UPAYA MENINGKATKAN KINERJA GURU

SMK NEGERI 3 SUKOHARJO

MELALUI SUPERVISI AKADEMIK GURU SECARA TERPROGRAM

PADA SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2018/2019

 

Harno

Kepala SMK Negeri 3 Sukoharjo

 

ABSTRAK

Tujuan Penelitian Tindakan Sekolah ini adalah untuk: (1) Meningkatkan kedisiplinan guru SMK Negeri 3 Sukoharjo pada Semester I Tahun Pelajaran 2018/2019 melalui supervisi akademik terprogram. (2) Meningkatkan ketertiban administrasi mengajar guru SMK Negeri 3 Sukoharjo pada Semester I Tahun Pelajaran 2018/2019 melalui supervisi akademik terprogram. (3) Meningkatkan mutu pelaksanaan pembelajaran guru SMK Negeri 3 Sukoharjo pada Semester I Tahun Pelajaran 2018/2019 melalui supervisi akademik terprogram.     Penelitian ini mengambil lokasi di SMK Negeri 3 Sukoharjo. Penelitian ini dilakukan selama empat bulan yaitu dari tanggal 16 Juli 2018 sampai dengan 31 Oktober 2018. Subyek dalam Penelitian Tindakan Sekolah ini adalah guru SMK Negeri 3 Sukoharjo pada semester I Tahun Pelajaran 2018/2019 sebanyak 75 orang guru. Teknik pengumpulan data dengan observasi dan dokumentasi. Analisis Data dengan menggunakan analisis diskripsi kualitatif. Prosedur penelitian dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) terdiri dari 2 (dua) siklus.   Hasil dari Penelitian Tindakan Sekolah ini adalah: (1) Pra Siklus: tingkat kedisiplinan dengan nilai rata-rata 58,7 (Cukup), administrasi Pembelajaran, nilai rata-rata 77,7 (Baik), dan pelaksanaan pembelajaran nilai rata-rata sebesar 60,5 (Cukup). (2) Siklus I: tingkat kedisiplinan dengan nilai rata-rata 77,6 dengan predikat B (Baik), administrasi pembelajaran nilai rata-rata yang dicapai adalah 77,7 dengan predikat B (Baik), dan pelaksanaan pembelajaran nilai rata-rata sebesar 72,7 dengan predikat B (Baik). (3) Siklus II: tingkat kedisiplinan dengan nilai rata-rata 90,2 dengan predikat A (Sangat Baik), administrasi pembelajaran nilai rata-rata yang dicapai adalah 81,5 dengan predikat A (Sangat Baik), dan pelaksanaan pembelajaran nilai rata-rata sebesar 80,2 dengan predikat B (Baik). Siklus II dianggap telah berhasil karena ketiga indikator keberhasilan telah terpenuhi semua.

Kata Kunci: Kinerja Guru dan Supervisi Akademik Terprogram

 

PENDAHULUAN

Kurangnya mutu pendidikan di SMK Negeri 3 Sukoharjo selama ini pada dasarnya bermuara pada kurang maksimalnya pengelolaan kegiatan belajar mengajar oleh guru dalam mengajar dan mendidik siswa. Upaya peningkatan mutu pendidikan sekolah harus lebih dititik beratkan pada peningkatan mutu sumber daya manusia. Dalam konteks ini, program peningkatan mutu kinerja guru sangat relevan dan sangat startegis, mengingat fungsi dan perannya sebagai pendidik sekaligus pengajar yang langsung berhadapan dengan peserta didik untuk menyampaikan materi pelajaran berupa ilmu dan etika budi pekerti.

Dari hasil pengamatan kepala sekolah tentang kinerja guru SMK Negeri 3 Sukoharjo pada awal semester 1 tahun pelajaran 2018/2019 didapat hasil: (1) Nilai kedisipinan guru tertinggi 75,0 dan nilai terendah 22,2 menandakan terdapat guru yang nilai kedisiplinannya baik dan ada pula yang kurang baik. (2) Nilai administrasi pembelajaran tertinggi 71,1 dan nilai terendah 3,0, membuktikan ada guru yang nilai administrasinya baik dan ada juga yang kurang baik. (3) Nilai pelaksanaan pembelajaran tertinggi 69,5 dan nilai terendah 37,5, membuktikan ada guru yang nilai pelaksanaan pembelajarannya baik dan ada juga yang kurang baik.

Dari hasil pengamatan kondisi awal di atas dapat diketahui bahwa kondisi pembelajaran yang dilakukan oleh guru belum maksimal. Supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah kepada guru tanpa adanya pemberitahuan terlebih dahulu membuat guru beralasan belum menyiapkan diri melengkapi administrasi pembelajaran. Untuk itu timbul pemikiran untuk memperbaiki mutu kinerja guru melalui Penelitian Tindakan Sekolah dengan mengadakan supervisi akademik secara terprogram dan berkelanjutan.

Penelitian Tindakan Sekolah ini adalah penelitian yang diharapkan dapat menjadikan perubahan perilaku dan kesiapan guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di sekolah.

Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

  1. Apakah melalui supervisi akademik dapat meningkatkan kedisiplinan guru SMK Negeri 3 Sukoharjo pada Semester I Tahun Pelajaran 2018/2019?
  2. Apakah melalui supervisi akademik dapat meningkatkan mutu administrasi mengajar guru SMK Negeri 3 Sukoharjo pada Semester I Tahun Pelajaran 2018/2019?
  3. Apakah melalui supervisi akademik dapat meningkatkan mutu pelaksanaan pembelajaran guru SMK Negeri 3 Sukoharjo pada Semester I Tahun Pelajaran 2018/2019?

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk:

  1. Meningkatkan kedisiplinan guru SMK Negeri 3 Sukoharjo pada Semester I Tahun Pelajaran 2018/2019 melalui supervisi akademik.
  2. Meningkatkan mutu administrasi mengajar guru SMK Negeri 3 Sukoharjo pada Semester I Tahun Pelajaran 2018/2019 melalui supervisi akademik.
  3. Meningkatkan mutu pelaksanaan pembelajaran guru SMK Negeri 3 Sukoharjo pada Semester I Tahun Pelajaran 2018/2019 melalui supervisi akademik.

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

Mutu Kinerja Guru

Jarome S. Arcaro (2007: 75) berpendapat bahwa, “mutu adalah sebuah proses terstruktur untuk memperbaiki keluaran yang dihasilkan.” Lebih lanjut dikatakan bahwa mutu pendidikan adalah kemampuan lembaga pendidikan dalam mendayagunakan sumber-sumber pendidikan untuk meningkatkan kemampuan belajar seoptimal mungkin.

Suryadi (2009: 22) berpendapat bahwa mutu dalam pembahasan umum berarti “sifat yang baik” atau “goodness”. Adapun dalam arti relatif mutu menunjukkan kepada sifat suatu produk apakah memuaskan konsumen atau tidak.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2009: 441) bahwa, “Mutu adalah ukuran baik buruk suatu benda, keadaan, taraf, atau derajat (kepandaian, kecerdasan, dan sebagainya).”

Secara umum, mutu dapat diartikan sebagai gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang dan jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau yang tersirat. Dalam konteks pendidikan, pengertian mutu mencakup input, proses, dan output pendidikan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2013: 503) kinerja berarti sesuatu yang dicapai, prestasi diperlihatkan atau kemampuan kerja. Menurut Anwar Prabu Mangkunegara (2009: 67) mengemukakan bahwa: “Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.” Kinerja merupakan suatu hasil kerja yang dihasilkan oleh seorang pegawai diartikan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Guru adalah pendidik yang berada di lingkungan sekolah. Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen disebutkan bahwa guru adalah: pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Guru adalah figur manusia sumber yang menempati posisi dan memegang peran penting dalam pendidikan. Ketika semua orang mempersoalkan masalah dunia pendidikan figur guru mesti terlibat dalam agenda pembicaraan terutama yang menyangkut persoalan pendidikan formal di sekolah. Dapat disimpulkan bahwa guru adalah seseorang yang bekerja di lingkungan pendidikan yang memiliki tujuan untuk mendidik dan mengasuh peserta didik serta menanamkan nilai-nilai dan akhlak mulia pada diri peserta didik.

Kinerja guru adalah tingkat hasil kerja guru dalam mencapai persyaratan-persyaratan pekerjaan yang diberikan. Kinerja adalah hasil kerja karyawan baik dari segi kualitas maupun kuantitas berdasarkan standar kerja yang telah ditentukan (Henry Simamora, 2008: 500). Menurut Stephen P. Robbins (2008: 218), “Kinerja adalah sebagai fungsi dari interaksi antara kemampuan dan motivasi. Kinerja guru merupakan persoalan krusial dalam hubungan antara atasan dan bawahan pada suatu organisasi.”

Kinerja guru diharapkan selalu meningkat untuk mencapai tujuan organisasi. Maka untuk meningkatkan kinerja tersebut perlu adanya kerja sama yang ada diorganisasi baik kerja sama antar atasan dan bawahan maupun kerjasama antar teman sejawat. Dalam era kompetitif sekarang ini dituntut adanya kinerja guru yang bagus yaitu berupa perilaku atau tindakan yang relevan dengan tujuan organisasi. Kinerja guru dapat dilihat dari tingkat pencapaian hasil secara kuantitas dan kualitas, efisien dan kriteria efektifitas kerja seseorang guru yang terkait dengan tujuan organisasi meliputi kerjasama, kreatif, dan inovatif.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dinyatakan bahwa kinerja guru merupakan prestasi yang dicapai oleh seseorang guru dalam melaksanakan tugasnya atau pekerjaannya selama periode tertentu sesuai standar kompetensi dan kriteria yang telah ditetapkan untuk pekerjaan tersebut.

 

 

Tupoksi Kepala Sekolah

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2013) kepala sekolah adalah pemimpin yang mengepalai suatu lembaga pendidikan. Kepala sekolah memiliki tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan berbagai kegiatan di sekolah. Menurut Deni Koswara (2008: 17), dalam mengelola sekolah kepala sekolah memiliki peran yang sangat besar. Kepala sekolah merupakan motor penggerak, penentu arah kebijakan menuju sekolah dan pendidikan secara luas.

Deni Koswara (2008: 17) mengatakan bahwa kepala sekolah yang efektif adalah kepala sekolah yang dalam kinerjanya selalu membuka diri kepada guru dan karyawan lainnya dalam membahas persoalan penting masalah sekolah.

Tugas dan tanggung jawab kepala sekolah adalah merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, mengkoordinasikan, mengawasi dan mengevaluasi seluruh kegiatan sekolah, yang meliputi bidang proses belajar mengajar, administrasi kantor, administrasi siswa, administrasi pegawai, administrasi perlengkapan, administrasi keuangan, administrasi perpustakaan, dan administrasi hubungan masyarakat. Oleh sebab itu, dalam rangka mencapai tujuan organisasional, kepala sekolah pada dasarnya mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melakukan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan terhadap seluruh sumber daya yang ada dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan di sekolah.

Wahjosumidjo (2008: 4) berpendapat bahwa deskripsi tugas dan tanggung kepala sekolah dapat dilihat dari dua fungsi, yaitu kepala sekolah sebagai administrator dan sebagai supervisor. Kepala sekolah sebagai administrator di sekolah mempunyai tugas dan tanggung jawab atas seluruh proses manajerial yang mencakup perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan terhadap seluruh bidang garapan yang menjadi tanggung jawab sekolah. Sedangkan, kepala sekolah sebagai supervisor berkaitan dengan kegiatan-kegiatan pelayanan terhadap peningkatan kemampuan profesionalisme guru dalam rangka mencapai proses pembelajaran yang berkualitas. Untuk itu kepala sekolah perlu memiliki berbagai kemampuan yang diperlukan. Adapun kemampuan manajerial itu meliputi technical skill, human skill, dan conceptual skill.

Seiring dengan perubahan paradigma desentralisasi pendidikan dan otonomisasi sekolah/madrasah dengan diberlakukannya suatu model manajemen school based management, maka kepala sekolah sebagai top manajemen di sekolah mempunyai kedudukan yang sangat penting dan strategis. Keberhasilan suatu sekolah sangat ditentukan oleh kemampuan kepala sekolah dalam mengelola dan memimpin lembaganya.

Supervisi Akademik

Supervisi adalah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif (Purwanto, 2004: 32). Sedangkan Jones dalam Mulyasa (2004: 155), supervisi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh proses administrasi pendidikan yang ditujukan terutama untuk mengembangkan efektivitas kinerja personalia sekolah yang berhubungan tugas-tugas utama pendidikan.

Menurut Carter dalam Sehertian (2000: 17), menerangkan bahwa supervisi adalah usaha dari petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas-petugas lainnya dalam memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulasi, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru serta merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan pengajaran dan metode serta evaluasi pengajaran. Supervisi merupakan aktivitas menentukan kondisi/syarat-syarat yang essensial yang akan menjamin tercapainya tujuan-tujuan pendidikan.

Dari definisi tersebut maka tugas kepala sekolah sebagai supervisor berarti bahwa dia hendaknya pandai meneliti, mencari, dan menentukan syarat-syarat mana sajakah yang diperlukan bagi kemajuan sekolahnya sehingga tujuan-tujuan pendidikan di sekolah itu semaksimal mungkin dapat tercapai. Jadi supervisi kepala sekolah merupakan upaya seorang kepala sekolah dalam pembinaan guru agar guru dapat meningkatkan kualitas mengajarnya dengan melalui langkah-langkah perencanaan, penampilan mengajar yang nyata serta mengadakan perubahan dengan cara yang rasional dalam usaha meningkatkan hasil belajar siswa.

Adapun teknik supervisi yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik supervisi kepala sekolah terprogram adalah supervisi yang ditujukan kepada guru secara terencana dalam rangka memperbaiki proses belajar mengajar melalui kegiatan kunjungan kelas, pertemuan baik formal maupun informal serta melibatkan guru lain yang dianggap berhasil dalam proses belajar mengajar.

Hipotesis Penelitian

Hipotesis dalam penelitian ini adalah:

  1. Melalui supervisi akademik terprogram dapat meningkatkan kedisiplinan guru SMK Negeri 3 Sukoharjo pada Semester I Tahun Pelajaran 2018/2019.
  2. Melalui supervisi akademik terprogram dapat meningkatkan ketertiban administrasi mengajar guru SMK Negeri 3 Sukoharjo pada Semester I Tahun Pelajaran 2018/2019.
  3. Melalui supervisi akademik terprogram dapat meningkatkan mutu pelaksanaan pembelajaran guru SMK Negeri 3 Sukoharjo pada Semester I Tahun Pelajaran 2018/2019.

METODOLOGI PENELITIAN

Setting Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 3 Sukoharjo selama 4 (empat) bulan yakni dari tanggal 16 Juli 2018 sampai dengan 31 Oktober 2018.

Subyek Penelitian

Subyek penelitian ini semua guru yang mengajar di SMK Negeri 3 Sukoharjo yang berjumlah 75 orang guru terdiri dari 60 orang guru PNS dan 15 orang guru non PNS.

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah: wawancara, dokumentasi dan observasi atau pengamatan.

 

 

Validasi Data

Proses untuk menerapkan supervisi akademik yang diterapkan pada guru di SMK Negeri 3 Sukoharjo dengan menggunakan metode observasi, dokumentasi, dan wawancara divalidasi datanya melalui Triangulasi Data. Validasi data yang berupa hasil pengamatan mutu kinerja guru yang merupakan data kwantitatif dan berbentuk kwalitatif yang meliputi hasil observasi pelaksanaan pembelajaran dalam proses belajar mengajar digunakan dengan teknik yang berbeda secara silang.

Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan dalam PTS ini apabila:

  1. Kedisiplinan Guru

Tingkat kedisiplinan guru mencapai nilai A (Sangat Baik) dengan nilai 81-100.

  1. Administrasi pembelajaran

Administrasi pembelajaran guru mencapai nilai B (Baik) dengan nilai 61-80.

  1. Pelaksanaan Pembelajaran

Pelaksanaan pembelajaran minimal mencapai nilai B (Baik) dengan nilai 61-80.

HASIL PENELITIAN

Pra Siklus

Kedisiplinan Guru

Rata-rata tingkat kedisiplinan guru SMK Negeri 3 Sukoharjo pada kondisi awal (Pra Siklus) adalah 58,7 dengan predikat C (Cukup).

Kelengkapan Administrasi

Rata-rata kelengkapan administrasi mengajar guru SMK Negeri 3 Sukoharjo pada kondisi awal (Pra Siklus) adalah 54,6 dengan predikat C (Cukup).

Pelaksanaan Pembelajaran

Rata-rata pelaksanaan pembelajaran guru SMK Negeri 3 Sukoharjo pada kondisi awal (Pra Siklus) adalah 60,5 dengan predikat C (Cukup).

Siklus I

Kedisiplinan Guru

Rata-rata tingkat kedisiplinan guru SMK Negeri 3 Sukoharjo pada Siklus I adalah 77,6 dengan predikat B (Baik).

Kelengkapan Administrasi

Rata-rata kelengkapan administrasi mengajar guru SMK Negeri 3 Sukoharjo pada Siklus I adalah 77,7 dengan predikat B (Baik).

Pelaksanaan Pembelajaran

Rata-rata pelaksanaan pembelajaran guru SMK Negeri 3 Sukoharjo pada Siklus I adalah 72,7 dengan predikat B (Baik).

Siklus II

Kedisiplinan Guru

Rata-rata tingkat kedisiplinan guru SMK Negeri 3 Sukoharjo pada Siklus II adalah 90,2 dengan predikat A (Sangat Baik).

Kelengkapan Administrasi

Rata-rata kelengkapan administrasi mengajar guru SMK Negeri 3 Sukoharjo pada Siklus II adalah 81,5 dengan predikat A (Sangat Baik).

Pelaksanaan Pembelajaran

Rata-rata pelaksanaan pembelajaran guru SMK Negeri 3 Sukoharjo pada Siklus II adalah 80,2 dengan predikat B (Baik).

Pembahasan Antar Siklus

Kedisiplinan Guru

Pada masa pra siklus, guru yang mempunyai nilai A dengan predikat Sangat Baik sebanyak 8 orang guru atau 11%, guru yang mempunyai nilai B dengan predikat Baik sebanyak 29 orang guru atau 39%; Guru yang mempunyai nilai C dengan predikat Cukup sebanyak 27 orang guru atau 36%; dan Guru yang mempunyai nilai D dengan predikat Kurang sebanyak 11 orang guru atau 15%. Pada Siklus I: Guru yang mempunyai nilai A dengan predikat Sangat Baik sebanyak 41 orang guru atau 55%; Guru yang mempunyai nilai B dengan predikat Baik sebanyak 18 orang guru atau 24%; dan Guru yang mempunyai nilai C dengan predikat Cukup sebanyak 16 orang guru atau 21%. Hasil yang telah dicapai pada Siklus II adalah bahwa semua guru sebanyak 75 orang guru atau 100% telah mencapai kedisiplinan nilai A dengan predikat Sangat Baik.

Berdasarkan hasil tersebut maka pada siklus I sudah terjadi peningkatan kedisiplinan guru, tetapi peningkatan tersebut belum mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan yaitu apabila semua guru telah mencapai nilai 81,0 – 100 dengan kriteria Sangat Baik. Pada Siklus I, tingkat kedisiplinan guru yang mencapai kriteria A (Sangat Baik) hanya 41 orang guru atau 55%, sehingga Siklus I dianggap belum berhasil. Pada Siklus II semua guru sebanyak 75 orang guru atau 100% telah mencapai nilai A dengan kriteria Sangat Baik sehingga Siklus II dianggap telah berhasil.

Sedangkan dilihat dari hasil rata-rata tingkat kedisiplinan guru, pada kondisi awal (Pra Siklus) adalah 58,7 dengan predikat C (Cukup), pada Siklus I adalah 77,6 dengan predikat B (Baik), dan pada Siklus II adalah 90,2 dengan predikat A (Sangat Baik).

Kelengkapan Administrasi Pembelajaran

Pada masa Pra Siklus, guru yang mempunyai nilai A dengan predikat Sangat Baik tidak ada atau 0%. Guru yang mempunyai nilai B dengan predikat Baik sebanyak 19 orang guru atau 25%; Guru yang mempunyai nilai C dengan predikat Cukup sebanyak 37 orang guru atau 49%, dan guru yang mempunyai nilai D dengan predikat Kurang sebanyak 19 orang guru atau 25%. Pada Siklus I, guru yang mempunyai nilai A dengan predikat Sangat Baik sebanyak 48 orang guru atau 64%, guru yang mempunyai nilai B dengan predikat Baik sebanyak 19 orang guru atau 25%. Guru yang mempunyai nilai C dengan predikat Cukup sebanyak 8orang guru atau 11%. Pada Siklus II, guru yang mempunyai nilai A dengan predikat Sangat Baik sebanyak 64 orang guru atau 85% dan Guru yang mempunyai nilai B dengan predikat Baik sebanyak 11 orang guru atau 15%.

Sedangkan dilihat dari hasil rata-rata tingkat kelengkapan administrasi pembelajaran, pada kondisi awal (Pra Siklus) adalah 54,6 dengan predikat C (Cukup), pada Siklus I adalah 77,7 dengan predikat B (Baik), dan pada Siklus II adalah 81,5 dengan predikat A (Sangat Baik). Pada Siklus I nilai rata-rata telah mencapai predikat B (Baik) tetapi masih terdapat 8 guru atau 11% yang belum mencapai nilai B sehingga Siklus I dianggap belum berhasil. Pada Siklus II semua guru sebanyak 75 orang guru telah mencapai nilai minimal B (Baik) sehingga Siklus II dianggap sudah berhasil.

Pelaksanaan Pembelajaran

Pada masa Pra Siklus, guru yang mempunyai nilai A dengan predikat Sangat Baik sebanyak 8 orang guru atau 11%, guru yang mempunyai nilai B dengan predikat Baik sebanyak 47 orang guru atau 63%, guru yang mempunyai nilai C dengan predikat Cukup sebanyak 12 orang guru atau 16%, dan guru yang mempunyai nilai D dengan predikat Kurang sebanyak 8 orang guru atau 11%. Pada Siklus I, guru yang mempunyai nilai A dengan predikat Sangat Baik sebanyak 22 orang guru atau 29%, guru yang mempunyai nilai B dengan predikat Baik sebanyak 42 orang guru atau 56% dan guru yang mempunyai nilai C dengan predikat Cukup sebanyak 11 orang guru atau 15%. Berdasarkan hasil tersebut maka pada siklus I sudah terjadi peningkatan mutu pelaksanaan pembelajaran, tetapi peningkatan tersebut belum mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan yaitu apabila semua guru telah mencapai nilai minimal B dengan nilai 61,00 – 80,00 dengan kriteria Baik. Pada Siklus II, guru yang mempunyai nilai A dengan predikat Sangat Baik sebanyak 56 orang guru atau 75% dan guru yang mempunyai nilai B dengan predikat Baik sebanyak 19 orang guru atau 25%. Berdasarkan hasil tersebut maka Siklus II sudah memenuhi indikator penelitian yaitu pelaksanaan pembelajaran minimal berpredikat B (Baik) dengan nilai 61-80.

Nilai rata-rata pelaksanaan pembelajaran pada kondisi awal (Pra Siklus) adalah 60,5 dengan predikat C (Cukup). Pada Siklus I adalah 72,7 dengan predikat B (Baik) dan pada Siklus II adalah 80,2 dengan predikat B (Baik). Berdasarkan hasil tersebut maka Siklus II dianggap telah berhasil dimana sebanyak 75 orang guru atau 100% telah mendapatkan nilai minimal B.

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat dibuat kesimpulan bahwa dengan adanya supervisi akademik secara terprogram oleh kepala sekolah dapat meningkatkan mutu pembelajaran di SMK Negeri 3 Sukoharjo Kabupaten Sukoharjo.

Pada indikator kedisiplinan, kepala sekolah berperan dalam menanamkan jiwa disiplin bagi guru dan peserta didiknya dengan cara memberi teladan yang baik dengan datang lebih awal, memberi sambutan pada guru, menepati jam kerja dan jam mengajar, serta memberi peringatan secara berjenjang dari teguran halus, nasehat sampai pada peringatan bagi guru yang memang tingkat kedisiplinannya rendah. Dengan cara seperti ini maka anggota organisasi dari guru sampai peserta didik akan berusaha untuk mengikuti teladan kepala sekolah yang pada akhirnya tercipta budaya disiplin.

Pada indikator supervisi administrasi pembelajaran, upaya yang dilakukan oleh kepala sekolah adalah melakukan sosialisasi supervisi dan penjadwalan yang disepakati oleh guru dan kepala sekolah membuat guru mempunyai waktu dan berusaha untuk melengkapi administrasi pembelajaran yang memang menjadi tanggung jawabnya.

Pada indikator pelaksanaan supervisi akademik yang dilaksanakan terbukti dapat meningkatkan mutu atau kualitas pembelajaran hal ini terjadi karena guru yang sedang disupervisi tidak merasa tertekan atau takut dalam melaksanakan pembelajaran. Dalam kegiatan supervisi ini kepala sekolah sebagai supervisor lebih bertindak membimbing dan membantu guru yang disupervisi.

Berdasarkan hasil Penelitian Tindakan Sekolah yang telah dilakukan, maka hipotesis yang mengatakan:

  1. Melalui supervisi akademik terprogram dapat meningkatkan kedisiplinan guru SMK Negeri 3 Sukoharjo pada Semester I Tahun Pelajaran 2018/2019, terbukti kebenarannya.
  2. Melalui supervisi akademik terprogram dapat meningkatkan ketertiban administrasi mengajar guru SMK Negeri 3 Sukoharjo pada Semester I Tahun Pelajaran 2018/2019, terbukti kebenarannya.
  3. Melalui supervisi akademik terprogram dapat meningkatkan mutu pelaksanaan pembelajaran guru SMK Negeri 3 Sukoharjo pada Semester I Tahun Pelajaran 2018/2019, terbukti kebenarannya.

PENUTUP

Kesimpulan

Pelaksanaan tindakan supervisi akademik secara terprogram dapat meningkatkan mutu pembelajaran di SMK Negeri 3 Sukoharjo Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Sukoharjo Semester I Tahun Pelajaran 2018/2019. Supervisi akademik dilaksanakan dengan memberikan teladan yang baik tentang kedisiplinan guru, mengadakan sosialisasi supervisi, memberikan bimbingan pada proses penyusunan perangkat pembelajaran, dan menjadi tim kerja guru dalam proses pelaksanaan pembelajaran di kelas serta mengadakan diskusi dengan memberikan masukan kepada guru untuk pelaksanaan pembelajaran berikutnya.

Implikasi

  1. Supervisi akademik dapat diterapkan mengingat cukup signifikan dampak positifnya terhadap kedisiplinan guru dalam proses pembelajaran.
  2. Supervisi akademik dapat diterapkan mengingat cukup signifikan dampak positifnya terhadap kelengkapan administrasi guru dalam proses pembelajaran.
  3. Supervisi akademik dapat diterapkan mengingat cukup signifikan dampak positifnya terhadap mutu pelaksanaan pembelajaran di kelas.

Saran

  1. Guru harus berdisiplin dalam menjalankan tugasnya, mempersiapkan perangkat pembelajaran dengan baik, dan berusaha untuk meningkatkan ketrampilan dalam mengajar.
  2. Sebaiknya kepala sekolah dapat melakukan supervisi akademik secara rutin dan periodik.
  3. Kepala sekolah hendaknya menggunakan gaya kepemimpinan yang partisipatif dan demokratif.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar Prabu Mangkunegara. 2000. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. Bandung: Penerbit Remaja Rosdakarya.

ArcaroJerome S2007. Pendidikan Berbasis Mutu: Prinsip-prinsip Perumusan dan. Tata Langkah Penerapan. Yogyakarta; Pustaka Pelajar.

Deni Koswara, 2008. Seluk-beluk Profesi Guru. Bandung: Pribumi Mekar.

Miftah Thoha. 2007. Kepemimpinan dalam Manajemen. Edisi 12, Jakarta: PT. Raja. Grafindo Persada

Ngalim Purwanto. 2004. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya

Piet Sahertian. 2000. Konsep Dasar Dan Tehnik Supervisi Pendidikan: Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta.

Purwodarminto. 2013. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Sedarmayanti. 2011. Membangun dan Mengembangkan Kepemimpinan Serta Meningkatkan Kinerja Untuk Meraih Keberhasilan. Bandung: Refika Aditama.

Suryadi. 2009. Manajemen Mutu Berbasis Sekolah: Konsep dan Aplikasi. Bandung: PT Sarana Panca Karya

Suyadi Prawirosentono. 2009. Kebijakan Kinerja Karyawan, Kiat Membangun. Organisasi Kompetitif Menjelang Perdagangan Bebas Dunia. Yogyakarta: BPFE.

Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen

Wahjosumidjo. 2002. Kepemimpinan Kepala Sekolah Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya. Jakarta: Rajawali Pers