     Analisis Deskriptif Kualitatif hasil obervasi dengan cara membandingkan hasil obervasi dan refleksi pada siklus I dan siklus II.

Validasi Data

Validasi data meliputi validasi hasil belajar dan validasi proses pembelajaran.

Validasi Hasil Belajar

Validasi hasil belajar dikenakan pada instrumen penelitian yang berupa tes. Validasi ini meliputi validasi teoritis dan validasi empiris. Validasi teoritis dan validasi empiris. Validasi teoritis artinya mengadakan analisis artinya mengadakan analisis instrumen yang terdiri atas fase validity (tampilan tes) content validity (validitas isi) dan construct validity (validitas konstruksi).

Validasi empiris artinya analisis terhadap butir-butir tes, yang dimulai dari pembuatan kisi-kisi soal penulisan butir-butir soal, kunci jawaban dan kriteria pemberian skor.

Validasi Proses Pembelajaran

Validasi proses pembelajaran dilakukan dengan teknik triangulasi yang meliputi: triangulasi sumber dan triangulasi metode. Triangulasi sumber dilakukan dengan observasi terhadap subyek penelitian yaitu siswa kelas I SDN 2 Talokwohmojo dan kolaborasi dengan guru kelas yang mengajar bidang study IPA. Triangulasi metode dilakukan dengan menggunakan metode dokumentasi selain metode observasi. Metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data pendukung yang diperlukan dalam proses pembelajaran IPA.

Indikator Keberhasilan

Berdasarkan kriteria, peneliti ingin mengetahui apakah tindakan dilakukan sesuai dengan yang diinginkan atau belum. Apabila sesuai maka tindakan dihentikan. Apabila belum maka peneliti terus melakukan perbaikan di siklus berikutnya. Kriteria keberhasilan:

1.     Minimal ≥ 85% dari jumlah siswa memenuhi KKM dengan nilai ≥ 75.

2.     Aspek aktivitas yang dinilai bertanya, memberikan jawaban, membuat rangkuman dan mendengarkan.

3.     Dari setiap poin yang diperoleh maka dapat dihitung skor perolehan dengan rumus sebagai berikut:

Prosentase skor perolehan =

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Per Siklus

Pembelajaran pada hakekatnya adalah suatu proses interaksi antar anak dengan anak, anak dengan sumber belajar dan anak dengan pendidik. Kegiatan pembelajaran ini akan menjadi bermakna bagi anak jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman bagi anak. Proses belajar bersifat individual dan kontekstual, artinya proses belajar terjadi dalam diri individu sesuai dengan perkembangannya dan lingkungannya.

Pra Siklus

Tabel 4.3. Nilai Tes Pra Siklus

No

Hasil Angka

Hasil Huruf

Arti Lambang

Jumlah Siswa

Persen

1.

85-100

A

Sangat baik

2

9%

2.

75-84

B

Baik

13

57%

3.

65-74

C

Cukup

3

13%

4.

55-64

D

Kurang

3

13%

5.

< 54

E

Sangat Kurang

2

9%

Jumlah

23

100%

 

Dari hasil tes Pra siklus, menunjukkan bahwa hasil yang mencapai nilai A (sangat baik) adalah 2 siswa atau 9%, sedangkan yang mendapat nilai B (baik) 13 siswa atau (57%). Sedangkan yang mendapat nilai C (Cukup) 3 siswa atau (113) sedangkan yang mendapat nilai D (Kurang) 3 siswa atau (13%) sedangkan yang mendapat nilai E (Sangat kurang) 2 siswa atau (9%).

Siklus I

Tabel 4.9. Hasil Belajar Siklus I

No

Hasil Angka

Hasil Huruf

Arti Lambang

Jumlah Siswa

Persen

1.

85-100

A

Sangat baik

20

88%

2.

75-84

B

Baik

0

0%

3.

65-74

C

Cukup

2

8%

4.

55-64

D

Kurang

1

4%

5.

< 54

E

Sangat Kurang

0

0%

Jumlah

23

100%

 

Dari hasil tes siklus I, menunjukkan bahwa hasil yang mencapai nilai A 20 siswa atau 88% , sedangkan yang mendapat nilai B siswa 0 (0 %) sedangkan yang mendapat nilai C 2 siswa (8%) yang mendapat nilai D 1 siswa (4%) sedangkan yang mendapat nilai E 1 siswa atau 4%.

Siklus II

Tabel 4.14. Hasil Belajar Siklus II

No

Hasil Angka

Hasil Huruf

Arti Lambang

Jumlah Siswa

Persen

1.

85-100

A

Sangat baik

20

88%

2.

75-84

B

Baik

3

12%

3.

65-74

C

Cukup

0

0%

4.

55-64

D

Kurang

0

0%

5.

< 54

E

Sangat Kurang

0

0%

Jumlah

23

100%

 

Dari pelaksanaan tindakan siklus II dapat di ketahui bahwa yang mendapatkan nilai sangat baik (A) adalah 20 siswa (88%). Sedangkan yang terbanyak yaitu yang mendapat nilai baik (B) adalah 3 siswa atau (12%) sedangkan yang mendapat nilai (C) adalah 0 siswa (0%) sedangkan yang mendapat nilai (D) adalah 0 siswa atau (0%) dan E tidak ada atau 0% sedangkan nilai rata-ratanya kelas adalah 90%.

Pembahasan

Pra Siklus

Pelaksanaan pembelajaran di SDN 2 Talokwohmojo mata pelajaran IPA dalam mengidentifikasi energi panas selama ini masih menggunakan metode pembelajaran yang menonton, baik metode cerita, membaca, ceramah, dan lain sebagainya. Dengan metode ceramah yang selama ini guru SDN 2 Talokwohmojo lakukan mengakibatkan hasil yang didapat membuat siswa kurang aktif mendengarkan, sehingga guru yang harus lebih aktif menyampakan materi. Demikian untuk memakai metode membaca, juga mengakibatkan kemampuan siswa kurang baik dalam mendalami materi yang disampaikan guru. Dengan membaca siswa hanya mendapatkan ilmu mengenai IPA sebatas terdapat di buku pegangan mereka, sehingga pengetahuan yang didapat sangat terbatas sekali. Demikian juga dengan metode lainnya yang selama ini masih digunakan oleh guru di IPA belum dapat membuat perubahan pada diri siswa dalam penguasaan mata pelajaran IPA, baik penguasaan materi maupun pengaplikasian di waktu proses pembelajaran maupun dalam kehidupan sehari-hari. Dari data statistik perolehan nilai rata-rata siswa adalah 60 dengan tingkat ketuntasan 31%.

Siklus I

Pembelajaran pada siklus I ini guru menerapkan STAD dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas I semester 1 SDN 2 Talokwohmojo tahun pelajaran 2017/2018 pada pelajaran IPA dalam mengidentifikasi sifat benda dengan tujuan agar siswa aktif dalam menggunakan alat peraga. Di mana siswa diajak untuk aktif, saling kerjasama dan berpikir kreatif dan kritis. Siswa tidak lagi bersikap pasif dalam mengikuti pembelajaran. Perlu diketahui juga, siswa nampak aktif dalam mengikuti tahap demi tahap proses pembelajaran. Ini tidak ditemui pada pembelajaran awal, dimana siswa terlihat sangat membosankan dan mengantuk. Dari data statistik perolehan nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 73 dengan ketuntasan menjadi 73%.

Siklus II

Selama pelaksanaan siklus II guru melakukan penilaian dan pengamatan terhadap keaktifan dan pemahaman masing-masing siswa. Melalui kegiatan diskusi yang dilakukan siswa, maka guru akan dapat melihat siswa yang aktif dan kurang aktif baik dalam kelompoknya maupun dalam kelas. Dengan begitu guru dapat segera memberikan tindakan pada siswa yang dianggap kurang aktif. Dengan terus didorong guru dalam belajar siswa menjadi sangat bergairah. Tuntutan yang menyenangkan ternyata tidak membuat beban bagi siswa. Namun siswa malah semakin tertarik dan penasaran terhadap materi yang diberikan. Namun siswa malah semakin tertarik dan penasaran terhadap materi yang diberikan. Pada siklus II ini terjadi peningkatan hasil belajar siswa, nilai rata-rata naik menjadi 83. Ini merupakan suatu keberhasilan tersendiri bagi pelaksanaan perbaikan pembelajaran. Melalui keberhasilan ini, dapat dijadikan pembelajaran tersendiri bagi siswa dan guru untuk lebih meningkatkan kualitas dan dengan ketuntasan menjadi 97%.

PENUTUP

Kesimpulan

1.    Pada penelitian ini dilakukan perencanaan yang matang mulai dari menyiapkan tema, tujuan, dan media yang akan digunakan supaya dalam pelaksanaannya pun juga dapat berjalan dengan lancar sehingga melalui evaluasi yang dilakukan menunjukkan peningkatan belajar siswa dalam mata pelajaran IPA secara tematik hal ini terlihat dari hasil belajar yang dicapai oleh siswa selalu meningkat aktivitas, pemahaman dan kemampuan siswa dalam proses belajar mengajar juga mengalami peningkatan.

2.    Pada penelitian ini, dengan adanya perencanaan yang matang akan menghasilkan sesuatu yang efektif, karena mampu meningkatkan kemampuan siswa dan ini bisa digeneralisasikan untuk semua tingkatan kelas dari kelas I dan juga kelas lain di SDN 2 Talokwohmojo.

3.    Penerapan metode STAD serta pemberian tugas dapat membantu seorang guru (peneliti) dalam upaya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya dalam mata pelajaran PKn secara tematik pada siswa kelas I SDN 2 Talokwohmojo Keberhasilan tersebut merupakan hasil kerjasama antara guru dan para siswa yang secara aktif dalam mengikuti pembelajaran untuk meningkatkan prestasi belajar siswa sehingga bisa memotivasi guru-guru lain untuk dapat menerapkan metode belajar yang lain.

4.    Hasil yang didapatkan oleh siswa mengalami peningkatan pada tiap siklusnya. Pada kondisi pra siklus, nilai rata-rata siswa sebesar 73 sedangkan tingkat ketuntasannya sebesar 65%. Pada kondisi siklus I, nilai rata-rata siswa sebesar 81 sedangkan tingkat ketuntasannya sebesar 87%. Pada kondisi siklus II, nilai rata-rata siswa sebesar 81 sedangkan tingkat ketuntasannya sebesar 100%.

Saran

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, saran yang dapat disampaikan untuk sesama guru adalah supaya lebih kreatif dan tidak monoton dalam memberikan metode belajar kepada siswanya. Kemudian kepada peneliti selanjutnya apabila ingin meneliti dengan mata pelajaran yang sama diharapkan memiliki variasi lain dalam melakukan penelitian, misalnya dalam materi yang berbeda, budaya yang berbeda, dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Majid. 2005. Perencanaan Pembelajaran (Mengembangkan Standar Kompetensi Guru). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Arifin, Zainal. (1994). Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Remaja Rosdakarya. Bandung. http://www.teknologipendidikan.net

Gagne, R.M (1985). The Conditions of Learning Theory of instruction (4th Edition). New York: Holt, Rinehart and Winston.

Hasibuan, J.J, Mudjiono (1988), Proses Belajar Mengajar. CV. Remaja Karya.Bandung.

Sugiyanto. 008. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: Pustaka Mulia

Sutopo, H.B. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. UNS Press.